Dimensi Milikku Sendiri

Dimensi Milikku Sendiri
Baka


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Sebuah pesawat komersial tengah bersiap-siap mengambil ancang-ancang untuk berlari dengan cepat. Ban pesawat itu terlihat mulai bergerak perlahan, hingga akhirnya bergerak semakin cepat dan bertambah cepat. Si burung besar itu kini mulai terangkat dan berhasil melakukan take off dengan sangat sempurna. Si burung besar itu telah siap mengudara, terbang dengan gagah perkasa di atas luasnya samudra. Kerlap kerlip bintang hanyalah sebagai pertanda bahwa si makhluk kerdil yang selalu saja tersesat itu tidaklah sendirian di jagad raya ini.


Waktu terus bergerak maju.. Di tengah perjalanan, Budi melihat sepasang pesawat tempur yang terlihat mencoba mendekat ke arah pesawat yang sedang ia tumpangi. Pesawat-pesawat tempur tersebut terlihat menjaga jarak dan menyelaraskan kecepatan dengan si burung besar. Melihat hal itu, Budi hanya tersenyum kecil karena ia menyadari bahwa itu adalah sebuah tindakan pengawalan.


Pagi itu, bandara yang paling tersibuk di Jipen, tengah dikagetkan oleh aksi iring-iringan truk militer yang merangsek masuk menuju area bandara. Iring-iringan tersebut berhenti di tempat yang telah ditentukan. Para Komandan kompi mereka seketika keluar dari truk dan mulai meneriaki kawanan mereka.


"Isoge! Isoge!!"


Seketika papan pengumuman jadwal pesawat berubah menjadi delay secara keseluruhan. Orang-orang yang tadinya terlihat hiruk pikuk di dalam bandara, seketika terdiam melihat beberapa grup pasukan merangsek masuk dan menyebar ke setiap penjuru tempat.


Pe Ii eS terlihat berpeluh dingin untuk memberikan keterangan-keterangan informasi terkait perlambatan tersebut. Tidak lama berselang, iring-iringan mobil hitam juga ikut merangsek masuk ke dalam area bandara dan mulai memenuhi separuh area jalanan. Hampir dalam waktu yang bersamaan, orang-orang berpakaian serba hitam keluar dari semua mobil dan terlihat mulai membentuk kelompok-kelompok kecil yang beberapa di antaranya bergerak secara menyebar.


Si burung besar kini sudah terlihat akan mendekati bandara. Ia sepertinya sedang berbisik-bisik dengan si menara besar sang penjaga sangkar. Dengan cakarnya yang menggelinding, si burung besar itu akhirnya berhasil melakukan landing dengan sangat halus.


Dari kejauhan terlihat tumpukan mobil yang bercahaya kerlap kerlip. Si burung besar pun akhirnya berhenti dan berdiri dengan gagahnya di dekat cahaya-cahaya tersebut. Budi hanya terdiam memandang jauh ke arah lautan dari balik kaca pesawat sembari menunggu para penumpang lainnya bisa keluar dengan aman.


Kali ini, suasana dalam pesawat mulai menjadi sunyi. Yang tersisa hanyalah para mata-mata yang sejak awal sudah membuntuti Budi dari awal keberangkatan. Para mata-mata tersebut kemudian mulai mendekati Budi.


Mata-mata: "Tuan Budi.. Sudah waktunya."


Budi hanya memberikan senyuman kepada mereka. Ia lalu membuka tas kerja yang dibawanya, kemudian memasangi baret hitam warisan gurunya itu di kepalanya. Setelah merasa sudah terlihat rapi, ia lalu bangkit dari kursinya dan segera menuju pintu pesawat.


Di luar pesawat, terlihat orang-orang yang berpakaian serba hitam tadi tengah bersiap menunggu kedatangan Budi. Terlihat ketua dari grup tersebut mencoba mendekati Budi yang mulai turun dari pesawat.


Ketua grup: "Selamat pagi, Budi-san. Selamat datang di negeri kami yang tercinta ini." (Menjabat tangan Budi.)


Budi: "Selamat pagi kembali." (Membalas jabat tangan tersebut dengan senyuman yang tipis.)


Ketua grup: "Kalau begitu, silakan ikut dengan kami." (Bergerak untuk menuntun Budi.)


Budi hanya mengikuti instruksi dari orang tersebut. Mereka semua yang masuk dalam kelompok tersebut memilih keluar dari bandara menggunakan jalur khusus untuk menuju mobil yang telah mereka sediakan. Pintu mobil telah terbuka.. Tanpa berlama-lama, Budi segera memasuki mobil tersebut. Iring-iringan mobil pun segera tancap gas meninggalkan area bandara.


Pagi itu, jalanan terasa begitu sunyi. Hanya bunyi sirene mobil pengawal yang menyeruak memenuhi jalan-jalan kosong tersebut. Budi kembali menatap jauh ke arah laut. Ia melihat sebuah kapal induk yang sedang melakukan latihan di perairan lepas. Lima jet tempur berformasi segitiga terlihat meliuk-liuk mengitari kapal induk tersebut. Seketika ia teringat akan masa lalunya dengan Datuk.


Budi: "Datuk.. Inyang itu tentara, ya?"


