
Setelah mendengar penjelasan cici kedua dokter itu pun tertawa dengan keras dan tak lupa dengan bumbu ejekan.
"Hahahaha........ Sepertinya hari ini adalah hari tersial untukmu. " ujar anggun kepada cici dengan tertawa sambil memegang perutnya.
"Ya kau benar, sepertinya dia tertimpa sial, hahaha..... Apa karena kejadian semalam dia ditempeli kesialan" kekeh ulfi sambil mengingat kejadian semalam.
"Apa hubungannya " tanya cici yang disetujui oleh anggun.
"Ya ada, karena..... " ulfi terdiam karena dia juga tidak tahu. Lama dia terdiam dia pun mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. " eh bukankah kita mau makan siang. "tanya ulfi.
" eh iya ya kenapa kok jadi lupa." timpal anggun.
"Buru buru amat, santai aja kaliek " ucap cici.
"Eh kita ini dokterloh, kita harus tetap standby disini jadi pas ada waktu makan kita harus manfaatkan sebaik baiknya." ujar ulfi.
" kitakan cuman dokter gadungan alias pekerjaan dokter ini hanya untuk kamuflase " ujar cici.
"Yaelah kita itu harus totalitas, dalam berkamuflase" ujar ulfi dengan kekeh agar bisa mengalihkan pembicaraan.
" eh kau jangan mengalihkan pembicaraan " kata cici kepada ulfi.
"Ya kau jangan mengalihkan pembicaraan" timpal anggun.
" itu nggak penting....,karena kita harus cepat sebelum waktu makan habis" ucap ulfi dengan segala alasannya.
" bener juga itu nggak penting" ucap anggun menimpali ucapan ulfi.
"Kau itu di pihak siapa sih sebenarnya,di pihakku atau pihak ulfi. "ucap cici bertanya kepada anggun.
" ya kau di pihak siapa sebenarnya. " tanya ulfi ikut menyudutkan anggun padahal didalam hatinya dia gembira karena berhasil mengalihkan pembicaraan.
" ya di pihak kalian berdualah akukan pemersatu umat dan bangsa." jawab anggun karena merasa tersudutkan. " eh lebih baik kita jalan sekarang atau waktu makan habis" ucapnya lagi sambil berlari karena teringat tujuan utama mereka dari pada waktu makan habis dia tidak mau itu karena baginya makan itu no1.
" ya kau benar ayo sebaiknya kita cepat" sambil berjalan mengikuti anggun ke parkiran dengan menarik tangan cici.
" kenapa buru buru sih, kan waktunya masih 30 menit, tinggal jalan 5 menit juga sudah nyampe" ucap cici.
"Kita mau ke resto bukan ke kantin, udah ah jangan tanya terus ngikut aja" jawab ulfi agak ketus karena dia agak kesal menjawab pertanyaan cici yang gak berfaedah.
Satu menit kemudian mereka sampai di parkiran rumah sakit.
__ADS_1
" lama sekali kalian, aku sudah nunggu 2 menit disini" ucap anggun yang sudah duduk di kursi kemudian sambil melihat jam tangannya.
" yaelah nunggu 2 menit aja sampe segitunya" ucap ulfi sambil masuk kedalam pintu mobil di belakang dengan terus menyeret cici sehingga sekarang mereka berdua duduk dikursi penumpang sedangkan anggun sendiri di kursi depan.
" eh salah satu dari kalian pindah ke depan " ucap anggun.
"Kenapa lagi" tanya cici.
" apaan sih buruan waktu udah mepet ini " timpal ulfi geram.
" enak aja kalian kira aku supir kalian gitu?. " tanya anggun sambil turun dari mobil kemudian menarik tangan cici turun menuju kursi depan sedangkan yang di tarik hanya diam mengikuti seperti anak kucing.
"Terserah lah" ujar ulfi yang sudah lelah berdebat.
Setelah itu mobil merekapun melaju membelah jalanan yang cukup sepi karena letak rumah sakit yang di tepi kota.
Di tengah perjalanan menuju restoran.
" eh kalian udah ngajak jenika juga " tanya cici teringat sahabatnya yang satu lagi.
" eh iya ya lupa fi tolong kamu telfon dia suruh ke resto food and drink. " ucap anggun dengan terus menyetir.
"Oke" jawab ulfi.
"Iya siap" balas ulfi.
Ulfi pun menelfon jenika..
"Halo...... jenika kau sibuk nggak hari ini." tanya ulfi setelah sambungan telfon terhubung.
" enggak, kenapa emang. " tanya jenika balik.
