DOKTER GALAK!

DOKTER GALAK!
our ending


__ADS_3

...Author point of view....


Nadin merasakan punggungnya di usap pelan, perlahan matanya yang tertutup terbuka membentuk sebuah ringitan kecil. Nadin tersenyum tipis, ternyata Andrian lah yang mengusap punggungnya. Tadi malam ia tidak jadi menemani Azka tidur. Karena Andrian yang membawanya ke kamar mereka.


Andrian mengusap dahi istrinya, lalu ia lanjutkan ke alis hingga turun ke kelopak mata Nadin. Nadin tersenyum lagi-lagi.


“Apa yang membuatmu melakukan hal itu tadi malam? ” tanya Andrian mengingat bahwa Nadin membuka kotak lama pemberian istrinya untuk Azka kelak.


“Nadin hanya penasaran mas. Naluriku membawa Nadin untuk membuka kotak itu. ” jawab Nadin jujur, saat tengah malam dirinya baru keluar dari kamar mandi Azka.


Dan berniat ingin mengenakkan baju di wadrobe milik Azka, namun malah melihat pemandangan kotak yang terlihat tidak biasa.


“Asyilla, ibu dari Az- ” Nadin menggelengkan wajahnya, lalu ia taruh jari telunjuknya di depan bibir Andrian.


“Mas bisa menyebutnya sebagai istri mas. ” potong Nadin berbicara begitu lembut dan pelan. Andrian menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah lengkungan.


“Siklusnya sekarang sudah berbeda, sayang. ” ujar Andrian membalas ucapan Nadin, “Kamu lah istri mas sekarang. Mas sudah tidak memiliki hubungan apapun. Pasti Asyilla di sana bahagia melihat kita. ”


Nadin tersenyum haru mendengar ucapan Andrian. Andrian pun kembali berucap, menceritakan isi dari kotak itu.


“Asyilla berniat ingin menjodohkan Azka dengan anak sahabatnya yang hamil bersamaan dengan dirinya. Namun setelah kepergian Asyilla, aku tidak mendengar kabar apa-apa lagi dari Mika. ”


“Mika? ” tanya Nadin menyeringitkan keningnya bingung.

__ADS_1


“Iya. Mika adalah sahabat dekat dari Asyilla, mendengar berita bahwa Asyilla meninggal saat setelah melahirkan. Dia menjadi sangat terkejut dan kacau. Sedangkan aku, selama enam bulan aku mengasingkan diri dari orang-orang terdekat. Tapi saat kembali, aku sudah tidak pernah mendengar kabarnya lagi. ” jelas Andrian panjang lebar.


Nadin menaruh telapak tangannya di atas permukaan dada bidang Andrian yang keras, ia usap perlahan, berusaha menyalurkan ketenangan untuk suaminya.


“Aku bahkan hanya membuka kotak itu dalam sekali. Karena aku ingin membebaskan Azka untuk memilih pasangan hidupnya. Bukan lewat perjodohan masa kecil. Itu terdengar konyol. ” ujar Andrian terkekeh hambar.


Nadin terlihat sedikit tak setuju akan hal itu, Nadin pikir bahwa feeling seorang ibu tak pernah salah. Jika memang pria yang seharusnya di jodohkan bersama Azka adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, kenapa tidak?


“Tidak usah berpikir sayang, lebih baik kamu lanjutkan saja tidurmu. Aku akan ke bawah untuk menyiapkan sarapan. ” Nadin menggeleng keras, ia mengeratkan pelukannya pada dada bidang Andrian.


“Engga mau mas. Di sini dulu. Masih mau meluk mas. ” ucap Nadin merengek manja, Andrian tertawa lepas, ini yang ia suka dari Nadin. Dapat memanjakan suami secara tidak langsung lewat sikapnya yang manis.


“Karena tadi malam kita gagal ber, ” Nadin memukul dada Andrian refleks, membuat Andrian menggeram sakit sekilas.


“Satu ronde juga gapapa. Hehehe..” mata Andrian membulat, ia menahan senyumnya yang ingin terus muncul ketika bersama Nadin.


“Ide yang bagus, Nadin. ” tubuh Nadin langsung terangkat ke atas. Andrian tersenyum melihatnya. Jika seperti ini, mereka akan melakukan posisi WOT. Atau biasa di sebut, woman on top.


...-----------...


Dua minggu kemudian.


Pulau kecil menjadi pilihan bagi Andrian untuk menemani istri dan anaknya ber tamasya. Cukup sederhana, namun dapat memanjakan hati istri dan juga sang buah hati.

__ADS_1


Andrian merangkul Nadin di pinggir pulau, sedangkan Azka masih tertidur di hotel sejak ia dan Nadin datang ke pulau ini.


Nadin menyenderkan wajahnya tepat di dada bidang Andrian. Ia memeluk pinggang suaminya dari samping.


“Aku sangat mencintaimu, Nadin. ” ucap Andrian tiba-tiba. Nadin tersenyum manis. Ia mendongakan wajahnya, menatap dagu Andrian.


“Tidak ada kata selain aku mencintaimu ya? ” tanya Nadin menggoda Andrian. Andrian mengeratkan rangkulannya pada punggung Nadin.


“Bagaimana jika. Ich liebe die ? ” kini giliran Nadin yang mengerutkan keningnya. Karena tak tahu arti kata dari Andrian.


“Itu bahas Jerman sayang, artinya..” Andrian melepaskan rangkulan tangannya, lalu ia menyampingkan posisi berdirinya menjadi berhadapan dengan Nadin.


Nadin mendongakkan wajahnya, dengan kedua alis yang tertarut penasaran. Andrian taruh kedua tangannya di atas masing-masing pundak Nadin. Lalu ia dorong tubuh Nadin agar semakin dekat dengan tubuhnya.


Cup.


Posisi mereka memang tidak saling menempel erat. Terhalang oleh keberadaan sang jabang bayi di perut Nadin. Namun kecupan dari bibir mereka masing-masing dapat membuktikan, bahwa hubungan mereka jelas sangat erat.


Andrian melepaskan kecupan itu perlahan. Namun ia tak menjauhkan wajahnya sama sekali dari Nadin. Kening mereka saling menempel. Hidung bangir mereka saling beradu.


“Aku cinta kamu. ”


Bisik Andrian serak, basah, dan sangat jantan. Nadin meneguk ludahnya kasar, ia tersenyum kecil. Suasana yang sedang sangat temaram mendukung ke romantisan mereka berdua. Andrian memegang tengkuk Nadin dengan sebelah tangan kirinya. Lalu kembali ia tautkan bibir mereka. Hingga menimbulkan suara decapan pelan yang menghiasi pulau kecil nan sepi ini.

__ADS_1


...Ending....


__ADS_2