DOKTER GALAK!

DOKTER GALAK!
chapter 23


__ADS_3

Nadin berjalan gembira dengan sekotak pizza di tangannya. Cuaca sudah menjelang malam, dan Nadin harus melewati teriknya matahari sore karena ongkos yang sengaja ia irit. Beruntung Nadin memiliki ingatan yang kuat, sehingga ia dapat mengenali jalan menuju apartemen Andrian.


“Akhirnya. ” Nadin mendesah lega setelah sampai menapakkan kedua kakinya di depan pintu apartemen Andrian. Ia langsung masuk begitu saja, setelah memasukkan sandi apartemen.


“Mas Andrian! ” Nadin memekik girang melihat Andrian yang duduk di atas sofa sambil bersender di punggung sofa.


Langsung saja Nadin menghampiri Andrian dengan duduk di samping pria itu. Andrian menoleh mendapati Nadin di sisinya, ia mengalihkan tatapannya dari wajah Nadin yang selalu saja cantik.


“Nadin panggil tuh di jawab mas. ” gerutu Nadin mengatupkan kedua bibirnya merajuk. Andrian mengangkat satu alisnya, menangkap pergerakan Nadin yang membuka box pizza di atas pangkuan gadis itu.


“Kamu membeli nya? ” tanya Andrian merubah duduknya menjadi menyamping menatap telinga Nadin yang terselip helaian rambut. Nadin mengangguk mengiyakan.


"Nadin tadi jual anting Nadin buat beli pizza nya, hehehe... ” Nadin tertawa tanpa beban sedikit pun.


Bibir Andrian terbuka membentuk huruf O. Ia langsung memajukan dirinya melihat wajah Nadin yang sibuk membuka pizza dengan menunduk. “Kamu jual anting hanya untuk sekotak pizza?! ”


Tubuh Nadin terjengkit kaget, tangannya yang tadi sibuk membuka kotak pizza dengan semangat, kini terhenti setelah hentakan Andrian yang terdengar kasar. “Iya...” cicit Nadin pelan menjawab.


“Kamu gak perlu lakuin ini Nadin!! ”- geram Andrian frustasi. Ia hempaskan punggungnya kembali pada sandaran sofa. Lalu ia usap wajah nya kasar. Nadin yang melihat itu pun meringis pelan.


“Nadin kan cuman pengen beliin mas aja. Lagian juga kan, anting bisa Nadin beli lagi kalo udah nikah sama mas Iann. ” rajuk Nadin memegang lengan berotot Andrian yang terbalut kemeja berwarna putih.


“Siapa yang akan menikahimu. ”

__ADS_1


“Hah? ”


Nadin terdiam polos. Dengan lugu, mata bulatnya menatap Andrian lembut. “Mas Andrian..” cicit Nadin membalas seruan Andrian dengan gugup.


Andrian tampak menyugar rambutnya, lalu ia angkat punggungnya menjadi terduduk tegap. Tangannya mengambil box pizza, untuk ia taruh di atas meja. Nadin tampak masih terdiam, menunggu reaksi pria di sampingnya. Wajah Andrian benar-benar mengerikan sekarang, membuat Nadin tanpa sadar bergidik ngeri.


“Kita tidak akan menikah Nadin. ”


Wajah Nadin pucat pasi mendengar bibir Andrian yang berucap dingin. Tubuh nya seolah tergagap-gagap, bingung ingin meluruskan ucapan Andrian lewat pikiran positif nya. “I-iya, tidak akan menikah sekarang kan. So-soalnya kan nikahnya masih dua minggu ke.. ”


“Kita tidak akan menikah Nadin. ”


Tekan Andrian menatap tajam wajah Nadin. Nafas Nadin seolah tercekat, tangannya meremas ujung gaun selutut yang ia kenakan. “Tapi mas bilang mau nikahin Nadin.. ” cicit Nadin dengan bibir yang bergetar, menahan isakan. Pandangan nadin mulai mengabur, sehingga Nadin menundukkan wajahnya enggan menatap andrian.


“Saya. ”


Andrian menahan nafasnya. Ia menggantungkan kalimatnya tak siap untuk mengatakan suatu hal yang pasti akan merubah segalanya.


“Saya mencintai orang lain. ”


“Dan, itu bukan kamu. ”


Bulir kristal yang menggenang di mata Nadin, kini terjatuh turun tanpa permisi. Dada Nadin merasakan sesak. Tangan Nadin yang meremas ujung gaunnya, kini mengepal.

__ADS_1


Tes


Nadin langsung mengusap kasar air mata yang jatuh di pipinya. Ia tak ingin pria di sampingnya, melihat dirinya yang menangis dalam diam. Dimata Nadin Andrian tidak memiliki salah apapun.


Karena Nadin lah yang mengejar Andrian dari awal, Nadin lah yang meminta Andrian untuk belajar mencintainya. Nadin lah yang berusaha semaksimal mungkin untuk mencairkan sikap dingin Andrian kepadanya.


Namun...


Nadin tidak pernah sama sekali meminta agar Andrian menciumnya. Memberikan sentuhan-sentuhan ringan di tubuhnya, atau pun memeluknya. Karena semua hal itu yang selalu membuat Nadin semakin berharap untuk yakin bahwa cintanya pasti terbalas.


Namun, sekarang semua harapannya sudah pupus. Ketika dengan mudahnya, Andrian mengatakan suatu hal yang membuat perasaannya menjadi kelu.


Padahal hanya tersisa dua minggu lagi, untuk mereka resmi menjadi pasutri. Pasangan suami istri.


“Saya minta maaf Nadin. ”


“Dokter enggak salah! ” bantah Nadin cepat mengangkat wajahnya. Ia langsung menoleh ke arah Andrian, dengan pandangan matanya yang berusaha menguat.


“Selama ini Nadin yang salah. Nadin sangat salah. Nadin salah banget berharap sama dokter yang enggak pernah punya perasaan apa-apa sama Nadin. Seharusnya Nadin enggak melangkah sejauh ini. ”


Nadin meneguk ludahnya kasar, matanya membulat berusaha meyakinkan Andrian. Walau perasaannya semakin sesak melihat Andrian yang enggan untuk menatapnya.


“Nadin pamit pulang dokter. Salam sayang untuk Azka yaa. ” kedua sudut bibir Nadin terangkat, walau terasa berat. Ia tersenyum, walau Andrian memang tak melihatnya.

__ADS_1


Nadin langsung bangkit dari duduknya. Ia menatap miris sekotak pizza yang ia dapatkan dengan merelakan antingnya. Tanpa ingin melihat wajah Andrian yang masih menatap lurus, Nadin berjalan cepat melewati tempat Andrian duduk. Ia segera melangkah melenggang pergi, melewati pintu apartemen Andrian dengan berlari.


__ADS_2