
"Kita pernah bersama"
"Tapi itu dulu"
"Apa gak bisa kita seperti dulu lagi?"
Kenapa kamu tiba -tiba hadir dan mengatakan hal ini Nan? Kalau dulu kamu seperti ini mungkin aku akan sangat bahagia tapi sekarang semua sudah berbeda. Bagaimana dengan anak dan istrimu dirumah? Tidakkah kamu memikirkannya sebelum mengatakan hal ini padaku?
"Sudahlah Pak Huda, jangan bahas ini lagi. Kepalaku pusing" Alia meninggalkan Huda yang mematung.
"Aku tidak bisa menganggapmu sebagai orang asing Aya"
**
Setelah mengantar Rena pulang, Alia kembali keluar menuju apotek terdekat. Ia membeli obat alergi pereda gatal-gatal ditubuhnya yang makin menjadi. Setelah membeli air mineral dan meminum obatnya Alia duduk sejenak didepan minimarket. Ia tak ingin berkendara, rasa pusing melanda sebagai efek samping dari obat yang ia minum.
"Kamu dimana Lia?" Sebuah chat masuk dari Rena.
"Aku ke apotek "
"Eh beneran kamu sakit?"
"Aku cuma pusing sedikit. Bentar lagi aku pulang"
"Ya udah pintunya aku kunci. Kamu masih nyimpan kunci cadangan kan?"
"Iya kunci aja"
"Ok"
Setengah jam Alia duduk menunggu sakit kepalanya reda. Gatal-gatal ditubuhnya pun mulai mereda meski masih terasa gatal tapi sudah tidak begitu menyiksa.
Alia melanjutkan perjalanan pulang. Dilampu merah motornya bersebelahan dengan Honda jazz biru. Kaca mobil disampingnya transparan menampakkan sepasang suami istri yang masih muda dan seorang balita dalam pangkuan ibunya. Alia tersenyum melihat pemandangan itu. Jauh dilubuk hati suatu saat ia juga ingin memiliki keluarga kecilnya yang bahagia.
Tapi hayalan itupun sirna begitu lelaki didalam mobil memalingkan wajahnya. Alia bisa mengenali siapa lelaki didalam mobi itu maupun wanita yang memangku balita.
Keluarga yang bahagia dan Huda? Apa maksudnya ini? Tadi kamu memaksaku mengingat masa lalu dan ingin memperbaiki kesalahanmu, tapi sekarang kamu bersama keluarga kecilmu. Apa yang sebenarnya kamu mau?
*
"Kenapa wajahmu murung begitu?" Rossi menarik kursinya kesamping Alia dan meletakkan bekal makan siangnya. Jam istirahat pertama tiba.
"Biasa aja"
"Aku gak bisa dibohongi"
"Aku ada sedikit problem dengan teman SMA"
"Oh ya? Siapa?"
"Aku kasi tahu juga kamu gak akan kenal"
"Problem apa?"
"Adalah masalah nya tu dulu waktu sekolah"
"Kok baru sekarang mencuat? Kan udah lama?"
"Tauk ah. Pusing aku. Jangan dibahas lagi ya" Alia mencomot bakwan udang milik Rossi.
"Eh, punya aku! Bekal kamu mana?"
"Aku gak bawa. Gak sempat buat"
"Tumben kamu gak sempat"
"Ya gitulah, mood ku buruk. Alergiku kambuh karena tadi malam aku makan daging"
"Udah tahu daging kenapa dimakan? Oh pasti Rena maksa kamu mesan menu daging kan? Tu anak sengaja lupa ya sampai nyamain pesanan" Rossi tiba-tiba mengomel.
"Jangan ngomong gitu. Selama ini Rena gak tahu kalau aku punya alergi sama daging sapi. Tiap dia makan daging aku gak pernah ikut"
"Karena gak diajak kan?"
"Hm, itu benar sih tapi lebih tepatnya karena aku gak mau mereka tahu aja"
"Alia....Alia... Kenapa sih kamu sabar kali menghadapi ibu dan anak itu? Perlakuan mereka juga gak selalu baik sama kamu"
"Tetap aja kan ibu dan anak itu keluargaku. Rena cuma tahu kalau ayahku itu adalah ayahnya. Ayah juga sayang sekali sama dia"
Semenjak pulang ke kampung halaman dan menyelesaikan pendidikan S1 nya, Alia hanya punya Rossi sebagai orang terdekat. Mereka menjadi akrab ketika melakukan interview diwaktu yang sama dan diterima di sekolah dasar yang kini menjadi tempat Alia dan Rossi mendedikasikan diri sebagai tenaga pendidik.
Keakraban itu sudah terjalin selama lima tahun. Baik Alia dan Rossi mereka berdua sudah saling tahu tentang keadaan keluarga masing-masing sebab kerap saling bercerita tiap harinya. Rossi sebagai tempat sharing dan konsultasi atas permasalahannya sehari-hari.
