DOKTER GALAK!

DOKTER GALAK!
chapter 28


__ADS_3

Nadin melangkah kan kakinya bolak balik di depan halte. Ia sangat khawatir sekarang, cuaca sudah menjelang malam, apalagi melihat kabut yang menghitam membuatnya semakin takut.


Andrian, Asyilli, serta Azka sudah pulang duluan. Sedangkan Nadin masih menunggu disini, karena Andrian hanya ingin mengambil suatu barang di rumah sakit. Lalu akan kembali kesini, setelah mengantarkan Asyilli pulang kerumahnya, yang berlawanan arah dengan jarak rumah Nadin.


Nadin menyetujui usul itu, bukan karena masalah jarak sebenarnya. Ia hanya tak ingin berada diantara dua orang itu, secara bersamaan.


Namun, sudah satu jam lamanya. Andrian masih belum muncul untuk menjemputnya. Nadin sebenarnya bisa meminjam charger ke toko-toko yang terdekat untuk memesan ojek online. Namun, ia lebih memilih menunggu karena jam tangan Andrian ada di tangan nya.


Pandangan Nadin, baru sadar akan keberadaan jam tangan itu, saat setelah ia menunggu sekitaran setengah jam di dalam restaurant. Dan selebihnya, Nadin lebih memilih menunggu di halte terdekat karena tak nyaman berada disana.


Tubuh Nadin yang tadinya berdiri menunggu Andrian di depan halte. Kini ia tarik mundur untuk menghindari air hujan yang tiba-tiba saja turun deras. Sungguh sangat tiba-tiba. Nadin tak membawa jaket, atau semua hal yang bisa menghangatkan tubuhnya.

__ADS_1


Bibir Nadin mulai bergetar kedinginan. Ia taruh jam tangan Andrian di dalam tas selempangnya, agar tak terkena air hujan. Tangan Nadin menyatu mencari kehangatan, lalu ia gesekkan, dan ia taruh di pipi untuk menghangatkan. Terus berulang begitu, hingga tubuh Nadin mulai menggigil.


“Dokter m-manasih..” gumam Nadin pelan, menatap nanar jalanan.


Nadin memang memutuskan untuk menjauhi Andrian. Melupakannya untuk bahagia dengan perempuan lain. Namun, tak pernah terpikirkan olehnya untuk membenci Andrian. Karena menurutnya Andrian adalah orang yang baik, Andrian tak pernah bermain-main dengan keputusannya.


“Dokter pasti jemput Nadin kan... ”


Nadin menjatuhkan kepalanya miring pada tiang penyanggah berdirinya halte. Matanya mulai berat karena sapuan angin hujan yang sangat keras. “Dokter..” gumam Nadin lemah.


Gigi-gigi Nadin mulai bergeletuk kedinginan. Bibirnya yang merah merekah, bergetar. Tangannya yang tadi menyatu, kini mengepal lemas. Halte memang memiliki atap, namun ia tak memiliki tembok di masing masing sisi nya. Sedangkan angin, sangat keras yang diliputi juga oleh hujan. Hingga membuat wajahnya memerah dan sudah basah akan bulir-bulir air dingin yang mengenai pipi nya.

__ADS_1


Perlahan matanya yang mencoba bertahan, menunggu kedatangan sang dokter. Kini mulai sayup-sayup menutup. Bibirnya, tak kuat lagi untuk mengeluarkan rintihan.


“Sebenci itu kah dokter akan keberadaan Nadin? Nadin Pikir, masih ada jalan keluar untuk hubungan kita. Setelah dokter mencintai yang lain. ” kedua kelopak matanya mulai menutup.


“Tapi Nadin salah. ”


“Dokter memanglah bukan untuk Nadin. ”


Nadin menarik nafasnya, lalu ia hembuskan perlahan. Guna, menetralkan perasaannya yang mulai sesak. Keningnya menyeringit, saat Nadin sendiri lah yang berusaha membela Andrian ketika perasaannya berontak untuk memaki-maki Andrian dengan umpatan-umpatan yang kasar.


“Nadin berharap.. ”

__ADS_1


“Akan ada orang lain — yang mencintai Nadin, setelah ini.. ”


Mata Nadin terpejam. Hati dan tubuhnya benar-benar lelah. Andrian telah memberikan luka paling besar dalam hatinya. Setelah bapak dan ibu tirinya, kini lelaki itu juga yang melukai hatinya.


__ADS_2