Datuk: "Kamu dapat berita dari mana?"


Budi: "Iya.. Aku tadi lihat di kamar Inyang ada topi hitam tergantung di dinding."


Datuk: "Budi.. Itu topi hitam sakti. Kalau dipakai, bisa bunuh banyak orang."


Budi: "Wah.. Budi salah, ternyata.. Berarti Inyang dukun hebat, dong? Kayak yang di tivi-tivi itu."


Datuk: "Hahaha.. Bisa jadi, bisa jadi. Hahaha.."


Dalam lamunan, ia tersenyum kecil. Budi kemudian merapikan posisi baretnya. Sepertinya ia telah siap untuk tujuan utamanya berkunjung ke negeri tersebut. Di dalam mobil hanya ada mereka bertiga. Hanya ada Budi, wanita berambut pendek yang mengenakan baju olah raga hitam dan sopir yang menggunakan setelan jas hitam. Budi lantas menanyakan sesuatu kepada orang yang sedang mengemudikan mobil tersebut.


Budi: "Apa penyadapmu menyala?"


Sopir: "Menyala, Budi-san."


Budi: "Baguslah.. Aku ingin bicara dengan atasanmu.. Kamu cukup tirukan saja apa kata-katanya."


Sopir: "Baik, dimengerti."


Budi kemudian memulai untuk berbicara dengan atasan mereka dengan cara menggunakan sambungan penyadap tersebut.


Budi: "Apa aku sudah merepotkan kalian?"


Sopir: "Sama sekali tidak Budi-san. Semua sudah sesuai standar operasional dari buku panduan."


Seketika situasi hening begitu saja. Budi kemudian kembali berkata.


Budi: "Sepertinya kalian sudah sangat terlatih menghadapi situasi darurat."


Sopir: "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Budi-san."


Budi: "Tidak, bukan begitu. Secara pribadi, aku mengakui kinerja kalian. Sudahlah, aku ini hanya orang biasa yang diberi mandat untuk mengemban amanah. Aku sama seperti kalian.. Jadi, tidak usah terlalu memanjakanku. Lagi pula, aku ke sini tidak untuk berlama-lama. Jadi, cukup satu mobil saja. Aku datang hanya untuk mengantarkan pesan dan sepertinya juga akan makan semangkuk nasi berminyak.. Mungkin."


Sopir: "Maafkan keteledoran kami, Budi-san. Kami akan segera menyediakan restoran secepatnya."


Budi: "Sayang sekali, aku harus menolak tawaran kalian. Guruku bilang di sini ada nasi berminyak terenak di dunia, dan aku sangat ingin mencicipinya."


Mobil yang ditumpangi Budi kemudian dengan perlahan bergerak memisahkan diri dari iring-iringan mobil rombongan. Mereka kemudian berpindah jalur dan berpisah dari rombongan yang selama ini mengawal mereka.


Dilain sisi, dari kejauhan suara sirene-sirene kota terdengar begitu nyaring. Seolah-olah dunia sedang berada dalam kondisi siaga perang.


"Diberitahukan kepada penduduk untuk wilayah distrik Naga Air, Kepiting Raja, dan Siluman Belut bahwa Pe eS Ce baru saja mengadakan proses latihan keamanan berkala. Penduduk diminta agar mengurangi aktivitas di luar rumah guna mengurangi terjadinya kecelakaan selama proses latihan keamanan berlangsung. Diulangi.. Pemberitahuan ini diberlakukan kepada penduduk untuk wilayah distrik Naga Air, Kepiting Raja, dan Siluman Belut bahwa Pe eS Ce baru saja mengadakan proses latihan keamanan berkala. Penduduk diminta agar mengurangi aktivitas di luar rumah guna mengurangi terjadinya kecelakaan selama proses latihan keamanan berlangsung."


Seorang wanita tua tersentak dan berdiri akan hal tersebut. Ia pun kemudian memanggil-manggil cucunya.


Wanita tua: "Hikari.. Hikari.."


Hikari: "Iya, Obaa-chan, ada apa?" (Keluar dari dalam rumah.)


Wanita tua: "Ayo, kita harus siap-siap.. Sepertinya kita akan kedatangan tamu penting. Beritahu ibumu, kita akan masak makanan yang enak hari ini." (Bergerak menuju ke dalam rumah.)


Hikari: "Baiklah, Obaa-chan. Enaknya kita masak apa, ya?" (Mengiringi neneknya.)


Mobil yang Budi tumpangi kini telah sampai ke tempat tujuan. Mereka berhenti tepat di depan anak tangga menuju ke rumah yang ingin ia datangi. Mereka bertiga secara hampir bersamaan keluar dari mobil tersebut.


Dengan sedikit mengatur nafas, Budi kemudian mulai menyusuri tangga tersebut hingga akhirnya sampailah ia di depan gerbang rumah tersebut. Dari arah gerbang, Budi melihat sesosok wanita tua yang sedang asyik bercengkerama dengan seorang wanita muda di bawah sebatang pohon sakura. Seketika itu juga ekspresi wajahnya terlihat tersenyum lega.


Hikari kemudian melihat orang-orang yang sedang berdiri di depan pagar rumahnya. Ia dengan sigap segera menghampirinya.


