Dua Cinta Alia

Dua Cinta Alia
Guru Idaman


__ADS_3

"Kenapa mata kamu?"


Jam istirahat tiba. Rossi dan Alia baru kembali keruang guru.


"Gak kenapa-kenapa"


"Bohong"


Alia diam. Ia duduk dan meletakkan buku-buku tugas siswa dimeja kerjanya kemudian mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas.


"Lia"


"Hem"


"Kamu menangis semalaman?"


Percuma Alia berbohong. Rossi memang selalu lebih peka.


"Ada masalah apa?" Alia masih diam, ia tak berminat menjawab. Hanya membuat hatinya sedih jika mengingat ucapan Cindy tadi malam.


Suara ribut-ribut memenuhi ruangan guru seketika. Didepan pintu masuk banyak murid mengerubungi seseorang.


"Ada apa sih didepan pintu?" Bu Rinka, ibu dua anak itu yang sedari tadi fokus dimejanya mendekat kemeja Rossi.


"Nggak tau tu buk, tumben-tumbenan anak-anak begitu. Mengerubungi artis sepertinya"


"Biasalah buk kalau idola baru memang begitu" Ujar Pak Sulli yang mejanya tak jauh dari pintu masuk"


"Idola baru bagaimana pak?" Tanya Rossi tak faham.


"Guru baru kita lho Rossi. Sekarang jadi idola baru bagi anak-anak"


"Oh...Pantaslah"


Rossi berdiri menuju daun pintu meminta murid-muridnya kembali kekelas sebab Huda dari tadi kesulitan keluar dari kerumunan murid-muridnya. Imej Rossi yang garang bagi anak-anak sudah tentu ampuh untuk membubarkan kerumunan tersebut.


"Terimakasih Bu Rossi atas bantuannya" Ucap Huda begitu mereka duduk di kursinya masing-masing.


"Sama-sama Pak Huda" Rossi sumringah mendapatkan ucapan terimakasi dari orang yang ia kagumi.


"Wah Pak Huda, baru hari pertama sudah digandrungi anak-anak" Pak Sulli duduk disebelah Huda yang berjarak tiga meja dari Alia.


"Saya tidak menyangka respon anak-anak akan begitu Pak Sulli"


"Awal-awal memang begitu Pak Huda, tapi nanti kalau sudah lama-lama gak akan begitu lagi" Bu Rinka memberi tahu.


"Iya buk. Antusias anak-anak sangat besar ketika saya masuk kelas"


"Lagipula Pak Huda wajah tampan begini kenapa tidak jadi model saja, ya jelaslah digandrungi banyak orang apalagi anak-anak. Guru-guru disini saja langsung banyak yang ngefans. Ya kan Bu Alia?"


"Saya tidak begitu pak. Mungkin saja Rossi" Jawab Alia datar. Ia melihat Huda sejenak.


Huda tersenyum simpul mendengar ucapan Alia.


"Bu Alia tidak termasuk fans Pak Huda ya?"


"Nggak pak. Kenapa saya harus?"


"Saya pikir Bu Alia juga ngefans sama guru baru kita"


"Nggak"


Alia sibuk mengunyah bekal sarapan yang ia bawa dari rumah dan Yossi pun begitu. Huda terus memperhatikan Alia yang tak acuh padanya. Wajah yang dulunya begitu akrab dengan senyuman yang selalu merekah kini tanpa ekspresi tiap kali ia melihatnya. Sebuah luka yang dalam memang butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Meski waktu silih berganti dan tahun-tahun berubah tak ada yang tahu luka itu sudah sembuh ataupun belum. Huda sadar dan masih ingat betul ia pernah menorehkan luka dihati Alia.


"Pak Huda"


Huda tersentak "Ia pak"


"Kok melamun? Pasti Pak Huda tidak menyangka kalau Bu Alia nggak ngefans sama bapak kan?" Pak Sulli berucap pelan disebelah Huda.


"Ah Pak Sulli ini bisa saja. Saya tidak memikirkan itu pak"


"Saya dengar dari Pak Haris kalau Pak Huda ini masih jomblo ya?"


"Iya pak Itu benar"


"Udah ada calon?"


"Masih belum pak"


"Lho, ganteng gini belum punya calon? Masyaallah"


Huda tersenyum masam. Ia tahu Pak Sulli menyindirnya.


Lagi pula tidak semudah itu menemukan yang sefrekuensi pak.


"Guru-guru disini banyak yang masih jomblo pak. Kemaren juga udah kenalan kan. Ada yang ngeklik dihati nggak?" Goda Pak Sulli.


