
Panas terik menyapa Alia. Ia baru saja melajukan motor diperjalanan menuju rumah. Panas Kota Bagan batu begitu menyengat kulit siang ini. Alia mengantisipasi dengan helm dan sarung tangan yang selalu ia bawa saat berkendara.
Sebelum sampai rumah ia singgah disebuah Ampera. Alia membeli lauk untuk Rena dan dirinya. Beberapa potong ayam bakar untuk makan siang. Ia tak sempat memasak saat berangkat kerja dan pulang pun terlambat dari biasanya. Tiga puluh menit ia habiskan untuk berbincang mengenai alat-alat yang dibeli olehnya dan Bu Reni kemaren, wakil kepala sekolah itu sangat suka berbincang dengannya.
Sudah pukul tiga sore hari. Alia tiba dirumah disambut raut masam Rena.
"Dari mana aja kamu?"
Alia duduk disofa melepaskan segala atribut yang ia kenakan termasuk kerudungnya.
"Ih...Budek ya!"
"Aku baru nyampe Ren. Bisa tunggu dulu nanya nya? Aku lagi lepas kaos kaki ini"
"Gitu aja lelet kali sih"
Alia mengeluarkan bungkusan keresek dari tasnya dan disambar Rena
"Ayam bakar!" Ujarnya sumringah. Ia berlari kedapur mengambil piring dan menyendok nasi. Nampak sekali gadis itu kelaparan.
Alia menyusulnya setelah mencuci muka dan tangan diwestafel yang ada di dapur.
"Santai aja makannya. Gak akan ada yang ambil makanan kamu" Alia ikut duduk. Menyendok nasi pada piring yang telah ia ambil.
"Aku lapar tahu"
"Emangnya kamu belum makan?"
"Cuma makan es krim yang aku beli diminimarket dekat simpang"
"Pagi tadi kamu sarapan apa?"
"Tadi pagi makan batagor. Lagian kamu kenapa gak masak sih?"
"Aku gak sempat karena bangun telat. Lagian kenapa kamu gak belajar masak?"
"Emang kamu pernah lihat aku masak? Nggak kan? Nantinya aku mau jadi nyonya dari suami kaya dan aku ga perlu masak"
"Nanti kan? Bukan sekarang. Nunggu nanti udah kelaparan neng"
"Kan ada kamu"
Alia memasang tampang Bimoli. Bibir monyong lima mili. Rena memang tak pernah sekalipun memegang peralatan didapur. Ibunya juga tak pernah menyuruhnya belajar memasak, wajar saja gadis itu selalu menunggu orang lain memasakkan makanan untuknya.
"Tapi Lia, cowok ganteng yang kemaren traktir kita makan malam itu udah merid ya?"
Alia diam tak menanggapi. Lebih memilih mengunyah ayam bakarnya.
"Udah kan? Soalnya tadi aku lihat ada cewek cantik banget manggil papa gitu ke dia"
"Maksud kamu?" Alia penasaran juga.
" Sebelum kamu pulang, aku beli beli es krim diminimarket dekat simpang depan sana. Aku lihat dia lagi gendong balita gembul yang cakep dan lagi beli pempes sama seorang cewek. Tu cewek bilang gini" Rena coba tirukan suara cewek yang didengarnya " Papa, papa, beli yang ini aja lebih banyak isinya. Gitu Lia. Emangnya Vita gak tahu ya kalau kak Huda itu udah punya anak sama istri?"
Alia menaikkan kedua bahunya.
"Dari cara Vita kemaren kelihatan kali kalau dia gak tahu. Kamu ingatkan lah dia Lia, bisa-bisa dia jadi pelakor nantinya"
"Tumben kamu peduli?" Kalimat itu sengaja Alia ucapkan sebab penasaran dengan sikap Rena yang berubah.
"Karena sama-sama perempuan" Kilahnya.
Alia memandang Rena intens. Tumben tak seperti biasanya. Rena yang biasa selalu jutek dan tak peduli.
