
"Siapa ini?"
"Kamu sudah lupa sama papamu sendiri?"
"Papa..." Huda terdiam sejenak.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu sedang syuting film sekarang?"
"Syuting film gimana maksud papa?"
"Papa baru saja dapat kabar dari anak buah papa kalau sekarang kamu mengejar anak SD?"
"Itu memang benar pa"
"Susah payah papa sekolahkan kamu tapi lihat apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu sengaja mau buat papa malu?"
"Aku gak ada maksud begitu pa. Tapi ini pilihanku dan aku tahu apa yang sedang aku lakukan"
"Pilihan kamu bilang? Pilihan apa sampai kamu harus tinggal di pelosok seperti itu? Huda, ingat ya, kamu ini penerus papa. Satu-satunya yang akan meneruskan perusahaan yang sudah papa bangun dan jalankan selama puluhan tahun"
"Pa, aku mohon jangan paksa aku. Aku selalu turuti mau papa. Tapi kali ini biarkan aku melakukan apa yang aku mau pa"
"Oke. Untuk saat ini papa akan biarkan kamu melakukan apa yang kamu mau. Tapi ingat, bukan untuk selamanya. Jika waktunya sudah tiba kamu harus kembali pada papa. Camkan itu!"
Telepon dimatikan. Huda menghela nafas. Ia menghempaskan punggungnya dikursi kerja.
Sampai kapan aku harus ikuti kemauan papa? Aku capek selalu didikte begini. Pak Wisnu itu meneleponku hanya untuk memaksaku menuruti kemauannya. Jangankan meminta maaf karena merasa bersalah, ia bahkan tidak menanyakan kabarku maupun ibu yang sudah lama dirawat.
Kenapa harus aku yang menjadi penerus? Aku sedikitpun tidak tertarik dengan perusahaan milik papa. Aku sudah punya bisnisku sendiri.
**
"Lia, kita makan disini aja ya"
"Serius kamu mau makan disini?"
"Iya. Tempat ini baru buka, kata temanku menu disini enak semua"
"Ya udah turun gih. Aku mau parkirin motor dulu"
Alia dan Rena baru tiba disebuah tempat makan bernama kafe Nostalgia. Cukup ramai ketika mereka memasuki tempat itu. Memang mencerminkan nostalgia tempo dulu sesuai namanya. Ruangan tersebut didekorasi dengan dinding yang dilapisi dengan tikar pandan buatan tangan. Dilengkapi dengan lampu dinding yang sering disebut lampu teplok atau lampu badai dikarenakan sering dipakai para nelayan dulunya, dan kursi dari balok kayu yang mengkilap karena dibernis. Hiasan dinding pun dominan lukisan pedesaan dan potret Kota Bagansiapiapi masa kolonial. Dimana memperlihatkan gambar hitam putih.
"Kita duduk dimana ya? Rame gini juga" Rena kebingungan melihat kursi-kursi yang sudah penuh.
Alia sibuk membalas chat Rossi ketika ia baru masuk.
"Kenapa kamu yang harus temani dia?"
"Dia lapar katanya"
"Ia tapikan bisa sama mamanya atau siapakah gitu temennya? Tumben-tumbenan ngajak kamu?"
"Tante lagi keluar kota. Rena lagi cekcok sama temannya"
"Ya elah. Tu anak nyusahin aja sih"
"Lia...! Kita duduk dimana? Kamu dari tadi kenapa main hp aja sih? Aku udah lapar ini"
"Iya sebentar, ini lagi balas chat temanku"
"Pasti si Rossi itu"
"Kak Rossi"
"Ih...Malas kali aku manggil dia kakak"
Alia menggeleng melihat gadis didepannya.
"Udah ya Si nanti kita sambung lagi. Mau cari tempat. Rame kali soalnya"
"Ok la"
Alia mengajak Rena kemeja paling ujung didekat kasir tapi belum sampai kesana seseorang memanggilnya.
"Alia! Sini! Duduk disini aja masih kosong ini"
Tanpa diduga Vita memanggilnya. Aliapun duduk satu meja dengan rekan kerjanya itu diikuti Rena. Setelah memesan menu andalan kafe tersebut Alia membuka obrolan.
"Kamu sendiri aja Vit?"
"Tadi sih berdua" Vita tersenyum.
"Sama pacar ya kak?"
Kak? Tumben ini anak sopan begini.
"Ah nggak. Masih PDKT dek. Inipun nggak sengaja jumpa jadi sekalian aku ajakin makan"
"Wah mantap juga strategi kakak" Rena mengacungkan jempol.
Vita sumringah dipuji Rena "Ah kamu bisa aja"
"Apa kita nggak ganggu ni duduk satu meja sama kalian?"
