Dua Cinta Alia

Dua Cinta Alia
4. Meminjam Uang


__ADS_3

"Lia buatin aku nasi goreng ya. Please Lia" Rena merengek dengan mengatupkan kedua lengan didada disertai tampang memelas.


"Makan ajalah apa yang ada dimeja, aku udah panasin sambal ayam tadi malam sama masakin nasi di mejikom"


"Tapi aku mau nasi goreng. Pakai kerupuk sama telor dadar"


"Ga bisa Ren, aku lagi buru-buru. Kalau kamu ga mau sambal ayam, roti sama selai kacang juga udah aku siapin dimeja"


"Ih...Lia! Pokoknya aku mau nasi goreng. Apa susahnya sih tinggal dibuatin sebentar" Rena menghentak-hentakkan kakinya.


"Nanti aja ya Ren, ini jam masuk kerja aku udah mepet"


"Tinggal buatin bentar aja apa susahnya sih?"


Ibu tirinya datang menyela meloloskan keinginan putrinya. Rena tersenyum mengejek disamping ibunya.


Alia mengeluarkan ponsel dari sakunya mengetik sesuatu disana setelah itu mengabulkan keinginan Rena.


"Ok. Aku buatin nasi gorengnya"


"Gitu dong. Dari tadi kek"


Rena mengekor ibunya duduk bersebelahan dimeja makan menikmati roti dengan selai kacang sambil berbincang-bincang sementara Alia disibukkan dengan racikan nasi goreng.


Dua puluh menit kemudian Alia baru meninggalkan rumah dan lima belas menit kemudian menginjakkan kaki ditempat kerja. Mentari sudah terik begitu ia tiba disana. Meski terik sisa hujan semalam masih terasa. Tadi malam Alia terlelap begitu hujan menderas membuatnya lupa meminjam uang pada Pak Haris.


Hari ini ia sudah membulatkan tekad untuk bicara langsung pada Pak Haris. Berharap penuh atasannya itu bisa meminjamkannya uang pribadinya meski tidak menutup kemungkinan Pak Haris tidak bisa memberi pinjaman padanya.


Alia tiba ditempat ia mengajar. SD Harapan Bangsa. Sebuah sekolah swasta yang berada dipinggiran kota tempatnya tinggal. Ia melewatkan upacara yang diadakan tiap Senin pagi setelah sebelumnya izin di grub yang berisikan guru-guru ditempatnya mengajar mengabarkan bahwa ia datang terlambat.


Sebenarnya Alia benci datang terlambat terlebih ini mengenai profesionalitas kerja. Tapi apa hendak dikata, lagi -lagi Rena membuat ulah memaksanya membuatkan sarapan disaat ia hendak berangkat kerja.


"Tumben kamu telat Lia?" Sapa Rossi begitu Lia memasuki ruang majelis guru.


"Biasa lah, adekku mengulah lagi"


"Emang Rena ngapain? " Rossi menarik kursi disebelah Alia.


"Disitu aku mau berangkat disitu juga dia merengek minta dibuatin nasi goreng"


"Emang gak ada sarapan yang lain? Roti dan selai gitu yang lebih praktis"


"Ada. Aku juga udah siapin lauk meski itu lauk kemaren yang aku panasin tapi tetap aja minta nasgor"


"Emang dia ga bisa buat sendiri ya? Terus ibunya ga ada negur dia?"


"Dia gak pernah masak dan ibunya..." Alia menjeda kalimatnya sejenak "Kalau ada aku ga akan terlambat dan lagian aku juga males berdebat sama Tante Ira"


"Anak itu kapan sih dewasanya, kamu kan kerja buat dia juga"


"Entahlah aku ga tahu" Alia memijat kepalanya.

__ADS_1


"Lia, kata Bu Reni disekolah kita akan ada guru baru lho"


"Oh ya? Ngajar apa?"


"Olahraga"


"Lhoh memangnya Pak Taufan kemana?"


"Balik ke Sumbar sama istrinya. Aku dengar sih gitu"


"Jadi juga ya pindahnya aku pikir cuma becanda"


"Tapi gak apa-apa juga sih karena penggantinya gak kalah ganteng" Mendadak Rossi bercerita dengan semangat "Kedepannya aku akan lebih rajin pergi ngajar"


Alia heran dengan perubahan sikap Rossi "Siapa namanya?"


"Nanti kamu juga akan tahu. Aku masuk kelas dulu ya"


"Iya"


*


Jam istirahat pertama tiba. Alia menimbang-nimbang keinginannya untuk menghadap Pak Haris. Berkali-kali diliriknya ruangan kepala sekolah yang tertutup rapat.


"Kok jadi gugup begini ya? Ah, masuk aja lah. Bismillah"


Diketuknya ruangan kepsek kemudian mengucapkan salam setelah disuruh masuk.


"Duduk Alia"


"Ada sesuatu yang mau saya bicarakan pak tapi sepertinya bapak sedang sibuk"


"Tidak juga Alia. Ini cuma sedang ngobrol dengan Huda ponakan saya. Kemaren udah kenalan kan?"


