
Wahai mentari, kenapa belum datang juga?
Lelehkanlah hatiku yang sedang membeku.
Kriiiiiiiing.. Kriiiiiiiing.. Kriiiiiing... (Suara Alarm.)
Pria berbadan kekar itu bangkit dari tidurnya. Dengan tubuh yang masih terkulai lemas, ia berupaya menjauh diri dari tempat tidurnya. "(Semuanya terasa sama saja.)"
Seperti biasa, ia bersegera menuju kamar mandi meskipun hanya sekedar menyegarkan kembali kondisinya. Air yang dingin dan angin yang masuk dari celah-celah dinding membuatnya kembali sadar sepenuhnya. "(Semuanya terasa sama saja.)"
Kali ini, suara lantunan adzan menggema dengan indahnya. Ia bersegera menyucikan diri agar dapat memenuhi seruan indah itu. Semuanya berjalan sesuai ketentuan, sebagaimana mestinya. "(Semuanya terasa sama saja.)"
Berdiri tegap, rukuk, sujud dan mengakhirinya sebagaimana mestinya. "(Semuanya terasa sama saja.)"
Bahkan goresan tinta merah di langit itu masih terlihat sama saja. Dalam lamunan, ia hanya bisa berucap.
"(Apakah sebenarnya yang hilang dariku?)”
Kegelisahan itu kembali melanda dirinya. Lagi dan lagi, "(Semuanya terasa sama saja.)"
Rutinitas ini merontokkan gairah hidupnya. Teras surau hanyalah tempat pemberhentian terakhirnya dan "(Semuanya terasa sama saja.)"
Kali ini ia bangkit dari lamunan yang menyesatkan jiwanya. Untuk pertama kalinya, ia memutuskan untuk tidak kembali ke rumah.
"(Adakah hal yang tidak biasa, yang bisa kulakukan hari ini?)”
Berjalan menyusuri jalan setapak yang lembap dan berbatu. Berlalu menyusuri rerumputan yang bermahkotakan embun dingin. Ke mana pun kaki itu melangkah, "(Semuanya terasa sama saja.)"
Air yang mengalir bahkan terdengar lebih indah dibandingkan kejenuhan hati yang mengiangkan kebisingan. Dengan menguatkan tenaga, tangga tanah itu ditapaki selangkah demi selangkah. Kali ini, apakah semuanya akan kembali terasa sama saja?
Inyang: "Sepertinya tangga pondokku menyulitkan langkah kakimu.” (Menyahut Muis yang baru saja sampai ke atas.)
Muis: "Inyang...”
Inyang: "Kemarilah..” (Memanggil Muis.)
Muis hanya mengikuti apa yang diucapkan Inyang kepadanya.
Inyang: "Kebosanan seperti apa yang membuatmu datang kemari?”
Muis: "Hehe.. Nggak kok, Inyang.” (Sembari duduk di samping Inyang.)
Inyang: "Aku tahu.. Jadi, ceritalah.”
Muis: "Aku cuma sedikit bingung saja, Inyang.” (Menghela nafas.)
Inyang: "Iya.. Aku bisa lihat dari gerak gerikmu. Sepertinya kamu kehilangan sesuatu.” (Mengarahkan telunjuknya ke arah dada Muis.)
Muis: "Wah.. Inyang bisa langsung tahu.”
Inyang: "Sudahlah.. Apa kamu masih menganggap kalau dunia ini diam dan tidak bergerak?”
Muis: "Sepertinya begitu." (Terlihat murung.)
Inyang: "Tidak.. Sebenarnya kamulah yang diam dan tidak bergerak."
Muis: "Wah..” (Ekspresinya menunjukkan ketidakmengertian sama sekali.)
Inyang: "Begini saja.. Aku akan coba contohkan masalahmu."
Muis: "Nah.. Kalau ada contohnya, mungkin bisa dipahami sedikit-sedikit, Inyang."
Inyang: "Di sebuah menara, terdapat sebuah harta karun. Menara tersebut di bagian lantainya dicor dengan kedalaman sepuluh meter menggunakan baja murni yang berlapiskan tembaga. Serta, di bagian luar menara, dijaga oleh ribuan pasukan bersenjata lengkap, ribuan ranjau, ribuan tank, ribuan artileri, ribuan rudal anti tank, ribuan rudal jelajah. Kemudian di bagian atas menara dijaga oleh ribuan jet tempur, ribuan helikopter tempur, ribuan pesawat tanpa awak. Menara tersebut juga dilengkapi dengan system radar pemindai. Kemudian, kamu mendapatkan sebuah misi untuk mengambil harta karun yang ada di dalam menara tersebut. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan?”
