DOKTER GALAK!

DOKTER GALAK!
chapter 31


__ADS_3

Punggung Andrian terhempas jatuh di atas kasur, ia menggerakkan tangannya mengambil bantal di sekitar untuk dirinya tenggelam di bawah sana. Pikirannya kacau, benar-benar kacau. Ibunya beserta keluarga sudah tahu bahwa Nadin menghilang sejak lima hari yang lalu. Hanya tersisa satu minggu lagi untuk dirinya menemukan Nadin.


Andrian sungguh berterimakasih kepada sang ibu, karena memahami dirinya. Bahkan dengan sukarela, sang ibu yang mengatur seluruh persiapan pernikahan. Undangan bahkan sudah tersebar sejak dua hari yang lalu. Ia tak tahu darimana rasa optimis yang ada dalam dirinya. Namun, Andrian benar-benar merasakan bahwa Nadin akan tetap kembali padanya.


Andrian raih ponsel di sisi tempatnya tengkurap. Dengan malas, ia membuka ponsel yang jarang memiliki notifikasi. Namun, pesan dari sang bodyguardnya, membuat Andrian terlonjak bangun dari tengkurapnya. Ia langsung mengambil posisi duduk, dengan membaca pesan panjang dari sang bodyguard.


“Maaf tuan, telah menganggu istirahat siang anda. Kami bersama team, sudah menemukan nyonya Nadin, tepatnya pada jalan A disebuah kota kecil. Butuh waktu beberapa puluh kilometer dari jarak rumah anda untuk kesini. Nyonya Nadin menjadi pelayan di sebuah kedai, yang beratas nama kepemilikan Radit Aditama. Setahu pengamatan kami, Radit yang menolong nyonya Nadin pada saat itu. Lalu kami harus bagaimana lagi tuan? ”


Andrian langsung saja berdiri dengan cekatan, ia menganggukkan kepalanya semangat, seperti melihat secercah kehidupan akan kembali pada hidupnya. Nadin adalah hidupnya. Nadin adalah jiwanya. Nadin adalah raganya.


Katakan saja Andrian terlalu hiperbola, namun itulah kenyataannya. Hilangnya Nadin sangat membuat Andrian merasa kehilangan, ia tak memiliki semangat hidup, apalagi sampai harus mengurus Azka.


Membicarakan soal Azka, anak itu ia titipkan pada Verrel dan Asyilli yang akan menikah sekitar satu bulan lagi. Andrian bersyukur memilki sahabat seperti Verrel, yang sangat mengerti dirinya. Bahkan, rencananya yang ingin mengejutkan Nadin walau memang gagal. Tetap saja membuat Andrian sangat terharu akan Verrel yang selalu mendukungnya. Ia sebelumnya sempat meminta maaf kepada Verrel, karena telah menyeret Asyilli masuk ke dalam drama kejutan yang ia buat.


Asyilli adalah adik kandung dari mendiang istrinya. Soal bertemunya Andrian dengan Asyilli, itu bukanlah rekayasa. Ia memang benar-benar terkejut akan hadirnya Asyilli. Setelah ia bertemu Asyilli dan berbincang dengan nya di kafe waktu itu, buru-buru Andrian langsung menelusuri kehidupan Asyilli.


Dan benar saja, terkuak bahwa Asyilli adalah kembaran istrinya. Mereka terpisah saat pertengkaran yang membuat satu keluarga menjadi hancur, hingga perdebatan sang ayah Asyilla dan Asyilli dengan paman mereka berdua. Membuat sang paman menculik dan mengambil Asyilli yang notabe nya masih berumur sangat kecil. Definisi kecilnya saat itu Asyilla tak mengingat Bahwa ia memiliki kembaran, dan yang lebih membuat Andrian terkejut adalah saat Verrel mengatakan bahwa ia sudah menjalin hubungan dengan Asyilli sejak lama.


Verrel tak jujur pada Andrian, karena takut Andrian menjadi kembali tidak move on. Dan pada akhirnya mengambil Asyilli darinya. Namun pikiran Verrel lenyap seketika, saat melihat Andrian yang sudah banyak mempersiapkan pernikahan nya dengan Nadin. Hingga akhirnya Verrel jujur dengan Andrian, bahwa ia dan Asyilli sudah sepakat untuk menjalin hubungan diam-diam, lagipula Asyilli juga belum siap untuk mengungkapkan jati dirinya pada sang keluarga. Yang sudah terpisah dengan dirinya, sejak belasan tahun yang lalu.


