
Asisten Admin: "Siap! Lapor, Jendral.. Pihak musuh meminta bantuan kita untuk menumpas bawahan mereka yang telah berkhianat karena telah mengambil alih benteng mereka di tenggara."
Budi: "Katakan pada mereka.. Diterima."
Asisten Admin: "Tapi, Jendral.. Ini sudah pasti jebakan."
Budi: "Benar.. Mereka ingin menguji kekuatan kita."
Budi kemudian kembali ke ruangan kerjanya. Ia mulai melihat berkas-berkas yang dibutuhkannya untuk misi kali ini. Setelah urusannya selesai, Ia mengangkat telefon dan meminta seseorang untuk menyiapkan beberapa grup kecil pasukan.
Suara sirene panggilan menyeruak ke seluruh markas. Orang-orang terlihat tergesa-gesa memasangi atribut militer mereka karena mengikuti kode seruan dari bunyi sirene tersebut. Tidak butuh waktu yang lama, mereka yang mendapatkan kode seruan tersebut telah berbaris rapi di dalam aula. Mereka-mereka yang hadir menjadi kaget karena pimpinan mereka terlihat sedang menggunakan atribut militer lengkap. Mereka semua seketika meyakini bahwa misi kali ini adalah misi penting yang harus mereka selesaikan. Papan putih yang ada di hadapan mereka terlihat menampilkan simulasi denah lokasi dari target dan denah lokasi dari pasukan.
Budi: "Baiklah saudara-saudaraku sekalian, misi kali ini harus tumpas tuntas dalam waktu tiga jam. Kode misinya adalah No Mercy. Saya minta tiap-tiap Komandan Kompi mengajukan lima orang, diantaranya dua orang assis, dua orang assas, satu orang home run. Sisanya markas status siaga dua."
Tidak butuh waktu yang lama, mereka-mereka yang dipilih, segera membentuk barisan tepat di belakang Komandan Kompi mereka. Melihat kesigapan pasukannya, dengan segera menyuruh mereka untuk bergerak.
Budi: "Bubar, jalan!"
Terlihat di samping hangar berjejer lima buah mobil jelajah yang sedang bersiap menunggu kedatangan pasukan tersebut. Mereka dengan segera memasuki mobil mereka masing-masing dan tanpa butuh aba-aba lagi, segera bergerak meninggalkan markas.
Masing-masing grup pasukan telah berada pada posisi yang ditentukan, mereka terlihat sedang mengendap-endap dari balik semak menunggu aba-aba menyerang dari pimpinan mereka. Budi yang telah memastikan situasinya, segera memberikan perintah kepada pasukannya.
Budi: "No Mercy."
Tiba-tiba seluruh lampu sorot di benteng tersebut meledak dan mati. Suasana tiba-tiba menjadi gelap dan menyeramkan. Orang-orang yang berada dalam benteng mulai menjadi panik dan segera menyalakan sirene tanda bahaya. Seketika suara tembakan terjadi di setiap sudut benteng. Mayat-mayat berserakan di mana-mana. Darah segar mengalir di lantai-lantai base. Dinding dipenuhi oleh coretan-coretan darah. Kali ini, suasananya benar-benar sangat sunyi. Benteng tersebut telah berhasil direbut sepenuhnya dalam waktu kurang dari satu setengah jam.
Suasana pagi itu terasa begitu hangat. Dua buah truk terlihat sedang bersiap-siap untuk berangkat menjalankan misi lanjutan. Budi yang hanya mengenakan tanktop hitam terlihat sedang asyik bercengkerama dengan petugas engineering di bagian belakang hangar. Tiba-tiba ia didatangi seorang prajurit yang segera memberikan salam hormat kepadanya. Budi yang melihat hal itu juga membalas salam hormat tersebut.
Prajurit: "Siap! Lapor, Jendral.. Anda diminta untuk segera menuju ruang rapat." (Menyampaikan laporan dengan salam hormat.)
Budi: "Siap! Laksanakan!" (Membalas salam hormat tersebut.)
Mereka semua kembali kepada aktivitasnya masing-masing. Budi kemudian dengan segera memenuhi undangan tersebut. Sesampainya di dalam ruang rapat, Budi segera memberikan salam hormat kepada para bawahannya yang sepertinya sedang sibuk mendiskusikan sesuatu. Melihat kedatangan Budi, mereka pun saling berbalas salam.
Budi: "Ada apa?"
Mereka terlihat ragu untuk menyampaikannya.
Budi: "Tidak apa-apa, katakan saja."
Komandan Kompi 02: "Kami menerima pesan bahwa orang tuamu sedang sekarat. Pusat menyuruhmu pulang hari ini juga."
Komandan Kompi 01: "Jangan khawatir, Jendral.. Kami akan urus semua yang di sini sesuai buku panduan yang sudah Jendral buat."
Budi: "Baiklah, kalau begitu.. Saya akan pulang hari ini juga."
Seorang prajurit terlihat bergegas masuk ke ruangan tersebut untuk menyampaikan laporannya.
Prajurit: "Siap! Lapor, Komandan.. Jet sudah standing by."