" kalo nggak sibuk bolehlah ikut kita makan di resto food and drink." ajak ulfi seperti bernegosiasi.
" hem, bolehlah udah lama juga nggak ngumpul " ucap jenika.
"Oke kalau begitu kita tunggu di sana ya, bentar lagi kita udah nyampe." ujar ulfi.
" ya, aku on the way, kesana " balas jenika.
Setelah mendengar jawaban jenika ulfi pun mematikan sambungan telepon nya.
__ADS_1
"Waah lenggang banget waktunya itu, apa pekerjaannya nggak banyak yah? sudah lama juga kita nggak ke perusahaan. kasian banget jenika ngurus perusahaan sendiri pasti dia capek, setelah ini kita pergi kekantor yaa buat bantuin dia. " ujar anggun panjang lebar mengingat mereka bertiga sudah cukup lama tidak membantu jenika di perusahaan dengan di akhiri pertanyaan ke pada dua sahabatnya.
" boleh juga "timpal cici setelah mendengar perkataan anggun.
" eh tapi bagaimana dengan rumah sakit, kita ini dokterloh kasian kalo ada pasien."ujar ulfi.
"Biarin aja, toh masih ada dokter yang lain, yang lebih hebat dari kita, lagi pula kita kan jadi dokter cuman untuk penyamaran" ujar cici menjawab pertanyaan ulfi.
" kenapa kamu, jangan jangan masih teringat kejadian tadi pas lagi ngadepin pasien konsul " tanya anggun tepat sasaran.
" iya benar kata anggun, lagi pula kamu sudah lupakah etiket jadi dokter selalu utamakan pasien. " ujar ulfi.
" hem jadi maksudmu nggak mau bantuin jeni di kantor gitu. " tanya cici.
"Nggak gitu, aku tuh ah udahlah, udah nyampe ayo turun jangan nyudutin aku lagi " ujar ulfi sambil keluar mobil dengan cepat.
" eh tunggu pembicaraan kita belum selesai."ujar cici seraya mengejar ulfi yang sudah masuk kedalam resto.
" ah sudahlah sabar aku tuh, harus sabar aku itu yang paling dewasa di perkumpulan para bocil ini aku harus sabar." ujar anggun dengan menarik dan menghembuskan nafasnya di dalam mobil. Ya anggun masih duduk di kursi kemudi mobil dia di tinggal sendiri oleh para sahabatnya itu.
Tak lama saat ucapan anggun tadi dia langsung turun dari mobil sambil berlari dan berteriak.
"Woii kalian penghianat, tadi aku yang nunggu kalian setelah sampai kalian malah ninggalin aku gitu aja." teriak anggun sambil berlari.sepertinya usahanya untuk meredam emosi gagal.
Tak lama dia pun sampai di meja dimana ulfi dan cici telah duduk dengan anteng.
"Kalian memang perlu dihajar ini supaya nurut." ujar anggun sambil mendekati ulfi dan cici dan jangan lupakan tangannya yang digenggam dihantamkan kepada tangannya yang terbuka.
" eh malu dilihatin orang " ujar ulfi sambil tangannya mencoba menghentikan tangan anggun.
" tau... Malu ih." timpal cici yang juga mencoba menghentikan tangan anggun yang mencoba mencakar cakar mereka berdua.
Mendengar perkataan keduanya anggun pun berhenti dan melihat sekelilingnya. Dan ternyata benar mereka sekarang menjadi tontonan.
"Ma kakak itu kenapa sih " tanya sang anak yang heran melihat anggun teriak teriak sambil mencoba mencakar muka sahabatnya.
"Nggak tau mama, kayaknya udah gila deh, kamu jangan mendekat kesana ya nak di sana bahaya. " ujar sang ibu.
"apa gila, eh ibuk jangan sembarangan ya, masa cantik cantik gini dibilang gila " jawab anggun yang tidak di perdulikan oleh lawan bicaranya karena orang tersebut sedang menerima telpon.
"Hehehe maaf atas keributan yang saya perbuat, sekali lagi saya minta maaf silakan dilanjutkan makanannya bagi yang lagi makan, lanjutkan bagi yang ingin memesan silakan pesan, bagi yang ingin bayar silakan membayar, bagi yang ingin masuk silakan masuk dan bagi yang ingin keluar silakan keluar" ujar anggun panjang lebar karena sudah merasa maluu.
__ADS_1
"Perkataan terakhir maksudnya apa ya mbak, kok kaya mau ngusir " tanya seorang laki laki yang tadinya ingin keluar tetapi sekarang putar balik lagi dan mendekat kearah meja tiga orang itu.