
Dari jalan utama, terlihat sebuah mobil berhenti di persimpangan jalan menuju desa. Abas dan kawan-kawan secara bersamaan memusatkan pandangannya ke arah mobil tersebut. Terlihat seorang wanita muda tengah sibuk bercakap-cakap ria dengan penghuni lain yang ada dalam mobil sekeluarnya dari mobil tersebut.
Ujang: "Anaknya Pak Wali, Bos.."
Abas: "Wah, iya.."
Ujang: "Barangnya kebanyakan itu, Bos. Kita bantu saja bawa barangnya, Bos."
Abas: "Iya.. Biar si Muis saja yang urus."
Muis terlihat diam saja dengan tatapan yang begitu dalam. Rupanya, Ia terpana setelah menyaksikan bahwa yang datang adalah Mina.
Abas: "Muis.. Muis..! Hei, Muis!" (Memanggil-manggil Muis.)
Muis: "Aahh.. Iya, Bos." (Kembali sadar dari lamunannya.)
Abas: "Wah.. Malah melamun. Kamu tolong bantu tuh, bawa barang-barangnya si Mina."
Muis: "Iya, Bos.." (Segera beranjak dari tempatnya.)
Dengan berlari-lari kecil, Muis segera menemui Mina yang terlihat kebingungan dengan barang bawaannya.
Mina: "Bang Muis..? Sejak kapan ada di sini?"
Muis: "Oh, iya.. Aku sudah di sini sejak tahun lalu."
Mereka berdua terlihat begitu canggung. Tanpa pikir panjang, dengan sigap Muis menggotong barang bawaan Mina itu di pangkuannya.
Muis: "Biar aku bantu bawa barangnya."
Mina: "Terima kasih, Bang Muis."
Mereka berdua berjalan beriringan dengan senyuman lebar yang terlihat begitu jelas dari wajah mereka. Suasana canggung itu terkadang sesekali mempertemukan pandangan mata mereka.
Ujang: "Kok suasananya jadi aneh gitu, ya Bos?"
Abas: "Yaaa.. Namanya juga anak muda. Hahaha.."
Sepasang insan yang lugu itu berlarian dengan penuh keceriaan. Terlihat begitu dipenuhi canda tawa. Itulah dunia mereka.. Terus bergerak ke sana kemari tanpa beban. Namun ada sebuah kepingan masa lalu yang tidak akan pernah terkorosi oleh waktu. Masih teringat jelas, saat-saat di mana gadis kecil itu terjatuh hanya karena tersandung oleh sebongkah batu kecil. Seketika itu juga, tubuh yang rapuh itu terlentang di tanah yang kering dan tandus. Telapak tangannya mulai mengucurkan darah akibat dari luka goresan. Matanya pun seketika mulai berlinang. Dengan mata yang berkaca-kaca itu, ia melihat sesosok pangeran nan gagah berlari dengan penuh kekhawatiran.
"Mina..! Kamu nggak apa-apa..!?"
Ya.. Gadis kecil itu bernama Mina. Ia merasa telah melakukan suatu kesalahan yang fatal dan seketika itu juga ia pun mulai menangis. Tanpa ragu, pria lugu itu mengelus kepalanya dengan penuh kelembutan. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh kegelisahannya itu, seketika berganti dengan ketenangan. Gadis kecil itu berhenti menangis dan mengusapi air matanya dengan lengannya.
"Sudah.. Jangan menangis lagi. Sini tangannya."
Gadis kecil itu menyodorkan kedua telapak tangannya. Pria lugu tersebut dengan segera menarik bagian bawah dari bajunya untuk menghapus bekas luka goresan gadis kecil tersebut.
Mina: "Bang Muis.. Sakit."
Muis: "Nggak sakit kok. Aku cuma bersihkan debu-debunya saja." (Menekan pelan-pelan bekas luka tersebut.)
Mina: "Sudah, Bang Muis.. Mina nggak apa-apa."
Muis: "Baguslah.."
Dengan masih menggenggam tangan yang terluka itu, Muis kemudian dengan perlahan menuntun Mina untuk berdiri. Dan tidak lupa, ia juga menepuk-nepuk pelan lutut Mina yang terlihat kotor akibat terjatuh tadi.
Muis: "Nah, sudah.. Ayo kita pulang dulu."
Mina: "Iya.."
