
"Kenapa stop? Bukannya kamu senang ya dengar kabar dia? Aku juga bisa bantuin kamu kalau mau CLBK "
"Nggak usah sok tau. Aku nggak mau bahas ini dan lebih baik kamu pulang"
"Kenapa? Kamu masih dendam sama dia? Atau jangan-jangan masih menyimpan rindu?" Cindy sengaja menggoda Alia.
Rindu? Mimpi apa aku semalam sehingga harus mendengar hal ini. Kenapa juga aku harus rindu pada suami orang dan terlebih lagi dia sudah punya anak.
"Stopped Cindy! Tujuan kamu apa sih memprovokasi aku?"
"Oh, jadi kamu merasa terprovokasi?" Sebelah mata Cindy mengerling menambah kejengkelan dihati Alia.
"Udah lah Cin, kita nggak sedekat itu untuk bicara berdua seperti ini apalagi dikamar aku"
Cindy mengubah posisi duduknya, menyilangkan kaki kanan dan merendahkan suara.
"Alia, dengar ya Alia Nugraha, aku ini udah berbaik hati mau comblangin kamu dengan sepupu suamiku tapi kamunya gak mau. Kamu gak hargain usaha aku ya. Aku rela lho repot-repot disela-sela aku lagi liburan cuma buat cari informasi dan itu demi kamu"
"Makasih karena kamu udah susah-susah buat comblangin aku, tapi aku nggak pernah minta kamu untuk lakukan itu semua"
"Aku lakuin itu Itu karena aku peduli sama kamu"
"Sejak kapan kamu peduli dan jadi perhatian gini? Kamu itu tipe orang yang gak akan berbuat baik kalau gak ada keuntungannya. Jangan bilang kalau tante Ira kan yang minta kamu buat cariin jodoh buat aku"
__ADS_1
Cindy memasang tampang masam sejenak, Alia bisa menebak rencananya. Ira memang sering memintanya mencarikan calon suami untuk Alia. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata jawaban untuk Ira ada di Bali. Ia rela terganggu liburannya di Bali demi keuntungannya sendiri karena tidak ada yang gratis didunia ini. Ira memang tak bisa memberikan apapun padanya tapi tidak dengan keluarga yang menjadi targetnya.
Mamanya Raka, yakni Tante Iko, mama dari sepupu suaminya itu sangat ingin bermenantukan seorang guru.Alia sudah tentu menjadi jawabannya. Cindy makin bersemangat lagi sebab mamanya Raka berjanji akan mengajak Cindy liburan ke Italia dan akan mengajaknya shopping barang-barang mewah disana jika berhasil mengantarkan putra sulungnya itu kepelaminan. Tentu itu hal yang menggiurkan bagi Cindy yang menyukai kemewahan. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan kemewahan. Tidak akan pernah.
Cindy memutar otaknya, mencari alasan agar Ira tak dikaitkan.
"Kamu nolak karena masih suka sama Huda kan?"
"Aku masih suka atau nggaknya sama Huda itu bukan urusan kamu Cin"
"Kenapa kamu nggak jawab pertanyaan aku yang tadi? Tante Ira kan yang minta kamu cariin aku jodoh?"
"Aku begini karena peduli tapi susah ya ngomong sama kamu Al. Coba kamu lihat dikomplek ini cuma kamu wanita berumur yang belum merid. Kamu nggak malu ya umur segini masih belum punya pasangan?"
"Kalau kamu seperti ini terus kamu bisa dibilang perawan tua. Memangnya kamu mau?"
Alia berusaha bersikap sewajarnya meski menahan kesal sedari tadi. Cindy memang tidak pernah memfilter apapun yang dikatakannya pada orang lain dan tak peduli lawan bicaranya tersinggung ataupun tidak, ia hanya bermanis mulut jika menyukai orang yang menjadi lawan bicaranya ataupun jika ada keuntungan yang bisa ia dapatkan.