Waktu terasa bergerak melambat, ketika Hikari berjalan mendekatinya. Jantungnya mulai menunjukkan gejala yang aneh. Hikari yang berjalan ke arah Budi pun merasakan hal yang tidak biasa. Dan seketika itu juga, jantung mereka merasakan gejolak. Tak ada tutur kata yang terucap dari mulut mereka. Yang ada hanyalah saling bertemunya pandangan mata di antara mereka. Bagaikan padang rumput yang secara tiba-tiba ditumbuhi beribu bunga. Yang kelopaknya terbang dihempaskan angin, lalu menghujani mereka berdua. Mereka hanya saling memberikan senyuman yang terasa seakan-akan sudah saling berbicara cukup lama.


"Ciuuu. Ciuuu."


Suara yang terkesan mengejek itu memaksa alam bawah sadar mereka kembali ke dunia nyata. Kesal karena sudah merusak suasana, wanita berambut pendek tersebut dengan segera mencubit pinggang rekannya yang menjadi sopir tadi dengan cubitan mematikan. Ia pun meringis kesakitan akibat dari cubitan tersebut.


"Aduh-duh.. Sakit.. Aduh.."


Melihat hal itu, Hikari dan Budi terlihat saling tertawa kecil untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua.


Budi: "Selamat pagi."


Hikari: "Selamat pagi."


Budi: "Maaf mengganggu. Aku ingin bertemu dengan wanita yang ada di foto ini." (Memberikan foto tersebut kepada Hikari.)


Hikari kemudian mengambil foto tersebut. Wajahnya terlihat begitu terkesima ketika memandangi sosok dari wanita cantik yang ada dalam foto tersebut.


Hikari: "Ini siapa? Cantik sekali."


Budi: "Sungguh, kamu tidak bisa mengenalinya?"


Hikari terlihat mengerutkan keningnya dan memandangi dengan serius sosok wanita yang ada di dalam foto tersebut.


Hikari: "Obaa-chan? Obaa-chan kireeeeeiii..!" (Tersenyum manis.)


Budi: "Benar.. Bisakah aku bertemu dengan beliau?" (Juga ikut tersenyum.)


Hikari: "Tunggu sebentar, ya.." (Terlihat bahagia.)


Hikari kemudian bergegas menuju ke tempat neneknya dan memperlihatkan foto tersebut kepadanya. Tidak lama berselang, Hikari kemudian kembali menghampiri Budi untuk membukakan pintu gerbang.


Hikari: "Mari.. Silakan masuk."


Budi: "Terima kasih banyak."


Hikari pun kemudian menuntun Budi untuk bertemu dengan neneknya. Mereka, si wanita berambut pendek dan si pria yang menjadi sopir hanya terdiam menunggu dari luar pagar. Terlihat wanita tua tersebut tengah asyik memandangi foto yang sedang dipegangnya dengan terus tersenyum.


Budi: "Selamat pagi, Obaa-sama."


Nenek: "Selamat pagi kembali.. Ara ara, kamu terlihat gagah sekali. Siapa namamu, Nak?"


Budi: "Namaku Budi, Obaa-sama. Salam kenal."


Hikari: "Budi.. San, datang dari mana?"


Budi: "Panggil Budi saja.. Tidak apa-apa. Aku datang dari eN Aa." (Tersenyum kepada Hikari.)


Hikari: "Aku juga.. Namaku Hikari. Panggil Hikari saja." (Membalas senyuman Budi.)


Nenek: "Ara ara.. Ternyata cucuku sudah menemukan pangerannya." (Juga ikut tersenyum.)


Hikari: "Obaa-chan, apa siiih..!?" (Terlihat malu.)


Entah kenapa, Budi jadi ikut-ikutan malu karena hal tersebut.


Nenek: "Budi.. Mari duduk, tidak baik membiarkan tamu berdiri terlalu lama."


Budi: "Baiklah, Obaa-sama. Permisi.." (Budi kemudian duduk di kursi.)


Nenek: "Hikari.. Tolong ambilkan minuman untuk tamu kita ini."


Hikari: "Baik, Obaa-chan." (Hikari kemudian bersegera menuju ke dalam rumah.)


Budi tampak hanya terdiam menyaksikan pohon sakura yang telah mekar. Melihat hal itu, wanita tua tersebut mencoba untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.


Nenek: "Bagaimana sakuranya? Cantik, kan?"


Budi: "Benar, Obaa-sama. Guruku juga sangat menyukai sakura."


Tidak lama berselang, Hikari datang dengan membawakan nampan yang berisikan beberapa gelas minuman. Dengan segera ia menyuguhkan minuman tersebut kepada Budi dan neneknya. Dan ia pun ikut dalam perbincangan tersebut.


Nenek: "Silakan, Budi. diminum dulu." (Mempersilakan Budi.)


Budi: "Iya, Obaa-sama. Terima kasih banyak." (Budi meminum seteguk minuman tersebut.)

__ADS_1


Nenek: "Kamu datang dari tempat yang jauh, tentu ada maksud dan tujuan. Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan kepada kami?"


Budi terlihat mulai sedikit ragu untuk menyampaikannya. Melihat hal itu, wanita tua tersebut memegangi pundak Budi untuk menguatkannya.


