
Andrian tersenyum simpul. Punggung Nadin, sudah mulai mau menyender dengan dada bidangnya. Tangis sesegukan dari Nadin pun sudah mulai mau mereda, namun Nadin terus saja menggeleng-gelengkan wajahnya pelan. Andrian masih terus memeluk Nadin erat, ia tidak bisa jika harus melepaskan Nadin lagi. Hingga akhirnya mereka hanya terdiam, meresapi semua hal yang sudah terjadi.
“Kenapa kamu tidak mau untuk kembali Nadin? ” tanya Andrian menaruh dagunya untuk bertumpu di atas pundak Nadin. Nadin berusaha menguraikan pelukan mereka, namun Andrian semakin mendekapnya.
Nadin menghela nafas pasrah,percuma juga melawan dengan kondisi fisiknya yang lemah. Andrian mengecup leher jenjang Nadin yang basah karena keringat. Ia singkirkan helaian rambut Nadin, yang menempel di sekitar leher gadis yang sedang ia kecup dengan lembut.
“Saya gamau dokter.. ”
Cicit Nadin menatap lurus pandangannya. Mereka sedang berada di tengah lapangan kosong yang nampak sudah tua. “Saya bersalah Nadin. ” Andrian menghela nafas sabar, menghadapi sikap Nadin yang masih enggan berbicara dengannya.
“Saya minta maaf.. ”
“Yang terjadi diluar rencana saya.. ”
“Saya ingin memberikanmu kejutan Nadin. ”
“Tapi, saya tidak memikirkan segala konsekuensi yang akan terjadi... ”
Ujar Andrian pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya saat semua bayangan lima hari ia tak bertemu Nadin sangat mengacaukan dunianya. Nadin terkekeh hambar,
mendengar penuturan Andrian yang diluar akal.
“Dokter bukan anak-anak lagi kan, yang suka bikin kejutan murahan seperti ini. ”
Andrian tersinggung, dengan Nadin yang meyatakan sikapnya murahan
Secara tidak langsung. Namun, Andrian harus secepatnya sadar juga, kalau yang dikatakan Nadin memanglah benar. Seharusnya, Andrian tak berbuat sejauh ini untuk memberikan Nadin kejutan yang justru membuat hubungan mereka berdua menjadi renggang.
“Izinkan saya untuk merubah semuanya Nadin.. ” bisik Andrian penuh permohonan.
Nadin menggeleng lirih. Walau memang tubuhnya sudah bersandar penuh pada andrian, namun hatinya tetap menolak.
“Engga bisa dokter. ” Nadin menarik nafasnya yang sempat tersendat-sendat karena menangis tadi. “Seharusnya emang kita engga bersama.. ” lanjut Nadin tersenyum lembut sambil mendongakkan wajahnya.
“Hubungan kita lebih baik seperti dulu lagi. Hanya pasien yang mengharapkan kesembuhan ibunya, kepada sang dokter yang telat merawatnya.”
Hati Andrian mencelos, saat indra pendengarnya mendengar ucapan yang sama sekali Andrian tidak ingin dengar ataupun terima. Andrian merenggangkan pelukannya pada Nadin, lalu ia sampirkan pundak Nadin untuk menatapnya miring. Nadin menurut saja, dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
“Dokter akan mendapatkan wanita yang sepadan. Begitupun, juga dengan Nadin, Nadin akan mendapatkan pria yang menerima Nadin dengan apa adanya. ”
Andrian menahan nafasnya yang tercekat. Nadin tersenyum lembut, menatap dirinya. Andrian terus saja mencari kejujuran dari mata Nadin. Namun, perempuan itu nampak sekali tenang tanpa beban apapun.
“Tapi. ”
__ADS_1
Andrian menggeram pelan saat bibirnya enggan untuk berucap. Ia terlalu takut, dengan Nadin yang akan meninggalkan nya lagi setelah ini. Andrian ingin sekali membujuk Nadin, dengan cara mengeluarkan kata-kata cinta. Dan memberikan banyak pelukan seperti apa yang Andrian mimpikan. Namun situasi jelas berbeda. Realitanya sekarang, apa yang Andrian lihat di mimpinya jauh berbeda dengan kenyataan yang sedang terjadi. Jika di dalam mimpi ia sungguh sangat lancar berucap, justru sekarang lidahnya seolah kelu, tak bisa mengatakan apapun.