Tuh benar kan, memang familiar. Batin Alia.


"Ah...Iya, apa kabar?" Alia beranikan diri menyapa duluan. Basa-basi tentunya.


begitu Huda membalikkan badan lelaki itu melihatnya dengan senyuman "Kabarku baik"


Alia begitu muak melihatnya meski senyuman itu dulu selalu membuatnya berbunga-bunga. Dengan setengah hati Alia coba bersikap ramah. Ia harus menyampingkan urusan pribadi dan juga kerjaan.


"Jadi ada apa Alia?"


"Hm...a....Jadi begini pak..."


Alia memutar otak mencari kalimat yang sesuai untuk diucapkan. Tidak mungkin ia mengatakan ingin pinjam uang sementara diruangan itu ada Huda dan ia juga terlihat tengah menanti apa yang akan diucapkan Alia.


Kenapa keponakan Pak Haris itu harus Huda sih? Kenapa juga dia datang kesini? Gak mungkin kan lulusan Amerika mengajar disekolah dasar pinggiran kota begini? Batin Alia penuh dengan pertanyaan.


"Hm...Sebenarnya saya..."

__ADS_1


"Permisi Pak Haris, maaf mengganggu pembicaraannya, orang dari Dinas Pendidikan sudah hampir sampai diparkiran. Alangkah baiknya jika kita bersiap untuk menyambut kedatangan mereka " Bu Reni tiba didepan pintu ruangan yang tadinya dibiarkan Alia terbuka. Wakil kepala sekolah yang humble itu bagai penyelamat bagi Alia.


"Baiklah Bu Reni, terimakasih sudah mengingatkan saya. Alia nanti kita lanjutkan pembicaraannya ya"


"Iya pak"


Pak Haris keluar dari ruangannya menuju parkiran bersama Bu Reni dan beberapa guru lainnya yang sudah stanbay menanti tamu dari dinas. Alia menyusul keluar bersama Huda, Alia ingin kembali keruangan guru sementara Huda menuju kursi ruang tunggu. Ia duduk di ruang tunggu yang mengarah pada pintu ruangan guru. Dari tempat duduknya ia dapat melihat kegitan para guru disana.


"Kamu apa kabar?" Alia menghentikan langkah.


Ia tak ikut menyambut tamu dari dinas sebab hanya para petinggi sekolah yang menyambut tamu penting tersebut. Ia hanya guru biasa yang ingin mendidik para generasi penerus bangsa dan sudah lima tahun ia tekuni profesinya sambil lembaran baru dalam kehidupan.


Tapi hari ini entah kenapa seseorang dari masa lalu itu muncul lagi padahal kemaren mereka sudah bertemu. Pertemuan pertama mungkin takdir dan ini diikuti pertemuan kedua, apa mungkin akan ada pertemuan ketiga dan seterusnya? Alia membuang tebakan dalam fikirannya. Untuk apa ia harus repot-repot memikirkan hal tersebut. Ia hanya ingin berlalu dari Huda.


tanpa berbalik ia menjawab "Seperti yang kamu lihat, kabarku baik"


Bergegas Alia memasuki ruangan guru menuju kursinya. Ia dapat melihat Huda dari meja kerjanya. Lelaki tampan itu terlihat fokus pada ponsel ditangannya sambil sesekali bertegur sapa dengan beberapa guru yang lewat.


*


Jam istirahat kedua. Alia masih memikirkan dan memilih waktu yang tepat untuk bertemu Pak Haris. Beberapa kali ia tak fokus ketika mengajar dikarenakan uang pendaftaran kuliah Reni yang belum juga didapatkannya. Ditengah ia berfikir Rossi bersenandung ria memasuki ruangan guru dan suasana hatinya sangat baik.


"Lia, aku lagi senang banget"


"Baguslah kalau kamu lagi senang"


"Kok kamu gak nanya sih aku senang karena apa?"


Alia tersenyum "Emangnya ada hal bagus apa?"


"Aku tukaran nomor wa dengan salah satu org dinas yang datang waktu aku ngajar"


"Oh, jadi mereka meninjau kelas kamu?"


"Iya. Ramah banget tau orangnya dan ganteng banget. Masih jomblo juga. Ah....sepertinya masa-masa kesendirianku akan segera berakhir Lia"


"Aamiin. Semoga terkabul ya"


"Ada satu lagi yang buat aku bahagia banget. Kamu ingat ponakan Pak Haris kemaren kan?"


Alia menyergitkan dahi "Iya, terus kenapa?"


"Mulai sekarang kita akan sering jumpa sama dia. Ah...bahagia kali aku dikelilingi cowo-cowo tampan"


"Maksud kamu?"


"Maksud aku..."


"Mohon perhatiannya bapak dan ibu semuanya, ada hal yang ingin saya sampaikan" Pak Haris memasuki ruangan guru bersama seseorang dibelakangnya dan membuat ucapan Rossi terjeda.


Dia....Apa mungkin dia? Alia tertegun melihat lelaki yang masuk bersama atasannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2