Nenek: "Tidak apa-apa.. Katakan saja. Kami sudah siap mendengarkannya." (Mencoba meyakinkan Budi.)


Budi: "Beliau... Baru saja meninggal dua hari yang lalu." (Memandang ke arah cangkir teh yang ada di depannya.)


Suasana seketika menjadi hening. Pada saat itu juga, Wanita tua tersebut memandang jauh ke arah laut. Tatapannya terlihat kosong.. Jiwanya seakan-akan hilang tersedot oleh dimensi yang menuju ke masa lalu. Hikari tampak cukup kaget mendengar berita yang telah di sampaikan Budi. Di saat yang sama, ia juga sangat mengkhawatirkan neneknya. Selang beberapa lama, wanita tua itu kembali sadar.


Nenek: "Jadi begitu..." (Terlihat menunduk dengan senyuman yang tipis.)


Tak ingin suasana yang negatif itu semakin berlarut-larut. Budi kemudian mengambil tas kerjanya dan mengeluarkan buku peninggalan gurunya untuk diserahkan kepada wanita tua tersebut. Tanpa berlama-lama lagi, Budi akhirnya menyodorkan buku itu.


Nenek: "Ini apa?"


Budi: "Aku diberi misi untuk mengantarkan buku ini, Obaa-sama."


Wanita tua itu mengambil buku tersebut dari tangan Budi dan kemudian mulai membacanya. Seketika itu juga, wajahnya terlihat begitu cerah. Senyuman yang sangat manis menghiasi wajahnya dan matanya pun seketika mulai berkaca-kaca.


"(Dalam mimpi, aku melihatmu menangis di bawah pohon sakura ... ... )"


Nenek: "Baka.." (Dengan suara pelan dan dihiasi oleh senyum yang manis sekaligus mata yang berkaca-kaca.)


Mendengar hal itu, perasaan Hikari seketika menjadi menggebu-gebu. Matanya yang cantik itu juga ikut berkaca-kaca.


Hikari: "Mooou.. Obaa-chan, kawaiiiii.." (Dengan segera memeluk neneknya.)


Kata-kata yang singkat dari neneknya itu membuat perasaan Hikari menjadi menggebu-gebu. Seakan-akan telah membawanya menyelam ke masa lalu neneknya yang dipenuhi dengan warna-warna indah.


Hikari: "Ahh, Obaa-chan curang.. Obaa-chan harus beritahu semua hal tentang Ojii-chan."


Nenek: "Kamu ingin tahu?"


Hikari: "Umm." (Mengangguk.)


Nenek: "Ojii-chan itu... ..."


Ia baru saja menyaksikan sebuah kisah romantika anak muda dari senyuman manis seorang wanita tua. Kali ini, ia hanya bisa tersenyum melihat canda tawa ketabahan yang ditampakkan di hadapannya. Sepertinya angin telah berbalik arah menuju lautan lepas. Kelopak bunga sakura yang jatuh, terlihat semakin menambah hikmat suasana kasih sayang keluarga di antara mereka.


Dari dalam rumah terdengar suara yang memanggil-manggil.


"Hikari.. Hikari.."


Hikari mendengarnya, namun ia terus saja asyik bercengkerama dengan neneknya.


Nenek: "Hikari.. Ibumu memanggil."


Hikari: "Eeeee.. Aku masih penasaran dengan Ojii-chan." (Terlihat cemberut.)


Nenek: "Nanti saja, bagaimana?"


Hikari: "Baiklah.."


Nenek: "Nah.. Sekarang temui ibumu."


Hikari masih saja memeluk neneknya.


Nenek: "Budi, dou..? Kawaii?" (Mencoba menggoda Hikari.)


Budi: "Sou desu ne.. Kawaii desu ne.." (Tersenyum kepada wanita tua tersebut sembari sesekali melirik kepada Hikari.)


Hikari: "Mou.. Obaa-chan, ijiwaru.." (Terlihat malu dan kemudian bersegera pergi menuju ke dalam rumah.)


Nenek: "Ara ara.. Kawaii desu ne.."


Budi dan wanita tua tersebut terlihat saling berbalas senyuman. Tidak lama berselang, Hikari yang kembali dari dalam rumah, segera menyeru neneknya dari depan pintu.


Hikari: "Obaa-chan, makan siangnya sudah siap.."


Mendengar hal itu, wanita tua tersebut kemudian mengajak Budi untuk makan siang bersamanya.


Nenek: "Kamu pasti belum makan dari pagi tadi, kan? Mari ikut makan siang bersama kami. Ajak juga teman-temanmu." (Bangkit dari duduknya.)


Budi: "Maaf sudah merepotkan." (Terlihat canggung.)


Wanita tua itu kemudian berjalan menuju rumah dan Budi mengikutinya. Ia menatap ke arah pagar dan memberikan isyarat kepada mereka berdua agar ikut masuk.


Sampailah mereka semua di ruangan makan. Mereka semua duduk di lantai menghadap ke arah meja makan, bersiap-siap untuk menyantap hidangan yang tersedia. Si sopir tanpa ragu-ragu lagi langsung menyantap hidangan yang ada di depannya. Seketika itu juga, wanita tua yang melihat hal itu langsung menjewer telinganya.