"Menurut saya guru disini ramah-ramah. Kalau masalah ada yang saya suka atau tidaknya dalam artian spesial saya juga belum tahu pak karena kan saya masih baru juga disini dan belum tahu juga karakter masing-masingnya bagaimana. Saya juga masih butuh penyesuaian dan seiring berjalannya waktu kita juga akan lebih mengenal tiap individu disini seperti apa wataknya rekan kerja kita"


"Iya benar itu Pak Huda"

__ADS_1


"Oh iya, kalau menurut Pak Huda, Bu Alia itu bagaimana?"


Huda melirik Alia sejenak "Dia baik"


"Walaupun Bu Alia itu terkesana gak cuek tapi aslinya dia baik dan perhatian. Anak-anak banyak yang sayang sama dia"


Dia memang layak untuk disayangi pak.


Pandangan Huda dan Alia bertemu. Alia memilih membuang pandangan. Ia tak sudi melihat Huda lebih lama.


"Aduh bapak-bapak berdua ini apa yang dibicarakan sih sampai bisik-bisik segala? " Bu Reni baru masuk keruangan guru.


"Tau tu buk dari tadi bisik-bisik berdua" Sambung Bu Rinka.


"Mencurigakan Pak Sulli ini jangan-jangan Pak Sulli mau jodohkan Huda sama anak bapak ya?"


"Apa?!" Teriak Rossi.


Alia yang sedari tadi makan dengan khidmat terkejut. Ia menjatuhkan sendoknya dan jantungnya berdetak lebih kencang. "Astaghfirullah. Apaaan sih kamu Rossi? Aku kaget tahu" Alia mengusap-usap dadanya yang terasa nyeri.


Rossi terkekeh "Maaf Lia. Tadi itu spontan"


"Kenapa kaget begitu Bu Rossi?"


"Impossible. Masa iya Pak Sulli mau jodohin anak bapak sama Huda?"


"Nah dua dara ini kenapa?" Bu Reni menghampiri meja Alia.


"Gak kenapa-napa Bu" Jawab Rossi membukakan botol minum untuk Alia.


"Bu Reni ini ada-ada saja. Mana mungkin saya menjodohkan anak saya sama Pak Huda. Anak pertama saya memang sudah memasuki usia untuk menikah tapi dia laki-laki dan sudah punya calon pula.


"Alhamdulillah" Rossi merasa lega.


"Sebentar lagi lah itu Pak Sulli. Jangan lupa undangannya ya biar makan daging kita"


" Aman itu Bu Reni. Asalkan kadonya yang besar ajalah"


Gelak tawa terdengar nyaring seketika. Bu Reni teringat tujuan awalnya menghampiri meja Alia.


"Alia nanti sepulang sekah temani ibuk belanja keperluan sarpras ya"


"Iya buk"


"Lho? Kemaren nggak jadi belanja bareng Pak Taufan ya buk?"


"Belum jadi Rossi. Pak Taufan sibuk mengurus kepindahannya.


"Oh begitu ternyata"


"Ok buk"


"Rossi mau ikut juga gak?"


"Nggak lah buk. Biar bagian sarana dan prasarana saja"


"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa nanti ya Alia"


"Iya buk"


Bu Reni meninggalkan ruangan guru. Ia punya ruangan tersendiri sebagai wakil kepala sekolah.


"Cie...Yang sekarang udah fix jadi anggota sarpras" Goda Rossi.


"Biasa aja. Lagipula cuma belanja aja kok"


"Sesuailah, kamu kan memang paling jago kalau urusan tawar menawar Lia"


"Hm" Alia malas menanggapi.


Alia mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruang guru. Pantaslah terasa sepi ternyata Vita and the genk sedang tidak berada diruangan tersebut. Kalau tidak pasti ruangan guru selalu heboh.


**


"Pak Huda, ini buat bapak"


Alia baru keluar dari toilet yang berada disebelah ruangan majelis guru. Ia melihat Vita menyerahkan sebuah totebag berwarna biru muda berukuran sedang didepan ruangan guru yang langsung berhadapan dengan ruangan kepala sekolah.


"Apa ini Bu Vita?" Huda mengambil totebag tersebut.