Muis kemudian jongkok membelakangi Mina. Ia berinisiatif menggendong Mina untuk mengantarnya pulang ke rumah. Mina terlihat ragu-ragu dan merasa tidak enak hati karena ia merasa telah banyak merepotkan Muis.
Muis: "Ayo.. Aku antar pulang."
Mina: "Aku jalan saja, ah.." (Terlihat malu-malu tapi mau.)
Muis: "Nggak usah takut, aku sanggup gendong, kok."
Melihat keraguan dari Mina, Muis kemudian memundurkan tubuhnya yang masih jongkok tersebut dan merebut kaki Mina. Kali ini Mina hanya mengikuti apa yang disuguhkan Muis. Mina terlihat senyum-senyum sendiri ketika mendapati dirinya sedang dimanja-manja oleh sang pangeran.
Mina: "Waaaah.. Tinggi." (Tersenyum bahagia.)
Muis: "Wajar dong.. Kan, digendong. Hahaha..." (Tertawa melihat respons Mina.)
Mereka kemudian bergerak dengan santai menuju rumah Mina. Dari kejauhan, Ibu Mina yang sedang sibuk menjemur pakaian melihat Mina sedang digendong Muis yang sedang menuju ke arahnya. Ia kemudian menghentikan kegiatannya untuk sekedar melihat dan memastikan hal apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ibu Mina: "Eeeh, ada kejadian apa?" (Mencoba bertanya.)
Muis: "Mina habis jatuh, Bu.. Tangannya berdarah." (Sembari menurunkan Mina di hadapan ibunya.)
Ibu Mina: "Aduh Mina.. Kalau jalan hati-hati. Mana yang sakit? Sini Ibu lihat.." (Merasa khawatir.)
Mina: "Nggak sakit lagi, Bu." (Sembari memperlihatkan telapak tangannya yang mengalami luka goresan.)
Muis: "Huuu.. Tadi nangis kesakitan, hahaha.." (Membantah Mina.)
Mendengar hal itu, Mina memperlihatkan ekspresi wajah yang cemberut sekaligus tersipu malu terhadap Muis.
Ibu Mina: "Nah, nah.. Kalian duduk dulu di situ, biar Ibu ambilkan obatnya ke dalam." (Bergerak ke dalam rumah.)
Muis dan Mina mengikuti apa yang diperintahkan ibunya Mina. Mereka berdua duduk di kursi tamu yang ada di depan rumah.
Mina: "Bang Muis jahat.." (Cemberut sekaligus tersenyum.)
Muis: "Waduh.. Kok jahat?"
Mina: "Iya, jahat. Mina jadi dimarahi Ibu. Harusnya kita tadi nggak pulang."
Muis: "Terus kita harusnya ke mana?"
Mina: "Terserah.."
Muis: "Kalau aku mikirnya ya.. Balik ke rumah saja."
Mina: "Tuh, kan.. Bang Muis jahat. Mina bilangnya terserah."
Muis: "Waduh, aku salah lagi, ya?"
Mina: "Iya.. Bang Muis jahat." (Mencubit lengan Muis.)
Secara tiba-tiba, ibu Mina muncul dari dalam rumah sembari membawa sebuah kotak alat-alat kesehatan.
Ibu Mina: "Bukan Muisnya yang jahat. Tapi, kamunya saja yang kepingin terus-terusan digendong." (Memberikan bantahan.)
Muis: "Wah.." (Sedikit kaget.)
Mina: "Nggak kok.. Mana ada." (Terlihat malu-malu.)
Ibu Mina: "Sudah kelas satu, masih minta digendong. Huuu.." (Tersenyum dengan menggoda Mina.)
Muis hanya tersenyum melihat tingkah Mina yang terlihat malu-malu. Ibu Mina kemudian mulai mengobati luka yang dialami Mina.
Muis: "Lain kali, aku gendong keliling desa sejuta kilo meter." (Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.)
Terlihat wajah yang lugu itu memancarkan warna ceria. Ibunya menjadi senyum-senyum sendiri melihat kelakuan anaknya tersebut. Dari depan pintu, Datuk dibuat tertawa kecil karena ternyata ia juga ikut mendengarkan percakapan tersebut.
Mina: "Huuu, Bang Muis nggak mungkin sanggup." (Mengejek sekaligus malu-malu mau.)
Datuk: "Wah.. Kamu tahu angka sejuta itu banyaknya berapa?" (Tertawa mengejek.)
