
"Perkenalkan bapak dan ibu guru sekalian, ini Pak Huda , guru olahraga kita yang baru. Mulai besok beliau ini yang akan bertugas menggantikan Pak Taufan selaku guru olahraga kita sudah pindah mengajar. Huda, ayo perkenalkan diri kamu"
Huda mengangguk mulai menyapa para guru diruangan tersebut "Perkenalkan bapak ibuk semuanya, nama saya Huda Aditiawan, bapak ibu sekalian bisa panggil saya Huda dan sebagai guru baru, kedepannya saya mohon bimbingan bapak ibu semua. Terimakasih"
Beberapa tepuk tangan terdengar dan tentunya dari para jomblo yang mendadak menjadi fans Huda dan ditanggapi senyuman ramah oleh Huda yang membuat mereka makin kerkesima.
"Pasti kita bantu pak" Ujar Bu Reni.
"Iya jangan sungkan-sungkan jika butuh bantuan" Ujar Vita selaku guru kesenian.
"Kita akan bantu dengan senang hati" Rossi ikut menjawab
Sambutan yang positif untuk seorang guru baru yang berparas rupawan.
"Terimakasi bapak dan ibu semua"
"Mungkin itu dulu perkenalannya ya bapak ibuk semua, dan saya mohon juga untuk dapat membimbing Pak Huda ini karena ini kali pertama ia mengajar" Pak Haris menepuk-nepuk pundak keponakannya
Seperti tiupan angin segar di Padang gersang, kehadiran Huda menambah stimulus bagi guru-guru muda yang masih singgle dan jumlahnya separuh dari jumlah staf pengajar di SDS Harapan Bangsa. Beberapa orang terkagum-kagum, sebagian saling berbisik dan menumbuhkan ambisi untuk mendapatkan si guru baru dan ada seseorang yang tidak peduli dengan itu semua.
Dari balik jendela kaca Alia fokus pada anak-anak yang berlarian dilapangan. Pandangannya tak teralihkan sejak Pak Haris memperkenalkan keponakannya.
Sejak ia teringat ucapannya beberapa waktu lalu.
"Pertemuan pertama adalah takdir. Jika pertemuan kedua diikuti pertemuan selanjutnya maka apakah ini suatu kebetulan?"
Alia mengusap wajahnya seolah frustasi. Mulai esok dan seterusnya ia akan selalu bertemu dan berpapasan dengan Huda. Tentu itu hal yang diinginkan Rossi dan jomblo lainnya tapi tidak bagi Alia. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Saat jam pulang sekolah hujan turun begitu derasnya. Siswa-siswi banyak yang dijemput orang tua mereka. Beberapa guru menerobos hujan dengan mantel yang mereka kenakan dan sebagian ada juga yang dijemput dengan mobil.
Alia mengamati semuanya dari kursi yang ia tempati didepan lobi. Ia menanti hujan reda dikarenakan lupa membawa jas hujan.
Sudah hampir setengah jam, lalu lalang murid-muridnya sudah tak terlihat dan menyisakan lengang. Hanya beberapa siswa yang menunggu dihalte depan sekolah termasuklah ia menunggu didepan lobi.
Alia sudah bicara pada Pak Haris mengenai ia yang ingin meminjam uang setelah atasannya itu memperkenalkan Huda sebagai guru baru. Akhirnya ia bisa bernafas lega. Meskipun uang pinjaman ia akan mengembalikan begitu tiba waktu gajian. Alia sangat bersukur atasannya itu mau meminjamkan uang padanya. Pak Haris memang dikenal sebagai pimpinan yang tegas dan suka menolong dan tak sungkan meminjami uang jika kondisi keuangannya memang baik.
Alia masih menunggu hujan reda sekaligus menunggu Pak Haris. Atasannya itu akan memberikan uangnya begitu jam pulang tiba Ia telah meninggalkan area sekolah setelah Alia menemuinya untuk meminjam uang. Ia ada urusan diluar sekaligus menarik uang tunai untuk diberikan pada Alia. Alia tahu itu dan masih menunggu, namun sampai sekolah sepi Pak Haris belum juga kembali.
Rasa sungkan menghentikan Alia yang sudah mengetik beberapa kalimat di watshapnya Ia ingin menanyakan keberadaan atasannya tersebut.
Pak Haris sudah bersedia meminjamkan uangnya. Beliau tidak mungkin lupa. Sebaiknya aku tunggu saja. Mungkin sebentar lagi kembali.
Alia masih fokus dengan ponselnya hingga sebuah mobil berhenti diparkiran. Seseorang yang baru turun dari mobil menghampiri dan menyebut namanya.
"Alia"
Alia mendongak. Huda sudah berdiri didepannya. Ia melihat ke mobil Pak Haris yang terparkir tapi tak melihat sipemilik mobil.
"Pak Haris sudah pulang. Itu mobilnya aku yang bawa"
"Oh...Gitu" Alia mengangguk.
"Ini" Huda memberikan amplop putih "Tadi om ku menitipkan ini untuk diberikan ke kamu"
Alia terbelalak. Hanya untuk sekian detik saja ia sudah memasang ekspresi sewajarnya.
Uang pinjaman ku. Apa Pak Haris memberitahunya? Apa dia tahu ini uang pamannya?
"Ini ambil lah uang gaji kamu. Tanganku sudah pegal ini"
__ADS_1
"Ah...Iya"
Amplop putih itu beralih ke tangan Alia. Huda tersenyum simpul melihatnya.
Kenapa dia suka sekali tersenyum? Dasar si tukang tebar pesona.
