Divisi Kriminal

Divisi Kriminal
Eps 27 (Mayat Pembunuh Berantai Atau Bukan??)


__ADS_3

" Hoam" Ujar Psi yang setengah mengantuk.


" Kenapa bus lama banget ya " Ujar Psi.


"Kring Kring" Suara bunyi hp Psi bendering. Dengan malas Psi membuka tas kecilnya dan mengangkat telepon.


" Hallo? Dengan siapa aku berbicara" Ujar Psi dan juga memandang jam di tanganya.


" Psiana, kamu sudah lama menghilang tanpa kabar. Tanpa kontak sama sekali sejak kamu keluar dari datasemen khusus kepolisian. Sekarang aku malah mendengar kamu bekerja di divisi kriminal. Kenapa kamu tidak kembali aja ke tim kita" Ujarnya dengan keras.


" Ah ini siapa ?..." Ujar Psi sedikit berusaha mengingatnya.


" Aku Melisa.... Kau sudah lupa sama aku. Kita cuma hanya berpisah beberapa tahun" Ujar Melisa sedikit mengerutu kepada teman lamanya itu.


" Ah Melisa. Ngomong ngomong kamu mendapat kontak aku dari mana?" Ujar Psi sedikit penasaran.


" Kontak.. " Ujar Melisa sedikit kesal dan berteriak.


" Aku cuma hanya bercanda... kamu jangan berteriak doang" Ujar Psi mengaruk kepalanya.


" Sudah dulu ya, aku lagi sibuk. Nanti aku kabarin lagi" Ujar Psi dengan cepat mematikan Hpnya.


" Ya ampun" Batin Psi sambil menghela napas.


Tidak butuh waktu lama. Psi pun masuk ke dalam bis. Sambil menunggu ke halte berikutnya. Psi membuka cacatan laporan yang di berikan oleh Via.


" Ya ampun, kenapa Via menjadikan semua korban pembunuh berantai menjadi satu laporan. " Ujar Psi sedikit mengerutu.Dan lanjut membuka cacatan laporan itu. Ketika Psi membuka laporan terakhir. Psi pun terdiam sebentar.


" Kalung itu" Ujar Psi berusaha mengingat sesuatu.


"kenapa tidak asing ya. " Batin Psi dan berusaha menginggat sesuatu. Dengan cepat Psi mengeluarkan Hpnya dan menfoto kalung itu.


" Cacatan laporan kematianya adalah 1 tahun yang lalu. Rata rata korban pembunuh berantai memiliki tanda S,H,P dan juga angka. Tanda yang dimiliki oleh ayahku adalah S dan angka Dan juga rata rata korban diatas 20 tahunan" Batin Psi dalam benaknya.


" Tapi kenapa ada korban anak kecil.??? Apakah cuma kebetulan" Ujar Psi dan terus berpikir. Tidak butuh waktu lama Psi berjalan masuk ke rumah sakit. Sesampainya di lobi Psi pun bertanya.

__ADS_1


" Sus, Saya mau ambil hasil laporan atopsi mayat" Ujar Psi dan bertanya kepada suster itu.


" Silahkan, Lurus terus belok ke kiri. Ruang otopsi " Ujar Suster itu sambil menujuk arah melalui tanganya.


" Makasih" Ujar Psi dan berjalan pergi menuju ruang otopsi.


" Tok tok'' Suara bunyi pintu yang di ketuk. Psi pun membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam.


" Dok, Saya mau mengambil hasil otopsi mayat pembunuhan" ujar Psi dan berjalan masuk.


" Ah silahkan, " Ujar dokter itu mempersilahkan Psi berjalan masuk ke dalam.


Psi pun berjalan masuk ke dalam. Psi pun melihat mayat anak itu. Dan dia pun bertanya kepada dokter itu.


" Boleh saya periksa sebentar, " Ujar Psi dan bertanya kepada dokter itu.


" Boleh silahkan" Ujar dokter.


" Kalau begitu saya keluar sebentar. Saya mau mengambil hasil otopsi dulu" Ujar dokter meninggalkan Psi sendirian. Ketika dokter itu pergi Psi melihat mayat anak itu.


"Ada bekas benjolan" Gumam Psi pelan. Dan lanjut memeriksa wajah anak itu yang hancur dan rusak. Dengan pelan mengamati sebentar Psi melihat ada bekas di sekitar frontalis (di atas alis) anak itu. Walapun wajah anak itu hancur dan rusak. Psi masih bisa mengenali bekas itu. Dengan tatapan tidak percaya Psi pun melanjut memeriksa tubuh mayat anak itu.


" Ini..." Ujar Psi. " Srek suara bunyi pintu telah terbuka. Dokter itu berjalan masuk ke ruangan itu.


" Ini adalah hasil laporan otopsi" Ujar dokter itu memberikan kepada Psi. Dengan cepat Psi membuka laporan itu.


" Dok apa saya bisa meminta untuk melakukan otopsi lagi selain yang ini?" Ujar Psi bertanya kepada dokter itu.


" Bisa " Ujar dokter itu dan balik bertanya kepada Psi.


" Di sekitar frontalis sebelah kiri. Dimana ada bekas sayatan itu. Bisa kah dokter memeriksa, saya mengira anak itu memiliki bekas lebam" Ujar Psi dan membuat dokter itu melihat wajah anak itu sebentar.


" Dan juga saya ingin meminta laporan otopsi, Kekerasan anak dan juga..." Ujar Psi sedikit ragu melanjutkan perkataanya.


" Dan apa?" Ujar dokter itu balik bertanya.

__ADS_1


" kekerasan seksual. Aku mengira anak itu mengalami kekerasan" Ujar Psi menjawab pertanyaan dokter itu.


" Kalau begitu saya akan melakukan otopsi ulang lagi." Ujar Dokter itu.


" Kira kira butuh berapa lama dokter, untuk otopsi ulang lagi" Ujar Psi dan balik bertanya kepada dokter itu.


" Mungkin butuh beberapa hari" Ujar dokter itu.


" Baiklah, kalau begitu saya mengabari tim saya dulu" Ujar Psi dan pergi keluar dari ruangan otopsi itu. Sesampainya di luar Psi mencoba mencari kontak timnya.


" Ah, aku lupa aku tidak mempunyai kontak mereka, eh tunggu dulu. Aku mempunyai kontak Alex" Ujar Psi dan menjentikan jarinya itu. Dengan cepat Psi menelepon alex.


" Lex," Ujar Psi ketika alex menjawab teleponya.


" Psi ada apa." Ujar Alex yang kebingungan.


" Via ada engak Lex" Ujar Psi.


" Ketua tim ada ? Kenapa" Ujar Alex yang membuat di ruangan memandang Alex.


" Ada apa ?" Ujar Via di balik telepon Psi.


" Psi ingin berbicara dengan Ketua" Ujar Alex.


" Aku" Sambil menujuk dirinya sendiri.


" Loudspaker, " Ujar Via


" Ada apa ?? " tanya Via kepada Psi melalui telepon Alex.


" Via, aku rasa ini bukan kasus pembunuh berantai" Ujar Psi. Membuat Via menaikin sedikit alisnya.


" Saya meminta dokter untuk melakukan otopsi ulang, Dan saya akan menjelaskan nanti" Ujar Psi dan mematikan teleponya. Dengan cepat menuju halte bus. Sedangkan di sisi lain di ruangan divisi kriminal.


" Apaan dia ?" Ujar Melly tiba tiba mengeretu.

__ADS_1


" Tadi Psi mengatakan ini bukan kasus pembunuhan berantai" Ujar Via dan memainkan pen.


__ADS_2