Sopir: "Aduh-duh.."


Nenek: "Berdoa dulu."


Mereka semua tertawa melihat kejadian tersebut. Setelah doa selesai dipanjatkan, mereka pun makan dengan penuh hikmat. Ibunya Hikari terlihat mulai sedikit penasaran dengan keberadaan Budi.


Ibu: "Kalau boleh tahu, pria gagah ini namanya siapa?"


Budi: "Namaku Budi, Okaa-sama." (Tersenyum kepada ibunya Hikari.)


Hikari: "Okaaaaaa-san.." (Terlihat malu.)


Semua orang tertawa terbahak-bahak


Ibu: "Heee..? Ibu salah? Ibu lihat kalian berdua senyum-senyum saja dari tadi. Ibu pikir kalian punya hubungan yang khusus."


Hikari: "Okaa-san.. Mooou." (Masih terlihat malu.)


Nenek: "Budi, dou? Kawaii?" (Kembali menggoda Hikari.)


Budi: "Sou desu ne. Kawaii desu ne.." (Menjawab dengan lugu.)


Hikari: "Budi, moou.." (Terlihat semakin malu.)


Orang-orang yang hadir dalam acara makan besar tersebut kembali tertawa bahagia.


Sopir: "Yaaaaah, aku tidak menyangka bisa makan satu meja dengan orang hebat."


Wanita berambut pendek: "Budi-san.. Mohon maafkan atas kelakuan rekanku yang bodoh ini." (Mencubit pinggang si sopir.)


Sopir: "Aduh-duh, sakit.."


Budi: "Kalian terlihat akrab sekali, padahal dari tadi hanya diam-diam saja."


Sopir: "Tentu saja, Budi-san. Kalau kerja, kami dituntut untuk bersikap profesional. Tapi lain cerita kalau sudah di meja makan. Tempat-tempat seperti ini sudah jadi area netral bagi kami. Kami sudah biasa berbagi keluh kesah di tempat seperti ini."


Budi: "Benar-benar estetik yang unik."


Sopir: "Kalau tadi kami tidak bisa bicara. Sekarang sudah bisa. Contohnya.. Budi-san kakkoi... Cukki cukki daiiiiiiiiiiiicukki.. Hikari-chan kawaiiii.. Cukki cukki daiiiiiiicukki.." (Mencoba menjahili Hikari dan Budi dengan memeluk tubuhnya sendiri sembari memonyongkan mulutnya.)


Budi dan Hikari terlihat menggerutu sekaligus malu karena hal tersebut. Wanita berambut pendek itu seketika mencubit kembali si sopir tersebut. Budi dan Hikari terlihat saling memberi senyuman. Mereka semua terlihat tertawa bahagia. Benar-benar acara makan siang yang meriah.


Budi: "Obaa-sama.. Sebenarnya, dulu guruku pernah bilang bahwa beliau sangat menyukai nasi garam minyak buatan Obaa-sama. Beliau bilang bahwa itu adalah makanan terenak yang ia makan semasa hidupnya."


Nenek: "Ara ara.. Gurumu itu terlalu berlebihan. Makanan apa pun jika dimakan di waktu lapar, pasti akan terasa enak."


Ibu: "Jika Budi mau, Hikari bisa membuatkannya untukmu."


Hikari: "Aku?" (Terlihat menolak namun ingin segera membuatkan.)


Budi: "Maaf sudah merepotkan."


Hikari: "Baiklah.. Mau bagaimana lagi, aku akan buatkan." (Terlihat malu sekaligus bersemangat.)


Ia segera membuatkan masakan tersebut.


Nenek: "Sebenarnya makanan itu juga ada sejarahnya. Para bapak-bapak pada saat itu sering mendapat panggilan berperang biasanya mendadak. Karena tidak sempat memasak, akhirnya kami para ibu-ibu membuatkan bekal yang seperti itu."


Sopir: "Aku jadi ikut penasaran bagaimana rasanya. Hikari-chan, aku juga mau dong."


Hikari yang sedang asyik membuat masakan itu, seketika mencibir dengan cara menjulurkan lidahnya ke arah sopir tersebut yang secara tidak langsung menolak permintaan tersebut.


Sopir: "Dasar pelit." (Menggerutu.)


Hikari kemudian meletakkan semangkuk nasi berminyak di hadapan Budi, kemudian ia mengambil sebuah kemasan bumbu masakan dan menaburkannya ke atas nasi tersebut sembari kembali mencibir ke arah si sopir.


Sopir: "Okaa-san.. Aku juga mau! aku juga mau! aku juga mau..!" (Merengek-rengek layaknya anak kecil.)


Ibu: "Iya, iya." (Menahan tawa dan bangkit dari duduknya untuk membuatkannya juga.)


Melihat hal yang dilakukan Hikari, membuat Budi merasa agak familiar. Ia lantas mempertanyakan hal tersebut.


Budi: "Ini?" (Menunjuk ke arah taburan bumbu.)


Nenek: "Itu bumbu untuk masak sayur."


Mendengar hal itu, ia seketika teringat dengan percakapannya yang dulu sewaktu pertama kali memberikan makanan ini kepada gurunya. Budi menjadi geleng-geleng kepala sekaligus senyum-senyum sendiri.


