
Huda kembali ke apartemennya yang berjarak dua puluh menit dari tempatnya mengajar. Hari pertama berjalan dengan lancar. Sambutan rekan-rekan kerja maupun para siswa juga baik. Ia meletakkan totebag dari Vita dan box kue tar pemberian muridnya dimeja dapur. Huda tak berminat memakannya, ia hanya meliriknya sejenak kemudian beranjak keruang kerja.
Huda membuka laptop dan mendapati beberapa email dari Hans, sekretaris papanya. Isinya masih sama seperti email yang yang ia terima saat masih tinggal di Amerika. Pimpinan perusahaan elektronik terbesar di Indonesia yang sekarang menetap di negri Kangguru bersama istri barunya itu memang memintanya untuk meneruskan perusahaan yang ia kelola.
Huda tak berminat sedikitpun bergabung dalam perusahaan papanya. Meski ia sangat sayang dan hormat pada lelaki paruh baya yang menurunkan paras rupawan pada dirinya ia tak ingin ikut campur dalam bisnis yang sudah puluhan tahun dikelola papanya. Ia masih belum bisa menerima dan memaafkan perbuatan lelaki itu yang menyakiti ibunya hingga menyebabkan ibunya depresi berat dan harus dirawat disalah satu pusat rehabilitasi khusus kejiwaan didareah Jawa Timur. Papanya diam-diam mendua dan akhirnya menikah lagi dengan wanita yang tak lain adalah sahabat ibunya sendiri.
Seseorang yang selalu ia panggil tante seketika berubah menjadi ibu. Hal yang sangat sulit ia terima , baginya hanya ada satu ibu didunia dan ibunya yang biasa tersenyum lembut kini hanya bisa memperlihatkan tatapan kosong dan selalu menjerit sambil menangis ketika diajak bicara.
Huda sudah mengikuti keinginan papanya untuk menetap di Amerika dan melanjutkan pendidikan disana bahkan ibunya rela jauh dari keluarga. Tapi yang menetap hanya ia dan ibunya saja sedangkan papanya selalu bepergian keberbagai negara dalam waktu lama.
Karena menuruti keinginan papanya Huda juga harus meninggalkan seseorang yang amat ia cintai dikala remaja. Cinta dan juga pacar pertama bagi Huda. Seorang gadis yang memikat hatinya ketika ia baru pindah kekota itu, salah satu daerah yang memiliki hasil minyak yang banyak di Pulau Sumatra. Papanya menetap sejenak untuk membuka salah satu cabang pabrik elektronik disana di kota Bagan batu, Rokan Hilir.
Di sanalah Huda mengenal gadis itu. Alia Nugraha yang kemudian sering ia panggil Aya. Hanya satu tahun Huda menempuh pendidikan SMA nya disana hingga kemudian terpaksa meninggalkan Indonesia dan menyakiti Aya.
Huda ingin tetap tinggal dan menyelesaikan pendidikannya di Tanah air tapi papanya memaksa, Wisnu tak pernah membiarkan anak dan istri jauh dari dirinya. Wisnu hanya menganggap gadis yang dekat dengan putra semata wayangnya itu cuma menginginkan harta dan akan jadi penghalang atas masa depan Huda. Ia tak ingin itu terjadi. Alhasil ia mengancam akan menyakiti Alia jika putranya itu tidak mau meninggalkan Alia.
Huda tidak bisa mengatakan kebenaran bahwa papanya memaksa ia memutuskan Alia yang berasal dari keluarga biasa. Papanya akan melakukan hal yang diluar batas jika Huda tak menuruti papanya. Huda tak ingin hal itu terjadi. Ia tahu papanya bisa melakukan apapun jika keinginannya tak terpenuhi. Huda menyerah. Ia tinggalkan Alia dengan cara menyakitinya.
"Kita putus saja Aya"
"Tapi kenapa Nan?"
