
...Author point of view....
Andrian menghela nafas panjang, ia melangkah ingin segera menyusul Nadin, tapi terhenti dan lebih memilih untuk menaiki tangga dan menghampiri Azka.
Andrian berhenti di ambang pintu Azka yang ber cat putih, pintu itu tak sepenuhnya tertutup, membuat Andrian dapat melihat keadaan di dalamnya. Azka sedang menangis di atas lantai, di pinggir ranjang. Itu pasti karena dirinya.
“Hiks. ” tangis Azka sedikit menyerap pada seprai kasur, suaranya juga tenggelam, karena Azka yang menelungkupkan wajahnya pada pinggiran ranjang.
Andrian berlutut di samping Azka, ia mengusap kepala belakang Azka yang bergetar, karena tangis Azka yang sesegukan. Azka berpikir bahwa yang sedang di sampingnya adalah Nadin, jadilah Azka beralih memeluk tubuh itu, yang pikirnya adalah tubuh Nadin.
“Azka kan ggak se-sengaja mmaahh. Hiks! ” Andrian menghela nafas panjang, apakah ia terlalu keras menegur Azka? Hingga Azka saja sampai seperti ini.
Azka yang sibuk menangis di pelukan Andrian pun, lamban laun mulai terperangah, menyadari bahwa sandarannya pada Nadin sangatlah keras. Perlahan mata Azka yang tadinya terpejam kuat, kini mulai menyipit terbuka. Azka mendorong tubuh Andrian, menyadari bahwa yang memeluknya bukanlah Nadin.
“Hiks! ” Azka menjauhkan tubuhnya, dengan cepat Andrian bangkit, ia raih pundak Azka. Lalu menggendong tubuh anaknya.
“Jangan takut sama papa. ” Azka menggeleng keras, ia sangat takut pada Andrian, sesosok Andrian yang semakin saja tegas dan keras setelah pria itu menikah dan akan segera di karuniai anak.
Andrian memeluk tubuh Azka, Azka yang awalnya meronta keras minta di lepaskan pun, kini mulai terdiam. Andrian peluk tubuh Azka yang berada di gendongannya. Gadis kecil itu memejamkan matanya mulai nyaman, akan pelukan Andrian yang sudah jarang ia rasakan.
“Papa berubaahh...” cicit Azka pelan dan sangat kecil. Seolah pita suaranya habis, setelah menangis sesegukan tadi.
Andrian menghela nafas panjang, “Papa nggak ada maksud kayak gitu Azka. Engga ada..” jawab Andrian melembut, Azka langsung menggeleng kecil dibuatnya.
“Papah berubah. Tapi mama engga.. Mama sayang Azka... Tapi papa cuman sayang sama adik baru.. Hiks! ” Azka kembali tersentak dengan sebuah isakan.
Andrian melotot dibuatnya, entah kenapa, mendengar penuturan polos dari Azka, dapat membuat hatinya mencelos seketika. Andrian memeluk Azka kembali, hingga tiba saatnya tangisan Azka semakin melemah. Berubah menjadi lenguhan halus khas anak-anak.
Andrian taruh Azka di atas ranjang, lalu ia tarik selimut untuk menutupi tubuh kecil anaknya. Andrian usap kepala Azka. Ranjang Azka yang hanya muat untuk satu orang, membuat Andrian tak bisa tidur di samping anaknya. Atau nanti Azka malah terbangun dibuatnya.
...-----------...
__ADS_1
Nadin merasakan perutnya yang di peluk dari belakang, tiba-tiba saja tubuh tinggi dan keras ia rasakan di punggungnya. Andrian menaruh dagunya di atas pundak Nadin yang tertutupi oleh dress rumahan biasa. Sangat sederhana, namun terlihat rapih dan kasual.
Andrian memeluk perut istrinya, Nadin yang mulai terbiasa pun, mengusap punggung tangan Andrian yang melingkar di perutnya.
“Azka masih kecil. Engga seharusnya mas kaya gitu.” ujar Nadin sedikit ketus, mengingat sikap Andrian kepada Azka yang sudah ia anggap anaknya sendiri.
“Mas cuman gamau dia jadi manja Nadin. ” ujar Andrian tegas, tapi menyiratkan nada kesedihan lewat suaranya. Nadin tahun, bahwa Andrian pasti sedang merasa bersalah.
“Azka sama sekali gapernah manja sama kita. Kalaupun manja? Itu wajar kan, lagian aku juga ga merasa di repotkan dengan sikap Azka yang manja. Usianya masih muda mas. Butuh banyak kasih sayang. Bukan malah bentakan. ” cerocos Nadin kesal, ia melepaskan tangan Andrian dari pelukannya.
Wajah Nadin yang cemberut, membuat Andrian meringis melihatnya, “Malam ini aku tidur sama Azka ya. ” ujar Nadin tegas.
