DOKTER GALAK!

DOKTER GALAK!
chapter 22


__ADS_3

Andrian menghembuskan nafas gusar. Ia memukul stir mobil nya sekilas, lalu ia sugar rambutnya kebelakang. Matanya menatap kacau jalanan yang tampak sepi di siang hari ini. Andrian yang sebelumnya tak pernah sama sekali lari dari masalah, tiba-tiba saja harus meloloskan dirinya sendiri hari ini untuk menenangkan pikirannya.


Untung saja jadwalnya tak padat hari ini, membuat Andrian bisa leluasa memikirkan jalan cintanya untuk kedepan.


Andrian mengambil ponselnya, lalu ia buka aplikasi chat. Dan menekan kontak Nadin, yang mengenakkan foto profil wajah manis milik Nadin. Tiba - tiba saja Andrian menjadi rindu akan keberadaan Nadin, juga rasa bersalah yang semakin menyelimuti itu timbul.


Andrian mengerang pelan saat tahu Nadin tak mengaktifkan ponsel nya. Ia kembali mengingat-ingat kenangan indah mereka berdua yang telah dilewati satu tahun ini. Tanpa sadar Andrian tersenyum, dan terkekeh kecil mengingat tingkah konyol Nadin yang selalu membuatnya marah.


Namun lagi-lagi Andrian menepis perasaannya. Pokoknya hari ini Andrian harus minta maaf. Batinnya meyakinkan. Andrian seketika memejamkan matanya, lalu tangannya menarik pintu mobil agar terbuka. Beruntung ada toko bunga di pinggir jalan, hingga membuat Andrian ber inisiatif untuk memberikannya pada Nadin.


Andrian geser pintu toko bunga itu. Cukup modern dan tidak terlalu tua, ruangan juga di dominasi kesan elegant dan dilengkapi pendingin ruangan. Andrian memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, lalu satu tangannya yang bebas memilah milih bunga.


Semuanya terasa jelek menurut Andrian. Tidak ada yang berkesan untuk bunga-bunga yang ia lihat, hingga akhirnya Andrian menghampiri kasir yang mengenakkan pakaian khusus. Dengan acuh Andrian memanggil kasir itu.


“Permisi. ” sopan Andrian menatap kasir yang sedang sibuk dengan buku catatan nya.


“Ya? ”


Shit.


Tubuh Andrian kaku, matanya membola melihat sang empu yang mendongak. Nafasnya seolah tercekat setelah saat suara merdu bak alunan indah menyauti panggilan Andrian. Tangan kirinya sampai harus menggenggam kaca meja sebagai penyanggah. Jantungnya tak bereaksi, namun sepenggal kisah lama kembali terulang dan terus berputar.


“Ashilla. ”


Hanya itu yang dapat Andrian katakan. Perempuan di hadapannya tampak tersenyum indah, namun dapat terbukti raut wajah kebingungan tampak hadir dalam wajahnya. Andrian ingin menangis sejadi-jadi nya, namun perasaannya seolah berbeda. Ia tak tahu. Mengapa justru disaat seperti ini, Andrian malah mengingat gadis konyol itu.

__ADS_1


...••••••••...


Dilain sisi


Nadin berjalan menyusuri pekarangan apartemen Andrian yang berada jauh dari kota. Cukup sulit untuk Nadin mencari pekerjaan di kawasan sini, di karenakan lingkungan yang sepi juga rawan dari penduduk padat masyarakat. Bahkan, hanya ada beberapa toko-toko kecil di pinggiran.


Namun Nadin tidak bisa berbohong dengan matanya yang dimanjakan oleh keasrian lingkungan ini. Nadin paham, bahwa Andrian memilih apartemen disini karena ke tentraman dan kedamaiannya yang ada.


Ups, mengingat Andrian — wajah Nadin tiba-tiba menjadi murung. Apakah memang dirinya tak bisa masuk kedalam hati pria itu ?


“Kesel banget! ” Nadin mencebik kan bibirnya sebal. Ia melengoskan wajahnya ke arah jalanan yang tampak sepi.


