DOKTER GALAK!

DOKTER GALAK!
chapter 1


__ADS_3

London, 16 agustus


Nadin Ramadani adalah seorang remaja yang baru lulus satu tahun yang lalu dari sekolah menengah keatas. Ia melepaskan seragam putih abu dengan sangat gembira, karena ia sendiri tahu. Bahwa jika dia sudah lulus, berarti keinginan nya untuk segera menikah dengan dokter tampan itu akan semakin besar.


Namun ternyata ia salah. Selama satu tahun penuh ia mengejar dokter itu, dan hasilnya masih sama. Dokter itu masih bersikap dingin dan acuh kepadanya. Tapi ia yakin, bahwa dibalik sikap dingin dokter itu menyimpan rasa peduli kepadanya. Yang dari keluarga pun Nadin belum pernah merasakan nya.


Sejak kecil ia menjadi anak yang tersisih dari keluarganya. Nadin tidak tau mengapa keluarganya seperti sangat membenci dirinya. Ia terlahir menjadi anak yang tidak diinginkan. namun semua itu nadin tidak ingin pikirkan. Karena sekarang, satu satu nya orang yang membuat Nadin tetap kuat adalah penyembuhan mamanya yang sedang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit.


Nadin tidak tahu, kapan penderitaan nya akan berakhir. Namun karena suatu kejadian yang terjadi. Secercah kebahagiaan seperti hinggap dalam hati Nadin. Ketika pria dengan setelan jas putih nya berjalan tegap di hadapan nadin yang saat itu sedang mengitari pandangan nya guna mengusir rasa kebosanan.


“Itu- dia dokter yang bakal ngerawat mama?”


Tanya Nadin dalam hatinya. Ia membuka ponsel nya cepat lalu memilih ikon galeri. Dan benar saja, foto yang ia lihat sangat mirip dengan orang yang ada di hadapan nya saat ini. eh?


Dihadapan nya saat ini. Oh my god. tidak ada angin tidak ada hujan mengapa tiba tiba orangnya ada didepan. Nadin mengerjapkan matanya terperangah. Wangi parfum maskulin menusuk indra penciumannya. Jika Nadin punya keberanian, sudah dapat dipastikan bahwa tubuhnya ingin sekali berada didalam dekapan pria itu.


“Dengan Nadin Ramadhani?”


Nadin mengangguk cepat seperti orang idiot. Oh tolonglah, jika kalian berada di posisi Nadin pasti akan melakukan hal yang sama. Tangan Nadin menjadi kelu seketika saat pria didepannya mengulurkan tangan nya.


“Saya Dokter Andrian yang akan merawat kesehatan ibu anda untuk kedepannya.” ujar Andrian sedikit tersenyum formal. Alisnya terangkat saat melihat Nadin masih tidak bergeming dari tempatnya.


“O-oh iya dok. Saya Nadin anaknya mama.. Hehe.”

__ADS_1


Nadin! Bodoh bodoh bodoh! Ia mengeluarkan suara yang seharusnya tidak ia tunjukan. Anak nya mama' apa-apaan itu. Tidak bisakah mulutnya menjawab dengan formal.


“Ah.” desah Nadin kecewa. Saat tangan nya terlambat membalas uluran tangan Andrian yang sekarang sudah beralih dengan memegang bolpoin lalu bergerak lincah seperti sedang menandatangani sebuah dokumen yang dipegang oleh staff rumah sakit yang baru datang itu.


“Tolong tanda tangani formulir ini nyonya.” dengan cekatan jemari Nadin bergerak dan menyelesaikannya. namun dia harus menelan kecewa lagi ketika dokter itu sudah pergi tanpa pamit padanya. Oh ayolah Nadin, kamu bukan siapa-siapa baginya.


Nadin pastikan, hari itu adalah hari bersejarah baginya. Ketika untuk pertama kalinya ia kagum pada seseorang. Anggap saja Nadin hiperbola, karena kenyataan nya memang begitu. Itu adalah hari bersejarah baginya, dan akan selalu menjadi kenangan yang berputar didalam otak cantiknya.