Muis: "Hehehe, nggak.. Tapi aku bisa gendong Mina lamaaaaaaa.. Trus lamaaaaaaaaa, nggak capek-capek." (Mengekspresikan ucapannya dengan gerakan tangannya.)
Ibu Mina: "Ya, jangan dong, Muis.. Sejuta kilo meter, ya pasti capek." (Tersenyum.)
Muis: "Aku kuat kok, Bu. Aku kan tiap hari olah raga. Hahaha.." (Mencoba meyakinkan sembari tertawa bangga.)
Ibu Mina: "Muis ternyata lumayan romantis juga, ya..? Ayah Mina kalah jauh. (Tersenyum kepada Datuk.)
Meskipun ia tidak mengetahui apa itu romantis, Muis malah semakin bertambah congkak karena merasa bahwa dirinya baru saja lebih diunggulkan.
Mina: "Huuuu.. Ayah kalah sama Bang Muis." (Mengejek dengan senyum riang.)
Datuk: "Halah, anak kecil bisa apa. Tahunya cuma main terus, main terus." (Mencoba membela diri.)
Ibu Mina: "Iiihhh, Ayah ini.. Nggak ada romantis-romantisnya." (Agak cemberut.)
Datuk: "Maksudnya.. Kamu kepingin digendong juga, gitu?"
Ibunya Mina hanya terdiam sebari memperlihatkan ekspresi cemberut sekaligus tersenyum malu-malu mau.
Datuk: "Hahaha.. Sudah besar, masih minta digendong. Hahaha.." (Tertawa terbahak-bahak.)
Ibu Mina: "Ayah, jahat." (Mencubit kecil pinggang Datuk sembari tersipu malu.)
Kedua anak-anak yang lugu itu hanya tersenyum dalam diam menyaksikan tingkah laku dari sepasang suami istri tersebut. Mereka semua terlihat dipenuhi begitu banyak warna. Di sela-sela perbincangan yang menghangatkan itu, Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seseorang yang sedang melangkah dengan terburu-buru tepat menuju ke arah mereka.
__ADS_1
Ibu Mina: "Eeeh, ada apa Budhe Lena? Kok kelihatannya buru-buru begitu?" (Menghentikan aktivitasnya mengobati luka Mina.)
Lena: "Iya, Bu. Ada berita penting." (Sembari sesekali menatap ke arah Muis.)
Datuk: "Iya.. Kenapa, Bu?"
Lena: "Begini, Pak Wali.." (Kembali sesekali menatap ke arah Muis.)
Datuk: "Bagaimana kalau kita bicaranya di dalam saja?"
Lena: "Nggak usah, Pak Wali.. Kita bicaranya sambil di jalan saja." (Sembari melangkah meninggalkan rumah.)
Datuk: "Baiklah kalau begitu." (Mulai melangkah.)
Melihat tingkah laku dari Lena, membuat Datuk mengiyakan saja dan segera mengikutinya. Dan tidak beberapa jauh dari pagar rumah, Lena pun akhirnya menyampaikan beritanya.
Lena: "Begini, Pak Wali.. Kami baru saja dapat kabar dari keluarganya si Muis." (Terus melangkah dengan perlahan menjauhi rumah tersebut.)
Datuk: "Kabar apa?" (Menjadi penasaran.)
Lena: "Iya.. Orang tuanya Muis baru saja kecelakaan." (Dengan memelankan suaranya.)
Datuk kemudian menghentikan langkahnya dan Membuatnya hanya bisa terdiam mendengar hal tersebut.
Lena: "Keduanya meninggal." (Suaranya bertambah pelan.)
Datuk: "Innalillahi... ..." (Terkejut.)
Lena: "Sekarang keluarganya yang ada di kota sedang dalam perjalanan, sedang menuju ke sini. Mereka mau jemput si Muis."
Datuk: "Iya, Bu.. Terima kasih sudah cepat-cepat melapor. Bu Lena nggak usah khawatir, Si Muis biar aku yang urus."
Lena: "Iya, Pak Wali.. Kalau begitu, permisi.. Mari.." (Meminta izin untuk pergi.)
Datuk: "Iya, Bu. Mari.."
Ia mulai termenung sejenak memikirkan hal terbaik apa yang selayaknya ia berikan kepada Muis. Dari kejauhan ia melihat Muis yang masih terlihat begitu ceria. Otaknya mulai berpikir keras karena tidak tega melihat jiwa yang lugu itu seketika berubah dan hancur berkeping-keping. Akhirnya ia pun menguatkan langkah kakinya untuk segera menghadapi Muis.