Muis: "Waduh.. Pertahanan macam apa itu!?” (Tercengang mendengar penuturan Inyang.)
Inyang menjadi tersenyum menyaksikan ekspresi kebingungan yang diperlihatkan Muis
Muis: "Yang bisa aku lakukan, ya.. Cuma ketawa. Hahaha...” (Tertawa terbahak-bahak.)
Inyang: "Benar juga.. Sepertinya kita sependapat." (Dengan senyuman khasnya.)
Muis: "Hahaha.. Buat jagain harta karun saja, sampai segitunya. Inyang ini ada-ada saja. Mana mungkin, aku bisa mengambilnya.”
Inyang: "Bisa.”
Muis: "Wah.. Caranya?” (Keheranan sekaligus penasaran.)
Inyang: "Waktu.”
Muis hanya diam terpana mendengar hal tersebut. Otaknya mulai melakukan aksi berantai untuk dapat mengungkap makna yang sangat samar-samar dari ucapan tersebut. Seolah-olah seperti sedang melihat setitik cahaya menyembul dari balik dinding.
Muis: "Waduh, serasa kayak melihat sesuatu, tapi tidak begitu jelas apa itu." (Menjadi bingung sendiri.)
Inyang tersenyum mendengar hal tersebut. Ia merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Muis.
Inyang: "Jika kamu jeli, sebenarnya Allah telah menetapkan karunianya dunia ini dengan yang namanya ruang, waktu, materi, energi, dan informasi. Namun semua itu tidak akan ada artinya jika kamu sendiri tidak ada.”
Muis: "Waduh.. Masih pagi-pagi buta begini, pelajarannya berat juga, ternyata. Kira-kira yang Inyang maksudkan, apa ya?”
Inyang: "Sebenarnya semua masalahmu itu mengatasinya cukup sederhana. Waktu.. Jika kamu masih merasa belum cukup kalau hanya dengan waktu, kamu bisa menambahkan unsur-unsur yang lain untuk mempercepatnya. Semakin banyak unsur, semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat lagi masalah itu selesai. Namun, semua itu tidak akan punya pengaruh apa-apa jika unsur terpentingnya tidak pernah bergerak.”
Muis: "Apa itu, Inyang?”
Inyang: "Kamu.” (Dibarengi dengan menepuk pundak Muis.)
Muis hanya bisa diam terpana kepada Inyang setelah mendengar pernyataan-pernyataan tersebut. Namun Muis merasa ada hal yang mengganjal yang tidak tahu apa itu.
Muis: "Aku yakin dengan penjelasan Inyang. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Seolah-olah rasanya seperti ada penolakan."
Inyang: "Oh, iya.. Itu karena selama ini kamu masih belum bisa ridho dengan ketetapan Allah.”
Muis: "Wah.. Serasa kayak ada clingnya gitu, Inyang."
Inyang: "Penglihatanmu terlalu sering melihat ketidakadilan. Dan akalmu merespons bahwa ketidakadilan itu semata-mata hanya ditujukan untuk dirimu saja.”
Muis mulai menyadarinya. Ia hanya terdiam atas pernyataan Inyang tersebut. Rasanya benar-benar sesuai dengan apa yang ia alami selama ini.
Muis: "Jadi.. Aku harus bagaimana, Inyang?” (Mulai terlihat kurang percaya diri.)
Inyang: "Aku sudah bilang, jawabannya ada pada dirimu sendiri.”
Inyang paham bahwa Muis merasa kurang puas terhadap jawaban tersebut. Inyang paham bahwa permasalahan yang dialami Muis itu tidak akan bisa terselesaikan hanya dengan memberikan ungkapan-ungkapan sebagai dorongan terhadapnya.
Inyang: "Begini saja.. Apa kamu pernah mendengar burung yang bisa bicara?”
Muis: "Mana ada burung yang bisa bicara, Inyang." (Mempertanyakan.)
Inyang: "Ada."
Muis: "Wah.. Mana?” (Mulai kebingungan.)
Inyang: "Di rumah si Abas.”
Muis: "Di rumah si Bos?” (Merasa heran.)
Inyang: "Benar.” (Tersenyum.)
Muis: "Wah..” (Melongo karena heran.)
Inyang: "Apa aku pernah membohongimu?” (Sembari menjaga senyumannya kepada Muis.)