"Cin, aku dan kamu berbeda dan pemikiran kita juga berbeda. Kalau kamu nyaman dan bahagia menikah diusia muda, itu urusan kamu. Tapi tolong jangan paksa aku untuk harus sama dengan kamu. Karena tujuan utama aku saat ini bukanlah merid"
"Haduh Alia, jadi apa tujuan utama hidup kamu? Tiap orang pasti akhirnya merid Al. Pasti. Kalo nggak itu karena dia nggak laku. Kamu mau jadi perawan tua?"
"Kamu benar-benar keterlaluan ya Cin"
__ADS_1
"Keterlaluan bagaimana?"
Alia turun dari kasurnya, membuka pintu kamar "Lebih naik kamu pulang sekarang!"
"Kenapa kamu marah? Yang aku bilang memang benar kan? Perempuan yang sudah berumur harus menikah. Kamu udah berumur Alia, memangnya kamu nggak malu ya sampai sekarang belum laku?"
"Manusia bukan barang dagangan yang bisa dinilai laku atau tidaknya dikarenakan sudah menikah ataupun belum. Aku minta kamu pulang selagi aku masih bicara baik-baik Cindy"
"Kamu emosi karena aku bilang hal ini? Aku udah susah- susah lho demi kamu"
Alia diam memegang gagang pintu kamarnya. Ia enggan melihat Cindy.
"Oke lah. Bye"
Cindy pergi begitu saja setelah melontarkan kalimat demi kalimat yang menyakiti Alia. Meski Cindy merasa rugi belum bisa menyentuh hati targetnya tapi ia merasa bisa mencoba lagi lain kali. Masih banyak waktu untuk melakukan pendekatan.
"Astaghfirullahuladzim"
Alia mengusap wajahnya. Rasa kesal menjalar di seluruh tubuh sampai keubun-ubun begitu Cindy pergi. Ia berlari kekamar mandi, berwudhu dan menunaikan sholat Sunnah dua rakaat bermunajat pada Sang Pencipta dan berkeluh kesah pada Nya.
Meski telah menunaikan shalat Sunnah dua rakaat mengharapkan hati menjadi lebih tenang namun amarah dihati Alia tak kunjung reda. Ia kembali kekamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia menangis sejadi-jadinya disana.
^^^Tak ada wanita didunia ini yang mau hidup sendiri. Tidak ada wanita yang ingin jadi perawan tua yang selalu dihina. Dizaman ini banyak wanita menikah diusia kepala tiga maupun empat. Meski akan banyak gunjingan namun itu banyak ditemui dimasyarakat kita. Kenapa orang lain ingin selalu ingin mengatur dan mendikte hidupku? Apa salahku? Aku hanya ingin menjalani hidupku apa adanya tanpa dipaksakan harus menikah karena usia yang semakin beranjak bertambah. Menemukan orang yang satu frekuensi dengan diri kita itu bukanlah hal yang mudah semudah membeli sayur dipasar sesuka hati kita memilih dan membelinya. Mencari pendamping hidup tidak sesimpel itu. Perkara jodoh adalah urusan Tuhan, sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dana ku pernah berusaha tapi berkali-kali dikecewakan dan tidak semudah itu untuk jatuh cinta lagi. Aku hanya ingin menjalani hidupku tanpa intervensi siapapun. Karena aku yang paling tahu apa yang kuinginkan. Bukan orang lain.^^^
__ADS_1
Alia menangis sepuasnya dikamar mandi yang berada didalam kamar yang ia tempati. Ia baru beranjak ketika tangisnya reda dan merasa tubuhnya kedinginan. Setelah mengganti pakaian dan mengeringkan rambut ia kembali menangis didalam selimut tebal yang menutupi tubuh mungilnya. Hatinya kembali memanas teringat semua ucapan Cindy. Disaat seperti itu ia rindu akan sosok ibunya yang telah lama hilang dari pandangan. Ibu yang dulu selalu memeluk dan menenangkannya ketika ia menangis. Alia rindu akan semua itu. Tangisnya makin memilukan dalam kebisuan hingga ia terlelap.