"Aku gak tahu bisa sabar atau nggaknya kalau jadi kamu Lia"
"Kenapa harus jadi aku? Rossi yang kukenal harus jadi dirinya sendiri"
"Aku bilang kan seandainya, Lia"
"Gak usah dibayangkan"
"Haduh kamu ini memang kadang-kadang ngeselin"
"Tapi ngangenin kan?" Alia memainkan matanya.
"Tauk ah"
Vita masuk keruang guru bersama seorang siswa yang membawa buku-buku ditangannya.
"Hai Alia"
"Hai Vit"
"Udah sarapan?"
"Belum"
"Mau aku pesankan gak? Aku juga belum sarapan" Vita duduk di kursinya disebelah Pak Sulli.
"Boleh, aku nasi goreng aja pakai telor mata sapi"
__ADS_1
"Oke. Aku chat ibu kantin dulu ya"
"Makasih Vit"
"Sama-sama"
Rossi heran melihat interaksi Alia dan Vita yang tak seperti biasa.
"Sejak kapan kalian akrab?"
"Sejak kemaren"
"Kemaren? Ada kejadian apa? Dia kan gak ikut belanja sarparas"
"Ga ada kejadian apa-apa, lagipula apa salahnya kalau saling tegur sapa"
"Nggak salah sih" Rossi melanjutkan sarapannya.
Ruang guru kembali ramai .Para pengajar baru kembali dari ruang kelas. Jam istirahat pertama saatnya menyantap sarapan yang telah tiba dipesan.
Alia menyantap nasi gorengnya bersama Rossi sementara Vita sarapan dengan teman akrabnya Ajeng guru IPA, Vera guru IPS dan Riko guru Bahasa Inggris. Sarapan mereka lahap dengan diselingi ngerumpi.
Huda masuk cukup terlambat. Ia datang dengan bola dan raket ditangan. Rumpian Vita sejenak mereda.
"Pak Huda udah sarapan?" Vita menghampiri meja Huda, ia meletakkan sebungkus lontong sayur dalam piring.
"Belum Buk Vita"
"Kebetulan tadi saya pesan dua bungkus. Ini buat Pak Huda aja"
"Makasih banyak Bu Vita"
"Sama-sama Pak Huda. Dimakan ya" Vita kembali kemeja kerja semula disambut heboh tiga anggota gengnya.
"Heboh kali sih mereka"
"Biarkan aja, mereka memang selalu begitu kan"
"Vita juga kentara kali melancarkan serangan PDKT. Apa di gak tahu ya kalau Pak Huda itu sudah punya anak dan istri? Mana cantik pula tu istrinya. Sebanding dengan Miss Indonesia, anaknya juga comel kali"
"No comment"
"Ah kamu ni selalu aja begitu kalau aku bahas Huda. Jangan-jangan kamu ada sesuatu ya?" Rossi curiga.
"Apa sih? Udahlah habiskan aja sarapan kamu"
"Aneh. Aku seperti merasakan ada sesuatu. Iya kan?"
"Nggak" Alia jawab cepat.
Mereka berdua bergegas menyelesaikan sarapannya.
"Pak Huda, ini sendoknya. Tadi saya lupa" Vita kembali lagi kemeja Huda.
"Makasih buk"
"Sama-sama Pak"
Aku kenapa ya? Kok rasanya aneh begini? Seperti ada rasa gak suka. Tapi kenapa ya?
Alia duduk dibarisan paling belakang diruang majelis guru sehingga semua yang terjadi didepannya bisa ia saksikan. Mau tidak mau dan suka tidak suka, bertemu seseorang dari masa lalu itu akan menjadi keseharian dari seorang Alia Nugraha. Ia akan lebih sering berpapasan, bersitatap dan berbicara dengan seorang makhluk bernama Huda Kinanta Pramudya. Seperti sekarang pandangan mereka bertemu.
Huda tersenyum seperti biasa "Sarapan Alia"
"Makasih"
"Alia aja ni pak? Saya gak ditawari?" Rossi tak terima namanya tak disebut.
"Sarapan Bu Rossi"
"Iya pak. Terimakasih" Rossi merasa puas.
"Tumben dia nyebut kamu pakai nama aja? Gak pakai bu" Bisik Rossi.
"Gak tahu ya dan aku juga gak mau tahu"
"Ih ...Lia. Kamu kok jadi cuek begini sih?"
Bel masuk berbunyi. Waktunya jam pelajaran keempat dimulai. Satu persatu guru-guru menuju kelas.
"Tu udah bel. Masuk sana" Alia mendorong pundak Rossi.
"Kok ngusir sih?"
"Bukan ngusir tapi memberi tahu"
"Alasan"
"Whatever"
"Sok Inggris kamu"
"Biarin"
"Aku masuk dulu ya"
Alia mengangguk.
