
"Maafkan aku kalau disaat terakhir pun kamu nggak suka dengan sikapku. Ini tidak dibuat-buat Nan, aku memang selalu seperti ini"
"Ada lagi yang mau kamu katakan?"
"Kalau kita berpapasan dijalan, anggaplah kita tidak saling kenal"
"Ok. Itu mudah. Udah ya aku capek dengar ocehan kamu. Bye"
Huda berlari meninggalkan Alia kemudian menghilang setelah melewati ruangan OSIS meninggalkan Alia yang menangis sendirian ditaman belakang sekolah.
"Kamu bilang capek dengar ocehan aku? Kamu bilang ocehan? Tega kamu Nan. Apa salah aku sama kamu? Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau ada dari sikap aku yang nggak kamu suka? Aku bisa perbaiki itu buat kamu Nan tapi kenapa kamu sampai menghina ayahku segala? Kenapa kamu Setega itu sama aku? Apa salah aku? Apa salah aku Nan?"
Tanpa Alia ketahui Huda mendengar semua kalimat yang ia ucapkan dalam tangisnya. Huda masih disana bersandar pada dinding tembok ruangan OSIS. Hatinya tak karuan dan perasaan bersalah menjadi dominan. Ingin sekali ia berbalik menuju Alia, menempatkannya dalam pelukan dan menghapus air mata gadis itu tapi Huda tidak bisa melakukannya.
Huda hanya ingin Alia selamat dari papanya. Hanya cara ini yang Huda tahu untuk menjauhkan Alia dari dirinya yakni dengan menyakiti gadis itu.
"Maafkan aku Aya. Maafkan aku. Aku terpaksa lakukan ini semua karena aku sayang sama kamu" Huda menciumi gelang yang dikembalikan Alia dengan berurai air mata.
Kabar putusnya Huda dan Alia tersebar begitu cepat beredar bersama kabar angin. Selang tiga hari berita yang beredar menyebutkan bahwa Huda pacaran dengan Alia hanya demi taruhan dengan nominal yang cukup besar dan Huda memenangkannya.
"Kamu sudah pacaran tiga bulan dengan Alia dan semua itu cuma demi taruhan?" Febri teman dekat Huda sejak pindah ke sekolah itu tak percaya dengan kabar yang didengarnya
"Iya" Huda jawab dengan santai sambil mengunyah roti ditangannya.
"Kamu gak merasa bersalah sedikitpun terhadap Alia?"
"Kenapa aku harus begitu?Lagipula aku gak punya perasaan apapun sama dia"
"Ya Tuhanku, kenapa kamu tega mempermainkan anak orang?"
"Udahlah Feb, aku malas mendengarmu mengoceh"
"Kamu serius Huda? Yang kamu permainkan itu Alia si juara umum?" Rendi sama tak percayanya dengan Febri.
Huda meletakkan tujuh lembar uang ratusan ribu "Ini uang taruhan yang aku menangkan dari anak kelas sebelah"
"Dengan siapa saja kamu taruhan?" Febri menyelidik.
Huda tersenyum miring "Kenapa? Kamu mau taruhan juga?"
"Apa benar kamu taruhan atau itu cuma karangan kamu aja?"
"Iya, siapa orang nya yang menjadi teman taruhanmu? Kami tak pernah dengar " Ridho menimpali.
"Kalian tak perlu tahu. Kalian pesan sajalah apa yang kalian mau dan bayar pakai uang ini"
__ADS_1
"Aku nggak mau kalau itu hasil taruhan terlebih hasil menyakiti orang lain"
"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Biar aku traktir Rendi saja"
"Sebenarnya aku mau sih tapi Alia itu temanku. Kami pernah sekelas waktu dikelas X. Dia juga sangat baik sering membantuku kalau ada yang tidak aku fahami saat belajar matematika"
"Kalian berdua ini payah. Mau ditraktir juga banyak alasan untuk menolak. Tidak baik menolak Rezki "
"Yang begini bukan rezki namanya Huda. Kamu jangan salah dalam memahami suatu hal"
"Iyalah pak Ustad Febri"
"Yo! Huda! Menang taruhan ini ceritanya?" Bobi anak kelas sebelah baru tiba dikanti. bersama empat orang gengnya.