Komandan Kompi 04: "Tunggu aba-aba selanjutnya."
Prajurit: "Siap! Laksanakan."
Prajurit itu pun segera berlalu meninggalkan ruangan.
Budi: "Jet?"
Komandan Kompi 01: "Iya.. Pulang pakai jet."
Budi: "Ini sudah melanggar Kode Etik Militer."
Komandan Kompi 03: "Kode Etik apa..? Jet yang dikirim pusat nggak laku sama medan di sini. Makanya sekalian dikirim pulang saja. Hahaha.."
Komandan Kompi 04: "Anggap saja kami rindu suara cemprengnya si Faisal waktu ngamuk-ngamuk di telefon. Hahaha.."
Komandan Kompi 05: "Hahaha, iya.. Sehabis misi kemarin kita kan dapat harta karun, kan ya? Empat heli full set, masih mulus-mulus lagi. Wangi, wangi. Hahaha.."
Semua Komandan Kompi tertawa terbahak-bahak. Budi hanya ikut tersenyum melihat tingkah mereka.
Budi: "Baiklah, kalau begitu saya menunjuk Komandan Kompi Nol Satu untuk memegang kendali."
Komandan Kompi 01: "Siap! Laksanakan." (Salam hormat.)
Komandan Kompi yang lain mengikuti salam hormat tersebut. Dan Budi juga membalas salam hormat mereka.
Budi: "Baiklah, kalau begitu saya beres-beres dulu, Bang. Maaf sudah merepotkan."
Komandan Kompi 02: "Tidak usah sungkan begitulah, Bud. Kalau Jendral Muda suruh ngapusi ingusnya pun, kami siap sedia. Hahaha.."
Komandan Kompi 05: "Cini-cini dedek Budi.. Iar o-om antu jaantiin baju na. Hahaha..." (Mencoba menggoda Budi.)
Mereka semua tertawa terbahak-bahak karena aksi konyol tersebut.
Budi: "Wah, Bang.. Baru dilepas sebentar, saya sudah kena bully."
Komandan Kompi 01: "Santai saja, Bud.. Anggap saja ini hari liburmu."
Komandan Kompi 03: "Nanti jangan lupa oleh-olehnya, ya.."
Budi: "Iya, Bang.. Saya permisi pamit pulang dulu." (Berlalu meninggalkan mereka.)
Komandan Kompi 04: "Ya.. Hati-hati di jalan. Nanti kalau kebelet kencing, pencet tombol di kursi kiri saja. Biar nanti kami bawakan popok barunya. Hahaha.." (Kembali menjahili Budi.)
Budi: "Wah.." (Dengan wajah datar.)
Lagi dan lagi mereka kembali tertawa terbahak-bahak.
Di hangar terlihat sekumpulan orang bersorak-sorak meneriaki Budi yang sedang akan beraksi dengan jet tempurnya.
Budi: "Engine, ok. Left, ok. Right, ok. Tail ok. Wheels ok. Perfect toys."
Hangar tower: "Take off, ready. Air accept."
Budi kemudian memacu jetnya di lintasan pacu hingga akhirnya melakukan take off dan berhasil mengudara yang kemudian dengan segera mengambil jalur penerbangan yang telah ditentukan. Ia melaju dengan kecepatan tinggi dengan sesekali terbayang Datuknya yang kini sedang tergeletak tidak berdaya.
Budi: "Memanggil.. Kode penerbangan satu lima lima satu tiga satu tiga Vi strip enam Ge eX dua. Diulangi.. Memanggil.. Kode penerbangan satu lima lima satu tiga satu tiga Vi strip enam Ge eX dua."
Tower bandara: "Diterima, satu lima lima satu tiga satu tiga."
Budi: "Satu lima lima satu tiga satu tiga Vi strip enam Ge eX dua meminta izin untuk mendarat."
Tower bandara: "Satu lima lima satu tiga satu tiga diizinkan mendarat. Silakan gunakan lintasan eS dua."
Budi: "Dimengerti."
Budi mendaratkan jetnya dengan mulus. Dari samping hangar, terlihat sekumpulan pasukan yang sedang bersiap-siap dengan kedatangan Budi. Sekeluarnya dari kokpit, tanpa basa basi lagi Budi segera menuju mobil hitam yang telah disiapkan dekat hangar tersebut. Pintu mobil itu terbuka dan ia segera memasukinya.
Sopir: "Kita ke mana dulu, Tuan?"
Budi: "Saya ingin segera pulang."
Iring-iringan mobil pun melaju meninggalkan area bandara. Siang itu, saat matahari sepenggalah naik, Budi telah sampai di pintu gerbang desa. Para pasukan yang berjaga di sekitar lokasi rumah Datuk, terlihat memberikan salam hormat ke arah mobil yang melewati mereka. Mobil pun akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah Datuk. Tanpa ragu, Budi kemudian membuka pintu mobil dan segera menuju rumah. Dari depan pintu, Budi disambut oleh Mina yang sedang menggendong bayinya yang baru lahir.
Budi: "Budi pulang, Kak.."
Mina: "Iya, Bud.. Kata teman-temanmu yang di depan situ, kamu pulang hari ini. Makanya Kakak tungguin kamu di sini."
