
...Author point of view....
Sudah setengah tahun jalan Nadin kembali kedalam pelukan suaminya, Andrian. Setelah ia meninggalkan study nya di New York. Mereka benar-benar membina rumah tangga dengan sangat baik. Dan sekarang waktunya Andrian beralih menjaga Nadin yang semakin sensitif karena kandungannya.
Andrian menjadi lebih sering berada di rumah juga mengambil cuti, walaupun jadwal-jadwalnya padat. Sebisa mungkin ia usahakan untuk meluangkan waktu sepenuhnya kepada Nadin, Azka, dan sang jabang bayi yang masih berumur 3 bulan.
“Nadin. ” panggil Andrian mencari letak keberadaan istrinya di siang hari ini.
Ia yakin bahwa Nadin sedang tidur siang, namun melihat kamar mereka yang kosong membuat Andrian menyeringit seketika. Memang sih, dirinya pergi sejak pagi tadi untuk nge-gym tanpa mengabari istrinya yang masih tertidur, dan biasa bangun di jam tujuh pagi.
“Nadiin. ” seru Andrian di antara keheningan. Ia mulai panik sendiri, Azka sedang berada di rumah kakek neneknya sekarang, tinggal lah ia dan Nadin serta bik Imah.
Andrian mengambil jalan keluar dengan menghampiri bik Imah, asisten rumah tangga mereka. Namun sebelum menapakkan kaki untuk melangkah, suara bisingnya air terdengar hingga telinganya.
Byurrr
Byurrr
Byurrrr
Setengah menit ia terdiam, buru-buru Andrian langsung ke halaman belakang rumahnya, yang terdapat kolam renang disana. Perasaan tidak enak langsung saja menyergapnya, hingga saat ia melihat pemandangan tak terduga dari perempuan yang sudah ia cari-cari sejak tadi, membuat Andrian menghembuskan nafasnya sabar.
“Maass!! ”
Byurrr.
Ternyata Nadin sedang berenang di dasar kolam, ada dua bagian di kolam itu, ada yang khusus anak-anak seperti Azka, dan untuk dewasa seperti Andrian ini, namun istrinya itu berenang di bagian anak-anak. Setidaknya dapat membuat Andrian menjadi lega sedikit.
“Nadin cepetan naik. ” sergah Andrian sambil berjongkok dan mengulurkan tangannya pada Nadin yang sedang asyik menarik dorong kan wajahnya di atas permukaan air.
__ADS_1
“Enggak mau ah, lagi seru nih mas. ” balas Nadin girang, dan justeru melemparkan air berupa cipratan pada suaminya itu.
Andrian berdecak kesal, “Cepetan naik gak. Kalau gak mau, mas tarik nih. ” ancam Andrian dengan matanya yang melotot, membuat Nadin menjadi mengembung kan kedua pipi chubbynya sebal.
“Ih, mas nyebelin banget sih. Kan Nadin mau seneng-seneng, gara-gara ditinggal suami pergi gak tau kemana. ” cibir Nadin berupa sindiran secara halus.
Andrian kembali berdiri seperti semula, ia ingin meraih handuk untuk menutupi tubuh Nadin yang basah. Tapi sebelum berhasil ia membalikan tubuhnya, pekikan Nadin membuatnya kembali menoleh.
“Awww!! ” pekik Nadin tak keras, ia menjerit sebelum wajahnya berhasil masuk kedalam air dengan posisi duduk di tengah kolam.
Andrian langsung melompat ke dalam air, ia hampiri Nadin dengan gaya berenangnya yang seperti seorang profesional. Andrian kalang kabut, melihat Nadin yang tak seimbang. Segera ia raih pinggang Nadin dari dalam air. Saat Andrian mengangkat wajahnya, Nadin sudah berada di gendongannya ala bridal style.
“Hahaha.” tawa Nadin lepas, saat ia berhasil membuat Andrian panik. Mendapati istrinya yang justru malah sedang melemparkan tatapan centil sambil memeluk lehernya, Andrian menjadi kesal sendiri.
Andrian membawa Nadin ke pinggir kolam, punggungnya bersender pada tepi kolam, lalu Nadin sudah berpindah menjadi berdiri di hadapannya. Tubuh keduanya masih berada di dalam air, Andrian memeluk pinggang nadin, hingga tubuh keduanya menempel. Mata Andrian menjelajahi wajah istrinya yang sangat berseri dengan sebuah senyuman.
“Mas. ” panggil Nadin sedikit keras, Andrian menyipitkan matanya curiga, lalu ia angkat sebelah alisnya.
“Nadin masih cantik kan Mas? ” tanya Nadin tiba-tiba, membuat Andrian menarik sudut bibirnya, tersenyum miring.