Nadin sedang menunggu dengan hati yang berbunga bunga untuk menjemput calon anak nya. Yups! Anggap saja Nadin terlalu percaya diri, padahal lampu hijau samasekali belum menyala. Tapi dengan cara ia mendekatkan hatinya kepada sang buah hati Andrian bukanlah ide yang buruk. Lagipula anak itu sangat menggemaskan. Diluar hubungannya dengan Andrian yang belum berubah.


Nadin dengan segenap hati ingin memberikan rasa kasih sayang untuk Azka. Nadin yakin, jika kasih sayang seorang ayah saja belum cukup. Karena Nadin sendiri merasa kesepian di masa masa ia tumbuh kembang dulu.


“Ontyyyy Nadinn.”


“Azkaa.” panggil Nadin merenggangkan pelukan mereka guna melihat wajah manis Azka. Ia kecup kedua pipi gembul Azka yang sedang tersenyum dengan menunjukkan gigi-gigi susu nya.


“Onty jemput Azka lagii?” tanya Azka dengan wajah polosnya yang sangat cantik. Nadin mengangguk semangat dan segera bangun untuk berdiri lalu menggendong Azka.


“Iya sayang, Azka lapar ga? mau makan sama onty?” tanya Nadin menatap Azka gemas. Kepala kecil itu mengangguk semangat dan melingkarkan kedua tangan mungil nya di leher Nadin.


“Mau onty! Mam nya bareng papa!” balas Azka semangat. Nadin meringis mendengar Azka mengingatkannya pada Andrian yang baru sejam yang lalu memarahi nya karena hampir lupa untuk menjemput Azka.


Sekelebat bayangan percakapan di telfon mengingatkan nadin pada suara andrian yang berseru padanya. Nadin meringis ketika bayangan wajah marah Andrian muncul di depannya. Andrian, Andrian, Andrian dan selalu Andrian. Nadin tidak pernah sama sekali melewatkan hal hal yang berbau tentang dirinya dan Andrian.

__ADS_1


"Nadin? kamu sudah sampai di sekolah Azka?" tanya Andrian di sebrang sana. Nadin membulatkan matanya, sekarang pukul sepuluh pagi. Dan ia baru bangun dari tidur nyenyaknya.


"Hah?" jawab Nadin dengan suara khas bangun tidur. Andrian yang disebrang sana memijit pangkal hidungnya lelah.


"Kamu bilang tadi malam akan menjemput Azka besok nadin! setengah jam lagi saya ada operasi pasien. kamu tidak lupa akan hal itu kan?!" seru Andrian membuat Nadin menegakkan tubuhnya.


"Ah? iya iya pak- Nadin udah siap siap kok, nadin on the way ke sekolah Azka ya pak! dadah !"


Buru-buru Nadin langsung mematikan telfonnya. Sebenarnya ia sangat suka mendengar suara Andrian, sekalipun jika sedang marah. Namun jika mengingat Azka, nadin tidak ingin main main dan segera bersiap siap untuk menjemput nya.


“Ontyyy, kok bengong sih.” Nadin membuka mulutnya kaget. Seperkian detik berikutnya ia segera tersenyum kembali dan menormalkan ekspresi nya. “Makannya sama papa ya onty.”


“Engga sayang, papa masih ada kerjaan. Makan bareng onty aja yaa.” bujuk Nadin lembut. Tangannya membuka pintu mobil yang sudah di pesan nya tadi dalam aplikasi online. Ia duduk di jok mobil bagian belakang bersama Azka yang ada dalam gendongannya.


“Selamat siang bu.” sapa pengemudi di jok depan yang nadin tebak sudah berumur kepala empat.


“Siang juga pak, sesuai aplikasi ya.” balas Nadin terkekeh seperti sudah tau akan ucapan yang bapak itu ingin lontarkan.


“Baik bu.” jawab bapak itu tidak banyak bicara.


Nadin mengusap lembut punggung azka yang ada dalam dekapannya. dapat nadin lihat, gurat kelelahan dari wajah sayu Azka. Tangannya ia tepuk tepuk an pelan guna mengantarkan Azka yang sedang mengantuk ke alam bawah sadar.


Nadin tidak ingin munafik, ia memang mendekati Azka untuk mendapatkan hati papah nya. Namun semakin kesini, Nadin sendiri sudah jatuh hati pada Azka. Rasa sayangnya pada Azka sudah tumbuh dalam hatinya. Dan semakin membuat nadin ingin Azka merasakan kasih sayang seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2