Karena pernyataan tersebut keluar dari mulut Inyang, Muis menjadi terdiam keheranan atas pernyataan tersebut, pikirannya terjebak di antara percaya dan tidak percaya.
Muis: "Waduh, Inyang.. Kepalaku mendadak mulai error, nih. Bukan maksud untuk tidak mempercayai perkataan Inyang.. Tapi, aku sepertinya memang harus membuktikannya secara langsung.”
Inyang: "Benar sekali..”
Muis: "Baiklah kalau begitu, nanti aku akan ke rumah si Bos. Mataharinya sudah muncul, aku mau urus sawah dulu.” (Bangkit dari tempat duduknya.)
Inyang: "Iya..” (Tersenyum.)
Muis: "Aku berangkat dulu, Inyang." (Menyalami Inyang sebari mencium tangannya.)
Inyang kemudian membalas Muis dengan senyuman. Kemudian alam yang damai pagi itu bernyanyi riang kepada mereka. Muis sepertinya mulai bersiap-siap dengan hal baru yang terasa masih samar-samar dan harus ia ungkap segala kebenarannya.
Hei.. Hei.. Halo..? Ada apa manusia? Kenapa sampai sebegitunya kamu menatapku? Yaaah, tidak usah malu-malu begitu.. Aku tahu kalau kamu sebenarnya ingin menjadi teman baruku, kan? Hayoo.. Pasti begitu, kan? Kenapa tidak bilang saja dari tadi? Serius.. Aku tidak pernah pilih-pilih teman, kok. Baiklah, sebagai bukti dari keseriusanku, mungkin sebaiknya aku harus memperkenalkan diriku terlebih dahulu kepadamu..
Perkenalkan, namaku Ijo.. Aku lahir dan dibesarkan di dalam kotak besi ini.. Dan sepertinya, aku juga akan mati di tempat ini. Hahaha.. Tidak usah mengerutkan wajah begitu.. tidak usah khawatir.. Tenang saja, aku sudah memakluminya. Hei, teman baruku.. Aku sudah terlalu banyak berhutang budi kepada tuanku itu. Ia sangat baik sekali kepadaku. Di saat aku lapar, tuanku akan memberikanku makan. Di saat aku sakit, tuanku akan memberikanku makan. Di saat aku sedih, tuanku akan memberikanku makan. Di saat aku kecewa, tuanku akan memberikanku makan. Di saat aku marah, tuanku akan memberikanku makan. Di saat aku kesepian, tuanku juga akan memberikanku makan. Hei.. Teman baruku, apa kamu bisa mendengarku..? Hei… hei… halooo…? Kamu bisa mendengarku..? Kamu kok kelihatan sedih begitu? Kamu sebaiknya harus makan yang banyak agar bisa melupakan kesedihanmu.
Hei.. Teman, hei.. Sudahlah.. Jangan cengeng begitu.. Baiklah, agar kamu tidak bersedih lagi, bagaimana kalau kita bicara hal yang lain saja? Kita bicara tentang apa ya, bagusnya? Iya.. Pagi.. Bagaimana kalau kita bicara tentang pagi ini saja. Pagi ini sangat cerah ya, teman..? Aku bersyukur bahwa Allah masih mengizinkanku untuk bisa melihat dunia yang indah dan luas ini dari balik kotak besi ini. Aku bahkan masih bisa melihat karib kerabatku dari sini. Aku bisa melihat mereka terbang ke sana kemari bersama-sama pasangan hidupnya. Mereka bersuka ria bersama dan terlihat bahagia. Melihat mereka, Aku pun jadi ikut bahagia. Sepertinya, kebahagiaan itu juga bisa membias kepada yang lain, ya..? Hei teman baruku.. Apa aku juga bisa membiaskan kebahagiaan kecilku ini kepadamu? Semoga saja kebahagiaan kecilku ini bisa menghapus kesedihanmu.
Muis termenung sangat dalam saat melihat burung dalam sangkar tersebut. Dan tiba-tiba ia terisak-isak sembari mengucurkan air mata. Abas yang berada tidak jauh darinya merasa kaget.
Abas: "Ehh.. Muis, kok tiba-tiba nangis? Ada kejadian apa?”
Muis yang berderai air mata tersebut segera mendekati sangkar burung tersebut dan mencoba untuk membuka pasak pintunya. Melihat tingkah Muis, Abas dengan kelojotan bergerak cepat menghadang perbuatan Muis. Ia berusaha dengan sekuat tenaga menahan tangan Muis yang besar dan kekar tersebut dengan perasaan yang sudah sangat waswas.
