
...Author point of view....
Nadin me rilex an otot-otot tangannya, ia dan Andrian tidur siang terlebih dahulu, setelah sarapan pagi bersama. Andrian sedang berbicara lewat ponselnya di tepi ranjang, Nadin yang sedang menguletkan tubuhnya sehabis tertidur, kini merangkak kan tubuhnya mendekati Andrian.
Nadin memeluk Andrian dari belakang, Andrian yang sedang menelfon pun menjadi terkejut, tapi ia membuang nafasnya lega, menyadari bahwa itu adalah istrinya.
Nadin memeluk pinggang Andrian dengan kakinya, lalu tangannya melingkar melewati lengan Andrian, hingga menyentuh dada pria itu, yang mengenakkan singlet berawarna hitam.
“Besok kamu atur ulang aja jadwalnya ya. Gantikan saya dengan Dokter Reza aja. ” ujar Andrian meminta asistennya untuk mengatur ulang jadwalnya saja.
Nadin menyenderkan pipinya pada punggung Andrian, ia tahu bahwa Andrian pasti sangat lelah dan membutuhkan istirahat. “Mas mau kerja dari rumah? ” tanya Nadin saat Andrian beranjak bangun dari pinggiran kasur.
“Iya, tinggal nge cek data-data pasien aja. Tolong buatin kopi hitam ya sayang. ” Nadin mengangguk, Andrian memang suka kopi di sore hari, apalagi jika suaminya itu mulai bekerja di rumah sejak sore hingga malam hari nanti.
Nadin melangkah keluar dari kamar, ingin membuatkan suaminya kopi. Sampai di dapur, ia benar-benar membuat kopi hitam dengan penuh kasih sayang. Setelah kopi itu selesai, Nadin mengantarkannya ke ruang kerja Andrian.
“Mas, Azka mau nginep di rumah mamah hari ini? ” tanya Nadin sambil menaruh secangkir kopi itu, di meja kerja Andrian, yang agak sedikit jauh dari berkas-berkas.
“Coba tanya Azka aja di telfon, mau di jemput apa nginep aja. ” Nadin mengangguk, ia menjauh, dan duduk di sofa yang empuk dalam ruangan ber ac.
“Mama Nadin! ” seruan Azka penuh semangat, menyambut sambungan telfon mereka sore ini.
“Azka mau mama jemput apa engga? ” terdengar helaan nafas panjang di sana, membuat Nadin mengerutkan keningnya bingung. “Azka sayang? ” panggil Nadin.
Di sebrang sana, Azka menatap kesal mainannya yang baru saja rusak, padahal itu adalah mainan baru, yang Andrian belikan padanya, dua hari yang lalu. Kalau mainan itu rusak, Azka takut di marahi, membuat Azka yang sebenarnya ingin pulang, menjadi ingin menetap di sana.
“Azka mau nginep aja maa. ” ucap Azka berat hati, Nadin bangkit dari duduknya, Andrian yang menyadari gerak gerik Nadin, langsung menatap istrinya.
__ADS_1
“Apa? ” tanya Andrian tak terdengar sampai telinga Azka. Nadin hanya tersenyum saja, Nadin mengambil kunci mobil di atas meja kaca. Ia mengangkatnya ke arah Andrian.
Andrian mengangguk meng iyakan, mengerti dari maksud Nadin. Nadin keluar dari ruang kerja Andrian, tak lupa ia menutup pintu, Nadin pun menuju garasi, lalu mengeluarkan mobil yang jauh lebih kecil di antara tiga mobil yang lainnya.
Nadin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ia akan menjemput Azka, walau Azka sendiri bilang bahwa ingin menginap di rumah ibu mertuanya.
“Azka..” Nadin memasuki rumah setelah menempuh perjalanan kurang lebih dari dua puluh menit.
Nadin memasuki rumah yang jauh lebih besar dari rumahnya dan Andrian. Nadin mendengar jelas bahwa ada sautan dari ibu mertuanya, yang sedang berada di dapur.
