Dua Cinta Alia

Dua Cinta Alia
3. Bertemu


__ADS_3

"Nah. Kenalin Alia, Rossi, ini ponakan kami. Karena ponakan yang paling tua makanya dipanggil Abang" Vebi mengenalkan lelaki rupawan berkoko hijau Armi yang tadi disebut-sebut Rossi.


Alia begitu tegang. Matanya menatap ubin. Ia tak ingin bersitatap dengan lelaki didepannya. Beda dengan Rossi yang sudah senyum-senyum dan salah tingkah sejak lelaki itu berada didekatnya.


"Kenalin, saya Huda" Ia mengulurkan tangan dengan senyuman terkembang, spontan disambar oleh Rossi.


"Saya Rossi. Satu tempat ngajar dengan Pak Haris. Rossi menyunggingkan senyum termanisnya.


"Huda"


Ia mengulurkan tangan pada Alia. Alia hanya diam. Pandangannya entah kemana.


"Lia, Lia" Rossi mengikut Alia sebab uluran tangan lelaki tampan itu belum juga diterimanya "Ngelamun apa sih?"


Dengan malas Alia menjabat tangan Huda "Alia Nugraha" Ia sebut nama lengkapnya dengan datar.


"Alia ini juga satu tempat ngajar dengan saya" Sambung Rossi, Huda hanya mengangguk.


Basa-basi untuk beberapa menit. Itulah yang terjadi sekarang. Alia tak berminat nimrung sama sekali. Ia masih dalam mode diam, hanya Rossi yang begitu bersemangat, harap-harap Huda adalah jodohnya.


Disela-sela obrolan mereka seorang wanita muda berumur awal dua puluhan menghampiri. Wanita yang begitu cantik, kulit putih, tinggi bak model dipadankan pasmina merah maron dan gamis warna senada terlihat seperti model papan atas yang sedang memperagakan busana. Wanita cantik itu menggendong seorang balita dan berjalan menghampiri Huda.


"Ayang, disini ternyata. Ilman merengek terus ini minta digendong abang"


Ha? Ayang? Alia dan Rossi saling pandang.


Balita mungil tersebut mulai tenang begitu digendong Huda.


"Cup...cup...sayang....anak papa ga boleh cengeng ya" Ia menepuk-nepuk pundak balita laki-laki tersebut

__ADS_1


Mungkinkah dia....? Batin Alia menerka.


Gak mungkin kan dia istri dengan anaknya? Kabarnya kan masih jomblo, kenapa pakai ayang dan papa? Terus aku gimana? Ganteng pula lagi. Ah...masa gagal lagi dapatkan cowok ganteng? ' Kali ini batin Rossi meronta wajahnya pun mulai manyun.


Vebi dan Haris begitu senang melihat pemandangan itu. Tapi tidak dengan Alia dan Rossi.


"Ya ampun, kirain masih jomblo, patah hati dedek seketika" Ungkap Rossi terus terang.


"Oh iya, kenalin ini Fika" Ujar Huda


"Hai. Aku Fika" Wanita cantik itu memperkenalkan diri dengan senyum yang makin membuatnya terlihat makin menawan "Si dedek comel ini namanya Ilman"


"Masyaallah ganteng banget ya" Ucap Alia


Huda menatapnya yang mengamati Ilman tanpa ekspresi. Pandangan mereka bertemu. Entah apa yang terlintas dibenak Huda begitupun Alia. Hanya sekian detik, Alia mengalihkan pandangannya.


"Iya emang benar. Ganteng banget" Vebi menimpali dan mencolek pipi gembul Ilman.


"Si bapak mah ngomporin" Rossi manyun.


"Doain aja pak" Alia


"Iya Alia, Rossi, kami doain moga kalian berdua segera ditemukan dengan jodoh kalian"


"Aamiin" Jawab mereka.


Alia dan Rossi pamitan setelah berkenalan dengan Fika dan Ilman. Tamu Pak Haris pun makin banyak berdatangan. Alia menatap nanar pada punggung Huda yang sudah menjauh. Sejenak dihembuskannya nafas dengan kasar. Sepertinya belakangan ini ia sering menghela nafas. Dirasakannya sesak merambat kehati. Perih menggelayut disana disegumpal hati yang pernah merana.


*

__ADS_1


Kediaman Alia sepi begitu ia tiba dirumah. Tak ada tanda-tanda keberadaan Rena maupun ibunya.