Budi: "Bang Muis ke mana, Kak?"
Mina: "Masih di sawah, sedang panen padi. Silakan masuk, Ayah sudah menunggu di kamar." (Tersenyum sembari berjalan ke dalam rumah.)
Tiba-tiba sebuah benda tumpul terlihat sedang menyundul-nyundul punggung Budi.
"Angkat tangan! Kalau tidak, saya tembak!"
Mendengar hal itu, Budi menjadi senyum-senyum sendiri sekaligus mengikuti perintah tersebut.
Budi: "Ampun Bang Rauf.. Saya tidak bersalah." (Bertingkah memelas sekaligus senyum-senyum.)
Rauf: "Tidak bisa! Kamu adalah penyusup!"
Budi: "Ampun Bang.. Saya bukan penyusup.."
Rauf: "Penyusup harus mati! Dar! Dar! Dar! Dar! Dar! Dar! Dar! Dar! Dar! Dar!"
Budi: "Aa.. Aa.. Aa.. Aa.. Aa.. Aa.." (Bertingkah seperti orang yang sedang tertembak.)
Budi kemudian menjatuhkan dirinya dan berpura-pura terkapar di tanah.
Rauf: "Wah.. Om Budi ngapain tidur di situ? Kayak kurang kerjaan saja.. Kan kotor."
Budi: "Waduh.." (Menjadi malu sendiri.)
Mereka-mereka yang menyaksikan kejadian tersebut dari luar pagar, seketika tertawa melihat kekonyolan yang dilakukan Budi. Merasa dirinya sedang dipermalukan, Budi menatap tajam ke arah para prajurit yang sedang berada di luar pekarangan. Mereka seketika itu juga menahan suara tawa mereka.
Budi: "Rauf mau ikut Om ke kamar kakek?"
Rauf: "Iya.."
Budi kemudian masuk ke dalam rumah dan bersegera menuju ke kamar Datuk. Di dalam kamar telah menunggu Mina yang sedang duduk di dekat ranjang ayahnya. Datuk terlihat sedang bersandar di ranjangnya sambil tersenyum-senyum dari tadi karena mengetahui bahwa Budi telah datang.
Budi: "Datuk.. Budi pulang." (Berdiri tegap dan memberi salam hormat.)
Datuk: "Wah.. Jendral Muda sudah datang, rupanya."
Budi: "Ah, Datuk.. Baru sampai, langsung dibully." (Menyalami Datuk.)
Datuk: "Bully apa..? Kenyataannya memang begitu. Mana ada sejarahnya Jendral Bintang Satu di usia tiga puluhan tahun."
Budi: "Datuk terlalu memuji." (Terlihat malu-malu.)
Datuk: "Meskipun tubuh lapukku terus berbaring di sini, aku selalu dapat berkas laporan-laporan kegiatanmu. Sebagai seniormu, Datuk mengapresiasi kinerjamu di militer." (Tersenyum tulus kepada Budi.)
Budi: "Waduh, ternyata aku sedang dimata-matai."
Datuk: "Yaah.. Jangan pelit gitulah. Datukmu ini kan juga ingin tahu perkembangan cucunya."
Mereka terlihat saling melepas senyum kebahagiaan. Pertemuan mereka seakan-akan telah mengundang hadirnya bola-bola cahaya yang membawa kenangan-kenangan dari masa lalu mereka.
Datuk: "Budi.. Sebenarnya ada berita penting yang harus aku sampaikan padamu."
Budi: "Iya, Datuk."
Datuk: "Inyang baru saja wafat sore kemarin. Tidak ada upacara-upacara khusus. Meskipun ada, kami pasti akan diomeli habis-habisan oleh beliau. Hahaha.."
Budi: "Hahaha.. Budi mikirnya juga gitu.."
Datuk: "Kondisi seperti ini membuat kami tidak bisa berbuat banyak, kami hanya bisa suruh orang untuk mengurusi pemakaman beliau. Maka dari itu, kami mohon maaf atas segala kekurangan kami." (Terlihat memaksakan diri untuk membungkuk di hadapan Budi.)
Budi: "Datuk, tidak perlu sampai sebegitunya. Aku yang harusnya minta maaf, karena terlambat tahu."
Datuk terlihat tersenyum manis kepada Budi. Senyuman yang menunjukkan rasa bangga.
Datuk: "Seperti yang kamu lihat sekarang, sepertinya tidak lama lagi mungkin giliranku."
Mina: "Ayah!!" (Terlihat waswas.)
Datuk: "Aduh, anak Ayah ternyata takut kehilangan juga rupanya. Tidak usah khawatir.. Kan, masih ada Papa Muis. Hahaha.."
__ADS_1
Budi: "Hahaha.. Papa Muis. Aku masih ingat waktu Kak Mina sehabis acara nikah bilang Papa Muis. Hahaha..."
Datuk: "Betul juga, hahaha.. Mama Mina, Papa Muis, hahaha..."
Mina terlihat menggerutu sekaligus tersenyum karena dijahili oleh mereka berdua.
Mina: "Ayah jahat.." (Segera meninggalkan mereka berdua dengan ekspresi malu.)
