Dua Cinta Alia

Dua Cinta Alia
2. Akikah


__ADS_3

Minggu pagi pukul 10, Alia sudah bersiap menunggu Rossi didepan rumah. Dengan tunik coklat dan celana kain berwarna hitam dipadukan dengan pasmina yang senada dengan bajunya membuat parasnya nampak ayu meski dengan polesan make up yang seadanya. Jarang-jarang ia keluar rumah kecuali untuk urusan kerja seperti biasanya.


Kali ini ia keluar berkat undangan kepala sekolah baru yang tak mungkin tak dihadirinya sebab tak punya halangan apapun. Ditambah lagi ia memang sedang malas berada dirumah. Pagi-pagi sekali Rena sudah sibuk memintanya melakukan ini dan itu seperti menyetrikakan pakaiannya yang akan dipakai jalan dengan temannya, mencarikan kaos kakinya, dan hal-hal simpel lainnya yang seharusnya bisa diselesaikan oleh Rena sendiri.


Anak itu memang belum bisa mandiri untuk urusan dirinya sendiri. Ira pun tak pernah menegur Rena akan kelakuan putrinya itu dan Ira juga tak sekali dua kali sejak dua hari lalu menanyakan uang kuliah yang Alia sendiripun belum tau akan mendapatkannya dari mana.


Hajatnya untuk meminjam pada pak Haris belum ia lakukan, merasa segan karena merasa atasannya itu masih sibuk dengan acara akikah anaknya. Alia merencanakan akan menanyakannya nanti malam sebab bisa dibilang acaranya sudah selesai.


Suara klakson motor mengalihkan perhatian Alia dari lamunannya. Rossi menyerahkan helm untuk dipakai Alia.


"Wah...wah...merah banget tu bibir. Jangan bilang habis ini kamu bakalan beli lipstik baru"


"Haha. Gak gitu juga keles. Lipstik ku masih baru tau"


"Gak ketebalan itu makainya?"


"Ya emang lebih merah dari biasanya sih. Tapi ga apa-apa la kan kita udah dewasa juga"


"Dewasalah konon" Celetuk Alia naik keboncengan Rossi.


"Ya ini kan juga merupakan suatu usaha"


"Usaha apa?"


"Menggaet hati cowok tamvan dari Amrik" gelak Rossi.


"Ya...ya...ya. Moga berhasil ya. Jalan lah, dah lama ni"


"Iya bawel. Baru juga jam 11. Acaranya juga baru mulai"


20 menit perjalanan yang ditempuh Alia dan Rossi. Akhirnya mereka tiba juga didepan rumah yang lumayan besar dan nampak asri sebab dipenuhi dengan banyak tanaman hias. Sudah banyak motor dan beberapa mobil yang terparkir didepan kediaman Pak Haris. Alia dan Rossi pun masuk kedalam kediaman setelah memarkirkan motornya.


Mereka berdua disambut hangat oleh si tuan rumah. Istri pak Haris yang katanya possesif nampak ramah menyalami tamu-tu yang hadir.


Beda konteks mungkin ya, ga mungkin kan dia posesif tanpa sebab. Batin Alia.


Begitu masuk mereka berdua celingak-celinguk sesaat mencari wajah-wajah yang dikenali, rekan-rekan seperjuangan di SD tempat mereka mengajar. Beberapa waktu mencari akhirnya ekor mata Alia menemukan kelompok guru-guru yang dikenalnya tengah menyantap hidangan di seberang sana. Tapi sudah tak tersedia kursi kosong disekitarnya .


Mereka dipersilakan mengambil hidangan yang sudah disajikan. Rossi begitu semangat melihat menu-menu yang disajikan dimeja panjang itu. Penuh dengan berbagai makanan dan kue-kue basah khas Nusantara. Sate, soto, bakso, pecel , dan makanan lainnya yang menggugah selera.


"Wah...banyak banget menunya Lia, aku makan semua ah" Rossi sangat antusias mengambil beberapa sajian.

__ADS_1


"Santai aja Si, jangan buru-buru makanannya juga masih banyak.


"Iya buk bawel. Kamu kayak mamaku aja"


Merekapun asik mengambil makanan yang diinginkan. Saat hendak duduk dikursi pojokan yang kosong, Rossi pun tiba-tiba heboh disebabkan melihat sesuatu.


"Lia....Lia....Lia..."


"Apaan sih heboh banget" Alia santai menyendok pecal dan mengunyahnya.


"Lia...Lihat itu" Tunjuknya ke arah arah Pak Haris dan istrinya.