"Kita nggak cocok"
"Atas dasar apa kamu bilang kita nggak cocok? Kita udah jalan hampir tiga bulan Nan"
"Kita berbeda Aya"
__ADS_1
"Kita nggak harus sama Nan, kita berdua hanya perlu saling memahami"
"Itu dia masalahnya! Aku nggak bisa terus-terusan memahami kamu! Aku capek!" Huda meninggikan suaranya.
"Kamu kenapa begini sih Nan?"
"Aku begini karena nggak tahan sama sikap kamu!"
"Memangnya aku kenapa? Apa kesalahan yang udah aku lakukan?"
"Kamu selalu minta diperhatikan, selalu cari perhatian dan selalu merasa lebih hebat dari orang lain dan aku nggak suka"
"Kapan aku pernah begitu?"
"Udahlah aku capek ngomong sama kamu!" Teriakan Huda makin menjadi.
"Aku juga nggak suka cewek yang cengeng seperti kamu" Huda menunjuk wajah Alia.
"Bagaimana dengan janji kamu?"
" Janji aku?"
"Kamu udah janji kita akan terus bersama walau apapun terjadi. Kamu udah janji untuk jadi imamku dimasa depan nanti Nan"
"Kamu percaya sama yang semua aku bilang waktu itu?"
"Jadi kamu berbohong?"
__ADS_1
"Menurutmu?"
Alia yang ditanya balik tak ingin selesai begitu saja " Lalu bagaimana dengan gelang ini?"
Alia menunjukkan gelang perak yang ia kenakan. Gelang itu sebenarnya terbuat dari emas putih
berkualitas tinggi. Gelang tersebut dibeli ibunya dari salah satu toko perhiasan di Paris. Huda sengaja meminta gelang itu dari ibunya sebab ia tahu ibunya punya banyak koleksi perhiasan . Huda membujuk ibunya berhari-hari demi mendapatkan gelang tersebut. Bosan dengan rengekan putranya, Arini akhirnya memberikan gelang kesayangannya itu pada Huda. Gelang yang didesain khusus dengan inisial namanya itupun ia relakan. A untuk Arini tapi bagi Huda, A untuk Aya.
"Itu cuma gelang murahan yang aku beli dipinggir jalan. Udahlah kita putus saja karena aku sudah punya pacar baru yang lebih pantas untuk berdampingan denganku"
"Tega kamu Nan"
"Kamu harus terima kenyataan kalau kamu nggak pantas berdampingan denganku. Kamu harus sadar siapa diri kamu Alia Nugraha! Kamu cuma putri mantan tentara yang nggak punya kedudukan apa-apa!!"
Plakk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Huda.
"Aku terima semua hinaan kamu karena aku masih sayang dan cinta sama kamu Nan. Tapi tidak dengan menghina ayahku. Ayahku tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan kita dan kamu tidak punya hak untuk menghinanya"
Air mata Alia bercucuran. Tangisnya terisak. Huda tak menduga gadis didepannya akan menangis seperti itu.
"Ini gelangmu aku kembalikan" Aya memasukkan gelang itu dalam genggaman Huda "Seharusnya kamu tidak usah berjanji jika tidak bisa menepati. Kamu juga jangan berani memulai hubungan jika tidak bisa bertanggung jawab akan hubungan tersebut. Kamu jangan cuma bisa menyakiti pasanganmu. Ingat Nan, bukan aku yang menemuimu lebih dulu, tapi kamu yang selalu muncul dihadapan ku dan memintaku untuk menjadi pacarmu. Itu kamu lakukan dihadapan satu sekolah. Kamu yang membuatku jatuh cinta sama kamu tapi kamu juga yang menyakiti hatiku" Alia menjeda kalimatnya, menyeka air mata yang tak ingin berhenti mengalir dan memandang wajah Huda lekat-lekat untuk yang terakhir "Kita kenalan dengan cara baik-baik dan hubungan ini harus diakhiri dengan baik-baik pula"
"Aku cuma ingin putus tapi kenapa kamu lebai begini sih?"
Alia tak menyangka setelah semua yang ia katakan , Huda hanya meresponnya dengan dingin seperti itu.
__ADS_1