Abas: "Ehh! Ehh!! Muis, kenapa? Kamu kesurupan apa?”
Muis terus saja menangis tersedu-sedu tanpa henti. Burung yang ada dalam sangkar tersebut terlihat melompat-lompat ke sana kemari sembari mengepakkan sayapnya.
Hei! Hei! Kalian! Sudah, jangan bertengkar! Sudahlah, kalian jangan bertengkar! Aku jadi sedih jika kalian bertengkar.. Aku mohon, jangan bertengkar!! Sudah, jangan!!
Abas mencoba untuk meyakinkan Muis Sembari menahannya dengan sekuat tenaga.
Abas: "Muis! Muis!! Tenang dulu, kamu tenangkan diri dulu! Cerita dulu, kamu kenapa..?”
Muis: "Burungnya harus bebas, Bos!!” (Sembari masih tersedu-sedu.)
__ADS_1
Abas: "Enak saja main lepas-lepas.. Belinya mahal!” (Abas merasa kesal meskipun sangat waswas.)
Muis malah memacu tenaganya untuk segera membuka pasak sangkar tersebut. Abas yang merasa terdesak berupa untuk semakin meyakinkan Muis.
Abas: Iya!! Iya!! Jangan dilepas dulu!!! Jangan dilepas!! Kamu cerita dulu!!! Muis!!! Cerita!!! (Abas yang sudah mulai mencapai batas tenaganya.)
Muis pun mulai melunak, ia kemudian mencoba menuruti perkataan bosnya.
Abas: "Nah, begitu.. Kamu tenang dulu. Cerita.. Biar jelas duduk permasalahannya di mana.”
Abas berupaya menyeret Muis untuk duduk di kursi tamu terasnya. Dengan sigap iya menuangkan segelas teh di hadapannya.
Abas: "Nah.. Kalau begini kan enak. Cerita sambil santai.”
Muis: "Iya, Bos.” (Mengusap-usap wajahnya dengan lengan bajunya.)
Abas: "Kalau sudah tenang begini, ayo.. Sekarang coba kamu cerita."
Muis: "Saya belum nikah, Bos."
Abas tersentak keheranan dan membuat penafsiran akalnya berantakan dikarenakan pernyataan Muis tersebut.
Abas: "Hahh!? Hubungannya belum nikah sama burung, di mana? Kamu pikir kalau burungnya lepas, kamu bisa langsung nikah, gitu? Kamu ini kesambet di mana, Muis…?” (Keningnya mengerut karena keheranan.)
Mendengar hal itu, Muis dengan spontan berdiri. Hal itu membuat Abas jadi kembali ketar-ketir.
Abas: "Ehh! Ehhh!! Jangan dulu!!! Duduk dulu.. Kita santai.. Rileks, Rileks..” (Menjulurkan kedua tangannya kepada Muis.)
Muis: "Jangan diledekin, Bos.. Ini sudah menyangkut perasaan.”
Abas: "Iya.. Iya.. Perasaan. Ini menyangkut perasaan. Kamu duduk dulu, minum dulu." (Abas hanya bisa membenarkan.)
Muis kemudian mengambil gelas yang berisi air teh tadi dan langsung meminumnya dengan sekali tegukan.
Abas: "Naah.. Sudah aman, kan? Sekarang kamu cerita dari aA sampai Zet.”
Muis: "Iya, Bos.. Tadi pagi aku ke tempat Inyang, Bos. Inyang bilang kalau burung peliharaan Bos bisa bicara. Makanya, sehabis balik dari sawah, aku kemari.”
Abas: "Wah.. Ajaib sekali. Ajari aku bagaimana caranya memahami bahasa burung.” (Terheran-heran.)
Muis: "Nggak tahu, Bos. Aku sendiri juga bingung..”
Abas: "Lah, tadi itu bukannya kamu sedang bicara bahasa burung? Bahkan sampai nangis-nangis segala.”
Muis: "Nggak tahu, Bos.. Tiba-tiba saja aku jadi nangis.”
Abas: "Wah.. Jadi tambah bingung, aku.”
Dalam keheningan, wajah mereka terlihat serius menyikapi hal-hal yang telah terjadi.
Abas: "Begini saja.. Kita ke tempat Inyang, biar jelas maksud semua kejadian ini.”
Muis: "Aku setuju Bos..”
Abas: "Kalau begitu, mari kita pergi sekarang.” (Beranjak dari tempat duduknya.)
Tanpa berlama-lama, Abas dan Muis segera pergi menuju ke tempat Inyang sembari menenteng burung yang ada di dalam sangkar.
