
"Waalaikumussalam"
Alia membukakan pintu dan seorang wanita dengan makeup nya yang menor masuk begitu saja sebelum dipersilahkan. Alia sudah tak asing dengan wanita tersebut. Dia tetangga sebelah yang selalu sibuk. Sangking sibuknya ia bahkan suka mengurus urusan orang lain dan Alia tak suka dengan sikapnya tersebut. Dialah Cindy.
Alia mengenalnya sejak dibangku SMP dan hubungan mereka juga tidak begitu akrab. Satu kejadian yang Alia ingat tentang Cindy bahwa dulu dikelas 9 ia pernah dilabrak dan dipermalukan perempuan yang sangat akrab dengan ibu tirinya itu. Kejadian tersebut disaksikan teman -teman satu sekolah. Cindy menuduh Alia melakukan hal yang tak fair, merebut lelaki yang amat ia sukai yang tak lain pacar Cindy sendiri.
Tentu saja itu hanya salah faham dikarenakan nama cewek yang dicari Cindy sama dengan Alia. Satu sekolah pun akhirnya tahu bahwa bukan Alia yang bersalah melainkan orang lain. Setelah tahu kebenarannya Cindy yang merupakan keponakan dari kepala sekolah itu bahkan tidak merasa bersalah dan tidak mau minta maaf pada Alia.
Mereka bertemu lagi setelah Alia kembali kerumah, dikediaman orang tuanya di Kota Bagan Batu. Saat itu Alia baru menyelesaikan pendidikan strata satu nya. Alia menyadari tetangga yang dilihatnya didepan rumah adalah Cindy meski Cindy tak acuh padanya tiap berpapasan saat hendak berangkat mengajar.
"Kamu Cindy kan?" Tanya Alia begitu mereka secara tak sengaja keluar bersamaan dari sebuah minimarket yang tak jauh dari komplek perumahan yang mereka diami.
"Iya. Emang kenapa Ada masalah lo ama gue?" Jawab Cindy acuh.
"Emang kenapa?" Alia mengulangi ucapan Cindy "Normalnya tu orang akan jawab seperti ini: Iya aku Cindy, kamu siapa ya?"
"Terserah gue lah mau jawab apa"
"Nggak usah sok pakai bahasa anak Jakarta lah kamu. Gak cocok tahu" Alia terkekeh.
"Suka-suka aku lah mau bicara pakai bahasa apa. Mulut juga mulut aku"
"Ih malah sewot, aku tanya baik-baik juga Cin. Kamu apa kabar? Aku baru tahu ternyata kita tetanggaan"
"Jangan sok kenal lah. Kita itu gak sedekat itu tahu pakai manggil aku Cin, Cin segala" Mata Cindy mencari-cari seseorang diparkiran.
"Ya kenal lah. Kamu kan yang dulu ngelabrak aku waktu SMP. Gara-gara cowok kamu salah labrak orang. Minta maaf juga enggak. Ingat gak kamu?"
Mata Cindy gelagapan. Ia bukan seorang yang mudah lupa. Ia ingat semua kejadian itu hanya saja ia tak mau mengungkitnya.
"Masa sih ada kejadian seperti itu? Kamu salah orang mungkin" Nada bicara wanita yang terlihat sosialitanya itu perlahan melembut.
"Cin, kamu disini ternyata. Tadi aku cariin didalam"
seorang lelaki yang begitu tampan bak model beserta kacamata yang sepertinya kacamata minus bertengger dimatanya berjalan menghampiri Cindy. Alia terkesima.
Sempurna sekali ciptaanmu Tuhan. MasyaAllah.
"Eh!" Cindy menepuk pundak Alia "Iler jatuh itu. Awas ya kalau berani suka sama suami aku"
"Iler apa? Siapa juga yang mau sama suami orang"
"Ya mana tahu kamu mau balas dendam"
"Balas dendam apa yang?"
"Ah...bukan apa-apa yang. Ini cuma lagi cerita tentang masa sekolah dulu. Ya kan Alia" Cindy tersenyum lebar, ia memainkan matanya pada Alia.
Kenapa ni anak? Tadi sok gak kenal sekarang pakai ngodein aku segala.
"Iya benar"
Anehnya Alia mau juga ikut dalam permainan Cindy.
Awal mula pertemuan Alia dan Cindy bisa dibilang
__ADS_1
tak begitu menyenangkan. Ia mengakui mengenal Alia ketika suaminya datang menghampiri. Cukup aneh dimata Alia. Terkesan plin- paln. Belakangan setelah sering melihat interaksi pasangan suami istri itu barulah Alia faham bahwa Cindy selalu mencoba melakukan yang terbaik didepan suaminya termasuk berbohong dan melakukan berbagai cara. Ia ingin selalu nampak baik dan dipuji pasangannya. Bukankah itu hubungan yang melelahkan? Kenapa tidak jadi diri sendiri saja. Kita tak selamanya bisa menjadi orang baik, pasti akan ada kesalahan yang kita lakukan baik sengaja maupun tidak. Setidaknya begitulah yang difikirkan Alia.
"Alia kenapa masih berdiri didepan sih? Sini deh. Aku ada kabar bahagia buat kamu" Suaranya yang khas dan terdengar cempreng membahana diruangan tersebut.
Inneke dan Rena sudah menemaninya duduk didepan tv. Rena tengah memainkan ponselnya sambil tiduran.