"Makasih"
"Sama-sama"
"Mau pulang bareng? Kebetulan kita satu arah dan hujannya juga belum reda"
Alia menyergitkan dahi. Merasa tak percaya terhadap apa yang baru didengarnya.
Pulang bareng? Apa laki-laki ini salah minum obat? Apa dia benar-benar lupa tengah bicara dengan siapa dan apa yang sudah dia lakukan dulu?
"Kamu duluan aja. Aku bawa motor"
"Kalau gitu aku duluan ya"
Alia mengangguk. Huda meninggalkannya menuju parkiran melajukan mobil yang dibawanya hingga kemudian menghilang bersama hujan yang kian deras.
Alia menatap amplop dalam genggaman. Cukup mengejutkan baginya seorang Huda bersedia repor-repot menemuinya hanya untuk memberikan sebuah amplop. Lelaki itu bisa saja acuh tak peduli tapi kini ia seperti orang yang berbeda. Ia seperti kembali pada lelaki yang dulu dikenal Alia.
Kenapa sikap seseorang bisa berubah dengan mudahnya. Apa karena dia sudah menikah dan memiliki keluarga? Itu yang membuatnya menjadi lembut dan penuh dengan keramahan? Apakah ini Huda yang sebenarnya?
Astaghfirullah. Sadarlah Alia. Hati manusia itu milik penciptanya dan Sang Pencipta lah yang punya hak untuk membolak-balikkan hati tiap hambanya. Dari baik menjadi buruk maupun sebaliknya. Jangan heran jika melihat sikap seseorang berubah karena memang begitulah kehidupan. Ingatlah dan kamu harus selalu ingat, dia hanya masa lalumu.
Alia menghela nafas
Uang gaji? Ah...Pasti Pak Haris yang bilang kalau ini uang gajiku. Syukurlah. Mengenai pinjaman ini hanya aku dan Pak Haris yang tahu.
"Ini uang kuliah kamu"
Rena meletakkan remot tv. Ia menghitung uang yang baru diberikan Alia.
"Jumlahnya sudah pas untuk melunasi uang pendaftaran"
"Aku cuma mau mastiin aja mana tahu kurang satu lembar"
"Benar yang dibilang Rena. Lebih baik dihitung lagi mana tahu kurang. Kalau memang kurang kan bisa langsung minta sama kamu"
Alia masih berdiri. Ia yang tadinya hendak bergabung menonton tv bersama adik dan ibu tirinya pun menjadi enggan.
"Ya udah hitung aja lagi"
Alia berbalik menuju kamar. Didepan kamar ia termenung sejenak memikirkan kondisi keuangan yang makin menipis. Honor mengajar les belum keluar dan uang yang ada hanya cukup untuk biaya transportasinya mengajar.
"Tunggu!" Rena berlari mengejarnya yang sudah tiba didepan kamar.
"Ada apa?"
"Uang jajan aku mana?"
"Uang jajan?"
"Iya uang jajan untuk nanti dipakai waktu perjalanan ke Pekanbaru. Gak mungkin kan aku gak pegang uang jajan. Aku mau satu juta"
"Ha? Satu juta?"
__ADS_1
"Iya! Satu juta Alia"
"Aku udah gak ada uang lagi Ren"
"Bohong. Kamu sengaja kan gak mau kasi"
"Aku gak bohong. Uang yang tadi aku kasi aja , itu aku pinjam. Aku masih belum gajian Ren"
"Pelit! Alia pelit!" Rena meninggikan suaranya
"Rena kamu bisa gak sih ngerti untuk sekali ini aja"
"Aku enggak mau tahu! Mama!" Rena menghentak-hentakkan kakinya menimbulkan kegaduhan.
"Ada apa sih ini? Rena kamu kenapa?" Inneke menghampiri putri kesayangannya dengan cemas.
"Alia gak mau ngasi aku uang jajan ma"
"Cuma uang jajan aja kenapa kamu pelit sekali sih Alia?"
"Bukan begitu tante"
"Bukan begitu bagaiman?"
"Aku lagi gak ada uang. Kalau ada pasti aku kasi"
"Gak mungkin kamu gak ada uang sepeserpun"
"Cuma cukup untuk aku pergi ngajar tante"
"Nanti kan juga gajian. Kamu kan bisa pinjam uang teman kamu dulu. Apa susahnya sih mengeluarkan uang lima puluh atau seratus ribu?"
"Aku mau satu juta ma" Rena yang sudah merengek dilantai bersuara.
"Ha? Satu juta?" Inneke memandang Alia.
"Aku enggak punya uang satu juta Tante"
"Kamu jajan apa sih sampai satu juta?" Inneke balik bertanya pada putrinya.
"Buat jajan aku nanti dijalan"
"Ngapain juga kamu jajan dijalan?"
"Pokoknya aku mau satu juta!"
Tak hanya Alia, Inneke pun dibuat pusing oleh Rena yang tingkahnya masih kekanakan. Dijelaskan bagaimanapun ia tidak akan faham dan tidak akan mau mengerti bagaimana susahnya mencari uang. Sejak kecil gadis itu selalu mendapatkan apa yang dia mau.
"Coba lah kamu hubungi teman kamu yang bisa meminjamkan kamu uang satu juta atau siapakah yang bisa diminta bantuannya. Aku gak tahan lihat Rena merengek seperti ini"
"Tante, uang kuliah itu aja aku susah minimnya masa mau minjam lagi?"
"Ya ampun Alia kamu ini kok begini sih disuruh orang tua. Nurut aja kenapa sih?" Inneke mulai kesal.
"Tapi aku gak bisa minjam lagi tante"
"Assalamualaikum"
Suara salam dari luar rumah menghentikan perdebatan Alia dan Inneke.
__ADS_1