Untuk mendapatkan cinta, kamu haruslah menjadi bodoh.
Untuk mendapatkan cinta, relakanlah dirimu untuk membodohi dirimu sendiri.
Untuk mendapatkan cinta, lakukanlah hal-hal yang bodoh.
Sampai pada akhirnya, cinta yang kamu agung-agungkan itu akan terpisah jua.
Inyang: "Kegelisahan apa lagi yang membawamu kemari?” (Menyahut Datuk yang baru saja sampai ke atas.)
Datuk: "Hehe, Tuan Guru.. Nggak ada apa-apa.. Cuma lihat pemandangan pagi ini saja.” (Menatap langit desa.)
Inyang: "Kemarilah.. Duduklah di sini.” (Mengajak Datuk duduk.)
Datuk: "Wah.. Makasih Tuan Guru. Hehe..” (Cengar-cengir.)
Matahari pagi kali ini membawa aliran melodi-melodi alam dan menghadiahkan mereka kedamaian.
Inyang: "Bagaimana rasanya Surga?” (Membuka pembicaraan.)
Datuk: "Maksudnya?” (Keheranan.)
Inyang: "Iya.. Sekarang ini kamu sedang berada di Surga.”
Datuk: "Waduh... Maksud Tuan Guru, sekarang saya sudah mati, ya? Jasad saya pasti masih di tempat tidur.. Wah.. Saya belum sempat titip pesan buat Mina.” (Meraba-raba tubuhnya sendiri karena merasa bahwa dirinya telah mati.)
Inyang: "Bukan.. Kamu belum mati. Maksudku bukan itu.” (Tersenyum khasnya.)
Datuk: "Maksudnya?” (Masih keheranan.)
Datuk: "Oooh.. Ya, ya.. Surga, ya.. ” (Masih menutup mata.)
Inyang: "Dengan surga yang sangat luas ini, kamu masih gelisah?”
Datuk: "Hahaha.. Iya juga, ya..” (Menertawakan dirinya sendiri.)
Inyang tersenyum melihat kelakuan Datuk.
Datuk: "Jadi, alam ini sebenarnya memberikan surga untuk kita. Begitu kan, Tuan Guru?”
Inyang: "Bukan hanya alam.. Kamu pun juga bisa memberikan surga.”
Datuk: "Wah..”
Inyang: "Kamu lihat pohon seri yang sering dipanjat anak-anak kecil itu?” (Menunjuk ke arah sebuah pohon yang terletak di pinggir desa.)
Datuk: "Iya.. Benar.”
Inyang: "Sekarang, coba kamu pikirkan.. Kenapa pohon itu berbuah lebat?”
Datuk: "Nah.. Iya juga, ya.. Pagi-pagi begini lebih enak belajar yang ringan-ringan ya, Tuan Guru.. Hahaha..”
Inyang: "Sekarang, coba kamu bayangkan.. Bagaimana jadinya jika pohon itu menjadi kikir dan berbuah beberapa butir hanya untuk dirinya sendiri?”
Datuk: "Wah...”
Inyang: "Jika kamu melihat seekor kucing, berikanlah ia surga.. Elus-eluslah ia, manjakanlah ia, beri makananlah ia. Jangan berikan ia neraka, seperti menghajarnya, memarahinya. Jika kamu melihat seseorang yang sedang bersedih, maka berikanlah kenikmatan surga padanya. Berikanlah hadiah padanya, semangatilah ia, berbuat baiklah padanya. Jangan kamu berikan siksaan neraka padanya, seperti menghardiknya, mencacinya, mengolok-oloknya, menghajarnya.”
Datuk: "Wah.. Kok jadi berat begini, ya..?”
Inyang: "Tidak juga.. Ini ringan-ringan saja. Aku hanya ingin berpesan, berikan mereka nikmat surga, dan jangan berikan mereka siksaan neraka.”
Datuk: "Waduh.. Kok saya merasa sedikit tersindir, ya? Hahaha..”
Inyang: "Barang kali kegelisahanmu itu datangnya dari kekikiranmu sendiri.”
Datuk: "Wah.. Saya Haqqul Yaqin.. Tuan Guru pasti sedang menyindir saya, kan? Hahaha...”
Inyang hanya tersenyum dengan senyuman khasnya.
Datuk: "Saya pikir juga begitu.. Mungkin sudah waktunya.. Sebaiknya siang ini saya datangi saja rumahnya.”
Inyang: "Kamu tidak usah repot-repot.. Sebentar lagi mereka akan datang kemari.”