Ibu: "Ayahnya Hikari sebenarnya membuat pabrik bumbu di eN Aa."


Budi kemudian menebak siapa ayah dari Hikari.


Budi: "Tuan Muramasa."


Hikari dan ibunya terperanjat kaget mendengar hal yang diucapkan Budi.


Ibu: "Kamu tahu tentang ayahnya Hikari?"


Budi: "Beliau sudah berada dalam perlindungan kami. Tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh beliau kecuali harus berhadapan dengan kami."


Ibu: "Kenapa sampai sebegitunya?"

__ADS_1


Budi: "Aku baru saja menyadarinya saat melihat bumbu itu. Kurasa bumbu itu sebuah pesan untuk guruku. Dan saudara-saudara kami yang lain melindunginya."


Wanita tua tersebut terlihat tersenyum bahagia. Ia merasa lega dengan apa yang telah disampaikan Budi.


Nenek: "Benar.. Itu pesanku. Aku mengirim menantuku untuk mengantarkan pesan itu. Aku tahu, di dunia yang damai ini, dia masih saja sibuk dengan perangnya sendiri. Aku khawatir dia kelaparan, aku pun mengirimkannya bekal." (Matanya terlihat berkaca-kaca.)


Seisi ruangan memahami betul apa tengah dirasakan oleh wanita tua tersebut. Budi berinisiatif untuk menyemangati wanita tua itu.


Budi: "Pesan Obaa-sama telah sampai kepada beliau sudah sejak lama. Aku bahkan sering makan nasi ini bersama beliau sewaktu masih bersekolah."


Dari balik ruangan terdengar suara alarm yang terdengar begitu nyaring. Ibunya Hikari segera menuju ke tempat suara itu berasal meskipun hanya sekedar untuk mematikan bunyi-bunyian tersebut. Dengan segera, ia pun kembali ke ruang makan.


Ibu: "Okaa-sama, sepertinya sudah waktunya upacara doa."


Nenek: "Baiklah.. Mari kita sudahi acara makan siang ini. Kita harus segera melakukan upacara doa. Budi, kamu yang pimpin upacaranya, ya.."


Budi: "Baiklah, Obaa-sama. Kalau begitu aku permisi ke belakang dulu."


Si sopir tertegun sembari masih memegangi semangkok nasi berminyak itu di tangannya. Si sopir dan si wanita berambut pendek terlihat saling berbisik-bisik di ruang makan tersebut.


Sopir: "Upacara apa?" (Berbicara pelan sembari berbisik-bisik.)


Wanita berambut pendek: "Upacara doanya orang Muslim."


Matahari sudah sepenggalah naik, ia teringat bahwa Law hanya bisa mengulur waktu hingga siang ini saja. Ia pun kembali ke ruang makan untuk berkumpul kembali dengan mereka yang tertinggal. Hikari, ibunya dan beserta neneknya juga ikut berkumpul di ruangan tersebut.


Budi: "Obaa-sama, mungkin sudah waktunya aku undur diri."


Hikari: "Sudah mau pulang?" (Terlihat cukup gelisah.)


Ibunya beserta neneknya menjadi tersenyum melihat tingkah Hikari.


Nenek: "Ara ara. Sepertinya cucuku tidak akan bisa tidur malam ini."


Hikari: " Obaa-chan.. Mooou.." (Terlihat malu.)


Budi: "Jika semua berjalan sesuai rencana, mungkin kita semua akan bertemu lagi besok."


Ibu: "Budi.. Sebenarnya kamu sedang merencanakan apa?"


Budi: "Aku tidak bisa bilang sekarang.. Hanya saja, semuanya kini tergantung pilihan kalian." (Tersenyum kepada keluarga tersebut.)


Budi pun kemudian bangkit dari duduknya dan diikuti oleh si sopir dan si rambut pendek. Hikari, ibunya, dan neneknya mengikuti mereka hingga ke halaman.


Budi: "Kalau begitu, kami permisi dulu." (Tersenyum kecil.)


Hikari terlihat kurang puas akan perpisahan tersebut.


Hikari: "Budi.. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi, ya." (Menyeru Budi.)


Budi pun menoleh dan mengangkat tangannya sembari tersenyum kepada Hikari. Hikari sudah merasa cukup puas dengan aksinya karena ia sudah mengaitkan janji untuk pertemuan mereka yang selanjutnya.


Ibu: "Okaa-sama pasti ingin bilang, 'ara ara, cucuku ternyata sedang jatuh cinta'." (Menjahili Hikari.)


Hikari: "Mooou.. Okaa-san!" (Terlihat malu.)


Nenek: "Ara ara.. Pangerannya Hikari pergi dengan meninggalkan senyuman." (Ikut menjahili.)


Hikari: "Obaa-chan, juga..! Mou, aku mau ke kamar saja ah!" (Kembali ke dalam rumah dengan perasaan malu.)