Datuk: "Muis.. Ikut Datuk sebentar."
Muis dengan segera menghampiri Datuk yang sedang berdiri di depan pagar.
Datuk: "Temani Datuk jalan-jalan sebentar."
Muis: "Iya.." (Hanya mengikuti.)
Ia melangkahkan kakinya dengan perasaan bimbang. Mereka berdua terus saja berjalan dalam keheningan. Angin semilir berlalu dan Panas terik seolah-olah terabaikan begitu saja. Hingga akhirnya perjalanan mereka pun berakhir di ujung jalan desa. Mereka berdua kemudian duduk di halte jalan utama.
Datuk: "Bagaimana rasanya setelah tiga tahun tinggal di desa?
Muis: "Senanglah, Datuk."
Datuk: "Baguslah."
Suasana seketika kembali menjadi hening. Masing-masing diri berpikir apa dan bagaimana dalam diamnya mereka. Kali ini, pemenangnya adalah suara deru ombak yang berwarna kuning keemasan.
Datuk: "Muis.. Kamu mau Datuk ajarkan cara menjadi kuat?"
Muis: "Mau, Datuk."
Datuk: "Kalau begitu, menangislah dan berhentilah menangis."
Muis: "Wah.. Kok Muis jadi bingung, ya? Bukannya menangis itu tandanya lemah?"
Datuk: Benar.. Orang yang lemah akan menangis karena kehilangan sesuatu dari dirinya. Ia akan berubah menjadi orang yang kuat jika berhenti menangis.
Muis: "Kalau yang kuat menangis?"
Datuk: "Orang yang kuat akan menangis karena menyesali kesalahan dari dirinya. Ia akan berubah menjadi orang yang lemah jika berhenti menangis."
Muis: "Aku bingung. Hahaha.."
Datuk: "Maksudnya.. Kalau suatu saat nanti kamu kehilangan sesuatu, boleh saja menangis. Tapi jangan lama-lama."
Muis: "Iya, Datuk."
Datuk merasa bahwa apa-apa yang telah ia sampaikan tidak begitu dipahami oleh Muis. Ia berpikir sejenak mencari suatu cara yang dirasa bisa dimanfaatkan agar hal tersebut bisa mengalihkannya dari situasi menyakitkan yang dengan perlahan sedang bergerak mendekat padanya.
Datuk: "Nah, begini saja.. Datuk akan kasih tahu kamu satu rahasia Mina."
Muis: "Wah, apa itu Datuk?" (Menjadi penasaran.)
Muis: "Wah.. Yang benar, Datuk?" (Merasa sangat bahagia.)
Datuk: "Benar.." (Tersenyum.)
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan sedang. Mobil itu mengedipkan lampu depannya beberapa kali sesaat sebelum akhirnya berhenti di dekat Datuk dan Muis. Seketika itu juga, pintu mobil itu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya terlihat berdiri di samping mobil dibarengi dengan seorang pria paruh baya yang menyegerakan dirinya untuk datang menghampiri Datuk dan Muis.
Datuk: "Nah.. Jemputannya sudah datang."
Datuk dan pria paruh baya tersebut berhadap-hadapan. Mereka bersalaman sembari berbalas senyuman.
Muis: "Paman.. Ada apa, Paman?"
Datuk kemudian memberikan isyarat dengan cara menggelengkan kepala kepada pria paruh baya tersebut agar jangan memberitahukan apa pun.
Datuk: "Oh, iya.. Sebenarnya tadi Datuk dapat pesan kalau kakekmu kepingin ketemu kamu."
Paman: "Aahh.. Iya, itu.. Paman disuruh kakek buat jemput kamu."
Muis: "Wah.. Iya deh, Kalau gitu.. Muis pergi ke rumah kakek dulu, Datuk."
Datuk: "Iya.. Hati-hati, di jalan."
Muis pun akhirnya dituntun pamannya untuk masuk ke dalam mobil. Mina yang semula menganggap Muis dan ayahnya hanya sekedar berbincang-bincang saja, dengan seketika menjadi terguncang. Suasana hatinya seketika berubah melihat Muis masuk ke dalam mobil tersebut. Ia terperanjat dengan pandangan tajam ke arah mobil yang sepertinya mulai bersiap-siap untuk pergi itu.