Andrian melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, saat sang bodyguard sudah mengirimkan alamat dengan detail. Pantes saja enggak ketemu-ketemu pikirnya. Orang Nadin di bawa ketempat yang jauh dari pemukiman warga, bahkan ke tempat yang terkenal rawan di kunjungi.


Dan sekarang waktunya Andrian menarik Nadin lagi, untuk kembali pada pelukannya. Dengan tak sabar kaki Andrian kini, sudah menginjak pedal gas, agar mobil membelah kota London. Kecepatan di atas rata-rata digunakan Andrian untuk secepatnya sampai pada tujuannya.


Hingga saatnya Andrian membelalakkan mata terkejut, melihat pemandangan yang langsung saja menyapanya. Ia pikir akan ada beberapa hal yang perlu dilewati untuk menemukan Nadin, kekasih hatinya. Namun ia salah, baru saja turun dari mobilnya Andrian langsung di sapa dengan wajah cantik Nadin, yang tampak sedang melayani para pelanggan dengan baju yang sangat melekat indah pada tubuhnya.


“Nadin.. ”


Gumam Andrian terdiam sejenak. memastikan penglihatannya, jika benar yang memang ia lihat adalah Nadin. Lalu tangannya melayang, menepuk pipinya sendiri. Andrian tersadar memang yang sedang berdiri jauh beberapa meter dari jaraknya, adalah perempuan yang sedang ia cari.


Andrian tinggalkan mobilnya di tepi jalan, dengan posisi menyamping menatap penuh kedai Nadin. Ia berlari dengan sangat semangat, hingga akhirnya pekikan dari gadis yang ia cari selama ini, terdengar pada indra pendengarannya.


“Akh! ”


Andrian memeluk erat Nadin, hingga gadis itu mundur beberapa langkah karena tak siap menerima pelukan pada tubuhnya. Nadin ingin memberontak, namun aroma parfum woody yang sangat ia kenali, tercium jelas pada indra penciumannya.


Andrian terlalu puas, ia terlalu puas karena telah melihat Nadin. Tubuhnya sama sekali enggan untuk melepaskan Nadin dari dekapannya. Andrian mendekap Nadin dengan begitu erat, wajahnya ia taruh di atas pucuk kepala Nadin yang ia dorong untuk tenggelam pada dada bidangnya. Andrian terus saja merapalkan banyak-banyak ucapan bersyukur, setelah perasaannya lega dapat melihat Nadin.


Mata Nadin menggelap, karena tak dapat melihat cahaya saat matanya tertutup di atas dada Andrian. Sekelebat bayangan-bayangan menyakitkan, tiba-tiba saja langsung muncul dari otak Nadin. Hatinya menolak keras akan pelukan Andrian, namun tubuhnya seolah sangat mendamba sentuhan hangat Andrian. Nadin sangat merindukan andrian, walau pada dasarnya sejak, ia bekerja di kedai ini. Nadin selalu berusaha untuk melupakan Andrian.


“Bapak kenapa ya? ”


Nadin mendorong dada Andrian keras, walau dengan gerakan yang lembut. Ia tak ingin membuat siapapun curiga, akan hubungan kedekatannya dengan Andrian. Apalagi, setelah Nadin berpikir terus menerus. Sudah seharusnya Andrian pergi dari hatinya.


“Saya sangat merindukan kamu Nadin. ” Andrian kembali memeluk Nadin saat pelukan mereka terurai. Ia mengabaikan tatapan-tatapan mata para pengunjung, yang mengarah padanya. Nadin bergerak gelisah, ia risih sekali dengan sikap Andrian yang sangat tsundere.


“Lepasin dong pak! ”


Nadin meronta-ronta dalam pelukan Andrian. Para pengunjung yang jumlah nya tak lebih dari delapan orang itu. Hanya menatap keheranan, tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Andrian lepaskan pelukan mereka, saat Nadin menyentak kuat dada nya.