Datuk: "Waduh.. Sepertinya sejak awal saya sudah dijebak, pasti..”
Inyang: "Mana ada.. Kamu sendiri yang datang kemari.”
Datuk: "Wah.. Iya juga, ya.”
Inyang: "Meskipun kamu tidak datang, aku akan pindah ke rencana lain.”
Datuk: "Waduh.. Saya jadi target operasi, ternyata.. Bumi hangus, kah? Lengser, kah?”
Inyang: "Bumi hangus."
Datuk: "Yah.. Jangan kejam gitulah, Tuan Guru. Itu kan surga saya. Banyak kenangannya juga.”
Inyang: "Mana ada orang kikir penghuni surga. Pasti itu surga yang palsu dan sudah seharusnya dihancurkan.” (Tersenyum.)
Datuk: "Hahaha... Saya menyerah, Tuan Guru.. Saya menyerah, hahaha..” (Tertawa karena tidak berdaya dengan sanggahan Inyang.)
Dari kejauhan, terlihat dua orang pria sedang bergerak ke arah mereka. Dari ciri-cirinya, maka sudah dapat dipastikan bahwa dua orang pria tersebut adalah Muis dan Abas. Dan tidak butuh waktu yang lama, Muis dan Abas akhirnya tiba di hadapan Inyang. Wajah-wajah mereka terlihat begitu serius yang seakan-akan mengharapkan Inyang segera memberikan sebuah kejelasan atas semua hal yang telah terjadi. Tanpa basa-basi, Abas dengan tegas segera membuka percakapan.
Abas: "Inyang.. Ajari saya juga dong, caranya bicara dengan burung.”
Inyang: "Mana bisa..”
Abas: "Lah.. Tadi saya lihat si Muis bisa.. Sampai nangis-nangis gitu, waktu lihat burung saya.” (Sembari mengangkat sangkar burung tersebut ke arah Inyang.)
Muis hanya mengangguk-angguk mendengar pernyataan Abas. Melihat hal itu, Inyang pun akhirnya tersenyum. Datuk yang mendengar ribut-ribut, dengan segera menyudahi mencuci mukanya dan segera menghampiri mereka.
Datuk: "Wah.. Ada apa ini? Rame-rame di sini?” (Mempertanyakan keadaan.)
Abas: "Pak Wali.. Nggak ada apa-apa kok, Pak Wali. Ini, kami cuma sedang cerita bagaimana caranya bicara dengan burung.” (Sembari memperlihatkan sangkar burung kepada Datuk.)
Datuk: "Mana bisa..” (Juga membantah.)
Abas: "Eee.. Pak Wali juga ikut-ikutan bilang begitu. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri loh, Pak Wali. Tadi si Muis nangis-nangis di rumah saya.”
Melihat burung yang ada dalam sangkar tersebut, Datuk sepertinya mulai sedikit memahami titik permasalahan dari perbincangan yang telah terjadi.
__ADS_1
Inyang: "Mana, burungnya.. Berikan padaku."
Abas: "Ini, Inyang..” (Memberikan sangkar tersebut.)
Inyang: "Muis.. Sebenarnya kamu tidak sedang bicara dengan burung ini. Tapi, berbicara pada dirimu sendiri. Burung ini hanyalah cermin.” (Melihat burung tersebut dengan senyuman.)
Muis tersentak kaget mendengar hal tersebut. Meskipun terasa samar-samar oleh pemikirannya.
Abas: "Wah.. Maksudnya? Kok saya jadi tambah bingung, ya..?”
Datuk: "Maksudnya.. Burung menurut versimu berbeda dengan burung menurut versinya si Muis. Boleh jadi kamu menganggap burung itu hanyalah peliharaan. Tapi bagi Muis, burung itu sudah seperti duplikat dari dirinya. Benda yang terlihat di depan mata boleh saja sama, tapi penilaian masing-masing orang terhadap benda itu pastilah berbeda. Boleh jadi burung tersebut menurutmu adalah sebuah keindahan, menurut si Muis adalah sebuah kesengsaraan, menurutku adalah sebuah kebodohan, dan menurut Inyang adalah sebuah pembelajaran.”
Muis seketika merasa seperti tercerahkan.
Inyang: "Bagaimana menurutmu jika kamu dan burung ini bertukar posisi.” (Sembari tersenyum.)
Abas: "Wah.. Nggak maulah, Inyang."
Muis: "Kalau begitu.. Dilepas saja, Bos.”
Datuk: "Sudah... Kamu sabar saja.”
