
Nadin rekatkan jaket hitam kusam pada tubuhnya. Lalu ia berbaring di atas kasur miliknya yang sama sekali tak pernah terganti walau sudah di pakai sedari kecil. Matanya enggan terpejam di tengah-tengah larut nya malam yang sunyi. Air mata terus terjatuh dari kelopak matanya. Bersamaan dengan rasa sesak pada hatinya yang masih saja menghantui.
Nadin benar-benar menangis saat ini. Ketika dihari yang sama, dirinya merasakan Bahagia dan kecewa secara bersamaan. Di pagi hari tadi, Nadin menyambut cuaca dengan semangat pagi yang membuncah. Kemudian ia menyusuri jalanan untuk mencari kerja, namun malah terhenti saat ide cemerlang guna membuat sang pria pujaan hati senang, dengan dirinya yang berinisiatif ingin memberikan Andrian sekotak pizza sebagai hadiah pertamanya.
Namun sayang dihari itu juga, Nadin menerima kenyataan pahit. Bahwa Andrian memang tidak mencintai nya, tidak memiliki rasa padanya, juga mencintai perempuan lain, yang bukan dirinya.
Nadin tersenyum kecut, mengingat kebersamaannya dengan Andrian. Tangannya memeluk guling sambil tertidur dengan posisi miring menyamping. Jam memang sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun matanya seolah peka terhadap apa yang sudah terjadi. Sehingga lebih memilih untuk terus mengeluarkan buliran-buliran air mata dari kelopak nya.
Hati Nadin meringis ngilu, saat sebuah kenyataan menampar dirinya. “Kok bisa ya, Nadin se percaya diri itu, buat dapetin hati nya dokter Andrian. ” ujar Nadin menggerutu dalam batinnya.
“Padahal Nadin jauh berbeda sama dokter Andrian. ” Nadin meremas guling yang berada di dekapannya. Bibirnya mengerucut sebal, mengingat seberapa agresif dirinya saat berada di dekat Andrian.
Pikiran Nadin melayang, dimana kenyataan memang tak berpihak padanya. Andrian adalah orang yang sempurna, mampu memiliki wanita yang jauh di atasnya. Andrian juga seorang pria yang dilahirkan dari keluarga terpandang. Jauh berbeda dengan dirinya.
Nadin yang tak memiliki teman sedari kecil, karena sibuk merawat ibunya yang sudah mulai sakit-sakitan. Ditambah lagi, dengan pekerjaan rumah yang setiap dan sebelum, juga sepulang sekolah harus sudah dikerjakan. membuat Nadin tak memiliki waktu guna berbincang untuk memiliki teman di usianya yang masih remaja.
“Nadin harus gimana.”
Gumam Nadin pelan pada dirinya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menyurutkan rasa emosional akan air mata yang kembali ingin terjatuh.
Namun, apa daya
Langsung Nadin tarik guling itu, menjadi berhadapan dengan matanya. Dengan gerakan cepat, ia telungkup kan wajahnya yang mulai basah lagi. Akan air mata yang melesak keluar dengan begitu mudahnya.
Hingga...
Malam pun ditemani suara isak tangis Nadin yang tenggelam. Punggungnya bergetar, bersamaan dengan tangannya yang semakin erat memeluk guling, guna menyalurkan rasa sesak yang membuncah pada perasaan nya saat ini.
...••••••••...
__ADS_1
Pagi hari.
Pria berseragam dokter itu, tampak gagah dan menawan dengan almamater putih yang melekat indah pada tubuhnya yang atletis. Jam tangan rolex yang ia kenakan, semakin menambah kesan matang pada pria yang kini dengan santainya, berjalan pada lorong rumah sakit. Setelah melewati lobby utama, bersama anak nya. Azka.
“Paa. ”
Azka menarik-narik ujung almamater Andrian secara berulang kali. Ia terus merengek, meminta agar Andrian membelikan ice cream di suasana pagi yang agak gelap karena tertutupi oleh kabut hitam. “Paa Azka mau beli eskriimm. ” pinta Azka menatap Andrian dengan penuh permohonan.
“Masih pagi Azka. ” ujar Andrian langsung mengangkat tubuh kecil Azka, dalam gendongannya. Azka tampak meronta-ronta, karena masih bersikukuh agar papanya mau membelikan dirinya ice cream.
“Tapi Azka lagi kepengen banget paa. ”
Andrian menggeleng tegas, membuat Azka yang merengek keras, menjadi melengkungkan bibirnya kebawah dengan wajah se melas mungkin. Andrian menggelengkan wajahnya jengah, segera ia melangkah masuk kedalam ruangan yang tercantum namanya pada papan label alumunium yang menempel pada pintu.