“Mas Andrian marah-marah mulu. ” gerutu Nadin kesal. Ia hembuskan nafas lelah. “Biar mas Andrian engga marah, Nadin harus apa ya? Harus masak kah? Atau Nadin harus beliin mas Andrian sesuatu. Naahh iya bener. Biar mas Andrian luluh, lagian juga kan Nadin sendiri yang mutusin buat engga nyerah. ”


Nadin mengepalkan tangannya penuh semangat. Ia tersenyum sumringah melihat ada gerobak pizza yang berada di pinggir jalan. Ide cemerlang selalu muncul dalam pikirannya.


“Tapi... Gimana caranya beli itu Pizza. kalo Nadin aja engga punya uang. ” bibir Nadin kembali mengerucut kesal mengingat dirinya yang sedari tadi berjalan masih dengan tangan kosong. Karena uang tabungannya berada di rumah sang bapak. Dan akan sulit untuk Nadin tiba di rumahnya.


“Nadin mau jual anting aja. lagian, kalau nanti Nadin nikah sama mas Andrian, Nadin bisa beli baru lagi. Hehehehe.. ”


Nadin terkekeh sendiri, mengingat dirinya yang akan segera menikah dengan Andrian. Tanpa pikir panjang lagi, Nadin langsung berjalan mencari toko emas, untuk menjual anting yang ia beli semasa SMA nya dulu.


.........


Pagi dan siang, berlalu begitu cepat. Tak terasa, Andrian sudah duduk selama dua jam bersama perempuan yang mirip sekali dengan istrinya.

__ADS_1


Bahkan, awal Andrian kembali melihat duplikat wajah istrinya. Andrian sendiri meyakini, dan langsung berpikir bahwa jalan hidupnya seperti film-film yang ia tonton. Bahwa ternyara istrinya tak meninggal karena ada suatu alasan.


Namun ternyata,


Tak ingin berbasa-basi dengan kisah cintanya. Andrian langsung mengajak kasir toko bunga itu, untuk menikmati secangkir kopi di sebuah kedai ternama.


“Tujuan tuan ajak saya kesini apa ya? ” tanya wanita itu tersenyum senang. Andrian menghembuskan nafasnya nya pelan, lalu ia raih pergelangan tangan wanita itu. Menggenggam nya erat, lalu membawanya pada kecupan di bibirnya sekilas.


Tampak wanita itu tersipu dengan pipi memerah bagaikan tomat. Andrian menatap wanita di hadapannya tajam, bagaikan elang.


“ Kamu, mirip sama istri saya.”


Ujar Andrian gamblang dengan suara beratnya. Perempuan dihadapannya tampak terkejut, namun urung ia sama sekali tidak melepaskan genggaman erat tangan Andrian pada tangannya.


“Tapi, saya bukan istri tuan..” cicit perempuan itu sopan dengan raut wajah tak enaknya. “Istri tuan dimana? ” tanya nya penasaran. Andrian tersenyum tipis.


“Dia sudah di panggil tuhan Syill. ” jawab Andrian masih betah menatap perempuan yang bernama Asyilli di hadapan nya.


“Eum maaf..” ujar wanita itu tersenyum canggung.


“Mungkin jika hanya wajah kalian yang sama, saya akan memakluminya. Namun nama kalian sendiri hampir sama. Saya yakin itu bukan sekedar kebetulan. ”


Jelas Andrian secara seksama. Asyilli nampak berpikir. Namun lagi-lagi ia tak bisa mengingat kenangan yang berhubungan dengan si kembaran nya yang di sebut Andrian.


“Saya tidak paham dengan apa yang anda ucapkan tuan... Sejak kecil, saya tinggal bersama paman dan bibi saya, namun ia meninggal lima tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan. ”

__ADS_1


Jelas Asyilli sopan. Andrian yang mendengar penjelasan dari Asyilli, tampak berpikir keras untuk mengingat sesuatu. Tanpa sadar, Andrian mengusap tangan Asyilli dengan ibu jarinya. Semakin membuat Asyilli tersipu malu, dan menundukkan wajahnya.


__ADS_2