Abas: "Yah.. Belinya kan mahal, masa harus dilepas?”
Inyang: "Justru itu.. Karena mahalnya itu, gantinya pasti mahal juga. Kalau murah ya, buat apa.”
Hei, temanku.. Aku melihat ada tiga cahaya. Cahaya yang menghangatkanku. Cahaya yang melindungiku. Cahaya yang membebaskanku.
Hei, temanku.. Lihaaaat.. Aku terbang.. Aku bisa terbang.. Ahh.. Panas ini membuat mataku berair.. Mungkin karena aku belum terbiasa terbang bebas seperti ini..
Datuk: "Nah.. Karena urusan kalian sudah selesai, sekarang urusanku denganmu, Muis.”
Muis: "Urusan apa, Pak Wali?”
Datuk: "Iya.. Kamu lihat sawah yang ada di seberang jalan itu?” (Bergerak ke arah pinggir tebing.)
Datuk menatap jauh ke hamparan sawah yang sangat luas di seberang jalan utama.
Datuk: "Muhammad Iskandar.” (Menoleh ke arah Muis.)
Muis: "Iya, Pak Wali.”
Datuk: "Aku berikan kesempatan terakhir untukmu. Kamu boleh ambil kembali harta warisan yang sudah kamu bagi-bagikan ke orang-orang desa itu, menjualnya dan hidup tenang di kota.”
Muis: "Saya nggak bisa kelola harta sebanyak itu, Pak Wali. Saya masih ingin di sini. Jadi, Sepetak dua petak sudah cukuplah.”
Datuk: "Hei.. Muis, dengar.. Dengan harta sebanyak itu, kamu bisa kumpulkan massa dan berkuasa. Kamu bisa cari wanita dan berkeluarga di sana. Kamu akan hidup layak di kota.
Abas: "Wah, Pak Wali.. Kok kesannya kayak kepingin mengusir Muis gitu, ya?”
Datuk: "Bukan begitu.. Aku hanya ingin dia berpikir ulang dengan opsi terbaik yang kuberikan. Coba, kamu kalau bertukar posisi dengan Muis, kamu akan pilih apa?”
Abas: "Yaaa, itu.. Saya tolak dong, Pak Wali..” (Cengar-cengir lirik sana sini.)
Datuk: "Mana ada.. Pasti kamu terima.”
Abas: "Kalau begitu, saya ambil sedikit saja, sisanya saya bagikan.”
Datuk: "Mana ada.. Pasti kamu ambil yang banyak, sisanya yang sedikit kamu bagikan."
Muis: "Kalau mau, Bos bisa ambil sepetak dua petak lagi.”
Abas: "Wah, boleh juga tuh. Lumayan, bisa jadi cadangan untuk dedek bayi.”
Inyang, Muis, dan Datuk tersenyum melihat kelakuan Abas. Hal itu juga membuat Datuk geleng-geleng kepala.
Datuk: "Nah, Muis. Kamu lihat sendiri, kan?”
Muis: "Iya juga sih. Tapi, sekarang saya tidak butuh apa-apa lagi. Melihat burung si Bos tadi, saya sudah menemukan apa yang selama ini hilang.” (Tersenyum kecil.)
Datuk: "Kamu sudah menemukan apa?” (Bertanya dengan lagak menantang.)
Muis: "Cinta." (Tersenyum sembari tertunduk malu.)
Mendengar hal itu, Abas dan Datuk tertawa terbahak-bahak.
Abas: "Hahaha... Kucingnya keluar, Pak Wali. Hahaha..”
Datuk: "Luarnya saja kelihatan merah padam.. Ehhh, dalamnya pink juga, ternyata.. Hahaha..”
Abas: "Hahaha.. Pak Wali segitunya.. Hahaha..”
Muis hanya bisa terdiam dalam perasaan malunya. Inyang juga ikut tersenyum melihat tingkah mereka semua.
Inyang: "Cintamu itu, cinta yang seperti apa, Muis?”
Muis: "Ya... Gitulah, Inyang.” (Masih tersenyum malu.)
Abas: "Gitu?”
Muis: "Mina..” (Dengan suara sangat pelan dan masih saja malu-malu.)
Datuk: "Iya..? Nggak kedengaran. Badan besar gitu, tapi kok suaranya kecil..”
Dengan perasaan malu yang berlarut-larut itulah, memaksakan dirinya untuk melepaskan semuanya.