What happen with her? Alia masih bertanya-tanya. Tapi baguslah, dia sudah seperti adik yang sesungguhnya sekarang. Tak tahu lah nanti jika ibunya pulang, apa dia akan berubah lagi?
**
Sudah lima hari Alia hanya berdua dirumah bersama Rena. Selama itu juga Rena jadi penurut dan tak banyak protes. Ira setiap hari menelepon menanyakan kabar putrinya. Hanya menelepon Alia , Rena tak mau berlama-lama bertelepon dengan ibunya sebab sedang menggandrungi k-pop dari ponsel genggam.
"Lia, hp kamu bunyi aja tu dari tadi!" Rena berteriak dari kamarnya pada Alia yang membuat soal ujian didepan tv.
"Eh, iya"
Bergegas Alia menuju kamar. Nomor tak dikenal tertera dilayar ponsel " Ya halo?"
"Ini aku"
"Siapa?"
__ADS_1
"Huda"
Huda? Kok bisa? Untuk apa kamu menelfon?
"Iya ada apa Pak Huda"
"Jangan formalitas. Aku mau bicara sama kamu. Sore ini di cafe dekat sekolah. Aku harap kamu datang"
"Kenapa aku harus datang?"
"Ada yang mau aku bicarakan"
"Bisa disekolah kan?"
"Please"
"Seberapa penting?"
"Sangat penting untukku"
"Ok"
Alia memutus sambungan. Kenapa Huda selalu mengusiknya setelah lelaki itu kembali dikehidupan Alia?
"Siapa?" Rena sudah berdiri didepan pintu kamar.
"Bukan siapa-siapa"
"Kamu mau ketemu siapa?"
Alia keluar kamar melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Rena mengikuti.
"Kamu mau ketemu cowok? Benarkan?"
" Rena, bisa diam gak sih? Aku gak konsen ni"
" Serius kamu punya cowok? Sejak kapan?"
" Aku gak ada bilang apa-apa tapi kenapa kamu langsung menyimpulkan begitu?"
"Karena ekspresimu gak biasa"
**
"Bicaralah. Apa hal pentingnya?"
Alia dan Huda sudah berhadapan di cafe mentari tak jauh dari sekolah tempat mereka mengajar. Alia menyeruput jus jeruk dari gelasnya dengan memandangi jalanan yang ramai dengan lalu lalang pengendara.
"Apa kamu gak bisa lihat lawan bicaramu?"
"Aku hanya perlu mendengarkan bukan?"
Huda memandang lekat pada Alia yang ogah-ogahan melihatnya "Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku diwaktu SMA dulu"
"Kamu masih bahas itu lagi? Aku udah muak mendengarnya"
"Aku serius Alia. Bertahun-tahun aku menanggung rasa bersalah. Aku jauh-jauh kesini hanya ingin minta maaf sama kamu"
"Lulusan kampus ternama, Harvard university, calon penerus perusahaan besar, dan kamu ke kota kecil ini hanya untuk minta maaf? Apa kamu sudah kurang kerjaan?"
"Mungkin menurutmu begitu, aku cuma mau kamu tahu kalau selama ini aku menanggung rasa bersalah padamu"
"Aku juga mau kamu tahu kalau aku sudah tidak peduli dengan itu semua" Alia memberi peneknan pada tiap kalimatnya. Iya menyilangkan kedua lengannya didada "Dari awal kedatanganmu ketempatku mengajar saja sudah terasa aneh, ternyata memang benar kamu memanfaatkan kedudukan pamanmu"
"Apa salahnya aku mengajar disekolah yang dipimpin pamanku?"
"Tidak ada yang salah. Lanjutkan saja obsesimu yang selalu ingin digilai wanita dan jangan menggangguku"
"Aku tidak pernah punya obsesi untuk digilai wanita Alia"
"Oh ya?" Alia tersenyum sarkas "Kamu selalu menggunakan tampangmu untuk meluluhkan hati orang"
"Aku hanya ingin minta maaf tapi kenapa begitu sulit?"
