
Nadin menggerutu sebal saat sepanjang jalan, Azka selalu memainkan kancing bajunya. Bahkan tak jarang, kancing bajunya yang hanya terdapat tiga kancing pada bagian atas baju, dibuka oleh Azka, lalu anak kecil itu kancingi lagi. Lalu ia buka lagi, terus saja begitu.
Andrian diam-diam meneguk ludahnya kasar. Ia sangat terkecoh oleh pemandangan di sampingnya, walau memang bagian tubuh Nadin tak terlihat semua, namun dapat Andrian lihat dari ekor matanya, sebuah lorong yang terhimpit. Menjadi sedikit mengintip saat anak nya itu, membuka kacing baju Nadin.
“Azka udah dong, bajunya jangan di bukain ih. ” ujar Nadin menangkap pergelangan tangan mungil Azka, lalu ia angkat tubuh Azka dengan mudah, dan ia putar tubuh Azka menjadi membelakanginya.
Azka terkikik senang. Hingga, perjalanan itu kembali sunyi, ketika Azka sudah tertidur dalam pangkuan Nadin. Tidak ada yang memulai pembicaraan, keduanya tampak fokus pada pikiran masing-masing.
Nadin mengusap rambut Azka dengan sayang. Ia mengabaikan tatapan tajam Andrian, yang diam-diam selalu mengarah padanya. Nadin sibuk mengusap rambut Azka, hingga tanpa sadar kantuk menyerangnya.
Nadin pun, akhirnya tertidur lelap, hingga punggungnya terhempas lelah pada senderan kursi mobil. Sudut bibir Andrian terangkat kecil, memandang wajah damai Nadin yang terlelap.
“Cantik. ”
Gumam Andrian tanpa sadar. Tak ingin berlama lama memandang wajah Nadin, Andrian langsung menggelengkan wajahnya tegas, menyadarkan dirinya untuk tidak larut dalam kecantikan alami yang dimiliki Nadin.
__ADS_1
...•••••...
30 menit perjalanan.
Nadin menyeringitkan matanya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat, berusaha kembali untuk tertidur. Namun, tepukan pada wajah nya menyadarkan Nadin dari tenggelamnya alam mimpi. Menyadari tangan mungil yang menggapai-gapai pipinya, Nadin tersenyum kecil.
“Mama bangun!! ”
Nadin terkekeh gemas mendengar rengekan Azka. Tubuh Nadin menggeliat mencari kenyamanan yang pas. Setelah itu, langsung Nadin tegakan posisi duduknya. Ia angkat tubuh mungil Azka yang ada di gendongannya, menjadi duduk menghadap diri nya.
Setelah aman, Andrian lepaskan sabuk pengaman pada tubuhnya. Tak lupa juga, dengan sabuk pengaman pada tubuh Nadin.
Azka sudah di turunkan duluan dari mobil range rover milik papanya. Sedangkan, nadin mengambil tas selempang yang ada di kursi belakang. Baru saja, Nadin siap untuk turun dari mobil. Namun, Andrian mencekal tangannya, menghentikan pergerakan Nadin. Nadin menahan nafasnya saat jarak wajah diantara mereka benar-benar dekat. Nadin yakini, Andrian pasti mendengar degup jantungnya. Saat pria itu dengan mudahnya, mengancingkan kembali kancing baju Nadin yang terbuka.
Nadin hembuskan nafasnya berulang kali, saat setelah Andrian sudah keluar duluan dari mobil. “Bilangnya enggak cinta. Tapi masih aja ngasih perhatian. Maunya apasih. ” Nadin mencebikan bibirnya kesal, sambil menurunkan kaki jenjangnya untuk menapak pada trotoar.
__ADS_1
Andrian memilih restaurant seafood. Kawasan nya tidak terlalu besar, dan lebih dominan dengan desain kaca juga warna coklat kayu. Nadin langkahkan masuk kakinya, Andrian dan Azka sudah jauh di depannya. Mata Nadin tak henti-henti nya berdecak kagum, saat banyak aquarium besar yang diisi oleh makanan makanan laut.
Nadin terkekeh gemas, melihat papan bertuliskan Five star food. “Pantesan aja sepi, pasti mahal. ”
Nadin meringis canggung saat ia sudah ketinggalan jejak Andrian. Namun, tak ingin menjadi semakin kesulitan. Nadin edarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan. mata Nadin terhenti saat melihat tangga disana, segera Nadin melenggang pergi untuk menaiki lantai atas. Dan benar saja. Di sana ia melihat Andrian, Azka, dan...
“Itu siapa? ” tanya Nadin menyeringit bingung.
Ia melangkah kan kakinya mendekat. Namun, disaat jaraknya semakin pendek akan keberadaan Andrian. Disitu lah langkah Nadin semakin memelan. Ia menggigit bibir bawahnya, mendengar tawa lepas dari Andrian dan perempuan di samping pria itu. Nadin mengepalkan kedua tangan nya bingung, apakah ia harus maju dan menghampiri. Atau pergi diam-diam.
Nadin mendesah pasrah, pilihannya ada di nomor dua. Segera ia balikkan tubuhnya untuk pergi. Namun, pekikan Azka memanggil namanya. membuat Nadin sekarang sudah duduk di hadapan wanita yang bersebelahan dengan Andrian.
Suasana sangat canggung untuk Nadin. Tapi sepertinya tidak untuk Andrian. Pria itu sangat menikmati bersenda gurau dengan wanita yang tak Nadin kenali.
Ingin menyibukkan dirinya. Nadin bersyukur masih ada Azka di sampingnya. *Yang mungkin bisa menjadi teman untuk Nadin ajak bicara. Na*mun..
__ADS_1
Entah sejak kapan. Azka sudah berada di atas pangkuan wanita di hadapan nya. Nadin meneguk ludahnya kasar, tangannya yang berada di atas meja, seketika langsung jatuh terkulai di atas kedua pahanya. Ia menundukkan wajahnya dalam. Sungguh pemandangan yang sangat indah, menurutnya.