Rauf: "'Ayah jahat..' Hahaha.. Mama kalau lagi marah, lucu ya, Kek? Hahaha.."
Datuk: "Iya, Mamamu dari dulu memang lucu. Hahaha..."
Budi: "Hahaha.."
Dari luar kamar, Mina terlihat menatap Rauf dengan tatapan yang tajam.
Mina: "Rauf..?" (Menatap Rauf sembari memelintir jari tangannya sebagai tanda ancaman.)
Rauf: "Waduh.. Kek, Rauf mau main di luar saja." (Segera berlari meninggalkan ruangan.)
Suasana kembali hening dengan berhiaskan senyuman di wajah mereka berdua. Datuk kembali melanjutkan pembicaraan.
Datuk: "Budi.. Kamu terlihat gagah sekali saat ini. Mungkin sudah saatnya aku memberikan hakmu yang selama ini tertunda."
Budi: "Ya? Hak maksudnya?"
Datuk: "Aku punya dua kunci. Kunci pertama adalah hakmu, kunci kedua adalah pilihanmu." (Mengeluarkan dua buah kunci dari balik bantalnya dan memberikannya kepada Budi.)
Budi: "Ini kunci apa, Datuk?" (Mengambil kunci tersebut.)
Datuk: "Yaaa, cari tahu sendiri dong. Kamu kan sudah tahu letak brankasnya di mana. Aku sudah ngantuk, mau tidur." (Membaringkan tubuhnya sembari menutupi kepalanya dengan bantal.)
Budi: "Wah.. Kayaknya Datuk mau lepas tanggung jawab nih. Iya kan, Datuk?"
Datuk: "Mana ada.. Aku cuma ngantuk saja. Hoooooooooaaaaaamz." (Berlagak seperti orang mengantuk.)
Budi: "Baiklah kalau begitu. Sandinya?"
Datuk: "Wustho."
Budi memahami betul karakteristik Datuknya itu. Ia sadar betul bahwa kunci yang diterimanya itu merupakan upaya terakhir yang bisa dilakukan Datuknya tersebut. Dengan santai, Budi kemudian bersegera menuju dapur, di mana brankas itu berada. Mina terlihat duduk santai di ruang tamu. Tanpa ragu, Budi dengan segera mendorong rak-rak perkakas hingga menutupi jalur menuju kamar mandi. Hal itu membuat Mina penasaran dan mencoba mendekati Budi.
Mina: "Eh, Bud.. Ada apa?" (Mempertanyakan.)
Budi: "Iya, Kak.. Budi disuruh Datuk untuk ambil sesuatu di brankas."
Mina: "Itu ada tombolnya. Kamu sudah tanya sandinya berapa?"
Budi: "Sudah.. Satu enam satu delapan."
Mina: "Wah, nggak sadar selama ini ternyata Ayah punya brankas."
Budi: "Huuu, Kak Mina telat. Aku sudah tahu semenjak masih sekolah dulu."
Brankas pun terbuka. Terlihat sebuah dokumen masih dalam keadaan tersegel yang terletak di atas tumpukan lembaran kertas-kertas. Melihat pembungkus dokumennya yang sudah terlihat usang, Ia merasa bahwa dokumen tersebut sudah ada di dalam brankas tersebut sejak lama. Budi segera mengambilnya dan kemudian membukanya. Ia dengan segera menutupnya kembali karena dengan sekilas melihat sebuah hasil scan foto ronsen. Budi terdiam cukup lama akan hal tersebut. Hingga akhirnya ia menyadari sesuatu. Dengan segera, ia bergegas pergi keluar rumah untuk menuju suatu tempat. Mina yang menyaksikan gerak gerik dari adiknya tersebut hanya bisa terdiam.
Melihat Budi yang keluar dari rumah, orang-orang yang berada di luar pekarangan dengan segera memberikan salam hormat kepadanya. Dengan sebuah dokumen yang ada di tangannya, Budi terlihat tidak memedulikan mereka dan terus saja berlalu menuju ke sebuah tempat yang ia ingin tuju. Melihat raut wajah atasannya yang tampak begitu serius itu, membuat mereka berinisiatif untuk mengikutinya. Namun ia dicegat oleh temannya yang lain.
Prajurit: "Jangan! Bisa mati kau nanti!"
Kali ini, Budi terlihat berdiri dengan menundukkan kepalanya ke arah nisan Uminya. Wajahnya terlihat sangat serius. Ia mencoba menguatkan dirinya untuk membuka dokumen tersebut. Maka, telah nyatalah apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Terlihat sebuah hasil scan foto ronsen yang menunjukkan bahwa terdapat serpihan peluru tertinggal di dalam tempurung kepala Uminya. Seketika, nafasnya memburu dan matanya mulai berkaca-kaca. Dengan perasaan yang berkecamuk dalam dirinya, tangannya yang kekar itu dengan kuat menggenggam dokumen tersebut hingga membuatnya tersobek. Saat itu juga, ia kembali teringat akan ucapan Inyang kepadanya.