"Eh, kamu sekarang gak ada jam kan?"
"Iya. Kenapa?"
Rossi melirik Huda, guru baru itu masih menyendok sarapannya dengan tenang. Seketika Rossi tersenyum jail.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu?"
"Bu Rinka belum balik dan masih ngurus pembayaran pajak, sedangkan Pak Sulli diruang kepsek dan kalian berdua...."
"Udah ah gak usah mikir yang macam-macam. Itu suami orang"
"Iya deh aku masuk dulu ya"
__ADS_1
**
"Kamu lagi gak ada jam ya?" Huda memecah keheningan diruang guru yang hanya ada mereka berdua.
"Iya"
"Kamu udah lama ngajar disini?"
"Udah lima tahun"
""Oh...Kulihat dipapan nama guru kalau gelar kamu S.Pd?"
"Iya"
Huda tak mau mengakhiri pembicaraan meski Alia hanya menjawab seperlunya saja.
"Kenapa gak lanjut S2?"
"Gak ada biaya"
"Bukannya dulu kamu siswa berprestasi? Seharusnya bisa ambil beasiswa kan?"
Alia menghentikan kesibukannya mengoreksi buku tugas siswa. Ia memijat jidatnya yang tak pusing. Huda mengajaknya berbincang seolah mereka teman akrab.
"Aku udah muak belajar. Bosan"
"Setahuku kamu gila belajar"
"Gila belajar?"
"Iya"
Alia terkekeh. Ia baru tahu mengetahui tentang panggilan tersebut.
"Kata siapa?"
"Saat SMA semua tahu kalau kamu begitu"
"Itu dulu"
"Jadi sekarang sudah gak begitu?"
"Seiring berjalannya waktu tiap orang akan berubah"
"Tapi aku nggak begitu"
Alia menyergit. Alisnya bertaut. Menerka kemana arah pembicaraan Huda.
"Perasaan aku gak pernah berubah terhadap kamu"
Dia mulai lagi.
"Pak Huda, stop bicara tentang hal yang menggelikan seperti itu"
"Dari dulu hatiku gak pernah berubah Aya"
"Kita ini rekan kerja Pak Huda dan aku gak mau merasa gak nyaman ketika berada diruangan ini. Jadi tolong berhenti membicarakan masa lalu karena sekarang kita berada dimasa depan"
"Maaf Aya"
"Aku juga pernah bilang kan jangan panggil aku dengan nama itu"
"Aku gak bisa janji"
"Kenapa?"
"Aku masih belum bisa melupakan kamu"
Alia tertawa dalam hati mendengar penuturan Huda. Meski kadang masih teringat dan merasakan sakit dikarenakan perbuatan Huda dulu diwaktu SMA namun lain halnya jika saat bicara berdua. Hati Alia diselimuti ego dan tak suka.
"Berhenti bercanda dan fokus saja pada kehidupan anda sekarang Pak Huda"
"Fokusku sekarang adalah kamu"
Alia menarik nafas dalam lalu membuangnya. Ia benar-benar muak melihat Huda yang seperti itu.
"Fokusku hanyalah kerja dan uang"
"Seperti bukan kamu saja. Kamu banyak berubah"
"Tentu saja aku berubah. Aku bukan Alia delapan belas tahun yang menangis karena kamu putuskan demi uang taruhan"
"Aku minta maaf atas kesalahanku dimasa lalu"
"Semua udah lewat. Aku dan kamu cuma orang asing yang berada di satu tempat kerja. Tolong jangan mengusikku lagi. Aku merasa sangat terganggu"
Huda mendekat, ia berdiri tepat didepan meja Alia. Menatap lekat wanita itu namun Alia tak Sudi melihatnya.
"Maua apa kamu?"
"Aku banyak salah sama kamu. Aku minta maaf atas perbuatanku dulu"
Harus ya minta maaf saat disekolah dan dikantor berdua begini? Gak kreatif kali sih nyari tempatnya.
"Aku udah bilangkan kalau itu udah berlalu"
"Meski udah berlalu apakah kamu sudah memaafkanku?"
Alia diam. Hatinya tak karuan.
Memaafkanmu? Aku tidak tahu aku sudah memaafkanmu atau belum. Aku kesal tiap melihatmu. Kenapa kamu harus muncul lagi dikehidupanku?
"Kenapa diam? Apa kamu sudah bisa memaafkanmu?" Huda ulangi pertanyaan nya.
Tet!!!
Bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi. Menjadi alasan bagi Alia keluar dari pembicaraan yang tidak ingin dilanjutkannya.
"Udah bel. Aku mau masuk kelas"
"Ok. Tapi pembicaraan kita aku anggap belum selesai"
__ADS_1
Alia tak menggubris. Ia tinggalkan Huda yang masih berdiri didepan mejanya.