
"Hah!"
Alia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Berkali-kali ia melakukannya. Kepalanya Pusing dan merasa runyam disaat yang bersamaan. Tentunya bukan tanpa sebab. Waktu gajian masih lama sedangkan ibu tirinya tak henti-henti memaksa meminta uang padanya.
Ditambah lagi Rena, adik tirinya itu baru saja diterima disalah satu kampus bergengsi di ibukota provinsi. Kota Pekanbaru. Meski jadwal masuk kuliah masih sekitar tiga bulan lagi tapi pembayaran uang kuliah tetap harus dibayarkan dimuka dan hanya tersisa waktu satu Minggu lagi.
Dari total 6.500.000 ia baru membayarkan 1.500.000. Masih tersisa 5 juta lagi. Dimana mau dicari uang dengan jumlah tersebut dalam waktu seminggu. Tak henti-hentinya ia memijat kepala dan sejak dua hari lalu pun ia sudah sibuk menghubungi teman-teman terdekat untuk meminjam uang tapi sampai sekarang masih nihil.
Tiap orang punya kebutuhan dan keperluan masing-masing tentunya. Disaat pusingnya melanda berhari-hari, dua orang yang tak lain ibu dan adik tirinya disibukkan dengan belanja online mereka. Bukannya bantu mikir mereka tak henti-hentinya melimpahkan tanggung jawab pendidikan pada Alia.
"Pokoknya aku gak mau tahu. Aku mau kuliah dan uangnya harus ada!"
"Eh Ren, aku ini udah mikir dari kemaren-kemaren. Sampai mau pecah rasanya kepala aku gara-gara mikirin yang kuliah kamu!"
"Ih...Apaan sih, lebai banget. Uang segitu juga bisa dicari" Ucapnya dengan enteng.
Kepala Alia makin pusing dan mau mengamuk rasanya "Cari kamu bilang? Emang cari uang 5 juta dalam seminggu itu segampang yang kamu fikir?"
"Apaan sih pakai bentak-bentak segala. Gue gak budek tau"
"Uang buat kuliah kamu itu udah aku siapin jauh-jauh hari. Aku sisihkan tiap aku gajian dan titipin ke mama kamu biar terkumpul dan cukup buat biaya masuk kuliah tapi apa? Kalian kemanakan uangnya? Udah kayak gini baru pada nyalahin dan desak aku!"
"Eh apa-apaan ini? Kenapa pakai bentak-bentak Rena segala?" Tiba-tiba ibu tirinya datang menyela.
Alia memutar bola matanya jengah dan menghembuskan nafas dengan kasar. Duh Gusti....drama apa lagi yang akan didengarnya.
"Ini tentang pembayaran uang kuliah Rena ma"
"Tante. Bukan mama. Aku ga pernah ngelahirin kamu"
Perih. Lagi-lagi harus mengungkit soal panggilan. Padahal saat ayahnya masih ada ia selalu memanggilnya dengan mama seperti Rena dan tidak pernah dipermasalahkan.
"Iya maaf. Aku lupa tante"
__ADS_1
"Apa sih yang kamu permasalahkan sampai harus bentak-bentak adik kamu?"
"Ini tentang uang kuliah yang aku cicil dan titipin sama tante"
"Lho bukannya itu uang buat Rena?"
"Memang iya tan, tapi untuk biaya daftar kuliah"
"Ya udah habis lah. Kan kamu sendiri yang bilang uang buat biaya Rena. Tiap Rena minta jajan ya uang itu aku kasi"
"Memang benar buat Rena, tapi aku kan sering bilang itu buat biaya kuliah, buat ditabung. Kan Tante sendiri yang bilang ke aku daripada nanti habis kepakai sama aku makanya tante yang pegang"
"Uangnya udah ga ada"
"Ya Allah tan..." Alia makin frustasi mendengarnya.
"Lagipula keperluan Rena itu banyak semenjak dia kelas 3 SMA, jadi wajarlah uangnya udah habis. Kamu kan bisa pinjam ke tempat kamu ngajar atau tepat bimbel kamu itu"
"Aku masih lama gajian Tante. Lagipula uang buat kuliah kenapa sih dipakai untuk yang lain?"