"(Aku datang dari masa lalu dan akan melesat menuju masa depan dengan membawa sebuah kotak kosong yang harusnya berisikan kebencian.)"
Kemudian, air mata itu pun pecah dan jatuh. Ia seketika bersimpuh di hadapan nisan Uminya.
"Umi.. Terima kasih, sudah melahirkanku ke dunia ini."
Ia adalah seorang pria yang gagah perkasa. Boleh jadi, ia adalah seorang penguasa dunia. Namun, tetap saja.. Ia hanyalah seorang anak yang cengeng di hadapan orang tuanya.
Setelah merasa sudah dapat mengendalikan dirinya. Kali ini Budi berencana untuk mengunjungi makam Inyang yang tepat berada di bawah pohon besar di depan pondoknya. Dengan perasaan lega, ia dengan tegar melangkah pergi meninggalkan area pekuburan.
Setelah sampai ke puncak tangga, ia melihat sebuah makam yang masih terlihat baru tepat di hadapan kursi panjang yang biasanya Inyang duduki. Budi kemudian mendekat dan duduk bersila di tanah di samping makam tersebut. Raut wajahnya dipenuhi dengan senyuman. Ia teringat akan kisah masa lalunya yang sering bermain ke tempat ini.
Budi: "Maafkan aku, Inyang. Aku tidak akan membawa kotak kosong ke masa depan. Aku akan mengisinya dengan senyuman Umi, aku akan mengisinya dengan senyuman Inyang, aku akan mengisinya dengan senyuman Datuk, Om Laut, Kak Mina, teman-temanku, semuanya.. Aku akan mengisinya dengan berjuta-juta senyuman. Meskipun kotak itu telah penuh oleh senyuman, aku akan mengambil kotak yang baru agar bisa ku isi lagi dengan lebih banyak senyuman."
Dengan berbekal kunci yang ada di tangannya, Budi kemudian bangkit dan segera menuju pondok Inyang. Ia lalu mengambil kunci tersebut, dan membuka pintunya.
Benar-benar sebuah pondok kayu yang sederhana. Hanya ada meja kayu, tempat tidur, dan beberapa ornamen-ornamen dinding lainnya. Ia melihat sebuah buku kecil di atas meja. Dengan sedikit rasa penasaran, ia mencoba untuk membuka buku tersebut dan kemudian membacanya.
"(Dalam mimpi, aku melihatmu menangis di bawah pohon sakura ... ... )"
Setelah membaca beberapa isi buku tersebut, hal itu membuatnya menjadi sedikit terheran-heran. Buku yang harusnya tersembunyi itu tergeletak begitu saja di tempat terbuka. Ia meyakini bahwa ini adalah sebuah pesan yang diberikan oleh Inyang kepada penemunya. Tanpa pikir panjang, ia segera memasukkannya ke dalam kantong dokumen yang berada di balik bajunya.
Kali ini pandangan matanya tertuju ke arah dinding di samping ranjang. Ia melihat sebuah beret hitam bergaris merah tipis yang memiliki sebuah gantungan kertas bertuliskan huruf L. Ia mencoba mendekat dan tidak sengaja kakinya merasakan bahwa terdapat ruang kosong di bawah lantai yang sedang ia pijaki. Tanpa berpikir panjang, Budi dengan segera menarik kayu-kayu tersebut hingga menjadi terkejutlah ia.
Budi baru saja menemukan sebuah bunker. Berbekal senter mini yang ia miliki, Budi dengan segera menuruni tangga besi tersebut untuk masuk ke dalamnya. Setelah sampai ke dasar, ia melihat setitik cahaya merah yang menyala. Tanpa ragu, Budi segera menghampiri cahaya tersebut karena ia yakin bahwa itu adalah sakelar untuk mengaktifkan pencahayaan. Budi mendorong tuasnya ke atas, hingga lampu pun seketika berkedip dan menyala. Ia merasa sangat takjub menyaksikan pemandangan yang terlihat dalam bunker tersebut. Deretan dokumen-dokumen yang tertata rapi, mading yang berisikan banyak foto-foto, papan hitam yang dipenuhi oleh coretan-coretan kapur, alat komunikasi yang terlihat begitu tua, dan lain sebagainya.
Di atas meja, ia melihat sebuah foto hitam putih dari seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai. Dan di sebelahnya terdapat sebuah memo dengan gambar jam yang menunjukkan waktu pukul tiga sore. Hal tersebut meyakinkan dirinya bahwa dialah yang dimaksudkan dari lambang huruf tersebut. Budi kemudian mengambil foto tersebut dan segera kembali ke atas. Ia kemudian merapikan kembali kayu-kayu yang digunakan untuk menutupi bunker tersebut. Dengan penuh keyakinan, Budi mengambil baret hitam yang bergaris merah tipis tersebut untuk kemudian dipakainya.
Kali ini, ia ingin menyelesaikan sebuah misi yang secara tidak langsung diberikan Inyang kepadanya. Yakni.. Misi untuk menemukan wanita cantik yang ada dalam foto tersebut.