Mina secara tiba-tiba berlari mengejar Muis sembari berteriak dan menangis. Ia merasa bahwa ini adalah sebuah perpisahan.
Mina: "Abaaaang...!! Jangan pergiiii..!!" (Berlari sekuat tenaga.)
Mobil itu pun akhirnya mulai melaju dengan pasti. Dari dalam mobil, Muis melihat Mina yang sedang berlari ke arahnya, ia dengan segera meminta pamannya untuk berhenti sejenak.
Muis: "Paman.. Berhenti sebentar, Paman.. Aku belum berpamitan dengan temanku."
Paman: "Oh, iya."
Di ujung jalan desa, Mina hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan wajah yang telah berlumuran oleh air mata. Muis keluar dari mobilnya, lalu menghampiri Mina. Datuk hanya bisa diam menyaksikan perpisahan mereka berdua.
Muis: "Sudah.. Jangan nangis lagi.." (Mengelus rambut Mina.)
Mina: "Bang Muis pergi ke mana?" (Suaranya menjadi sedikit parau.)
Muis: "Aku cuma pergi ke rumah kakek, di kota." (Mengusap-usap pipi Mina yang telah dipenuhi air mata.)
Mina: "Bang Muis nggak tinggal di sini lagi?"
Muis: "Huuu.. Rumahku kan di sini. Aku pasti balik lagi kok." (Tersenyum kepada Mina.)
Mina: "Janji?"
Muis: "Janji." (Tersenyum kepada Mina.)
Mereka saling mengikat janji kelingking.
Muis: "Dah.. Aku pergi dulu ya.. Lain kali, kita main lagi." (Sesekali mengelus rambut Mina.)
Mina: "Ummm." (Mengangguk sembari mengusap-usap matanya.)
Mobil pun melaju dengan meninggalkan beberapa lambaian tangan. Bergerak menjauh dan semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang dari pandangan mata. Angin yang tersenyum dengan segera berlalu menyapu kegelisahan di hatinya.
Datuk: "Huuuuu.. Kasihaaaaaaaan.. Ditinggal pergi. Hahahahahaha..." (Mencoba mengejek Mina.)
Mina seketika menjadi jengkel dan mengejar ayahnya. Pukulan yang lemah gemulai itu menyerang tubuh ayahnya secara bertubi-tubi. Setelah berhasil menggoda Mina, ia dengan pasrah menerima semua serangan dari anaknya. Terlihat jelas bahwa ia sangat menikmati perlakuan Mina terhadapnya.
Datuk: "Aduh, sakit, aduh, aduh, sakit, aduuh... Hahaha... Aduh, aduuuh." (Berlagak seperti orang kesakitan.)
Mina: "Ayah jahat!"
Datuk: "Huuuuu.. Mana ada. Coba buktikan. Ayah kan dari tadi diam saja." (Menantang Mina.)
Mina kemudian dengan seketika berhenti menyerang ayahnya dan berpikir sejenak untuk mengorek kesalahan-kesalahan ayahnya.
Datuk: "Nah, kan? Hahaha..." (Kembali tertawa.)
Mina: "Pokoknya, Ayah jahat!" (Kembali menyerang ayahnya.)
Serangan itu kembali berlanjut. Tidak sampai di situ, Mina bahkan harus mengorbankan tangan ayahnya agar bisa ia gigit dengan sekuat-kuatnya untuk dapat meredam gejolak yang mulai meledak-ledak oleh perasaan yang begitu asing baginya.
__ADS_1
Datuk: "Aduh, aduh.. Ayah sakit sungguhan. Aduh!" (Mulai merasakan sakit.)
Mina: "Ayah jahat.." (Menghentikan aksinya sekaligus cemberut.)
Datuk kemudian tersenyum sembari mengelus-elus rambut Mina dengan lembut.
Datuk: "Ayah tahu apa yang belum bisa kamu pahami. Suatu hari nanti, kamu akan tahu sendiri."
Mina terlihat hanya diam menyimak perkataan ayahnya. Tidak berselang lama, ibu Mina terlihat hampir sampai ke tempat mereka.
Datuk: "Nah.. Ibu datang. Ayo kita pulang. Biar ayah gendong sampai rumah." (Sembari jongkok membelakangi Mina.)
Saat masih dalam gendongan, ibu Mina menghampiri Mina dengan penuh rasa empati.
Ibu Mina: "Aduuh.. Kasihaaan. Anak kesayangan Ibu jadi sedih begini." (Sembari mengusap-usap air mata Mina yang mulai mengering di wajahnya.)