“Bapak siapa sih?! ”- tanya Nadin dengan wajah memerah marah. Andrian mengerutkan keningnya bingung, ia raih pundak Nadin dengan kedua tangan nya, lalu cengkram erat.


“Saya Andrian Nadin! calon suami kamu! ”


Ujar Andrian dengan gamblang nya, tanpa memperdulikan staff-staff kedai yang mulai berkumpul menyaksikan keributan yang ia buat. Nadin terkekeh hambar, ia mundur kan langkah nya menjauh dari Andrian.

__ADS_1


“Saya ga pernah inget, punya calon suami setua bapak. ” bantah Nadin bergidik ngeri melihat horor wajah Andrian. Mata Andrian melotot kaget, mendapati Nadin yang berbicara begitu frontal.


Namun, ia kembali menetralkan kembali wajah terkejutnya. Dengan cara terkekeh geli, mendapati sikap Nadin yang diluar nalar. “Saya Andrian Nasution sayang. Orang yang sering kamu cium. ” Andrian memelankan nadanya diakhir kalimat, layaknya orang berbisik. Wajah Nadin sudah merah padam. Jika tadi ia marah, justru sekarang ia malu.


“Saya tahu pak. Kedai ini emang untuk orang-orang yang baru aja di tinggal pergi pasangan nya! Tapi kalo bapak emang lagi frustasi, jangan fitnah orang sembarangan dong!! ”


Bantah Nadin mengangkat dagunya, membalas penuh tatapan Andrian yang menatap dalam matanya. Sudut bibir Andrian terangkat, ia tersenyum smirk dengan liciknya. “Ditinggal pasangan?! ” tanya Andrian congak mengulangi ucapan Nadin.


“Saya memang baru di tinggal pasangan Nadin. Tapi sekarang udah ketemu. ”- tekan Andrian menunjuk wajah Nadin dengan jari telunjuknya, bibir Nadin membulat membentuk huruf O.


Bisa-bisanya Andrian menarik ulur perasaannya. Saat ia sudah sering kali menerima penolakan dari bibir kejam pria di hadapannya, lalu ia diputuskan secara sepihak. Dan Andrian pun telah meninggalkan tubuhnya yang menggigil dibawah halte. Tiba-tiba saja pria itu dengan mudahnya mengklaim. Bahwa, ia pasangannya. Oh no.


“Ihhh?!! bapak suka ngehalu ya?! ”


“Mana ada sejarahnya! cewe cantik, seksi, montok kaya saya ini. Bisa suka sama pria tua kaya bapak!! ”


Bantah Nadin meracau mengabsen kelebihan dirinya dengan penuh percaya diri, sambil sesekali ia lenggokan tubuhnya menunjukkan pada Andrian bahwa yang ia katakan benar.


Mata Andrian membulat tak terima, saat Nadin menaikkan setengah pinggulnya ke atas yang terbaluti celana kulot panjang, dengan sekilas. Langsung saja, Andrian tarik Nadin dengan paksa. Telinganya mengabaikan rengekan-rengekan Nadin yang selalu menghina nya.


“DASAR! PRIA TUA GAK JELAS! ”


“PRIA TUA GAK TAU DIRI!!! ”


“UDAH TUA! MAUNYA SAMA YANG TING-TING!!! ”


“MENDINGAN BANYAK-BANYAKIN WAKTU SAMA KELUARGA PAK! ”


Sumpah kalau mereka tidak sedang di depan umum, Andrian akan cubit bibir Nadin dengan bibirnya. Melesakkan lidahnya disana, lalu mencari pasangannya. Namun, disaat-saat bukan hanya kerumunan yang mengganggu nya. Umpatan-umpatan menjengkelkan dari bibir Nadin, membuat perasaannya kesal setengah mati. Nadin terus mengabsen kekurangan dirinya, yang sama sekali belum pernah Andrian dengar dari bibir manapun.


“Apaansi pak! ” ujar Nadin sewot, saat Andrian bersedekap dada memperhatikan dirinya.


“Saya tau, saya seksi! Tapi enggak usah diliatin segitunya juga kenapasih. Mata bapak tuh, penuh kecabulan tahu. ” ujar Nadin memberengut kesal.