Siang itu, wanita tua tersebut sepertinya sedang asyik membaca buku peninggalan mendiang suaminya. Ia terlihat sangat menikmati rayuan-rayuan gombal itu hanya untuk dirinya sendiri di bawah sebatang pohon sakura. Kulitnya yang keriput seketika termanjakan oleh kalimat-kalimat rayuan manis dari buku tersebut. Cantiknya senyuman dari rona wajah di masa muda seakan terkesan abadi dari dalam ilusinya. Sudah cukup baginya sebuah kenangan, meskipun hanya sekedar untuk membuatnya bertahan hidup.


Sekumpulan pria berbaju hitam terlihat merangsek masuk menuju kediaman wanita tua tersebut. Mereka terlihat seperti sedang terburu-buru. Wanita tua tersebut hanya diam menyaksikan kejadian tersebut.


Seseorang yang paling berpengaruh di dalam kumpulan tersebut kemudian menampakkan dirinya. Ia segera mendekati wanita tua tersebut, dan tanpa ragu menghunjamkan kepalanya ke tanah. Ia terlihat bersujud di hadapan wanita tua tersebut.


"Hime-dono..! Mohon maafkan segala kesalahan kami..!"


Wanita tua tersebut seketika terkaget melihat aksi dari pria berpakaian rapi itu.


Nenek: "Ara ara.. Shogun-chan, kamu kenapa?" (Segera bangkit dari duduknya,)


Wanita tua tersebut segera menghampiri pria tersebut dan memapahnya untuk bangkit. Pria itu terus saja bersujud untuk memohon ampun. Orang-orang yang menyertainya semuanya juga mengikuti aksi dari pria tersebut. Mereka semua telah bersujud di tanah. Wanita tua tersebut terus saja berusaha untuk memapahnya untuk bangkit kembali.


Nenek: "Shogun-chan, jangan begitu.. Kamu itu simbol harga diri bangsa ini. Bangkitlah.. Tetap busungkan dadamu meskipun harus menyaksikan kematian rakyatmu sendiri."


Pria tersebut seketika tersentak, lalu mengikuti ucapan dari wanita tua tersebut.


Nenek: "Lihat.. Bajumu jadi kotor begitu." (Menepuk-nepuk lutut dan tangan pria itu karena terkena tanah.)


Shogun: "Hime-dono.."


Nenek: "Kalian juga.. Ayo cepat bangkit. Tidak baik berlama-lama begitu." (Menyeru kepada bawahan shogun.)


Shogun: "Hime-dono, maafkan kami."


Nenek: "Maa, maa.. Kita duduk dulu." (Menuntun pria itu ke kursinya.)


Shogun terlihat pasrah begitu saja mengikuti ajakan wanita tua itu. Setelah berhasil meyakinkan pria tersebut, wanita tua itu juga ikut duduk di sampingnya.


Nenek: "Yosh.. Shogun-chan, sekarang ceritalah."


Shogun: "Sebenarnya kami sedang di hadapkan dengan situasi yang sulit. Hingga akhirnya kami mengambil keputusan untuk menyembunyikan informasi kematian itu, Hime-dono."


Nenek: "Hanya itu?"


Shogun: "Hanya itu."


Wanita tua itu seketika tersenyum.


Nenek: "Kamu tidak usah mengkhawatirkan masalah itu lagi. Aku sudah merelakannya." (Tersenyum kepada shogun.)


Shogun: "Tapi, Hime-dono.. Izinkan kami menebus kesalahan kami." (Terlihat memelas.)


Nenek: "Aku sudah di usia senja. Aku tidak ingin merepotkan anak cucuku."


Shogun: "Hime-dono.. Tolonglah.." (Memohon.)


Melihat ekspresi wajah yang serius dari shogun, wanita tua itu kemudian berpikir ulang.


Nenek: "Jika kamu memaksa.. Setidaknya aku hanya ingin mengunjungi makam suamiku yang jauh di sana, meskipun hanya untuk yang terakhir kalinya."


Shogun: "Terima kasih banyak, Hime-dono.. Kami akan segera siapkan jadwal keberangkatan untuk besok pagi."


Pagi hari yang dijanjikan itu akhirnya tiba. Iring-iringan mobil yang dikawal ketat itu merangsek masuk ke dalam area bandara. Mereka memasuki jalur khusus yang menembus masuk hingga ke landasan pacu bandara.


Di sana terlihat beberapa kelompok pasukan sedang berjaga-jaga guna mengamankan wanita tua beserta keluarganya untuk masuk ke dalam pesawat jet pribadi.


Waktu telah menunjukkan pukul enam pagi tepat. Pesawat itu sepertinya akan segera memacu kecepatannya guna mengikuti agenda yang sudah di jadwalkan. Hingga pada akhirnya mereka pun berhasil terbang dan hilang menembus awan.


Bayang-bayang matahari telah meninggi. Budi dan pasukan pengamanannya terlihat berlalu lalang di sekitar bandara. Ia sepertinya telah bersiap untuk menunggu kedatangan wanita tua tersebut beserta keluarganya.


Dari arah langit yang jauh, Budi melihat pesawat itu akan segera landing ke lintasan pacu bandara. Dengan sigap ia memerintahkan pasukannya untuk menaikkan status siaga. Pesawat itu berhasil mendarat dengan sempurna.


Dari dekat hangar, Budi dan beberapa mobil iring-iringan telah bersiap menunggu mereka keluar dari pesawat. Pintu itu pun terbuka, Hikari terlihat sangat bersemangat sekali saat itu.