"Apa itu penting?Apa maaf dariku penting?"
"Sangat penting"
"Lantas kenapa dulu kamu begitu padaku?"
__ADS_1
"Aku..." Huda tercekat, ia coba mencari kalimat yang sesuai untuk dikatakan.
"Kenapa? Dulu kamu tak berfikir akan perasaanku? Apa yang kurasakan? Apa berpindah dari satu hati kehati yang lain itu sangat mudah buatmu? Yah...mungkin saja iya karena dulu kita hanyalah remaja yang dibutakan oleh rasa suka"
"Bukan begitu Alia"
"Bukan begitu? Lantas bagaimana? Apa aku cuma mainan yang kamu tinggalkan ketika bosan?"
"Itu tidak benar. Aku sangat mencintaimu Alia"
"Cinta? Kamu bilang cinta? Kamu tahu bagaimana perasaanku padamu saat itu. Kamu tahu aku sangat mencintaimu saat itu, kamu tahu bagaimana aku tapi kenapa?" Emosi Alia tersulut mengingat sakit hatinya dimasa lalu "Kenapa kamu menyakitiku dengan kata-kata kejam dari mulutmu? Kenapa?!"
Alia berteriak diakhir kalimatnya. Hal yang sudah sangat lama ingin ia katakan terlepas sudah. Alia tak peduli akan tatapan pengunjung lain.
"Tenanglah. Kamu akan jadi tontonan orang-orang"
"Kamu malu?"
"Dengarkan aku Alia, tenanglah"
"Aku tidak mau" Alia mengeluarkan uang kertas limapuluh ribu, ia letakkan dibawah gelas jusnya "Sudahlah. Tidak ada lagi yang ingin aku dengarkan"
Alia meninggalkan tempat duduknya. Langkahnya lebar dan tergesa. Huda mengejarnya, mencekal lengannya diparkiran.
"Lepas!"
"Dengarkan aku dulu"
"Kamu pikir kamu siapa bisa sembarangan menyentuhku?"
Huda melepaskan cekalannya menaikkan tangan keatas kepala "Maaf, maafkan aku. Tapi aku belum selesai bicara"
"Minggir!"
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kamu dengar semuanya"
"Aku tidak mau dengar, minggirlah"
Alia ingin menuju motornya namun Huda masih menghalangi.
Kesabaran Alia sudah habis tapi ia tak ingin berurusan lagi dengan Huda "Ok. Sekarang katakanlah apa selanjutnya? Apa yang mau kamu sampaikan ke aku? Tapi setelah itu jangan menggangguku lagi"
Huda berlutut.
"Huda kamu udah gila ya? Bangun!"
Diparkiranpun mereka masih menjadi tontonan.
"Bangun Huda! Kamu apa-apaan sih?"
" Aku minta maaf Alia"
"Ok aku maafkan. Lekas berdiri"
"Ayo kita mulai lagi dari awal, sampai saat inipun aku masih mencintaimu"
Sampai saat ini? Aku tidak akan tertipu lagi.
"Papa! Itu papa"
Wanita yang begitu familiar menghampiri Alia dan Huda. Huda berdiri, wajahnya menunjukkan keterkejutan.
Ya Tuhan....Apa ini sebuah drama? Mengungkapkan cinta lalu dihampiri oleh anak dan istri? I'ts Crazi!.
"Pa, ini si dedek nyariin papa" Ujarnya menyerahkan seorang balita dari gendongan.
"Oh, iya sayang sini sama papa" Huda mengambil balita gembul itu.
"Papa Lama banget sih, emangnya jumpa sama siapa pa?" Tanyanya lagi sambil melirik Alia.
Huda melihat Alia begitu juga wanita itu. Alia yang tadinya kesal dibuat tercengang.
"Lho? Mbak bukannya yang waktu itu dirumah om Haris ya?"
Alia mengangguk "Permisi saya duluan" Alia melajukan motornya meninggalkan lokasi tersebut.
"Siapa dia pa?"
"Bersambung"
__ADS_1