Andrian mengatupkan bibirnya jengkel, mendapati Nadin yang selalu berbicara seenaknya. Andrian masih senang, kalau Nadin hanya menyombongkan tubuhnya pada Andrian. Tapi, Adrian tak akan tenang jika saja, Nadin menyombongkan tubuhnya dihadapan pria yang bukan dirinya.


“Berhenti menyombongkan, badan kamu yang kaya tusuk gigi ini Nadiinn. ” geram Andrian menatap tajam Nadin.


Nadin kepalkan kedua tangannya yang berada di atas pahanya. Ia memberengut sebal, dengan respon Andrian yang selalu menghinanya. Nadin tak mau kalah! dirinya tidak akan membiarkan Andrian, menjelek-jelekkan dirinya lagi.


“Tusuk gigi gini. ”


“Bisa bikin, bapak turn on! ”


Andrian tersenyum miring mendengar seruan dari bibir Nadin yang baru saja keluar. “Hm? ” dehem Andrian bertanya dengan wajah mesum. Nadin menjadi gelagapan seketika, saat Andrian mulai merapatkan tubuh mereka. “Cepat bikin saya turn on. ” tekan Andrian memojokkan Nadin yang bersandar pada sudut pintu mobil.


“Kata bapak, badan saya kaya tusuk gigi. ” Andrian terkekeh hambar mendapati Nadin yang mencoba menjauh.


“Ayo dong sayang... ” rayu Andrian dengan wajah mesum, saat dadanya sudah menempel penuh pada Nadin


“Jauh jauh!! ” rengek Nadin mencoba melepaskan kungkungan tangan Andrian yang memeluknya posesif. “Bapak tuh gak malu apa, udah tua juga! ” sergah Nadin kesal.


“Justru semakin tua, santennya semakin banyak Nadin! ” decak Andrian asal, tak memperdulikan ucapan Nadin. Nadin berusaha meloloskan tangannya yang terkekang di bawah Andrian.


Saat Andrian semakin mendekapnya, tangannya berhasil lolos di atas pundak Andrian. Ia memukul mukul punggung Andrian dengan brutal. Hingga tubuh Nadin pun, menjadi terlonjak-lonjak berusaha mendorong wajah Andrian yang berada di ceruk lehernya.

__ADS_1


“Lepasin! ” Nadin semakin memukuli punggung Andrian. Ia menggerak-gerakan wajahnya, untuk menghindari ciuman Andrian pada lehernya.


“Ah, ups. ”- Nadin menutup mulutnya refleks. Andrian lepaskan kukungannya pada Nadin, setelah menyadari bahwa ia sudah bermain jauh di waktu yang tidak tepat, seharusnya ia meminta maaf sekarang.


Nafas Nadin terengah-engah, ia menatap Andrian sebal. Nadin langsung layangkan jari telunjuk dan jempolnya untuk mencubit bibir Andrian yang memerah, senada dengan warna lipstiknya. Andrian tak bisa meringis, karena bibirnya yang terkatup, lalu di cubit oleh Nadin.


“Bapak tuh maunya apasih. Jangan dateng ke kehidupan saya lagi dong. Saya gak suka, bapak dateng lagi. Bapak tuh cuman bisa nyakitin saya. Bapak bukan tipe saya lagi!! ” gerutu Nadin dengan paksaan. Memaksa dirinya untuk melawan hatinya, yang berkata sebaliknya. Mata Andrian melotot tak terima, di akhir kalimat yang nadin ucapkan.


“Pokoknya Nadin enggak mau! Liat muka bapak lagi. ” seru Nadin memunggungi Andrian. Sambil mencoba membuka pintu mobil untuk terbuka. Andrian tak kehabisan akal, langsung saja ia dekap Nadin dari belakang dengan erat. Mengunci kedua tangan Nadin dengan melingkar kan tangannya pada perut Nadin.


Dengan mudah Andrian membuka jendela kaca. Mata Nadin membeliak kaget, saat melihat situasi luar yang sudah ramai. Namun entah dimana pengunjung itu. Hanya terdapat staff-staff kedai yang sudah berkumpul. Mata Nadin menyeringit silau saat matanya menangkap sesosok sepasang manusia. Yang ia kenali wajahnya sedang berdiri diantara staff yang mengumpul.