Lhoh? Anak itu sudah tenang rupanya. Baguslah.
Alia duduk disisi berseberangan dengan Cindy. Si pemilik suara cempreng yang tak diundang.
"Wah mbak makin kinclong aja ni" Puji Rena.
"Makasih lho Rena"
"Gelang kamu bagus ya Cin"
"Ah...Ini keluaran terbaru tante. Harganya juga ga murah, hampir 300. Dibeliin mas Arya waktu kita liburan ke Bali kemaren"
"Tiga ratus ribu kak?"
"Bukan Rena. tiga ratus juta"
"Wah, hebat" Puji Rena.
"Bagus banget lho ini"
"Tante suka?"
"Suka banget"
"Serius kamu Cindy"
"Iya tante. Apa sih yang nggak buat tante"
Wah, luar biasa Cindy. Gelang harga tiga ratus juta mau kamu beri secara cuma-cuma. Daebak! Kalau benar-benar iya, kamu murah hati sekali. Tapi bukankah uang sebanyak itu lebih baik digunakan untuk membantu orang-orang yang kesusahan?
"Makasih sayang" Inneke memeluk Cindy mesra
Wah, So sweet banget sih kalian. Aku aja yang bertahun-tahun tinggal serumah gak pernah dipeluk.
Alia mengunyah biskuit yang ada dimeja. Ia mendengarkan pembicaraan Cindy tentang liburannya ke Bali bersama suaminya yang kaya mendatangi berbagai tempat yang indah dan menginap di hotel bintang lima yang mewah. Berkali-kali ia membanggakan suaminya yang merupakan pengusaha sukses. Inneke juga sangat terkagum-kagum dengan cerita Cindy. Mereka berdua memang teman bicara yang serasi.
"Oh iya tante aku hampir lupa" Cindy mengeluarkan paper bag berukuran kecil dari handbag nya"Ini ada oleh-oleh dari Bali. Ini untuk tante"
"Makasi sayang"
"sama-sama tante"
"Ini buat Rena"
" makasi ya kak"
"iya. Oh iya...." Cindy melihat Alia yang asik mengunyah biskuit dimulutnya.
"Kenapa lihatin aku?"
__ADS_1
"Sorry ya aku lupa oleh-oleh buat kamu. Soalnya selama liburan kamu gak ada diingatan aku sih" Cindy tersenyum mengejek.
Alia balas tersenyum masam
Kalau enggak niat beliin ya gak masalah. Aku juga gak pernah mengharap apapun dari kamu wahai putri yang jago drama.
"Jadi kabar bahagianya apa kak?"
"Untung aja kamu ingatkan Kakak Ren. Jadi waktu di Bali kemaren aku jumpa sama sepupunya mas Arya. Dia seorang dosen di kampus Udayana, Bali. Dia ternyata masih singgle dan lagi nyari calon istri"
Cindy sumringah menjelaskan. Alia sudah dapat menebak kemana arah pembicaraan teman sejawat nya tersebut.
"Mau kamu jodohin sama Alia gitu?" Inneke menebak.
"Iya tante. benar sekali. Orangnya ganteng dan pekerja keras. Udah punya rumah sendiri dan penghasilannya juga ok"
"Umurnya berapa?"
"Masih tergolong muda kok. Umurnya 35"
"Ya udah kamu coba sama dia aja Alia"
"Aku gak tertarik tante"
"Kamu itu banyak milih ya makanya belum nikah juga sampai sekarang"
Lagi-lagi cuma bisa menyalahkan. Hati manusia tidak bisa dipaksa, tante.
"Aku gak mau terburu-buru. Dari cerita Cindy tadi, dia sepertinya sangat perfect. Tapi kenapa sampai umur segitu masih singgle?"
"Apa jangan-jangan dia itu nggak suka cewek" Rena menebak.
"Bukan"
"Dia pernah trauma karena hubungannya gagal?"
"Bukan juga. Udah jangan mikir yang aneh-aneh lah. Dia itu normal Mungkin karena mamanya otoriter aja ya makanya sampai sekarang masih jomblo"
"Otoriter gimana Cin?
"Karena belum merid jadi keuangan mamanya yang hendel. Tapi aku yakin kalau udah merid pasti keuangan istrinya yang ngurus lah. Gimana Al? Kamu minat gak?"
"Aku udah bilang tadi. Aku nggak tertarik"
"Sampai kapan sih kamu mau jomblo? Dikompleks ini yang seumuran kamu udah pada nikah semua"
"Tante, kalau udah tiba saatnya aku pasti akan merid kok. Tapi tolong jangan paksa aku atau coba menjodoh-jodohkan aku dengan siapapun"
"Keras kepala kamu ya. Nanti kalau udah gak ada yang mau sama kamu baru tau rasa"
"Maaf tante. Cindy, aku ucapin makasih sama kamu. Aku tahu niat kamu baik mau coba cariin aku pasangan. Untuk saat ini prioritas aku bukan merid tapi kerja dan cari uang"
"Kalau kamu nikah sama dia kan kamu tenang Alia, gak susah-susah kerja lagi" Cindy coba meyakinkan.
"Makasih karena tante dan kamu peduli sama aku. Aku tetap sama pendirian ku semula. Udah ya aku ngantuk"
__ADS_1
Alia masuk kekamarnya meninggalkan Inneke dan Cindy yang masih menyayangkan sikap Alia.