"Bukan gitu maksudnya tan. Aku cuma menyayangkan uang itu"
"Udah merasa hebat kamu sekarang ya mentang-mentang kamu yang cari uang. Kamu harus ingat kalau kamu bisa sekolah itu juga karena aku yang banting tulang!"
Runyam deh akhirnya. Selalu jadi ribut diujung pembicaraan. Jika sudah begini maka Alia tak bisa membantah.
"Maaf Tante, aku ga ada maksud buat menyinggung Tante. Aku juga sadar kalau selama ini tante yang biayain sekolah aku dan makasi untuk semua itu"
"Kamu memang harus sadar dan ingat semua pengorbananku selama ini, dan kamu harus tahu apa yang udah kamu berikan ke kami itu belum sebanding dengan apa yang udah kamu dapat. Ingat itu Alia. Ah...." Tiba-tiba Ira merintih memegang dadanya.
"Ma! Mama kenapa ma? " Rena menghambur pada mamanya dengan panik.
"Sakit. Dada mama Ren"
__ADS_1
"Kita ke kamar aja ya tante" Alia membantu memapah Ira namun tangannya ditepis dengan kasar.
"Ini semua gara-gara kamu!" Umpat Rena kesal.
Ibu dan anak itu masuk kekamar meninggalkan Alia yang merenung merasa bersalah menjadi pemicu kambuhnya penyakit asma yang diderita ibu tirinya sejak empat tahun terakhir. Sejak empat tahun terakhir ini juga ia menjadi tulang punggung keluarga, meski ada juga penghasilan dari beberapa kontrakan peninggalan ayahnya tapi semua itu tak mencukupi mengingat gaya hidup kedua wanita yang menjadi keluarganya tidak bisa dibilang sederhana.
Mereka berdua sangat hobi berbelanja meski pemasukan tak seberapa. Berbanding terbalik dengan Alia yang hidup dengan sederhana dan tak pernah membeli pakaian ataupun barang yang bermerek high class. Bagi Alia tak penting mereknya dan penting adalah fungsi dan harga yang terjangkau sebab mengingat susahnya mencari uang di zaman yang semuanya serba mahal.
Sebuah notifikasi membuyarkan lamunan Alia. Dilihatnya grub chat guru-guru ditempatnya mengajar tertera sebuah undangan akikah dari kepala sekolah. Acaranya di hari Minggu. Berarti dua hari lagi.
Terbersit niat untuk meminjam uang kepada kepala sekolah ditempatnya mengajar. Beliau pak Haris, orangnya selalu ramah dan tampak berada.
"Apa pinjam ke beliau aja ya?" Fikirnya seketika
"Tapi apa kata teman-teman ya nantinya, ditambah lagi kata Rossi, Isti pak Haris si kepala sekolah yang baru menjabat 6 bulan lalu itu sangat possesif" Alia menimbang-nimbang ponselnya "Pinjem ga ya? Apa aku coba aja? Kalau belum dicoba kan ga tahu dapat atau gak nya. Meski malu, ya mau gimana lagi?"
Ponselnya berdering lagi. Sebuah pesan dari Rossi "Lia, kamu pergi gak hari minggu nanti? Katanya ponakan Pak Haris cakep lho. Baru pulang dari Amerika. Lumayan kan sambil cuci mata"
Alia terkekeh membaca pesan teman akrabnya ditempat kerja.
"Kamu ni ya mau menyelam sambil minum air? Bagus juga ya idenya" Balas Alia
"Ya sekali-sekali kan ga apa-apa. Siapa tahu jodoh ya kan"
"Hm...iya juga sih"
"Jadi gimana? Pergi atau ga? Jangan bilang kamu ga bisa karena harus ngajar bimbel"
"Minggu aku libur. Tenang aja, aku pergi kok besok biar sama-sama kita lihat ponakan Pak Haris yang kamu bilang cakep itu. Mana tau kan dia kecantol sama aku. wkwkwk"
"Aku udah duluan ya Lia. Kamu cari yang lain aja"
"Wkwkwk"
__ADS_1
***"