“Kau melihat apa sayang? ” bisik Andrian tepat disebelah telinga Nadin. Nadin mendelik tak suka, saat ingatan nya mengatakan bahwa sepasang yang sedang berdiri disana ialah Verrel dan Asyilli.


Nadin tak merespon pertanyaan Andrian, matanya memerah marah, saat merasakan, seperti dipermainkan oleh pria yang masih mendekapnya dari belakang.


“Lepasin. ” cicit Nadin menahan nafasnya. Andrian langsung menutup kaca mobil yang dilapisi mode gelap dari luar, ia membalikkan pundak Nadin untuk menatapnya.


“Nadin.” panggil Andrian merengkuh rahang lembut Nadin dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya, melingkar pada pinggang ramping Nadin.


“Saya mau minta maaf. ” ujar Andrian menatap dalam Nadin, yang menundukkan wajahnya.


“Maaf, karena telah mempermainkan perasaanmu Nadin. ” lanjut Andrian mengangkat rahang Nadin agar menatapnya.


“Saya bersungguh-sungguh Nadin. Saya tidak tahan untuk berpisah jauh dari dirimu. Semuanya yang sudah terjadi memang kesalahan saya. Niat saya yang ingin memberikan kamu kejutan. Ternyata sudah melebihi batas. ” Andrian menghela nafas penuh penyesalan. Mata Nadin yang perlahan redup, mulai serius akan jalan tujuan ucapan Andrian.


“Maaf karena telah membuat kamu sakit hati, atas semua perkataan kasar saya. ”


“Saya mohon Nadin, tolong percayalah.. ”


“Saya tidak memiliki hubungan khusus dengan perempuan manapun, Nadin. ”


“Saya cuman serius sama kamu ”


“Saya bener-bener sayang sama kamu. ”


Nadin memejamkan matanya, meresapi segala sesuatu yang Andrian katakan. Andrian majukan wajahnya mendekat, lalu ia kecup kedua kelopak mata Nadin yang tertutup.


“Menikahlah dengan saya Nadin. ”


Bisik Andrian lirih, ia satukan kening mereka berdua. Hingga hidung runcing mereka saling bersentuhan. Dada Andrian berdebar-debar, saat mengatakan suatu hal yang sudah ia pendam sejak lama. Nadin menahan nafasnya, merasakan ketenangan yang sedang terjadi.


“Saya..” Andrian menggantungkan ucapannya dengan nafas yang memburu. Namun hingga lama terdiam. Andrian melanjutkan ucapannya dalam sekali tarikan nafas.


“Cinta sama kamu. ”


Nadin langsung menarik wajahnya, ia menguraikan kedekatan dari wajah mereka, dengan mata yang terbuka kaget. “Sa-mmm. ” Andrian langsung raih tengkuk Nadin, saat gadis itu ingin mengatakan sesuatu.


Dengan intens, Andrian pertemukan indra pencecap diantara mereka. Bibirnya terus saja menjelajahi rongga mulut Nadin, hingga tangan Nadin menepis telapak tangan Andrian yang sudah menyentuh perut nya, dari dalam kaos yang ia kenakan.


“Tangannya enggak usah bandel. ” gerutu Nadin saat ciuman mereka terlepas. Andrian memberikan jeda untuk Nadin mengambil nafas, lalu ia kembali cium bibir Nadin. Ia angkat tubuh Nadin dengan mudah, untuk berada di atas pangkuannya. Keduanya terhanyut dalam ciuman lembut.


Hingga suara gedoran pintu dari luar, saling bersaut-sautan. Andrian menggeram kesal, merasa terganggu dengan teriakan-teriakan dari luar. Langsung saja Andrian tarik kepala Nadin untuk bersandar pada dadanya. Tanpa mengubah posisi terlebih dahulu. Andrian tekan, tombol kaca pada mobil.


Andrian tercengang disaat matanya menatap orang yang paling kenal. Sedang berkacak pinggang sambil menatap mereka berdua tajam.

__ADS_1


“Mama. ”


__ADS_2