"Pak Haris? Kenapa?"


" Yang disebelahnya Lia. Yang pakai Koko warna Armi"


"Gak keliatan wajahnya. Emang siapa sih?"


"Aduh...hadap sini dong ganteng. Biar temanku ini liat"


"Udah kamu duduk lah. Risih aku liatnya. Nanti juga keliatan kayak apa wajah nya. Makan dulu Rossi" Titah Alia


"Sumpah Li ganteng banget...Banget..."


"Gantungan mana sama Pak Taufan si guru olahraga?"


"Gantengan ini karena masih singgle. Pak Taufan sih udah jadi gak milik orang. Lia...Lia...Lia...lihat itu Lia"


Spontan Alia menoleh kearah yang ditunjuk Rossi. Lelaki tampan yang disebut-sebut Rossi barusan tengah berbincang-bincang dengan Pak Haris dan istrinya di depan sana. Hati Alia berdesir seketika melihat wajahnya. Teringat luka lama yang pernah ditorehkan oleh seseorang yang begitu ia damba hingga memunculkan angan akan masa depan berdua dikala masih remaja tapi kemudian terhempas kandas karena dusta. Dia lelaki itu, lelaki yang tak pernah ingin dilihatnya lagi.


"Apa aku bilang, beneran cakep kan Lia. Kamu aja sampai tak sanggup berkata-kata gini" Rossi masih terkagum-kagum melihat sosok rupawan tersebut sedangkan Alia diam tak menanggapi.


"Ya ampun...para ledis ternyata mojok disini. Dicariin dari tadi pun" Bu Reni, rekan kerja sekaligus wakil kepala sekolah menghampiri Alia dan Rossi.


"Eh, buk Reni" Rossi mengalihkan perhatiannya dari si lelaki tampan.


"Makan buk" Tawar Alia basa-basi.


"Ia makasi, lanjutlah. Kami cariin lho tadi tapi gak ketemu"


"Maaf ya buk, tadi kita mau gabung sama ibuk dan rekan-rekan yang lain tapi ga ada kursi yang kosong disana buk" Rossi menjelaskan.

__ADS_1


"Ga apa-apa. kami udah mau balik juga. Kalian mau barengan atau gimana?"


"Ibuk sama yang lain duluan aja buk. Kami baru sampai soalnya dan belum kenyang juga"


"Rossi emang doyan makan ya Al" Canda Bu Reni.


"Betul buk. Kalau gak habis bisa dibungkus kan Si?" Goda Alia mengerlingkan mata.


"Aih ...Bikin malu aja kamu" Cicit Rossi begitu Bu Reni berlalu dari mereka.


"Emang iya kan kamu doyan makan"


"Tapi ga harus bilang mau dibungkus juga didepan Bu Reni"


"Mau sok jaim ni ceritanya?" Goda Alia lagi.


"Ah....udah lah"


Mereka mengambil lagi beberapa makanan sebelum akhirnya melihat baby Naira, putri kedua dari Pak Haris dan istrinya, Vebi. Baby Naira begitu menggemaskan, mau dilihat darimanapun ia merupakan kombinasi dari wajah kedua orang tuanya.Terpahat sangat indah. Alia sangat kagum dengan bayi mungil yang tengah tertidur dalam ayunannya yang sudah dihias sedemikian rupa. Setelah puas memandangi baby yang tertidur pulas itu Alia dan Rossi berniat pamit pada tuan rumah.


"Udah pada mau pulang ya?" Tanya pak Haris


"Iya pak, masih ada agenda yang lain menanti" Jawab Rossi


"Agenda apa ni di hari Minggu?" Istri Pak Haris tersenyum menggoda


"Rossi mau deting mungkin pak" Jawab Alia asal.


"Wah....wah ....udah ga jomblo lagi Rossi?"


"Ah....bukan pak. Alia asal aja ni" Rossi sewot " Saya masih setia dengan kejombloan saya pak. Tapi kalau bapak mau merekomkan seseorang, boleh-boleh aja" Rossi memasang tampang manisnya


"Bisa aja sih direkomkan kalau kita ada kenalan, ya kan ma?"


"Iya bener. Tapi siapa ya? Si abang sih udah punya calon. Sebentar ya saya panggilan si abang" Istri Pak Haris memanggil seseorang dan membawanya pada kedua orang itu.


Jantung Alia makin bergemuruh tak menentu. Makin dekat langkahnya, makin panas dingin kedua tangan Alia. Ia benar-benar ingin kabur dari situasi itu.


Please jangan kesini. Batinnya.


***

__ADS_1


__ADS_2