“Dokter harus bisa seperti Nadin... ” Nadin mengembungkan kedua pipinya gemas dengan acuh. Mungkin, jika sedang tidak dalam kondisi yang serius. Andrian akan menggigit pipi Nadin yang terlihat chubby.
“Nadin aja udah bisa lupain dokter. Masa dokter nggak bisaa. ” goda Nadin santai dengan cengiran di akhir kalimat.
Andrian meneguk ludahnya kasar, matanya masih menatap Nadin lekat. Namun gadis itu sedang serius memandangi alam bebas dengan sangat tenang. Tanpa menyadari tatapannya yang meredup.
“Kamu... udah lupain saya? ”
Nadin mengangguk mengiya kan. Matanya masih sibuk memandangi indahnya cuaca di siang hari, menjelang sore. Andrian terkekeh hambar, ia alihkan wajahnya kearah lain. Andrian menghembuskan nafasnya, berusaha menetralkan perasaan yang sedang hanyut dalam kebingungan.
Antara percaya dan tidak percaya, Andrian kembali mengulang pertanyaan, yang seperti sebuah pernyataan untuknya.
“Kamu sudah melupakan saya..”
Nadin kembali mengangguk, namun kali ini ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Andrian, wajahnya miring dengan bibir yang tersenyum manis, tangan kanannya merengkuh rahang Andrian, yang tampak lurus menghadap wajahnya.
“Nadin mau pamit sama dokter. Lusa Nadin akan terbang ke New York, untuk pendidikan Nadin.. ” ujar Nadin mengusap lembut rahang Andrian yang ditumbuhi cambang tipis.
“Nadin pikir, kita enggak bakalan ketemu lagi. Ehh, ternyata dokter nyamperin Nadin sampai kesini. ” kekeh Nadin mempoutkan bibirnya gemas akan perilaku Andrian terhadapnya.
“Maaf ya dokter! tadi, Nadin lari karena takut sama dokter... heheheh ” cengir Nadin dengan wajah yang meringis pelan.
Sehabis menunjukkan mimik wajahnya yang ekspresif, Nadin kembali terdiam dengan wajah datar yang tidak sama sekali tersentuh. Sedangkan Andrian, pria itu terdiam. Namun seperkian detik kemudian Andrian tertawa sumbang.
“Sekarang sedang tidak ada Azka sayang. Kau tidak perlu men..”
Ucapan Andrian terpotong, disaat Nadin langsung membalas nya keras.
“Itu benar dokter. ”
Balas Nadin cepat, dengan mata yang menatap tajam Andrian. Tangannya yang merengkuh pipi Andrian, kini menekan pundak pria itu dengan penuh keyakinan.
“Nadin akan ke New York lusa esok. ”
Hening.
Diikuti semilir angin berhembus begitu kencang. Keheningan tercipta diantara kedua insan yang saling bertatap mata sekarang, keduanya saling menatap tajam pasangan mata masing-masing. Andrian mengeratkan cengkramannya pada pinggang Nadin, mengikis jarak diantara mereka. Hingga Nadin mengikuti langkah Andrian, ia semakin menekan pundak kekar Andrian dengan telapak tangannya.
Entah siapa yang memulai, bibir mereka bertemu dengan begitu dalam. Nadin terlonjak bangun mengangkat lututnya untuk jatuh diantara celah kaki Andrian yang terbuka. Andrian memeluk pinggang Nadin dengan sangat erat, dengan rasa takut kehilangan yang menggebu-gebu. Nadin mendorong wajahnya, semakin menyatukan bibir diantara mereka.
Hingga tubuh keduanya saling berbaring di atas rumput. Tubuh Nadin yang menyatu erat di atas Andrian, dengan Andrian yang memeluk pinggang Nadin begitu erat.
__ADS_1
Ciuman mereka berlangsung lama. Telapak tangannya melindungi punggung Nadin, untuk meringankan Nadin agar tak sepenuhnya terbebani dengan tubuhnya yang besar.