"Nggak Alia, nggak. Kamu juga kenal kok siapa orangnya"
"Siapa?"
"Nanti sebentar lagi juga balik. Tadi dia nelfon didepan"
__ADS_1
"Oh..."
Handphone Alia berbunyi. Nama Ira tertera disana. Suasana yang tidak kondusif membuat Alia tak bisa mendengar suara diseberang telepon dengan jelas. Ia pamit sebentar untuk bicara dengan Ira.
"Ingat ya kamu jangan tinggalin aku. Kalau sampai kamu tinggalin aku aduin kau ke mama"
"Emangnya pernah aku begitu?"
" Belum sih. Tapi awas ya kalau kamu sampai..."
"Nggak. Nggak bakalan. Udah ya aku angkat telfon dulu".
"Wah kalian akrab ya" Vita merasa iri menyaksikan interaksi Alia dan Rena.
"Nggak juga!"
Jawab Alia dan Rena serempak kemudian berpandangan. Vita tergelak mendengar jawaban dua bersaudara didepannya . Alia memilih meninggalkan mereka menuju teras kafe tersebut.
"Kenapa lama sekali sih kamu ngangkat telfonku?"
"Maaf tante, tadi Alia didalam cafe dan gak bisa dengar suara tante dengan jelas"
"Alasan aja kamu. Dimana kamu sekarang?"
"Aku lagi di kafe sama Rena"
"Yang benar kamu? Nanti jangan-jangan kamu tinggalin dia sendirian dirumah? Awas kamu ya kalau sampai anakku kenapa-napa"
"Nggak. Rena aman dan dia ada didalam. Kalau tante gak percaya mau aku kasiin hpku sama Rena? Tapi sekarang Rena lagi ngobrol sama temanku"
"Sama teman kamu?"
"Iya. Mau aku kasiin aja hp nya?"
"Ya udah nggak usah. Nanti aku telfon lagi"
"Iya tante. Assalamualaikum"
Tak sempat jawaban salam didengar Alia, Ira sudah mematikan sambungan telepon nya. Alia memasukkan ponselnya dalam saku.
Gak apa-apa. Dia selalu begitu. Gak apa-apa. Dia cuma khawatir. Biasa aja Alia. Toh dia sudah mau meneleponmu. Harusnya kamu bahagia meski bukan kamu yang dia khawatirkan.
Alia menutup kedua matanya. Sejenak saja ia ingin tenang meski dalam suasana keriuhan orang-orang yang ingin makan.
I am oke and I am fine.
"Are you oke?" Sapa seseorang dari samping Alia.
"Yes, I am oke" Alia tertegun melihat lelaki disebelahnya yang hendak masuk kedalam kafe.
"Are you sure? Kamu terlihat tidak baik-baik saja"
"I am oke" Jawab Alia datar dan meninggalkan lelaki tersebut.
"Sorry ya saya lama"
"Iya ga apa-apa"
Laki -laki yang tadi menyapa Alia kini duduk dihadapannya. Alia membuang muka sedang Rena kagum pada sosok yang baru dilihatnya.
"Ganteng banget Lia" Rena berbisik "Siapa namanya?"
"Huda"
Gadis itu jadi heboh sendiri. Alia jadi tak berselera disebabkan kehadirannya.
"Gak nyangka ya kita jadi makan malam bareng disini" Vita memecahkan keheningan dimeja mereka.
"Iya kak. Aku senang banget lho bisa diner sama teman-temannya kakakku" Rena melirik Alia "Kok kamu diam aja sih? Bilang sesuatu kek"Rena berbisik ditelinga Alia.
Alia meletakkan sendoknya "Iya ya, gak nyangka kita bisa makan bareng"
"Stek nya enak lho Alia. Kok kamu kayak gak selera gitu?"
"Aku sebenarnya gak begitu suka stek daging Vit, tadinya kufikir Rena akan pesan stek ayam"
"Lho kok nyalahin aku sih?" Rena merasa tak terima namanya disebut.
"Bukan nyalahin"
"Apa namanya kalau bukan nyalahin? Tadi juga kamu bilang samakan aja dengan pesananku"
"Iya tadi aku lupa ngecek pesanannya karena kurang fokus"
"Udah, udah, Rena. Alia nggak nyalahin kamu kok"
Vita melerai perdebatan mendadak kedua beradik itu. Huda hanya mengamati, ia menyantap makan malamnya dengan khidmat. Suasana hatinya sedang baik.
"Mungkin karena aku sibuk balas chat temanku tadi"
"Nah itu kamu ingat. Dasar Alia, bukannya kamu sering bilang makanan harus dihabiskan. Kalo gak mubazir namanya. Siapa ni yang mau habisin punya kamu? Aku sih ogah makanan makan makanan sisa. Udah mahal lagi harganya" Rena mengomeli kakaknya didepan kedua rekan kerja Alia.