"Ini lauk. Ada capcai, ayam bumbu dan puding juga"


""Wah banyak sekali buk"


"Iya pak. Ini saya yang masak cuma tadi saya lupa bawanya karena buru-buru pagi ini ada ulangan dikelas 6. Ini juga baru saya jemput kebetulan rumah saya tidak begitu jauh dari sini"


"Makasih Bu Vita. Saya jadi merepotkan ibu"


"Nggak apa-apa Pak Huda. Saya senang kalau Pak Huda mau menerima lauk buatan saya" Vita nampak malu- malu.


Alia yang hendak lewat menahan langkahnya. Ia membiarkan dia orang yang berdiri didepan ruang guru itu menyelesaikan urusan mereka.

__ADS_1


"Nanti kalau sudah dimakan kasi tahu saya ya pak bagaimana rasanya"


" Iya buk. Pasti"


"Sebenarnya saya sedang belajar memasak Pak Huda. Supaya kalau merid nanti bisa masakin makanan buat suami"


"Bu Vita sudah mau merid ya?"


"Belum!" Spontan Vita memukul pundak Huda " Belum, saya masih belum merid pak"


Ya Tuhan, drama Queen kali sih ini cewek. Alia masih mengamati dari depan toilet diujung lobi.


"Oh maaf Pak Huda saya nggak sengaja"


"Iya gak apa-apa buk"


"Saya masih singgel pak. Kalau Pak Huda sendiri sudah punya calon apa belum?"


"Saya juga masih..."


"Bu Vita....Udah donk buk. Pak Hudanya jangan diajak ngobrol terus. Kasian anak-anak udah nungguin dikelas" Pak Sulli keluar dari ruangan guru.


Alia terkekeh melihatnya. Rasain. Dengarkan itu ceramah Pak Sulli.


"Iya maaf Pak Huda udah ngambil waktu bapak"


"Nggak apa-apa buk. Ya udah saya masuk duluan ya. Pak Sulli, saya duluan.


"Iya pak"


Huda meletakkan totebag nya dimeja kerja setelah itu menuju kelas yang akan diajarnya. Sementara Vita mendapat pengarahan dari Pak Sulli selaku ketua bagian kurikulum.


Alia belum beranjak dari tempat berdirinya semula. Kalau mau PDKT ingat tempat dan waktu donk. Nah dapat kuliah 3 SKS kan jadinya.


**


"Pak Huda ini ada kue dari tante saya"


Seorang murid bernama Indri menyerahkan satu box kue tart didepan lobi . Box kue tersebut berlabel toko kue yang cukup terkenal.


"Wah Indri, ini untuk bapak?"


"Iya pak. Nah itu Tante saya pak" Indri menunjuk kearah parkiran.


Sebuah klakson mobil terdengar dan seorang wanita muda dengan dandanan yang modis melambai dari dalam mobil dibalas lambaian juga oleh Huda.


"Cantik kan Tante saya pak?"


"Iya cantik seperti kamu"


"Nama Tante saya Merry pak"


"Namanya juga cantik seperti orangnya. Bilangin ya ke Tante kamu makasih atas kuenya. Pak Huda pasti akan makan kuenya"


"Iya pak. Indri duluan ya pak. Assalamualaikum "


"Waalaikumussalam "


Huda memandangi dua tentengan dikedua tangannya. Ia berfikir bagaimana akan menghabiskan semua makanan tersebut sementara semua dalam porsi yang besar. Terlebih lagi ia hanya tinggal seorang diri diapertement yang baru dibelinya.


"Wah, wah, wah Pak Huda banyak fansnya ternyata"Bu Reni baru keluar dan tiba di teras lobi bersama Alia dan juga Vita.


"Nggak juga buk"


"Besar sekali box kuenya"


"Ini dari sisw buk"


"Totebagnya dari siapa pak?" Tanya Bu Reni lagi "Bunya wangi sekali"


Vita yang mendengarkan tersenyum-senyum malu


"Dari saya Bu"


"Iya dari Bu Vita"


"Oh...Dari Bu Vita"


"Saya lagi belajar memasak bu"


"Vita udah bisa masak ya sekarang?" Bu Reni melirik Alia.


"Bisa donk buk"


"Mantap Pak Huda ini, hari pertama sudah dapat berbagai makanan dari fans. Yang satu masakan khas rumahan yang satu kue tart kekinian. Ok lah kami duluan ya"


"Iya buk"


Alia mengikuti Bu Reni masuk ke mobilnya meninggalkan Huda dan Vita berdua dilobi.


"Sekarang Alia jadi anggota sarpras pak Huda. Mereka mau belanja, Alia itu jago banget kalau masalah tawar menawar barang"

__ADS_1


Aku tahu itu. Aku sudah lama tahu.


**


__ADS_2