
Tak lama mereka pun sampai dan memilih tempat duduk yang membelakangi pintu masuk.
Cukup lama mereka menunggu pun akhirnya ketiga pria yang berusia 20 an itu pun sampai dan menghampiri mereka.
"Ma'af lama menunggu" ujar Qenan, zean dan Deon bersamaan.
"Nggak papa " ucap ketiga nya seraya berbalik dan saat itu juga ketiga pria tersebut tersebut terkejut Deon dengan mulut terbuka dan mata melotot, zean dengan tubuh yang hampir terjengkang, dan Qenan dengan dahi yang berkerut seperti keju parut.
"Kalian siapa" tanya Zean yang di setujui dua sahabatnya.
" dokter cici " "dokter anggun" dokter ulfi" ucap ketiganya bersamaan sambil mengulurkan tangan.
"Dimana pasien yang mau melahirkan" tanya orang yang mengaku sebagai dokter cici.
"Tidak ada, pasiennya ada kalau dokter cici yang ada disini. " jawab Qenan.
"Katakan dimana dokter anggun" tanya Deon.
"Saya dokter anggun" Jawab wanita yang satu.
" Jawab yang jujur dimana Dokter ulfi " tanya zean.
"Saya tuan, saya dokter ulfi. " Jawab wanita yang lain lagi.
"Tidak kalian bukan dokter itu" teriak Deon dimana hal tersebut malah mengundang orang orang di kafe melihat ke arah mereka.
"Ma'af tuan tuan dan nyonya nyonya silakan di lanjutkan, lebih baik kita ke private room" ucap zean seraya menarik tangan salah satu wanita. Di ikuti dua sahabatnya yang juga menarik ke dua wanita yang tersisa.
Setelah sampai di private room mereka pun segera mencerca ketiga perempuan tersebut.
"Jawab dengan jujur dimana Dokter dokter itu" tanya zean dingin.
"Wow santai tuan tuan mereka berada di tempat yang aman, dan baik baik Saja tentunya. " jawab ketiga wanita itu.
"Saya tanya sekali lagi di mana mereka" tanya Qenan.
"Kalian jawab jujur tanpa paksaan atau mau merasakan siksaan kami dulu" tanya Deon yang sudah muak.
"Baiklah kami akan jawab jujur" jawab ketiganya bersamaan tetapi dengan nada yang main main.
"Kalian jangan bercanda, kalian kira kami tidak berani memukul kalian haaa" ucap zean seraya mencengkram rambut seorang perempuan itu.
"Tolong lepaskan teman Saya tuan, bersikaplah sopan" ujar salah satu sahabat wanita itu seraya mencoba Melepaskan cengkraman zean dari rambut temannya.
__ADS_1
Bukannya terlepas malah cengkraman itu semakin kuat.
Wanita yang satu lagi yang sedari tadi hanya nemperhatikan akhirnya ikut turun tangan dengan menendang zean, akibat kurang siaga zean pun terhuyung kebelakang dan di sambut oleh dua sahabatnya.
"Sial" ujar zean seraya berdiri dan membersihkan bajunya yang terkena tendangan.
" rupanya kita tidak bisa menggunakan cara baik baik lebih baik kita serang mereka " ujar wanita yang bernama oca seraya menerjang zean di ikuti dua lainnya yang juga menerjang Qenan dan Deon.
Saat pertarungan berlangsung lama dan sengit sampai jam menunjukkan pukul 20.05 pun akhirnya wanita yang bernama Eca melemparkan sesuatu yang mengeluarkan asap sehingga menghalangi penglihatan Deon, Zean, serta Qenan. Saat asap telah hilang terlihatlah bahwa ketiga wanita itu sudah pergi. Melihat hal itu Qenan segera menghubungi anak buahnya " tangkap ketiga wanita yang berbicara dengan kami tadi dan segera seret mereka ke markas."perintah Qenan kepada bawahannya yang sedang berjaga di luar kafe.
"Baik tuan " ujar anak buah Qenan. Setelah mendengar jawaban bawahannya Qenan segera keluar dari room private menuju lantai atas di kafe tersebut untuk memantau anak buahnya di ikuti zean dan Deon.
Disisi lain, tepatnya di tempat anak buah Qenan dalam pengejaran menangkap CA bersaudara.!!!!!!!
" cari tiga wanita yang tadi bersama dengan tuan di seluruh penjuru disekitar kafe, pasti mereka belum jauh dari sini, ini atas perintah dari tuan sendiri."ujar pengawal Qenan kepada rekan rekannya yang berjumlah lima puluh orang.
"Baik" ucap semua rekannya kemudian langsung berpencar mencari ketiga perempuan itu, yang tidak lain tidak bukan adalah pelayan mansion para ladies, yang bernama oca, eca dan ica, yang juga di kenal CA bersaudara.
Sedangkan ketiga wanita yang di cari cari sekarang tengah berada di atap kafe tersebut guna melihat pengejaran yang di lakukan untuk menangkap mereka. Entah bagaimana mereka bertiga bisa berada di atas atap kafe tersebut hanya mereka yang tau.