Budi kemudian kembali ke rumah. Di perjalanan, Budi terlihat begitu berkarisma. Para prajurit yang melihat Budi berjalan mendekat dari kejauhan, segera bersiap-siap untuk memberikan salam hormat. Kali ini, mereka melihat Budi menggunakan sebuah baret hitam. Seketika jantung mereka berdegup kencang. Mereka merasakan hal yang menakjubkan sekaligus menyeramkan. Peluh dingin mereka seketika bercucuran saat Budi membalas salam mereka dengan senyuman yang tipis. Ia berlalu begitu saja dan segera menuju ke ruangan Datuknya.
Melihat Budi yang menggunakan baret hitam tersebut, membuat Datuk merasa sedikit lega. Budi terlihat tidak ingin berbasa-basi lagi perihal penemuannya di pondok Inyang.
Budi: "Datuk, aku mendapatkan foto ini." (Memperlihatkan foto tersebut kepada Datuk.)
Datuk kemudian mengambil foto tersebut dari sodoran tangan Budi.
Budi: "Aku menemukannya di dalam bunker."
Datuk: "Bunker?"
Budi: "Iya.."
Budi: "Wah.."
Datuk: "Tapi lumayanlah, Bud. Bisa menemukan benda bersejarah seperti ini."
Budi: "Menurutku, Inyang menyuruhku untuk menemui wanita yang ada di foto itu."
Datuk: "Bisa jadi."
Wajahnya dipenuhi rasa bahagia dan bangga terhadap Budi.
Datuk: "Meskipun Inyang menyuruhmu begitu, memangnya penelusuranmu sudah sampai mana?"
Budi: "Wakayama."
Datuk tersentak kaget mendengar hal tersebut.
Datuk: "Wah.. Cuma dalam waktu sekejap, kamu sudah tahu sampai sejauh itu?"
Budi: "Aku?"
Datuk: "Luar biasa.. Kamu pakai metode seperti apa? Kok bisa tahu begitu? Datuk benar-benar bangga sama kamu."
Budi: "Ya... Aku lihatnya di belakang foto itu."
Datuk kemudian membalikkan fotonya.
Datuk: "Wah.. Datuk kecewa sama kamu.."
Budi: "Waduh, kenapa lagi?"
Datuk: "Datuk pikir kamu pakai metode apa, gitu kan ya? Mencari jejak apa, gitu kan ya? Melakukan analisis apa, gitu kan ya? Eh, tahunya cuma lihat tulisan yang ada di belakang foto. Sudahlah.. Datuk kecewa sama kamu." (Berpaling dari Budi.)
Budi: "Wah.. Ngambek.."
Datuk: "Datuk kepinginnya kayak yang tadi malam itu loh.. No Mercy.."
Budi: "Wah.. Penguntit."
Mereka terdiam sejenak, dan Datuk memandangi foto wanita tersebut.
Datuk: "Bud.."
Budi: "Ya, Datuk?"
Datuk: "Istrinya Inyang cantik juga, ya?"
Budi: "Sama.. Budi mikirnya juga gitu."
Datuk: "Mungkin cucunya sudah seumuran kamu saat ini."
Budi: "Ah, nggak juga.. Kalau nggak salah, cucunya masih Te Ka waktu Budi masih kelas enam dulu."
Datuk: "Kalau istrinya secantik ini, pasti cucunya lebih cantik lagi." (menghiraukan sanggahan Budi.)
Budi: "Cantik itu relatif."
Datuk: "Halah, klise.. Palingan kamu kalau ketemu cucunya Inyang, pasti kepincut juga akhirnya. Cenat-cenut hahaha.."
Budi: "Ah, Datuk.. Belum tentu juga."
Datuk: "Bagaimana menurutmu, kalau di rumah ini ternyata ada foto cucunya Inyang saat masih duduk di bangku kuliah.. Kamu mau lihat?"
Budi: "Wah.. Bahaya. Bisa jadi pelanggaran serius, itu."
Datuk: "Bukan pelanggaran kok, mau lihat sekilas?"
Budi hanya terdiam tidak mau menjawab. Ia berusaha menahan rasa penasarannya. Melihat tingkah Budi, Datuk menjadi tertawa terbahak-bahak.
Datuk: "Hahaha.. Siapa tahu, acara nikahannya di sini. Terus menetapnya di sini. Siapa tahu, ya kan? Hahaha.."
Budi: "Wah.. Kayaknya aku sudah dimasukkan ke agenda jangka panjang, ya?"
Datuk: "Eee.. Kan, siapa tahu. Gimana sih? Hahaha..."
Budi: "Aku kan masih banyak tugas di militer. Mungkin belum waktunya membahas hal yang begituan."
Datuk: "Halah, klise lagi.. Kalau ternyata benar-benar kepincut. Puisimu pasti isinya kau bagaikan, kau bagaikan.. Hahaha..."
Budi: "Wah.."
Sore semakin menjelang, namun desiran padi yang menguning masih terngiang di telinga.
Budi: "Datuk sepertinya sudah puas menjahiliku, sekarang mungkin sudah waktunya aku pergi menemui Om Laut ."
Datuk: "Hahaha, iya.. Dia lebih paham situasinya dibandingkan aku."
Budi: "Baiklah, Datuk.. Aku pergi sekarang." (Memberikan salam hormat dan kemudian berlalu.)
