
" Psi, apa kamu baik baik saja. Psi, Psi??" Ujar Vivi penuh khawatir karena dia tidak merespon perkataanya dan juga Wajah Psi yang begitu pucat.
" Psi... Psi..." Ujar kawanya dan mengoyangkan-Nya dan semakin khawatir kepada Psi secara tadi cuma hanya diam tidak merespon perkataanya.
" Vi, Aku hanya..." Ujar Psi tidak melanjutkan perkataanya yang belum selesai dan cuma hanya memandang kawanya itu dengan lekat lekat dan seksama.
" Ya, ada apa Psi " Ujarnya dan mendekat ke arah Psi dan sangat begitu khawatir kepada Psi.
" Cafe siapa yang jaga?" Ujar Psi dengan muka cemberut dan memandang kawanya.
" Ya ampun aku kira ada apa ?" Ujar Vivi dengan kesal.
" Cafe, tenang aja Aku sudah ijin bos" Ujarnya sambil berusaha menghibur Psi.
" Vi, di tangan kamu bawa apa itu?" Ujar Psi sambil memandang tangan Vivi yang membawa kantong plastik yang cukup besar.
" Ah ini" Ujar Vivi sambil menujukan kantong plastik kepada Psi.
" Buah buahan, tunggu sebentar aku mengupas buatmu. Cepat sembuh ya Psi,kalau kau terus berada di rumah sakit. Aku kerja seorang diri," Ujar Vivi sedikit mengerutu kepada Psi dan menaruh kantong plastik itu ke meja.
" Aku di rumah sakit berapa lama" Ujarnya dan memegang kepalanya yang tiba tiba sakit dan sedikit linglung.
" Psi, Kamu di sini sudah hampir 1 minggu" Ujar Vivi yang duduk disamping rajang Psi dan tidak lupa juga mengambil pisau, piring dan buah apel itu.
" hampir 1 minggu, Ternyata cukup lama aku mengalami koma" Ujar Psi. Tidak selang berapa lama dokter datang menghampiri Psi, untuk mengecek keadaanya.
"Bagaimana " Ujar Vivi bertanya kepada dokter ketika selesai mengecek keadaan Psi.
" Karena dia baru sadar dari koma? Mungkin dia harus beristrahat cukup lama di rumah sakit " Ujar dokter itu.
" Berapa lama?, " Ujarnya dan memandang dokter penuh harap, Bahwa Psi akan baik baik saja.
" 3 mingguan atau sampai kamu benar-benar pulih " Ujar dokter itu dan pergi meninggalkan Psi dan Vivi sendirian.
__ADS_1
" 3 minggu ?" Kata Psi terdiam seribu bahasa dan memandang Vivi.
" Kenapa?" Ujar Vivi dan mengupas buah apel dan memberikan kepada Psi.
" Nih buah" Ujarnya sambil menyodorkanya kepada Psi.
" Aku engak bisa bayangkan biaya rumah sakit" Ujar Psi terus mengambil buah yang diberikan oleh Vivi dan memakanya dengan wajah cemberut. Kaget akan pertanyaan dokter bahwa dia harus menginap dirumah sakit selama 3 minggu.
" Ah, Biaya rumah sakit ini kalau engak salah ada yang bayar " Ujar Vivi dan memandang Psi. Menyuruh Psi supaya tidak khawatir akan biaya rumah sakitnya.
" Ada yang bayar siapa?" Ujarnya sambil memegang tangan Vivi. Dan memandang wajahnya sedikit tersenyum.
" Rinaka, " Ujarnya dengan sedikit ketus, ketika mendengar kata Rinaka.
"Rinaka, kenapa bisa?" Membuat Psi sedikit kebingungan oleh perkataan temanya itu.
" Waktu saat kamu selesai menjalani operasi, Rinaka datang menjengukmu, Kebetulan suster datang membawa biaya bon. Jadi Rinaka yang membayar semuanya sampai kamu keluar dari Rs" Ujar Vivi yang menjelaskan kepada Psi.
" Ah, ternyata Rinaka baik ya" Ujar Psi sedikit tersenyum.
" Kamu Psi cukup berani ya ! " Ujar Vivi sedikit kesal. Heran akan keberanian kawanya itu. Psi hanya tersenyum dan sedikit ketawa mendengar perkataan kawanya itu, juga tidak lupa memandang Vivi.