Muis: "SAYA MENYANGGUPI UNTUK MENIKAHI MINA BIN IDRIS DENGAN MAHAR SEPERANGKAT ALAT SHALAT DAN SEBIDANG RUMAH BESERTA TANAH DAN TIGA PULUH KILO GRAM EMAS DAN DIBERIKAN SECARA TUNAI‼” (Berbicara dengan suara keras dan besar.)
Abas: "Waduh.. Malah Ijab Qobul. Hahaha...”
Datuk: "Hahaha.. Sudah sampai menghafal Ijab Qobul, rupanya. Hahaha...”
Abas: "Hahaha.. Pak Wali gimana sih? Harusnya Pak Wali itu bilangnya 'langkahi dulu mayatku.' Eh, malah ikut-ikutan ketawa. Hahaha...”
Melihat kekonyolan mereka, Inyang menjadi tersenyum dengan senyuman khasnya. Abas dan Datuk tertawa untuk waktu yang lama. Muis hanya bisa membalikkan badan dan menutupi wajahnya karena rasa malu akibat dari ucapannya sendiri.
Abas: "Aduh, duh.. Bikin sakit perut. Bilang tiga puluh kilo emas, lagi.”
Datuk: "Nah, itu juga.. Kebanyakan. Yang tiga puluh kilo itu datangnya dari mana?”
Abas: "Kalau jumlahnya segitu, bukan sedikit lagi itu namanya."
Muis: "Iya.. Ketemunya waktu bersih-bersih rumah. Totalnya ada lima puluh lima kilo. Yang dua puluh lima, dikasihkan ke pesantren saja. Sekarang, Masih sisa tiga puluh lagi.”
Abas: "Kalau begitu, untuk aku sebatang, Ujang sebatang.”
Muis: "Wah.. Tadi kan sudah.”
Abas: "Iya.. Emas yang masih batangan itu mau aku masukkan ke etalase, untuk pajangan di ruang tamu. Kan lumayan.”
Datuk: "Wah.. Boleh juga tuh, idenya.”
Muis: "Iya deh, kalau gitu. Aku mau pajang juga.”
Abas: "Nah.. Biar si Ujang yang bikin etalasenya.”
Muis: "Inyang mau pajangan juga?”
Inyang: "Tidak usah, pondokku isinya sudah penuh.”
Datuk: "Muis.. Inyang itu pajangannya bisa bikin Benua lenyap dalam semalam. Jadi, nggak perlu yang begituan.”
Muis: "Wah, keren. Benua lenyap dalam semalam.”
Abas: "Koleksi Inyang seram juga, ya?”
Datuk: "Abas.. Kita bicara di dalam saja." (Mengedip-ngedipkan matanya sebagai kode-kode isyarat kepada Abas.)
Abas: "Ah, iya... Kita bicara di dalam saja.”
Mina yang melihat ayahnya dan Abas sedang duduk di ruang tamu, dengan segera menuju dapur untuk membuatkan kopi.
Datuk: "Hei, Abas.. Kamu dengar sendiri kan tadi si Muis teriak-teriak apa?”
Abas: "Hahaha.. Iya, Pak Wali.. Hahaha..”
Mina terdiam sejenak saat mendengar bahwa ayahnya sedang membicarakan Muis. Perbincangan tersebut memacu rasa keingintahuannya.
Datuk: "Si Muis bilang apa tadi? Hahaha..”
Abas: "Ya.. Begitulah, Pak Wali. Hahaha..”
Datuk: "SAYA MENYANGGUPI UNTUK MENIKAHI MINA BIN IDRIS DENGAN hahahahahaha..”
Abas: "Cocok, Pak Wali. Cocok.. Hahahaha...”
Seketika perasaan Mina berubah menjadi campur aduk. Ia merasa bahagia sekaligus malu. Ia merasa gembira sekaligus kesal. Mina membawa minuman yang sudah dibuatnya itu dengan ekspresi menggerutu sekaligus tersipu malu kepada mereka berdua. Setelah minuman itu tersaji, Mina seketika itu juga mendekati ayahnya dan tanpa ragu langsung menggigit lengan ayahnya tersebut.
Datuk: "Aduh-duh, sakit.. Ayah salah apa? Aduh..”
Abas: "Hahaha.. Pasti karena Ijab Qobulnya Muis, Pak Wali.. Hahaha...”
Datuk menyeringai kesakitan sekaligus gembira setelah berhasil menggoda Mina.
Mina: "Ayah jahat.” (Cemberut sekaligus malu.)
Abas: "Hahaha..”
Mina: "Bang Abas, juga. Minggu ini nggak ada kopi.”
__ADS_1
Abas: "Wah..”