Sebelum Budi meninggalkan kamar, Datuk mencegatnya karena ada suatu hal yang harus disampaikannya.
Datuk: "Budi.."
Budi: "Iya, Datuk?"
__ADS_1
Datuk: "Aku hanya ingin berpesan. Bertaqwalah kamu, sebab baretmu itu bisa saja menyeretmu ke dalam bencana.
Budi: "Baiklah, Datuk. Aku akan selalu mengingat pesan Datuk. Kalau begitu, aku permisi dulu." (Melemparkan senyuman sebelum menghilang dari pandangan Datuk.)
Budi segera pergi meninggalkan rumah. Dan tidak lupa, ia juga berpamitan dengan kakaknya yang tengah duduk santai di ruang tamu.
Budi: "Kak.. Budi pamit dulu. Ada urusan lain."
Mina: "Iya, Bud. Hati-hati di jalan."
Budi: "Titip salam untuk Bang Muis."
Mina: "Iya.."
Budi segera menuju mobilnya yang telah bersiap sedia menunggu kedatangannya. Tanpa basa-basi, Budi segera memasukinya.
Sopir: "Kita ke mana lagi, Tuan?"
Budi: "Aku ingin ke rumah sakit pusat."
Sopir: "Baik, Tuan."
Mobil pun melaju dengan bebasnya, tanpa ada hambatan yang berarti. Dalam waktu yang cukup singkat, rombongan sudah berada di dalam kawasan rumah sakit yang dituju.
Sesampainya di depan lobby, Budi segera dipandu untuk memasuki lift. Pintu lift itu terbuka di saat mereka telah mencapai lantai lima. Ia kemudian dipandu lagi untuk menuju ke ruangan Law.
Seseorang pria yang berpakaian serba hitam dengan segera membukakan pintu dan membiarkan Budi memasukinya.
Law: "Wah.. Anak Om akhirnya datang juga." (Menyapa Budi.)
Budi: "Bagaimana kabarnya, Om?" (Membalas sapaan.)
Law: "Lumayan.. Lumayan mengkhawatirkan. Hahaha.." (Menertawakan dirinya sendiri.)
Budi: "Waduh.."
Law: "Hahaha.. Lihat baretmu bikin jantung Om dag dig dug.. Hahaha.."
Budi: "Wah.. Malah nambah, ketawanya."
Law: "Kiamat serasa tinggal menghitung hari.. Hahaha.."
Budi hanya bisa berekspresi dengan wajah datar melihat Law tertawa terbahak-bahak.
Law: "Jadi, kamu butuh apa lagi sekarang?"
Budi: "Om pasti tahu banyak tentang foto ini."
Budi memperlihatkan foto tersebut kepada Law
Law: "Jadi?" (Menatap dengan serius foto yang ada di tangan Budi.)
Budi: "Aku ingin bertemu dengannya."
Ekspresi datar Law perlahan berubah menjadi senyuman yang lebar dan kemudian kembali tertawa sampai terpingkal pingkal.
Law: "Hahahahahahahahahahahahahaha.."
Budi: "Wah.."
Law: "Hahahahaha.. Maksudnya, kamu mau nantangin orang perang, gitu? Hahahahahaha..."
Budi hanya melongo karena kurangnya informasi yang ia miliki.
Law: "Hahaha.. Aduh, aduh.. Sakit perut. Jendral Muda mau nantangin orang perang. Hahahaha..."
Budi: "Wah, ketawanya bagi-bagi dong om.."
Law: "Kamu tahu kalau Jipen itu negara netral, kan?"
Budi: "Tahu."
Law: " Kedaulatannya diakui, namun tidak diperbolehkan bergabung ke Uu Ce Ee."
Budi: "Benar."
Law: "Itu semua gara-gara baret yang kamu pakai itu. Hahahahaha.."
Budi: "Wah..."
Law: "Markasmu saat ini pasti sedang sibuk ngerumpi tentang beret yang kamu pakai itu."
Budi: "Waduh.. Kok cepat sekali ya, menyebarnya?"
Law: "Tentu saja.. Beretmu itu kan sudah jadi kurikulum khusus di akademi militer tingkat empat."
Budi: "Tapi, aku kok nggak tahu?"
Law: "Tentu saja kamu nggak tahu.. Naik pangkat saja, lompat-lompat begitu. Hahaha..."
Budi: "Wah.."
Law: "Hahaha... Baru kali ini aku dengar sejarahnya ada prajurit balok tiga lompat ke diamond kutip satu hanya dalam waktu semalam. Setahun kemudian tiba-tiba sudah lompat jadi mayor grade dua. Setahun kemudian tiba-tiba sudah lompat jadi Jendral. Hahaha..."
Budi: "Wah.."
Budi hanya melamun menyaksikan Law yang terus saja tertawa sekaligus berupaya memikirkan cara agar bisa berangkat tanpa kendala.
Budi: "Mungkin sebaiknya besok aku tidak usah membawanya."
Law: "Sudah terlambat.. Blok Barat pasti saat ini sedang mengorek-korek data-data pribadimu."