“Istri Mas selalu cantik, Nadin. ” jawab Andrian tanpa ragu sedikit pun. Nadin tersenyum senang, segera ia peluk lengan suaminya, lalu menyandarkan pipinya pada dada Andrian yang masih mengenakkan kaus, yang sudah basah.
Menampakkan betapa keras dan proposalnya dada bidang Andrian. Andrian mengadahkan wajahnya ke atas, ia usap punggung Nadin. Semakin lama, usapan itu semakin intens saja, membuat Nadin meremang dibuatnya.
“Jangan mulai mas. ” kekeh Nadin berbisik, Andrian menghentikan usapannya, lalu ia melepaskan juga pelukan Nadin pada kedua lengannya.
Andrian membawa kedua tangan Nadin ke dalam genggamannya, ia kecup punggung tangan Nadin, lalu mengusapnya dengan ibu jarinya.
“Kamu mau Mas masakin? ” tanya Andrian begitu lembut, Nadin mengangguk semangat, lalu mereka pun kembali ke atas, dengan Andrian yang memakaikan jubah mandi terlebih dahulu pada istrinya.
__ADS_1
...Di meja makan....
Nadin sudah berganti pakaian dengan baju hangat, berupa sweater coklat yang senada dengan warna rambutnya. Nadin memperhatikan punggung kokoh Andrian yang sedang sibuk memasakkan sebuah makanan untuknya. Entah makanan berat, atau hanya sebuah pemanis makanan.
“Jangan lupa minumannya maass! ” seru Nadin berteriak, tanpa merasa ragu sedikit pun, lagipula di sini hanya dirinya dan Andrian. Dan rumah ini adalah rumahnya dan Andrian.
“Siap, sayang. ” jawab Andrian tak kalah keras, Nadin tersenyum senang, ia tak menyangka jika hubungannya dengan Andrian yang dulu sangat dingin dan kaku kepadanya bisa menjadi se manis ini.
Setelah semuanya selesai, Andrian membawakan sebuah dorongan khusus, tempat piring-piring cantik yang sudah berisikan makanan ke arah Nadin. Seperti di hotel-hotel, Andrian juga menaruh makanan itu, seolah dirinya adalah seorang mas-mas pembawa makanan.
Nadin tersenyum geli melihat tingkah suaminya. Omong-omong Andrian juga sudah mandi lagi, bersama Nadin, jadi keduanya memang sudah terbebas dari yang namanya air dari kolam renang. Andrian duduk di depan Nadin, mereka terpisah oleh meja bundar ber taplak putih yang sungguh elegant.
“Mas mau tip dari saya engga? ” tanya Nadin memainkan alisnya, sambil tersenyum manis menatap Andrian.
“Tip nya nanti malam aja, Nadin. ” jawab Andrian mesum, dengan senyum smirk di bibirnya, membuat kedua pipi Nadin menjadi merona malu karenanya.
Nadin berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang karena merasa gugup dan salah tingkah. Bisa-bisanya Andrian membuat tubuhnya menjadi seperti ini, padahal mereka sudah tinggal bersama selama enam bulan. Tapi Nadin masih merasa malu saja, jika Andrian menggoda dan menjahilinya.
“Ehmm. ” dehem Nadin mengusir ke salah tingkah dari gerak geriknya. Andrian terkekeh, lalu ia memegang garpu dan pisau yang tergeletak di masing-masing sisi piringnya.
Nadin memandang steak yang di lumuri saus dengan begitu sempurnanya, ia menatapnya penuh minat, hingga tanpa sadar Nadin membasahi bibir luarnya mengenakkan lidah. Andrian meneguk ludahnya kasar, ia mengalihkan pandangannya kembali ke steak, dan mengunyahnya lamban.
“Enak kan? ” tanya Andrian membuka percakapan di antara mereka, Nadin mengangkat wajahnya, ia mengangguk mantap.
“Delicious! ” seru Nadin senang, ia memakan steak itu dengan lahap, rasanya tak dapat di ragukan lagi. Andrian memang pintar memasak. Melebihi dirinya sendiri.
“Mas masaknya kan dengan penuh cinta, Nadin. ” ujar Andrian terkesan alay, seperti remaja-remaja yang bukan seumurannya. Tapi Andrian tidak peduli, toh ia harus bisa menyesuaikan gayanya dengan sang istri juga.
“Enak banget. ” mengabaikan ucapan Andrian, Nadin sibuk melahap steaknya, ia juga memakan kentang goreng yang berada di pinggir steak itu.
__ADS_1
Andrian memutar bola matanya malas, ketika gombalan jujurnya tak di tanggapi sama sekali oleh Nadin. Andrian memakan steaknya biasa saja, tidak seperti Nadin yang penuh keceriaan lewat mimik wajahnya. Andrian menunggu malam tiba, karena ia tak sabar lagi untuk terjaga sepanjang malam bersama istrinya.