"Sudah kuduga pasti mereka membawa pengawal" ujar eca perempuan yang berusia 33 tahun.
"Huh, sungguh gila, kita yang gak tau apa apa malah jadi Korban disini. " ujar oca yang paling tua yang berusia 36 tahun.
" sungguh merepotkan " timpal oca.
"Sampai kapan kita akan disini" tanya ica.
" ya kita tidak bisa di sini terus yang ada malah akan tertangkap, lebih baik kita mencari tempat persembunyian yang aman. " jawab eca menerangkan.
"Tapi dimana" tanya ica dengan suara keras yang dengan segera mulutnya di tutup oleh eca.
"Tutup mulutmu, jangan berbicara keras" ujar eca.
"Ma'af aku keceplosan" jawab ica sambil nyengir.
Sedangkan oca mengamati situasi pasca suara ica yang keras tadi, dia takut kalau suara tersebut dapat membuat mereka ketahuan dan berakhir terkepung.
"Huh syukur di sini cukup tinggi dan kebetulam kafe ini sedang memutar music sehingga suaramu dapat teredam." Ujar oca setelah dia selesai mengamati situasi.
"Hah lalu sekarang kita harus bagaimana." Tanya ica.
"Sabarlah i aku sedang memikirkan rencana agar kita bisa lolos." Jawab eca dengan panggilan samaran mereka agar tidak di ketahui musuh mereka maupun nona mereka.
__ADS_1
" baiklah e, kau pikirlah aku ingin istirahat sebentar"ujar ica seraya merebahkan tubuhnya di genteng.
"Dasar" ujar oca seraya memukul bahu ica.
" bagaimana Yaa, kalau pun harus melawan mungkin sekitar sepuluh orang dapat kita atasi tapi ini kemungkinan ada lima puluhan. " ucap eca.
"Begini saja kalian berdua lewat dari Sisi sebelah Sana" ujar eca seraya menunjukkan bagian yang memiliki sedikit penjagaan. "Tetapi kalian pergi dari sini setelah aku mengalihkan perhatian mereka." Lanjutannya lagi.
"Tapi O, bagaimana dengan dirimu kalau begitu." Tanya eca.
Ica yang juga masih tersadar segera membuka matanya dan duduk dari rebahannya.
"Tidak bisa kita ini bersaudara, bagaimana kami bisa pergi tanpa mu" jawab ica tak terima.
"Tapi ini harus di lakukan dari pada kita semua mati di sini, entah bagaimana perangai orang orang yang tadi kita temui, kalian ingatkan bagaimana dulu kita hampir di jual oleh bandar narkoba sebagai alat pemuas nafsu, beruntung kita di selamatkan Ketiga QLD sehingga hal itu tak kita alami, juga apa yang di alami oleh QLD, bagaimana nasib mereka sekarang tidak ada yang tau, ingat dunia ini kejam kalau kita tak punya keterampilan hanya ada dua pilihan berkorban untuk menyelamatkan yang lain atau pilihan ke dua mati dengan sia sia. " ujar oca panjang lebar agar ke dua adik nya mengerti.
"Tapi kak, kami tidak bisa " ujar eca yang sudah mengganti panggilannya kepada sang kakak dari sebutan O dan sekarang menjadi kak.
"Nah begitukan enak aku dengarnya" jawab oca.
"Kak, jangan bercanda kami tidak bisa meninggalkanmu ingat kata ibu dulu kita harus saling menjaga jangan meninggalkan satu sama lain." Ica berkata dengan mata yang berkaca kaca.
Melihat air mata adiknya yang menetes oca pun hanya tersenyum seraya mengusap air mata sang adik.
" Dan kalian jangan lupa ibu juga pernah berpesan, aku sebagai kakak tertua harus selalu melindungi ke dua adik ku walaupun nyawaku taruhannya." Jawab oca.
"Kami tidak bisa" ujar eca dan ica bersamaan.
" sudahlah kalian harus ikut perkataan ku, lagi pula kalau kalian selamat kalian bisa meminta bantuan kepada empat nona muda untuk menyelamatkan diriku." Jawab oca.
"Tapi bagaimana kami bisa tau, lokasi mu kak" Tanya ica.
"Hemm" gumam oca sambil berpikir. "Owh, dengan ini saja" jawabnya seraya memperlihatkan sebuah kalung yang sedang ia pakai.
"Bagaimana cara kerjanya" Tanya ica lagi yang membuat dirinya mendapat sentilan dari kedua kakak.
"Kau jadi bodoh ya sekarang, itukan kalung yang di berikan oleh nona muda enza untuk melacak keberadaan kita.
" jadi" Tanya oca menunggu keputusan ke dua adiknya.
"Baiklah" ujar ke dua adiknya.
Oca pun berdiri dan bersiap siap turun dari kafe yang berlantai tiga tersebut melalui selang dari pipa air yang ada di dinding kafe samping.
__ADS_1