Mendengar hal itu, Budi hanya bisa menunduk dengan ekspresi wajah yang sangat serius. Melihat hal itu, membuat Law menjadi tersenyum.
Law: "Kamu sungguh-sungguh ingin pergi ke Jipen?" (Sembari tersenyum.)
Budi: "Iya.." (Dengan wajah yang serius.)
Law: "Hikari?" (Mencoba menggoda Budi.)
Budi: "Bukan!" (Menjawab dengan sangat cepat.)
Law: "Hahahaha.."
Law tertawa terbahak-bahak karena jawaban cepat dari Budi
Law: "Bagaimana menurutmu kalau Hikari ternyata menyimpan fotomu saat masih di akademi militer tingkat satu?"
Budi: "Wah.."
Law: "Hahaha.. Om bercanda.. Hanya bercanda.. Sungguh, hahaha..."
Budi: "Wah.. Mencurigakan."
Melihat wajah serius Budi membuat Law ingin memberikan bantuan kepadanya.
Law: "Budi."
Budi: "Iya, Om."
Law: "Om punya sebuah kartu sihir yang unik."
Budi: "Ya?"
Law: "Kamu masih bisa ke sana, tapi Om hanya bisa menahan mereka sampai siang hari saja."
Budi: "Aku mau. Beritahu aku, apa rencana Om."
Law: "Baiklah.. Mari kita bicarakan dengan santai." (Menuntun Budi untuk duduk di sofa.)
Budi mengikuti ajakan Law untuk berbicara di sofa.
Mereka berkata, pagi adalah awal.
Bagiku, malam adalah yang paling awal.
Mereka berkata, pagi adalah suasana damai.
Bagiku, malam adalah suasana yang paling damai.
Malam pun semakin gelap. Terlihat Budi telah sampai di lobby markas pusat. Orang-orang seketika memberikan salam hormat di saat ia berjalan menyusuri lorong-lorong bangunan. Kali ini Budi telah sampai di depan ruangan pimpinan tertinggi di markas pusat. Budi dengan segera memberikan salam hormat kepada pimpinan tertinggi.
Pimpinan tertinggi: "Silakan."
Budi kemudian masuk dan berdiri tegap di hadapan sang pimpinan tertinggi.
Pimpinan tertinggi: "Santai saja, Bud. Kamu itu kan sedang libur. Mari, silakan duduk."
Budi: "Terima kasih, Bang Faisal." (Budi kemudian duduk.)
Faisal: "Jadi, bagaimana?" (Memulai pembicaraan.)
Budi: "Besok pagi, aku akan berangkat ke Jipen, Bang."
Faisal: "Oh, iya.. Abang baru saja dapat kabarnya dari Tuan Law. Katanya kamu mau ketemu kekasihmu di sana."
Budi: "Wah.. Bukan begitu, Bang.. Aku cuma ingin ketemu seseorang." (mencoba membantah.)
Faisal: "Iya.. Abang ngerti, kok. Abang ngerti, kok. Tidak usah malu-malu begitu.. Abang paham betul bagaimana rasanya terpisah jauh dari orang yang terkasih."
Budi: "Waduh.. Aku cuma ingin ketemu seseorang saja kok, Bang." (kembali membantah.)
Faisal: "Iya, iya.. Baiklah.. Abang izinkan, abang izinkan. Kamu tenang saja.. Abang izinkan."
Mereka berdua terdiam sejenak. Budi menatap langsung mata Faisal dan ingin memastikan sesuatu.
Budi: "Bang.. Aku tidak ingin keributannya meluas." (Menatap Faisal dengan tatapan serius.)
Faisal: "Benar.. Kami akan menahan diri." (Menanggapi pernyataan Budi dengan serius pula.)
Budi terlihat merasa sedikit lega mendengar pernyataan pimpinannya tersebut.
Faisal: "Kamu tidak usah khawatir. Kami tidak akan mengganggu acara mesra-mesramu dengan sang kekasih."
Budi: "Wah.. Mulai lagi."
Faisal: "Anak muda kalau sedang kasmaran itu biasanya bisa sampai meledak-ledak.. Jedder! Jedder! Gitu kan, ya?"
Budi: "Iya, iya.." (Terlihat mulai kesal.)
Budi bangkit dan bersegera untuk pergi meninggalkan ruangan. Faisal beserta asistennya terlihat sedang menahan tawa mereka.
Faisal: "Budi!" (Memanggil Budi yang telah berada di luar pintu ruangan.)
Budi pun kemudian menghentikan langkahnya dan memenuhi seruan pimpinannya.
Faisal: "Jangan mati dulu, ya.." (Tersenyum kepada Budi.)
Budi akhirnya berlalu meninggalkan ruangan sembari membalas senyuman tersebut. Selang beberapa saat, Faisal kemudian bangkit dari kursinya dan bersegera menuju pintu.
__ADS_1
Faisal: "Budi.. Tetap hati-hati, jangan gegabah..! Jangan lupa oleh-olehnya juga, ya..!" (Meneriaki Budi yang sudah terlihat agak jauh.)
Budi terus saja berlalu pergi sembari mengacungkan telunjuknya ke langit-langit.