Mulut Andrian menganga tanpa sadar. “Tapi kan.. ” Andrian berdecak kesal, Nadin membalikan tubuhnya menghadap suaminya yang sedang menggerutu.
“Apa? Engga ada tapi-tapian. Lagian Nadin juga engga mood. ” ujar Nadin semakin terdengar ketus. Andrian menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung ingin mengucapkan apalagi.
...-----------...
Andrian duduk di samping Nadin, sedangkan Azka duduk di depan mereka. Hanya saja, Nadin pindah duduk ke sebelah Azka. Dengan acuh ia sendok kan lauk pauk untuk Azka seperti biasanya.
Mata sembap Azka masih terlihat, walaupun gadis kecil itu sudah mandi, tak dapat di bohongi lagi, karena terlihat sedikit bengkak dan merah. Andrian memakan makanannya seperti biasa, ketiga orang itu hanya terdiam. Tapi Nadin sebisa mungkin untuk mengalihkan perhatian Azka dari Andrian.
“Azka mau pakai kecap ga? Biar engga terlalu pedes. ” tanya Nadin sambil mengambil kecap, Azka mengangguk cepat. Nadin mencuri pandang dari Andrian sebentar. Lalu ia kembali fokus pada Azka lagi.
“Malam ini Azka tidur sama mama yaah. ” ucap Nadin di antara keheningan itu, Andrian menelan ludahnya kasar. Namun ia hanya pasrah.
Ketiga orang itu pun akhirnya menyelesaikan makanannya, Andrian menunggu Nadin berdiri dan segera pergi. Dan benar saja, Nadin menuntun Azka hingga menaiki tangga, dan tubuh mereka benar-benar hilang dari pandangan Andrian.
Di dalam kamar, Andrian merenung sendirian, ia mencoba fokus pada pekerjaannya. Dan tidak menghiraukan kejadian tadi lagi. Namun tetap saja tidak bisa.
Oh ya, membicarakan soal pekerjaan. Andrian menetapkan keinginannya sebagai seorang Dokter, ia lebih memilih menyerahkan perusahaannya pada orang terpercaya papanya saja.
__ADS_1
Bukannya membangkang, namun Andrian tak bisa memaksakan kehendak sang ayah, di luar keinginannya menjadi seorang pengusaha.
Lamban laun, pukul sudah menunjukkan jam 12 malam. Sudah lewat waktu jam tidurnya bersama Nadin. Dan ia sudah selesai walau harus memaksakan pikirannya agar tetap fokus dan profesional.
“Nadin. ” Andrian berucap dalam batinnya. Ia keluar dari ruang kerjanya, lalu keluar dari pintu kamar yang sebenarnya ber sebelahan dengan kamarnya.
Andrian hanya perlu melewati beberapa dinding saja, hingga akhirnya ia sampai di depan pintu kamar anaknya.
Cklek.
Andrian perlahan membuka pintu kamar Azka. Ia mengendap-ngendap sangat pelan, karena tak ingin mengganggu. Andrian menangkap Azka yang sedang tertidur di bawah selimut, lalu Andrian menutup pintu secara perlahan.
“Nadin.. ” Andrian pikir sesosok yang sebenarnya adalah guling di samping Azka adalah Nadin. Namun ternyata bukan. Itu hanya guling besar, di antara guling mungil Azka yang lain.
Andrian sontak merasa khawatir. Hari sudah malam. Di mana kah Nadin berada?
Brukk.
Refleks kepala Andrian menoleh ke sumber suara, ia berlari secara panik, menuju ruang wadrobe Azka yang berwarna pink. Andrian menghembuskan nafasnya kasar.
Ternyata Nadin sedang berada di ruang ganti baju Azka. Nadin yang melihat keberadaan Andrian pun tak kalah kagetnya. Mereka saling berpandangan.
“Apa yang sedang kau lakukan Nadin? ” selidik Andrian curiga. Nadin membesarkan bola matanya gugup.
Ia melirik kotak hadiah ber ukuran sedang yang jatuh berantakan di bawah. Sayangnya Andrian masih belum menyadari hal itu. Hingga akhirnya Nadin menunduk. Di ikuti oleh Andrian.
Andrian memejamkan matanya. Nadin menggigit bibir bawahnya. Itu adalah kotak peninggalan istrinya. Yang seharusnya ia berikan pada Azka ketika sudah beranjak dewasa. Namun Andrian lupa akan hal itu.
“Jangan takut. Kemarilah. ” Andrian merentangkan kedua tangannya. Nadin berjalan menuju Andrian dengan ragu.
“Aku tidak marah. Kamu istriku Nadin, dan sudah sepantasnya kamu tahu segala kehidupanku.” bisik Andrian tepat di sebelah kuping Nadin.
__ADS_1
Tangan Andrian membawa Nadin pada pelukannya. Nadin menyandarkan wajahnya pada Andrian. Sebelumnya ia takut Andrian akan marah, karena dirinya telah lancang membuka barang peninggalan mantan istri Andrian.