Berakhir, dengan Andrian yang melepaskan ciuman diantara mereka disaat tangannya, merasakan punggung Nadin yang bergetar hebat. Ia bawa Nadin duduk di atas pangkuannya. Nadin memeluk erat leher Andrian, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu. Hingga Andrian merasakan basah di bagian lehernya.
“Mmhhh. ”
Bibir Nadin bergetar menahan suara isakan, walaupun air mata terus saja mengalir. Dirinya sungguh tak ingin mengakhiri pertemuan terakhirnya dengan sang pujaan hati, menjadi akhir yang penuh tangisan.
Andrian mendekap erat punggung Nadin, dengan bibir yang terkatup rapat, enggan menyadarkan dirinya bahwa ini adalah nyata. Mata elangnya yang selalu memancarkan ketajaman kini, penuh binar keredupan.
Pernyataan Nadin, sangat membuat ulu hatinya merasa tertusuk ribuan jarum. Sangat menyakitkan, dan juga menyesakkan.
Nadin tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Andrian. Bibirnya juga tak berani bersuara untuk mengatakan sepatah katapun. Namun, Nadin juga tak kuat jika harus menahan keinginannya berbicara dengan Andrian.
“Saya akan menunggumu Nadin.. ”
Tegas Andrian singkat, rahang kokohnya mengeras penuh keyakinan. Nadin terdiam dengan wajah terkulai lemas di atas bahu Andrian, namun ia menggeleng lemah sebagai penolakan. Hati Andrian merasa teriris disaat-saat seperti ini Nadin masih menolaknya.
“Dokter harus mendapatkan pengganti Nadin di hari pernikahan nanti... ”
Bisik Nadin penuh permohonan. Ia mengangkat wajahnya. Mensejajarkan tinggi wajahnya dengan Andrian. Bibir Nadin melengkung, membentuk senyuman tipis. Walau sempat terkejut dengan penuturan Nadin yang mengetahui tentang pernikahan itu, Andrian tetap menormalkan ekspresi wajahnya untuk tetap serius membujuk Nadin.
“Saya tidak akan menikah, jika tidak dengan kamu. ” jawab Andrian kekeuh dengan pendiriannya. Kedua mata Andrian, menatap tajam indahnya kelopak mata Nadin yang tertutup.
Gadis itu masih bisa-bisanya tersenyum, dengan begitu lembut disaat-saat suasana yang sangat mencekam untuk Andrian. Andrian kerahkan keningnya untuk bersentuhan dengan kening Nadin, lalu ia bisikkan kalimat-kalimat cinta, yang sudah menumpuk dalam pada hatinya.
“Saya sangat mencintai kamu Nadin. ”
“Hanya kamu yang akan menikah dengan saya... ”
Nadin menggigit bibirnya, lagi-lagi menahan isakan bergetar yang akan keluar. Andrian terus meracau, merapalkan kalimat-kalimat cinta. Yang mungkin, jika Andrian mengatakan nya pada saat-saat dimana hubungan mereka belum menjadi serumit ini, Nadin pastikan dirinya akan terlonjak bahagia dengan tubuh yang menyapa Andrian dengan penuh semangat.
Namun sekarang berbeda. Tubuh Nadin bagaikan porselin yang jika saja tersentuh, pasti akan menjadi rapuh dalam sekejap. Tangisannya pasti akan keluar dengan bibir yang terbuka, mengeluarkan suara isakan tangis yang akan terdengar keras.
Andrian meraih leher belakang Nadin. mengusap nya dalam dengan jempol tangannya, lalu Andrian dekatkan bibirnya dengan kening Nadin.
Cup
Kedua mata Nadin terpejam, kala Andrian mencium keningnya. Butuh waktu lima menit untuk Andrian kembali menarik wajahnya menjauh dari Nadin.
Setelah saat Andrian menarik nafas, lalu menghembuskannya kembali, dengan begitu sukar bibirnya berucap mengatakan hal yang akan menjadi akhir dari semuanya.
“Jika ini memang jalan nya. ”
__ADS_1
“Saya akan melepaskan mu, Nadin. ”