
Di lain tempat, setelah selesai dengan acara makan mereka Jenika, anggun, ulfi dan cici pun kembali ke perusahaan. Ya anggun, ulfi serta cici memutuskan untuk membantu jenika.
Setelah sampai di perusahaan mereka di sambut dengan para pegawai yang berbaris rapi di pintu lobby.
" selamat datang Nona " ucap para pegawai serentak.
" ya terimakasih " ujar ulfi.
" owh thanks, semangat kerja yaa. "Ujar anggun.
"Baik nona" ujar staf kantor.
Sedangkan cici dan jenika hanya menjawab dengan deheman serta anggukan kepala.
" waw haruskah berbaris seperti itu."tanya anggun saat mereka telah berada di dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Itu hanya formalitas, menyambut petinggi kantor." ujar Jenika.
"Tapi kenpa siang juga, harusnya kan pagi saja " tanya ulfi.
"Tidak papa sekali kali" ujar cici.
" iyakah cuman sesekali. " tanya anggun.
"Hemm, itu karena kalian jarang datang lagi kesini jadi yang tadi khusus untuk kalian untuk menghormati kalian sebagai petinggi disini." ujar jenika menjelaskan.
"Owwh begitu" angguk keduanya kecuali cici.
""Tingg"" pintu lift pun terbuka Mereka pun segera keluar menuju ruangan Presdir yang selama ini jenika tempati.
__ADS_1
Setelah masuk mereka pun segera duduk di kursi masing masing, ya didalam ruangan itu terdapat empat meja beserta kursinya masing masing.
" jadi, apa yang perlu kami banting" tanya anggun.
"Eh sembarangan kalo ngomong, bantu bukan banting." ujar ulfi.
"Aelah serius amat, rileks dong santai cuman bercanda juga" jawab anggun.
"Bisa diem nggak sih, serius dong kita harus cepet beresin pekerjaan kantor." ujar cici yang di jawab deheman oleh Jenika.
" kenapa emang" tanya anggun dan ulfi bersamaan.
" nanti malam kita ada misi." ujar jenika seraya meraih tombol untuk mengaktifkan mode kedap suara di ruangan tersebut.
" misi apaan nih" tanya anggun.
Mendengar perkataan cici anggun dan ulfi pun segera meraih handphone nya dari saku celana yang iya kenakan kemudian membaca pesan itu.
"Oh jadi misi kita nanti menggagalkan penyelundupan senjata." tanya anggun.
" kamu bisa bacakan"tanya jenika balik.
" ya itu yang aku omongin" ujar anggun.
"Sudah tau masih tanya"jawab Jenika.
Anggun pun hanya mendengus mendengar jawaban jenika.
" Jadi apa yang bisa kami bantu." tanya cici.
__ADS_1
"Tunggu dulu" ujar jenika seraya mengambil telpon kantor.
" sofi segera keruangan saya dan bawa berkas berkas yang harus saya kerjakan." ucap jenika seraya menutup telpon itu.
" wih gayamu jen jen "bawa berkas berkas"sok banyak banget kerjaan mu." ledek anggun yang hanya di tanggapi dengan deheman oleh Jenika. Sedangkan dia sahabatnya yang lain hanya geleng geleng kepala lihat tingkah anggun.
Tak lama terdengar suara pintu di ketuk.
"Masuk" ujar Jenika yang sudah menormalkan kembali ruangan itu dari mode kedap. Setelah mendapat jawaban orang yang di luar yang bernama sofi itu pun masuk sambil membawa troli di mana banyak berkas berkas menumpuk. Anggun yang melihat hal tersebut pun kaget.
"Permisi bos ini semua berkas yang Anda pinta." ujar sofi.
"Omaigat kok sampe segunung begitu." umpat anggun sambil bangun dari duduknya.
"Ya memang segitu" ujar Jenika.
"Pantesan kamu selalu kerja di rumah" ujar cici.
"Aku kira IQ mu yang rendah sehingga lama mengerjakannya." ucap ulfi.
"Hem terserah kalian, dan sofi bawa berkas yang perlu saya tanda tangani ke sini, berkas yang perlu di periksa ke meja cici, berkas yang perlu di tinjau kemeja ulfi dan yang terakhir berkas laporan keuangan kemeja anggun." ucap Jenika yang langsung dituruti oleh sofi sang asisten.
"Eh kenapa berkas mu yang mudah hah,hanya baca tanda tangan sudah selesai" tanya anggun yang tidak di indahkan oleh Jenika.
"Sebelum berbicara itu lihat dulu bagian berkas dia seberapa banyak " jawab ulfi kemudian dia fokus kepada berkas nya. Anggun pun melihat berkas yang baru diletakkan sofi ke meja Jenika pun terkejut.
"Nggak bener ini bisa bisa mati jantungan aku ini gara gara terkejut." batin anggun bermonolog.
Anggun yang melihat para sahabatnya fokus bekerja pun segera mengerjakan tugasnya.
__ADS_1