Alia diam. Ia meneguk jus jeruk miliknya "Memang benar kamu bilang. Sorry. Tapi selera makanku udah hilang dan mau gimana lagi aku gak bisa menghabiskannya"
"Kenapa bisa hilang selera makan kamu?"
Alia menatap lelaki didepannya. Tak menduga ia akan ditanya "Nggak kenapa- napa"
"Biasanya kalau cewek bilang gak kenapa-napa itu tandanya dia sedang ada apa-apa. Pasti ada sesuatu kan?"
__ADS_1
"Kamu sakit Alia?" Vita nampak khawatir.
"Beneran kamu sakit?"
Rena ikutan khawatir, entah itu benar atau hanya dibuat-buat tapi cukup membuat Alia terheran melihat adik tirinya. Ia Ingin gin tertawa. Tumben Rena bersikap tak biasa.
"I am fine. Kalian silahkan lanjutkan dinernya. Aku mau kedepan dulu. Suara disini terlalu ribut"
"Ya udah sana gih"
Alia pergi. Meninggalkan tanda tanya pada tiga orang dimeja itu.
"Kakakmu kenapa sih? PMS ya?" Vita penasaran.
"Nggak. Biasalah dia begitu"
"Dia nggak suka suara bising?" Tebak Huda.
Rena tersenyum "Itu benar. Tapi mungkin hal lain. Sebentar lagi juga baikan" Rena menanggapi dengan santai. Sedikit banyak ia juga tahu kebiasaan Alia yang lebih menyukai keheningan.
"Apa Alia ada alergi sama daging sapi?"
"Hm...Gak tahu juga ya, tapi seingatku Alia memang gak pernah keliatan makan daging sapi lah"
Selesai makan, Huda mendapatkan telepon dari pamannya, Haris. Ia minta pamit untuk pulang duluan setelah membayar tagihan diner.
"Kamu kenapa?"
Huda menyempatkan untuk menanyai Alia yang duduk dikursi dekat parkiran. Wanita berkerudung biru muda tersebut tengah menyapu-nyapu lengannya.
"Aku udah bilang tadikan kalau aku gak kenapa-napa"
"Kamu sakit?"
Alia memiringkan kepala menyipitkan mata "Apa aku terlihat sakit?"
"Iya. Kamu punya alergi?"
"Ada alergi atau pun tidak apa urusannya denganmu?" Alia coba diam tak banyak gerak, ia menahan rasa gatal ditubuhnya yang mulai terasa.
"Apa kamu gak bisa jawab pertanyaan ku?"
"Kamu mau jawaban apa?"
"Kamu gak selera makan apa karena aku?"
"Kenapa juga aku harus begitu?"
"Bisa gak sih kamu jawab pertanyaan ku?"
"Aneh"
"Aku cuma menghawatirkan rekan kerja apa itu aneh?"
"Jelas aneh. Kenapa kamu harus khawatir?"
"Itu..."
"Kenapa diam?"
Alia beranjak dari duduknya ingin masuk kedalam kafe tapi langkahnya tercekat.
"Kamu masih marah sama aku Aya?"
"Namaku Alia. Don't call me Aya. Itu bukan namaku"
"Bagiku kamu tetap Aya"
"Aku gak tahu apa tujuan kamu sampai harus begini tapi yang jelas aku gak mau tahu"
"Ketika bicara kamu harus lihat lawan bicaramu"
Alia berbalik, melihat lelaki didepannya "Apa sebenarnya yang mau kamu bilang?"
"Aku ingin tahu kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat"
"Tapi kamu tidak terlihat baik-baik saja"
"Kamu lucu ya. Sudahlah. Bukannya kita tidak sedekat itu untuk saling menanyakan kabar Pak Huda"
"Kamu banyak berubah Aya"
"Stopped Kinan!"
Tanpa sadar Alia meninggikan suaranya. Ia jadi tontonan orang-orang yang lalu- lalang sejenak.
"Lihatlah kamu bahkan masih memanggilku seperti itu" Huda tersenyum "Kamu belum lupa dengan panggilanmu padaku Aya"
Alia menyunggingkan senyum smirk nya "Itu hanya masa lalu dan akan tetap jadi masa lalu"
"Masa lalu itu bisa jadi masa depan Aya"
"Berhentilah membual. Aku capek bicara denganmu.
"Aku ingin memperbaiki kesalahanku"
"Kamu ingat pernah membuat kesalahan?"
__ADS_1
"Jangan menyindirku"
"Semuanya sudah lewat dan terlambat. Saat ini kita hanya dua orang asing jadi jangan sembarangan menyapaku ketika berpapasan"