"Ceroboh sekali, kenapa tidak mengunci pintu dan hanya dirapatkan saja"


Omelnya mendapati rumah yang tak dikunci. Mereka bertiga masing-masing memiliki kunci cadangan, jika siapapun pulang terlebih dahulu tak perlu menunggu untuk dibukakan pintu. Tempo hari Rena pernah mengamuk mendapati rumah yang terkunci begitu ia pulang sekolah dan celakanya kunci rumah dipegang oleh Alia yang terlambat pulang dari tempatnya mengajar. Saat itu ibu mereka juga pulang dari menjenguk kerabat di kabupaten sebelah, Alia juga menjadi sasaran kemarahan ibu tirinya dikarenakan kejadian itu kunci rumahpun digandakan supaya tak terjadi kejadian serupa.


Alia menuju kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur one size bermotif bunga tulip vaforitnya. Hatinya gusar dan perasaannya masih tak menentu setelah bertemu sosok Huda, seseorang dari masa lalu yang tanpa disengaja. Tapi hal yang paling mengejutkan ialah pertemuannya dengan Fika dan seorang balita yang begitu menggemaskan.


Ternyata lelaki tampan sekaligus keponakan pak Haris yang baru pulang dari Amerika dan disebut-sebut Rossi tempo hari adalah Huda. Sungguh pertemuan yang tak terduga.


Setelah delapan tahun tak bertemu dan bertegur sapa, akhirnya Alia melihatnya lagi. Mereka bahkan berjabat tangan segala meski sebenarnya Alia tak ingin dan benci tapi ia tak mungkin mengabaikannya didepan Pak Haris, istrinya dan juga Rossi dan Fika yang datang belakangan. Mereka pasti akan bertanya-tanya.


Meski bertemu kembali Alia merasa yakin jika Huda sepertinya sudah tak mengingat dirinya. Buktinya lelaki tampan itu tak menunjukkan sikap selayaknya orang yang pernah saling mengenal apalagi untuk jangka waktu yang lama.


'Fix. Dia pasti sudah lupa' Alia meyakinkan dirinya 'Tapi bagaimana bisa? Setelah semua luka yang dia beri, dia lupa begitu saja? Jahat sekali'


'Sadarlah Alia' Bisik suara hatinya yang lain 'Dia hanya masa lalu dan kamu sudah melupakannya. Ingat dia sudah punya anak dan istri. Kamu dengar dan lihat sendiri kan. Panggilan sayang dari Fika dan papa ketika ia menyebut dirinya pada Ilman, apa kau tidak sadar juga Alia? Dia sudah berkeluarga dan punya kehidupan baru. Kau hanya masa lalunya dan dia sudah menguburmu ketika dia mencampakkanmu dan itu sudah sangat lama.


"Astaghfirullahuladzim" Alia mengusap telapak tangan kewajahnya "Apa-apaan sih kamu Alia! Jangan mikir yang macam-macam"


Meski beristighfar, Alia masih kembali larut dalam ingatan masa lalu. Lelaki itu lagi-lagi mendominasi fikirannya Senyuman hangat yang selalu menyapa ditahun terakhir masa putih abu-abu kini tergambar jelas diingatan. Semua kenangan seakan berputar bagai rol film. Seolah-olah baru kemaren mereka tertawa bersama.


Huda yang begitu baik. Huda yang begitu ramah. Huda yang begitu pintar. Huda yang aHuda yang begitu tampan. Huda yang berasal dari keluarga terpandang dan Huda memilih Alia dari sekian ratus siswi di sekolahnya dulu untuk dijadikan seseorang yang spesial.


Semua perhatian Huda padanya membuat banyak siswi yang cemburu bahkan mencemooh hubungan mereka. Alia sangat tidak pantas bagi Huda yang begitu sempurna. Beberapa kali ada yang meminta Alia untuk putus dengan Huda dan kabar itupun sampai pada Huda dan membuatnya berang pada beberapa siswi-siswi yang meminta Alia putus dengannya. Semua hal yang terjadi tak membuat tekad Alia mengendur menjalin hubungan.


Huda bahkan sudah menceritakan rencana masa depannya pada Alia dan tentunya dilalui bersama wanita yang ia cintai, Alia. Satu sekolah tahu jika Alia adalah milik Huda dan tak ada yang boleh mengganggunya.


Alia tersenyum mengingat semua itu namun air matanya lolos begitu saja tanpa permisi dan aba-aba. Hatinya berdenyut nyeri, bertanya-tanya

__ADS_1


'Kenapa perasaan ini muncul lagi?'


__ADS_2