Datuk: "Nah.. Kamu dengar, kan? Ternyata Ibu juga jahat."
Mina: "Nggak.. Kalau Ibu, baik sama Mina. Kalau Ayah, jahat."
Datuk: "Wah, standar ganda. Hahaha.." (Mulai melangkah untuk kembali ke rumah.)
Dalam perjalanan pulang tersebut, ibu Mina mencoba untuk memecah suasana keheningan di antara mereka.
Ibu Mina: "Pergi ke mana, Ayah?"
Datuk: "Oh, iya.. Berkunjung ke rumah kakeknya, di kota."
Ibu Mina: "Ada apa?" (Semakin penasaran.)
Datuk yang tidak ingin menjawab dan mencoba untuk memberi isyarat kepada ibunya Mina dengan mengedip-ngedipkan mata sekaligus menggerak-gerakkan mulutnya. Mengerti akan hal itu, Ibu Mina kemudian menghentikan niatnya.
Datuk: "Mina.. Ibumu dari tadi lihatin Ayah terus. Mungkin ibumu minta digendong juga."
Ibu Mina: "Iiihhh, Ayah.." (Mencubit pelan pinggang Datuk.)
Mina: "Kalau gitu, gendong Ibu saja, Ayah. Terus, Ibu gendong aku."
Datuk seketika itu juga langsung terdiam. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya menatap jauh ke langit agar imajinasinya dapat menggambarkan kata-kata tersebut.
Datuk: "Sebentar.. Sebentar.. Gimana caranya, tadi? Ayah gendong Ibu..? Ibu gendong kamu..?" (Datuk mulai berimajinasi.)
Datuk melihat ibu Mina dengan senyuman yang lebar. Semakin ia lihat, senyumannya semakin bertambah lebar.
Datuk: "Ayah gendong Ibu..? Ibu gendong kamu..? Kok perut Ayah mendadak sakit, ya? Hahaha..." (Tertawa terbahak-bahak.)
Ibu Mina: "Anak Ibu memang lucu." (Mencubit lembut pipi Mina.)
Sesaat sebelum mereka akhirnya sampai di depan rumah.
Mina: "Ayah.. Buku love-love Mina sudah habis."
Datuk: "Oh, iya.. Bagus dong. Nanti Ayah belikan lagi yang baru."
Ibu Mina: "Anak Ibu memang hebat. Bisa bikin diary tiap hari."
Kesadarannya tersedot kembali menuju dunia nyata. Tanpa terasa, ia baru saja kembali dari perjalanan panjang di masa lalu.
"Mina.. Mina.. Dek.. Dek..?"
Bagian-bagian halus jiwanya yang bergerak mengambang dengan perlahan kembali ke posisinya semula. Kali ini Mina sepenuhnya kembali sadar.
Mina: "Bang Muis..?"
Muis: "Kenapa Dek? Kok tiba-tiba bengong begitu?"
Mina menatap mata Muis dengan penuh senyuman.
Mina: "Ternyata Abang masih ingat dengan janji waktu itu."
Muis: "Iyalah, Dek.. Nggak mungkinlah Abang sampai lupa."
Mina: "Kok sekarang Abang tiba-tiba panggil Mina Adek? Kenapa nggak dari dulu-dulu?"
Mendengar hal itu, Muis memutar otak untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.
Muis: "Wah.. Iya, itu.. Oh, wah.. Kardusnya berat, ya? Hehe, Ayo kita lanjut jalan." (Mulai melangkah untuk mencoba kabur dari pertanyaan.)
Melihat tingkah Muis itu, Mina hanya bisa menggerutu dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Ujang: "Aku kok rasanya kayak dipanggang hidup-hidup ya, Bos?"
Abas: "Sudah.. kamu yang sabar."
Arah angin seketika berubah membuat Budi yang masih lugu memalingkan pandangannya ke arah jalanan. Seketika ia terperanjat kaget sampai-sampai stik rangka layangan yang sedang ia buat, tanpa sengaja patah. Dengan tergesa-gesa, ia menghentikan aktivitasnya dan dengan segera berlari menuju ke dalam rumah.
Budi: "Umi..! Umi..! Kak Mina pulang! Kak Mina pulang!" (Berlari menuju kamar Uminya.)
Mendengar teriakan Budi, Umi menghentikan kegiatannya dan bersegera bangkit dari tempatnya.
