
Andrian memejamkan matanya lelah. Ia melirik tas kerjanya yang sudah ia ambil dari rumah sakit. Lalu, Andrian juga sudah menitipkan Azka ke Verel, untuk temannya itu antar pulang ke rumah. Dan Andrian pun, juga sudah mengantarkan Asyilli sampai pada rumahnya.
Namun, seperti ada yang menjanggal di hatinya, seperti ada yang kurang dan tidak pas. Namun, lagi-lagi ia berpikir keras, dan tetap saja Andrian tak menemukan jawabannya.
Ingin me rilex kan kembali pikirannya yang runyam. Andrian berniat mampir ke sebuah kedai kopi terdekat. Namun, saat ia ingin menyalakan mesin mobil. Tiba-tiba saja, sel-sel pada tubuhnya seolah tak mengizinkan. Membuat, Andrian terdiam sejenak.
Berulang kali ia melirik jok mobil sampingnya. Ia berusaha mengingat kembali. Dan benar saja. Mata Andrian membesar, seolah ingin keluar. Ia mengingat ada seseorang yang pasti sedang menunggunya.
“Nadin! ”
Buru-buru Andrian injak gas mobil. Matanya menyalang marah, tahu akan kecerobohannya. Ia lihat jam mobilnya menunjukkan pukul tujuh malam, berarti Andrian sudah meninggalkan Nadin selama dua jam. Untuk memastikan kembali jam yang ia lihat, Andrian berinisiatif untuk melihat arloji di tangan nya. Namun,
“Shit! jam tangan gua ketinggalan. ”
Langsung saja Andrian arahkan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia sungguh sangat kepalangan sekarang. “Bodoh! Andrian bodoh! ” umpatnya di sepanjang perjalanan.
“Nadin, bertahan sayang.. ”
__ADS_1
Andrian menggeram marah akan kecerobohannya sendiri. Tak ada ketenangan dalam pikirannya. Hatinya sangat menolak keras Andrian sejak saat pria itu membohongi Nadin akan permainan juga perasaan nya sendiri.
...••••...
Dengan cepat, Andrian keluar dari mobil. Menerobos hujan yang semakin derasnya, ia menyusuri pandangannya ke seluruh penjuru kawasan. Berkali-kali Andrian mengumpat karena tak menemukan jejak Nadin samasekali. Hingga, ia langsung menemui staff restaurant seafood, untuk memberikan rekaman cctv.
Ia mengusap wajahnya yang basah karena air hujan dengan kasar. Dalam rekaman, terlihat seorang pria yang menolong Nadin. Ia mengepalkan kedua tangannya, saat pria itu menggendong Nadin untuk memasuki mobil.
“Pause. ”
Titah Andrian memberikan instruksi agar petugas keamanan memberhentikan videonya sejenak. Andrian menatap tajam layar monitor di hadapannya. Wajah sang pria, terhalangi oleh masker yang pria itu kenakkan. Membuat Andrian dengan susah payah, untuk menemukan jejak Nadin sekarang.
Andrian pukul setir mobil dengan tangannya yang mengepal. Ia menepikan mobilnya saat merasa tak bisa lagi mencari Nadin, disaat pikirannya sedang kacau seperti ini. Andrian raih ponsel di dalam dashboard, lalu segera ia telfon seseorang untuk membantunya.
“Halo, Andrian? ”
“Syill , tolong bilangin ke Verrel ya. Azka nginep dulu dirumah kalian, karena saya lagi ada urusan mendadak. ”- ujar Andrian sambil memijat pelipisnya pusing.
__ADS_1
“Pasti tuan, nanti Syilli akan bilangin ke Verrel kok. Makasih atas semua bantuan nya ya. ”
“Ya.. ”
Andrian langsung melempar ponselnya ke belakang, lalu ia nyalakan lagi mesin mobil untuk kembali ke apartement. Sengaja, Andrian tak pulang ke rumah. Karena jika orang rumah melihat kondisinya yang kacau seperti ini, Pasti semuanya akan bertambah sulit.
Tak butuh waktu lama untuk Andrian sampai pada apartementnya. Baru saja, ia langkah kan kaki masuk ke dalam ruangan. Sudah banyak bunga yang menyambut kedatangannya. Namun, itu semua terasa hambar bagi Andrian. Karena sebelumnya, ia sudah berjanji untuk tidak kembali ke apartemen jika tidak bersama Nadin.
Tapi sekarang, sungguh jelas berbeda. Andrian terpaksa melangkahkan kakinya ke dalam apartemen tanpa menggenggam tangan Nadin. Ia melirik satu buah undangan berwarna gold dan silver, yang di tata rapih dengan beberapa hiasan.
Undangan itu, tergeletak di atas nakas ruang tamu. Matanya bergerak menyusuri desain elegant pada undangan itu. Sedangkan, tangannya seolah sulit untuk di gerakkan. Rahang Andrian mengeras memandang tanggal yang tertera.
“Satu minggu , lima hari. ” tekan Andrian membaca tanggal yang sudah ia hitung mundur. Matanya menajam bagaikan elang yang mengintimidasi, rahangnya mengeras dengan perasaan penuh kepastian.
“Andrian, kau harus temukan Nadin. Sebelum pernikahan tiba. ” tekan Andrian tajam dalam batinnya.
Ia meneguk ludahnya kasar, matanya melemparkan tatapan intens ke seluruh sudut ruangan, yang sudah di hias dengan sedemikian rupa. Otaknya terus berputar mencari jalan, agar mudah baginya untuk mencari Nadin di waktu yang singkat.
__ADS_1
Andrian sengaja membuat Nadin keluar dari apartemennya. Karena dirinya ingin membuatkan kejutan untuk Nadin, dan menghiasi apartemennya yang besar menjadi sedemikian rupa.