DOKTER GALAK!

DOKTER GALAK!
chapter 21


__ADS_3

Andrian menggeram dalam ciuman mereka. Pasokan udara yang mulai menipis, membuat Nadin berusaha untuk melepaskan pertemuan diantara indra pencecap mereka. Andrian yang mulai sadar, langsung melepaskan ciuman mereka. Memberikan jeda untuk Nadin mengambil nafas, lalu ia kembali menyergap bibir itu. Namun, kini Andrian melembutkan sentuhan nya pada bibir Nadin.


Nadin yang mulai terhanyut, meresapi apa yang sedang terjadi. Namun, Nadin masih memilih diam dan tidak membalas pangutan bibir Andrian. Andrian yang mulai berpikir jernih, segera melepaskan pangutan mereka. Nafas Nadin terengah-engah, sedangkan Andrian melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Nadin dengan posesif.


Andrian mengikis jarak diantara mereka, hingga tubuhnya kini benar benar menempel dengan Nadin yang duduk di atas pantry dengan kedua kaki yang memeluk pinggang nya. “Nadin. ” panggil Andrian dengan bulir keringat yang jatuh pada pelipisnya.


“Udaah, hufts. Nadin mau pergi duluu. ” Nadin menahan Andrian yang kembali ingin mencium nya. “Nadin gamau dicium lagi. ” ucap Nadin menggelengkan wajahnya enggan.


“Nadin mau mas cinta dulu sama Nadin...” lanjut Nadin membuat Andrian dengan berat hati menjauhkan tangannya yang ternyata sudah berada di balik gaun tersebut.


“Kamu mau kemana sih? ” tanya Andrian sewot menatap penampilan Nadin tak suka. “Kamu terbuka banget Nadin. ” geram Andrian menilai penampilan Nadin.


“Ih terbuka apasih. Kalau terbuka tuh kaya gini. ” lanjut Nadin mengangkat gaunnya yang sudah berada di pinggang menjadi di atas perut dengan sekilas. Andrian melotot, lalu ia segera menarik Nadin dari pantry, dan menyeret nya ke dalam kamar.


“Kamu ganti baju Nadin. ” titah Andrian sambil membuka lemari pakaian. Diam-diam Nadin tersenyum tipis, ia menundukkan wajahnya tanpa sepengatahuan Andrian.

__ADS_1


“Itu kan bajunya Ashilla. Nadin engga mau, mas nanti marahin Nadin lagi, Nadin takut. ”


Ujar Nadin lirih dalam batinnya. ia tersenyun miris, namun lagi-lagi Nadin dengan cepat mengubah wajahnya seperti biasa. Berseri-seri.


“Kamu pakai ini Nadin. ” ujar Andrian menenteng salah satu baju berwarna peach sambil mendekat ke arah Nadin.


“Nadin enggak mau..” balas Nadin menggelengkan kepalanya mantap. Andrian menyeringit bingung, lalu ia melepaskan pegangannya pada baju itu di atas kasur.


“Kamu masih marah? ”


“Kamu memang punya uang? ” tanya Andrian santai, sambil menyampirkan helaian rambut Nadin yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Nadin meringis pelan menahan malu,


“Nadin mau cari kerja. ” ujar Nadin polos tanpa mengetahui efek reaksi yang Andrian berikan.


“Maksud kamu? ” tanya Andrian menyatukan alisnya.

__ADS_1


“Nadin mau cari kerja. ” ulang Nadin menatap mata elang Andrian lembut. “Biar Nadin punya penghasilan sendiri..” lanjut Nadin mantap.


Andrian menggeram tak suka. Ia menarik nafas, lalu menghembuskan nya sabar. Menahan amarah yang ingin keluar karena mendengar perkataan Nadin. “Nadin...” panggil Andrian berupa geraman lirih.


“Kamu gaperlu kerja, ada saya disini. Saya akan turuti apapun yang kamu mau. ” tekan Andrian memberikan jeda. “Setelah kamu jadi istri saya, kamu akan jadi ibu rumah tangga Nadin. ” Andrian menangkup sebelah pipi Nadin, lalu membawanya untuk mendongak.


“Nadin engga mau menikah tanpa cinta. ” Nadin mengerjapkan matanya.


“Dulu Nadin emang setuju untuk buat mas Andrian nikahin Nadin tanpa cinta, karena Nadin tahu, cinta akan hadir seiring waktu. Tapi sekarang udah berbeda mas. Sikap mas yang mas tunjukan ke Nadin, itu udah jauh. Kita udah bukan di masa pencocokan lagi. ”


Andrian terdiam, tangan nya yang merengkuh pipi Nadin, kini turun melepaskan.


“Nadin merasa kalau mas udah jatuh cinta sama Nadin. ” bisik Nadin nyaris tak terdengar.


Andrian terdiam tak mengatakan sepatah katapun, ia diliputi perasaan campur aduk yang menyerang perasaannya. Nadin tersenyum mencoba meyakinkan. “Buka hati mas buat Nadin. ” ujar Nadin menatap dalam Andrian, menunggu balasan Andrian, yang ia harap akan membuatnya senang.

__ADS_1


Nadin menggenggam pergelangan tangan Andrian, membawanya kedalam kecupan ringan bibirnya. Namun, tak di sangka-sangka, Andrian langsung menarik tangannya, memutar balik tubuhnya memunggungi Nadin. lalu melenggang pergi meninggalkan Nadin dalam keterdiaman.


__ADS_2