Dr. Andrian Nasution
“Kamu tunggu disini Azka. Papa mau kerja dulu, jangan kemana-mana. ”
“Papah engga lama-lama kan. ”
“Hanya satu jam, setelah itu papa akan mengajak mu main ke taman. ”
“Engga mauu. Azka engga mau kalau ke tamannya cuman sama papa. Nanti engga ada yang ajak Azka main kalau papa ngobrol sama cewe-cewe disana. ” ujar Azka layaknya orang dewasa yang sedang menggerutu tak suka.
“Darimana kamu belajar mengatakan itu Azka? papah hanya sebentar. ” balas Andrian menyatukan alisnya heran.
“Kalau gitu Azka maunya sama mama Nadiinn!! papa kok engga sama mama sih. Katanya omah, papa mau nikah sama mama Nadin! ”
Andrian tak menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari anaknya, yang sangat lancar berbicara. Azka mem pout kan bibirnya sebal, namun beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi khawatir.
__ADS_1
“Papa engga lagi berantem sama mamah Nadin kan? ”
Tanya Azka cemas. Andrian menggeleng sekilas, lalu segera melenggang pergi setelah menutup pintu ruangan khusus, yang tidak terlalu besar. Semacam private room yang berada di dalam ruangan, berfungsi untuk dirinya ketika lembur, juga tempat Andrian menaruh Azka supaya aman.
Disaat langkah kaki Andrian membawanya untuk berhadapan langsung dengan ruang pasien ber atas nama Nadia Safari Ramadani
Saat itu juga degup jantung Andrian menjadi tak karuan. Ia me rilex an tubuhnya untuk tetap tenang.
“Profesional Andrian. Kau harus Profesional. ” ujar Andrian dalam batinnya. Berusaha mengingatkan dirinya untuk tetap selalu profesional dalam setiap pekerjaan.
Tangan Andrian meraih engsel pintu. Lalu memutar nya 90 derajat. Hingga suara decitan pintu terdengar. Urat-urat kekar dari tangannya yang menonjol, kini mendorong pintu untuk terbuka.
Andrian menahan nafasnya, ketika kedua mata elangnya, mendapati sesosok perempuan yang paling ia kenal. Perempuan yang paling ceriwis dalam berbicara. Perempuan paling keras kepala dalam melawan perintahnya. Namun juga perempuan paling pintar dalam memiliki hati anak nya.
Nadin.
Perempuan yang baru saja ia sakiti.
Mempertahankan sikap profesionalitasnya. Andrian melangkah masuk ke dalam. Hingga dua orang perempuan yang sedang sibuk dengan kegiatannya, menoleh menatap dirinya. Andrian kembali melangkah mendekati ranjang yang di tiduri oleh ibu dari Nadin. Sedangkan Nadin sedang menyuapi sang ibu dengan semangkuk bubur.
“Selamat pagi. ” sapa Andrian secara formal. Andrian tersenyum tipis menatap Nadia, Nadin tak menolep ataupun menatap Andrian sama sekali. Membuat Andrian dapat merasakan amarah Nadin yang gadis itu simpan dalam diam.
“Ehh ada nak Andrian! ” Nadia tersenyum sumringah melihat keberadaan Andrian. Nadin yang berdiri di sisi ranjang ibunya, langsung membuang pandangannya. Enggan fokus pada Andrian.
“Ibu, Nadin mau ke kantin dulu ya. ”
Sergah Nadin berusaha memanimalisir kegugupannya. Mendengar ucapan Nadin yang terkesan menghindar darinya, Andrian menoleh menatap Nadin yang berdiri bersebrangan dengannya. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh ranjang rumah sakit.
“Sana sama nak Andrian aja. ” ujar Nadia memberikan saran. Andrian masih berdiri tegap, ia tampak tenang dengan kedua tangannya yang berada pada saku almamater. sambil menunggu jawaban Nadin, yang pikirnya, pasti akan meng iya'kan permintaan ibunya.
__ADS_1
Namun ternyata Andrian salah. Matanya sendiri langsung menatap intens Nadin saat gadis itu menolak ajakan ibu nya.
“Engga bu, Nadin mau sendiri aja. Dokter juga lagi sibuk. ” jawab Nadin dengan senyum di bibirnya. Nadia tampak berpikir sebentar, namun ia mengangguk. Hingga akhirnya, Nadin melenggang pergi tanpa menatap Andrian sedikit pun.