Hikari: "Budiiii.." (Melambai kepada Budi dengan senyuman.)


Budi juga membalasnya dengan senyuman dan sekaligus mengangkat tangannya. Hikari terlihat berlari mengejar Budi. Ibu dan neneknya yang tertinggal di belakang hanya tersenyum menyaksikan tingkah mereka berdua.


Ibu: "Hikari..?" (Mencoba memperingati Hikari.)


Nenek: "Maa, maa.. Biarkanlah mereka bertumbuh dan mekar." (Tersenyum.)


Budi dan Hikari seakan-akan tidak memedulikan apa pun. Yang ada hanyalah senyuman yang saling berbalas. Dunia yang indah bagi mereka luasnya hanyalah kurang dari satu meter.


"Ehhmm.." (Seorang pasukan mencoba mengingatkan.)


Budi seketika tersentak, ia terlihat seakan-akan seperti orang tidur yang dibangunkan secara paksa.


Budi: "Ahh.. Iya, itu.. Kita harus segera berangkat."


Mereka semua kemudian bersegera masuk ke dalam mobil dan iring-iringan pun berlalu pergi meninggalkan bandara. Mereka segera tancap gas menuju desa.


Sekelompok pasukan terlihat sedang berlari-lari kecil di pinggiran jalan utama desa. Lautan padi keemasan yang memanjakan mata terlihat seakan-akan sedang bersorak-sorai atas kedatangan mereka. Tidak butuh sambutan yang meriah, cukup hanya dengan sekawanan burung bangau yang terbang rendah dan membentuk formasi indah di langit.


Budi dan rombongan terlihat sudah berbelok dan masuk ke jalanan desa. Terus melaju tanpa memedulikan orang-orang yang tengah berkumpul dengan berjuta tanda tanya. Hingga akhirnya mereka sampai tepat di bawah kediaman Inyang. Budi seketika keluar dari kursi penumpang depan dan bersegera membukakan pintu untuk wanita tua beserta keluarganya.


Budi: "Obaa-sama.. Mari." (Mengulurkan tangannya kepada wanita tua tersebut.)


Nenek: "Terima kasih.." (Keluar dari mobil sembari memegangi tangan Budi.)


Budi kemudian menuntun wanita tua tersebut untuk menaiki anak tangga yang sekaligus diikuti oleh Hikari dan ibunya. Tidak ada ekspresi kekecewaan yang tampak dari raut wajah mereka. Yang ada hanyalah kekaguman akan indahnya alam.


Kali ini, mereka telah melihat dengan sangat jelas sebuah papan putih yang tertancap di atas sebuah gundukan tanah. Tidak ada tangisan, tidak ada rintihan, tidak ada kemuraman, yang ada hanyalah suara kicau burung yang memecah kesunyian di antara mereka.


Wanita tua tersebut terlihat sedang mengambil sebuah saputangan dari dalam sakunya dan kemudian mengikatkannya di kepala.


Nenek: "Ara ara.. Hikari.. Tolong ambilkan sapu. Kakekmu ini jorok sekali." (Sedang merapikan ikat kepalanya.)


Pengawal yang mendengar hal itu terlihat ketar ketir untuk mengambil sapu dan berbagai alat lainnya yang ternyata sudah mereka persiapkan dari semula di bagasi mobilnya. Tidak butuh waktu yang lama, sapu yang dimintakan tersebut telah sampai ke tangan wanita tua tersebut. Tanpa basa basi lagi, ia segera menyapu daun-daun kering yang terlihat berceceran di atas tanah dalam kesendiriannya. Melihat hal itu, Hikari berinisiatif untuk membantu neneknya. Ibunya yang mengetahui hal itu, segera menahan Hikari. Ibunya hanya menggelengkan kepalanya kepada Hikari. Mereka semua hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama menyaksikan peristiwa tersebut.


Pekarangan berubah menjadi bersih dari dedaunan. Kali ini, wanita tua tersebut terlihat masuk ke dalam pondok dengan masih menenteng sapu itu bersamanya. Seketika itu juga, Budi menjadi senyum-senyum sendiri. Hikari yang keheranan mencoba bertanya kepada Budi.


Hikari: "Ada apa? Kok senyum-senyum begitu?"


Tiba-tiba wanita tua tersebut keluar dari pondok sembari menenteng sebuah bingkai kaca dan sapu dengan sangat tergesa-gesa. Ia segera menuju makam suaminya sembari mengayunkan sapu yang dengan seketika menerjang nisan suaminya.


Nenek: "Konnnnnnooo..! HENTAI!!" (Menerjang dengan sapu.)


Mendapat pukulan dari sapu tersebut, nisan itu pun menjadi terlihat seperti tertunduk. Mereka yang melihat kejadian itu seketika berupaya menahan tawa dengan senyumannya.

__ADS_1


Budi: "Hikari.. Ayo pergi." (Tersenyum sembari memegangi tangan Hikari dan membawanya pergi menuruni tangga.)


Mereka-mereka yang menjadi saksi, segera mengikuti Budi dan berlalu meninggalkan wanita tua tersebut dalam kesendiriannya.


__ADS_2