“Eehhh ko kamu kesini? Kan Azka mau nginep katanya? ” tanya Riyanti ramah, sambil memeluk Nadin. Nadin tersenyum manis.
“Gapapa ma, aku udah kangen sama Azka. Jadi mau bawa Azka pulang aja. ” ujar Nadin sopan, walaupun memang hubungan keduanya sudah jauh sangat dekat, tapi Nadin masih memperhatikan tatakrama pada yang jauh lebih tua.
“Azkaa! Mamanya dateng niihh.” seru Riyanti memanggil Azka, Nadin berdiri di ruang tamu, melihat Azka yang turun tergesa dengan boneka di sebelah tangannya.
Nadin tertawa khas keibuan, ia mengusap rambut Azka yang sedikit bergelombang di usianya, “Mama kangen sama kamu. Makanya mama jemput kamu. ” ujar Nadin jujur, Azka yang tadinya memasang mimik wajah merajuk, langsung menjadi senang seketika.
...---------...
Nadin membawa Azka ke dalam mobil, di sepanjang perjalanan, mereka berbicara hal-hal ringan yang mengundang tawa renyah. Azka seakan melupakan mainannya yang rusak, dan tertinggal di rumah mamah Riyanti. Nadin menggandeng tangan Azka turun dari mobil.
“Azka cuci kaki, cuci tangan dulu ya sama mama. ” Azka mengangguk semangat, ini adalah kebiasaan sedari dulu yang Andrian ajarkan padanya.
“Mama, Azka ngantuk, Azka mau ke atas dulu. ” ucap Azka yang langsung Nadin angguki, tanpa rasa curiga sedikit pun.
Azka menaiki tangga, tapi saat ia mencapai perempatan tangga, langkah mungilnya berhenti, mendongak melihat sesosok pria tegap nan tinggi, yang sedang menunduk memandangnya dari kejauhan beda beberapa kaki.
__ADS_1
“Azka gamau meluk papa? ” tanya Andrian sambil berlutut dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Azka berjalan ragu saat melangkah ke arah papahnya.
Hap.
Andrian memeluk tubuh kecil Azka, Azka tersenyum senang, ia berdoa pada tuhan, semoga papanya tidak mengingat akan hadiah yang papahnya itu berikan. Karena dirinya sudah menjadi anak yang patuh, saat di ajak ke kantor beberapa hari lalu.
“Azka? ” kening Andrian tertaut, Nadin merasakan ketegangan dari tubuh kecil anaknya, Azka.
“Di mana hadiah yang papa belikan untukmu? ” Azka membulatkan matanya sekilas, tubuhnya langsung menjadi kaku, Andrian menguraikan pelukan di antara mereka.
Deg.
Deg.
Deg.
“Jangan bilang kau merusakinya lagi? ” tanya Andrian menegas, wajahnya mulai menjadi tak bersahabat dan dingin.
“A-azka...”
Andrian membuang nafasnya kasar, ia langsung berdiri dari berlututnya, Azka pergi berlari memeluk paha Nadin, Nadin meraih punggung Azka lalu mengusapnya dengan posisi yang sedikit menunduk.
“Papa engga boleh gitu, Azka pasti engga sengaja. ” bela Nadin terhadap Azka, walau Azka bukan lah darah dagingnya, tapi Azka sudah ia anggap seperti anak kandung sendiri, yang harus ia sayangi dan lindungi.
“Sekarang kamu masuk kamar ya sayang. ” ucap Nadin lembut, Azka mengangguk cepat, ia berlari melewati Andrian, menaiki tangga dengan terengah.
Mata Nadin menatap Andrian tak suka, ia berlalu pergi dari hadapan Andrian, ke taman belakang yang terdapat gazebo. Ingin menikmati udara segar dan bersih, dan juga menghindari Andrian yang pikirnya terlalu keras dalam mendidik anak.
__ADS_1