Budi: "Umi..! Kak Mina pulang!" (Menyahut dari depan pintu kamar.)
Umi: "Iya.. Ayo kita ke depan." (Tersenyum kepada Budi.)
Setibanya di pintu depan, Umi dengan segera menyambut kedatangan Mina.
Umi: "Eehh, Mina.. Sudah pulang?"
Mina: "Iya, Kak.. Mina pulang. Baru saja sampai."
Dari kejauhan, Datuk melihat rumahnya sedang ada keramaian. Ia mempertajam penglihatannya untuk sekedar memastikan ada kejadian apa. Akhirnya, ia mempercepat langkah kakinya segera setelah menyadari bahwa anaknya baru saja kembali dari kota.
Mina: "Ayah ke mana, Kak?" (Matanya mencoba mencari keberadaan ayahnya.)
Umi tanpa sengaja melihat Datuk yang sedang berjalan ke arah rumah.
Umi: "Ahh.. Itu, Datuk.. Sedang jalan kemari." (Mengarahkan pandangannya ke arah Datuk.)
Tak berselang lama, Datuk pun akhirnya sampai ke rumah. Dengan dipenuhi rasa rindu yang meluap-luap, ia dengan segera memeluk anaknya yang sudah cukup lama tidak berada di dekatnya.
Datuk: "Akhirnya kamu datang juga.. Ayah pikir kamu tidak akan kembali lagi." (Memeluk Mina beberapa saat, kemudian melepasnya.)
Mina: "Nggak kok, Ayah.. Tugas kuliah Mina numpuk, jadinya baru bisa pulang sekarang."
Muis: "Iya, Dek.. Waktu Abang balik ke sini, Abang cari-cari kok Adek nggak kelihatan. Setelah dapat berita, rupanya Adek sudah pindah ke kota. Abang pikir Adek nggak bakalan balik lagi kemari."
Mina: "Abang pasti kangen.. Ya, kan?" (Tersenyum bahagia.)
Muis: "Mana ada.. Abang kan agak khawatir saja." (Mencoba melindungi diri.)
Mina: "Huuu.. Alasan. Kalau gitu, besok Mina balik lagi ke kota." (Mencoba menggoda Muis.)
Muis: "Yah, jangan dong.. Kan Adek baru pulang. Masa harus balik lagi?"
Mina: "Tuh, kan.. Dasar Abang tukang bohong." (Tersenyum bahagia.)
Datuk hanya bisa terdiam melihat tingkah laku muda mudi itu dengan wajah datar.
Datuk: "Hei.. Hei.. Sudah siang, ini.. Jangan dibikin tambah gerah.. Muis, anakku masih kuliah loh, ya.." (Masih dengan ekspresi yang sama.)
Muis: "Hehehe.. Iya, Pak Wali.." (Menjadi canggung.)
Mina: "Iiihhh.. Ayah, apa sih? Ayah jahat."
Suasana siang ini dipenuhi begitu banyak keceriaan. Membuat Umi terlihat senyum-senyum sendiri menyaksikan semua yang terjadi.
Umi: "Nah, nah.. Mina, pasti sudah lapar. Ayo makan dulu."
Mina: "Nanti saja, Kak. Mina mau ke makam Ibu dulu."
Datuk: "Kamu sudah yakin?" (Merasa sedikit ragu.)
Mina: "Iya.." (Memperlihatkan raut wajah yang cukup serius.)
Datuk: "Baiklah kalau begitu.. Muis, tolong bantu carikan kembang. Ajak si Abas atau si Ujang."
Muis: "Baik, Pak Wali.. Kalau begitu permisi, Pak Wali.." (Meminta izin untuk pergi.)
Muis kemudian berlalu meninggalkan mereka sembari sesekali menengok ke belakang, meskipun hanya sekedar mencuri-curi pandang terhadap Mina. Muis dan Mina hanya saling berbalas senyuman dan Datuk masih sempat-sempatnya menghalangi pandangan mereka berdua.
Umi: "Dek.. Sebelum ke makam ibumu, bagaimana kalau kita makan dulu?" (Memberikan saran.)
Datuk: "Nah, iya.. Kamu santai-santai dulu, biar nggak capek."
Sepasang mata boleh saja berdusta.
Senyuman manis boleh saja berdusta.
__ADS_1
Tutur kata boleh saja berdusta.
Namun Nurani tidak akan pernah berdusta.