"Yoi bro"
"Traktir donk"
"Boleh. Kalian pesan aja yang mau kalian makan. Biar aku yang bayar" Huda mengibas-ngibaskan uang ditangannya.
"Mantap. Begini kan enak"
Febri dan Rendi bergegas meninggalkan Huda, Bobi dan gengnya.
"Kalian berdua mau kemana?" Bobi menghadang.
" Sok alim kalian berdua"
"Gak usah pedulikan mereka berdua. Pesanlah" Teriak Huda.
Febri dan Rendi meninggalkan kantin namun langkah mereka terhenti didepan pintu. Alia sudah berdiri disana.
"Al, Al, Alia" Rendi mendadak gagap.
"Kamu dengar sesuatu?" Febri mencoba meyakinkan dirinya kalau Alia tidak mendengar obrolannya dengan Huda.
Alia mengangguk "Seenggaknya aku berterimakasih karena kalian tidak menjualku hanya disebabkan traktiran dari uang taruhan itu"
"Nggak mungkin Al, kamu nggak mungkin begitu" Rendi mengacungkan kedua jarinya diudara.
"Aku percaya sama kamu. Kalian berdua, terimakasih"
Saat hendak pulang Alia menghadang Huda diparkiran.
"Kenapa lagi kamu? Minggir!"
__ADS_1
Alia coba tersenyum seperti biasa tapi hatinya perih. Ia tak bisa. Alhasil itu lebih menyerupai seriangaian.
"Nggak usah tersenyum. Kamu nggak secantik itu untuk bisa meluluhkan hatiku"
"Apa benar kamu mendekatimu hanya karena taruhan?"
"Kamu udah dengar? Baguslah" Huda memasang helmnya. Ia naik keatas motor Satria FU yang kini ia gunakan setelah putus dari Alia.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu? Menghalangi jalanku saja. Janga bilang kamu minta diantar pulang. Sorry ya karena pacarku sudah menunggu"
"Jadi benar karena taruhan Nan?"
"Berhenti memanggilku seperti itu. Aku geli"
"Jawab aku Nan"
"Alia..., Alia...Apa kamu jadi budek setelah putus dari aku ha?"
Alia menahan air matanya untuk tidak menitik. Ia menggigit bibir menahan rasa perih dihati.
"Aku cuma mau dengar kebenarannya dari kamu"
"Iya. Aku pacaran dengan kamu cuma untuk taruhan, bukan karena suka! Sekarang sudah dengar kan? Minggir!"
Alia mengangguk-angguk mencoba menguatkan hatinya.
"Sudah. Silahkan pergi, aku nggak akan hadang kamu lagi"
Alia menepi. Huda menghidupkan motor dan tancap gas. Digerbang sekolah seseorang yang Alia kenal naik kegoncengan Huda. Ternyata Karin dari kelas IPS 2. Ia pernah satu kelas dengan Alia sewaktu SMP dan juga satu kelas dengan Cindy.
Satu bulan setelah Alia dan Huda putus . Huda pindah sekolah ke Amerika mengikuti kedua orang tuanya. Satu bulan itu merupakan hari-hari yang berat bagi Huda. Ia hanya bisa melihat pujaan hatinya dari jauh dan akan melontarkan kalimat menyakitkan ketika berpapasan. Semua itu menyiksa Huda hingga bertahun-tahun kemudian
**
Huda mengeluarkan gelang dari sebuah kotak hitam dilapisi beludru didalamnya. Sudah cukup lama benda itu tersimpan disana. Sejak Alia mengembalikannya dengan berlinang air mata.
Tatapan Huda tak lekang dari gelang yang menyimpan kenangannya dan Alia. Suatu saat ia ingin gelang itu kembali pada pemik sebenarnya bukan terbiar dalam kotak hitam seperti sekarang. Meski akan cukup sulit Huda sudah bertekad.
Maafkan aku Alia. Kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku hanya ingin melihat senyummu lagi dan mendengar kamu menyebut namaku seperti dulu. Seperti dulu saat kita bersama.
Ponsel Huda berdering memecah keheningan.
Privat number?
"Halo?"
__ADS_1
"Kamu sudah tidak waras ya Huda?!"