Tidak selang berapa lama terdengar sebuah bunyi pintu terbuka. Psi dan Vivi memandang pintu yang terbuka. Rinaka dengan gaun hitam datang berkunjung menemui psi.
" Apakah saya menganggu? " Ujar Rinaka bertanya kepada Psi.
" Ah , tidak kok " Ujar Psi menjawab.
" Psi kamu kedatangan tamu, kalau begitu saya balek duluan, cepat sembuh ya " Ujar kawanya itu meninggalkan Psi dan Rinaka. Sebelum pergi meninggalkan Psi, Vivi memberikan barang Psi dan juga tidak lupa untuk menyemangati Psi agar cepat sembuh.
" Kamu tidak mau duduk ?" Ujar Psi yang melihat Rinaka berdiri di dekat pintu. Mendengar perkataan Psi, Rinaka berjalan pelan mendekati Psi dan duduk disamping rajang Psi.
" Terima kasih " Ujar Rinaka memandang ke bawah dan tidak berani melihat wajah Psi.
__ADS_1
" Ah terima kasih, seharusnya aku berterima kasih karena dirimu yang membayar biaya rumah sakit " Ujar Psi sedikit canggung dan mengaruk kepalanya.
" Terima kasih karena telah menyelamatkanku, Kalau tidak mungkin saya berada di rumah sakit ini. Dan juga berada di rajang ini" Ujar Rinaka dan memandang Psi dengan wajah menahan air mata.
" Lupakan soal itu?" Ujar Psi dan memandang baju Rinaka yang memakai gaun hitam.
" Kenapa kamu memakai gaun hitam?" Ujar Psi sedikit kebinggungan akan pakaian Rinaka itu.
" Saya baru mengujungi makamnya" Ujar Rinaka dengan kata cukup pelan
" Makam?" Ujar Psi sedikit kebingguan dan memandang Rinaka itu.
" Adik Hendra !" Ujar Rinaka dan memainkan jarinya.
" Oh, Adik pelaku ya!" Ujar Psi dan memandang Rinaka yang bermain jarinya. Dan melanjutkan perkataanya yang belum selesai kepada Rinaka.
" Itu bukan salahmu Rinaka" Ujar Psi dan memegang bahu Rinaka. Di mana Psi berusaha menghibur Rinaka agar bisa melupakan kejadian itu.
" Itu terjadi karena sebuah kecelakaan, tiap manusia bisa melakukan kesalahan. Jadi Rinaka dari pada memadang masa lalu lebih baik berjalan terus ke depan " Ujar Psi yang menyemangati Rinaka untuk terus semangat.
" Terima kasih " Ujar Rinaka kepada Psi dengan mimik wajah tersenyum.
" Kalau dia hanya ingin membalas dendam kepadamu, Dia tidak perlu melecehkanmu. Tapi ada sesuatu yang aku ingin tanyai selain dirimu maaf " Di lecehkan" apakah kamu mendapat kekeraaan fisik" Ujar Psi dan memandang Rinaka dengan lekat lekat. Mendengar perkataan Psi. Rinaka hanya mengangguk dan langsung memandang ke bawah.
" Ah kalau begitu lupakanlah dan terus maju" Ujar Psi dan memberikan semangat kepada Rinaka.
" Kalau begitu saya permisi dulu, saya pamit dulu dan saya mengucapkan banyak terima kasih " Ujar Rinaka berdiri dan meninggalkan Psi sendirian di rumah sakit itu. Psi pun hanya memandang Rinaka yang pergi berjalan ke pintu keluar dari ruangan itu.
Psi pun mulai menghela napas. Ketika Rinaka sudah pergi, tersisa Psi seorang diri. Psi pun mulai menutup mata dan menginggat masa lalu. Terdiam sebentar dan membuka matanya denga tekad. Psi pun mulai berkata kepada dirinya sendiri.
" Ma, Pa" Ujar Psi terdiam sejenak dan melanjutkan perkataanya.
" Saya akan mencarinya sampai ketemu apapun yang terjadi " Ujar Psi dengan tekad yang bulat dengan mata berapi api dan mencengkram tanganya dengan kuat.
__ADS_1
" A.. Gr..." Ujar Psi dengan kuat dan menggingat nama itu di dalam pikiranya.