DUKUN TAMPAN DARI INDONESIA PERGI KE CHINA

DUKUN TAMPAN DARI INDONESIA PERGI KE CHINA
Chp 1: Pergi Ke China


__ADS_3

[Ding~ Pengumuman, pesawat Airport 62 dengan tujuan Beijing, China. Akan segera lepas landas dalam 30 menit dari sekarang, di mohonkan agar pengunjung yang belum memasuki pesawat agar segera memasuki pesawat....]


Sebuah pengumuman keluar dari pengeras suara dan menggema di salah satu bandara internasional Indonesia, menandakan salah satu pesawat akan lepas landas.


Situasi bandara saat ini sangat ramai dengan banyaknya orang-orang yang ingin naik pesawat menuju negara yang mereka inginkan.


Walaupun ramai dan penuh sesak dengan orang-orang, tapi mereka masih tenang dan tidak tergesa-gesa, sangat berbeda dengan seorang pemuda yang baru keluar dari taksi langsung menerjang kerumunan orang-orang itu.


"Permisi, permisi, maaf aku sedang buru-buru!" teriak pemuda itu sambil menerobos kerumunan dan membuat beberapa orang emosi.


"Hei! Kau tidak boleh menerobos antrian seperti itu!"


"Dasar anak tidak tahu diri!"


Tapi pemuda itu tidak memperdulikannya dan terus menerobos kerumunan, "Maafkan aku tapi aku sedang buru-buru!"


Semua orang memiliki tatapan aneh pada pemuda itu, bagaimana tidak, ia hanya mengenakan sebuah celana pendek dan baju kaos biasa di tempat umum seperti itu.


Jangankan pakaian, dia bahkan hanya memakai sendal jepit yang harganya 10 ribuan! Dan untuk barang bawaannya, pemuda itu hanya menggendong sebuah ransel di punggungnya.


Tapi bisa dibilang dia itu memiliki wajah tampan yang diidolakan semua wanita, hanya saja sikapnya itu tidak mendukung wajah tampannya.


Sekali lagi pemuda itu tidak memperdulikan mereka hingga sesuatu menarik perhatiannya.


"Payung, aku memerlukan payung!" teriaknya lalu menghampiri seorang pedagang payung yang ada di tempat itu.


"Pak, berapa harga satu payungnya?" tanya pemuda itu terburu-buru.


"Satu payung harganya 50 ribu, Nak," kata penjual payung itu lalu menyerahkan satu payung kepada pemuda itu.


Pemuda itu tidak menerimanya, melainkan merenungkan sesuatu terlebih dahulu yang membuat bapak penjual payung itu sedikit kebingungan.


"Ada apa nak? Bukannya kau sedang buru-buru?"


"Ah ... setelah dipikir-pikir aku beli dua payung saja," kata pemuda itu.


"Baiklah, kalau begitu totalnya jadi 100 ribu," kata Bapak penjual payung sambil menyerahkan dua payung.


Pemuda itu mengambilnya dan menyerahkan uangnya sambil berkata, "Ambil saja kembaliannya." lalu pergi begitu saja.


Bapak penjual payung itu melihat uang pemberian pemuda itu dengan tatapan aneh, "Ini kan uang pas...."


...


...


...


[Ding~ Pengumuman, pesawat Airport 62 dengan tujuan Beijing, China. Akan segera lepas landas, pintu kabin pesawat akan segera ditutup-]


"Tunggu! Aku belum naik!" teriak pemuda itu tiba-tiba.


Dia sukses membuat pramugari yang bertugas untuk menutup pintu kabin pesawat menjadi sangat terkejut.

__ADS_1


"T- tuan, mohon hati-hati," ujar pramugari itu yang khawatir pasalnya mesin pesawat sudah dinyalakan dan tangga yang digunakan untuk masuk telah ditarik kembali.


Sekarang pemuda itu tidak memiliki harapan lagi untuk menaiki pesawat Airport 62 itu. Jika begitu mau tidak mau dia harus menunggu beberapa hari lagi untuk jadwal penerbangan selanjutnya ke Beijing, China.


Tapi pemuda itu belum kehilangan akal untuk menaiki pesawat tujuannya itu


"Aku akan lompat!"


"Eeeh?! I- itu terlalu berbahaya, Tuan!"


Tingkah laku pemuda itu membuat si pramugari menjadi geleng-geleng kepala.


Ia kemudian mulai menutup pintu kabin sebelum pemuda itu bertindak nekat, tapi sudah terlambat karena pemuda itu langsung melompat kearahnya.


* TAP!! *


Bawah pintu kabin pesawat berhasil dia tangkap dengan satu tangan dan membuat tubuhnya bergelantungan di tempat setinggi puluhan meter itu.


Kejadian nekat itu juga berhasil menarik perhatian orang-orang yang ada di bandara. Mereka semua berteriak dengan histeris, takut jika pemuda itu terjatuh dan meninggal dunia.


Tapi ironisnya bukannya membantu pemuda itu, orang-orang itu malah asyik merekam kejadian itu.


"Semoga videoku bisa fyp nanti," ujar salah seorang yang ikut merekam kejadian itu.


Setelah mengeluarkan usaha ekstra, akhirnya pemuda itu berhasil menaiki pesawat.


"Huff... hampir saja..." ujar pria itu menghela nafas panjang.


"Apa kau tahu seberapa berbahayanya aksimu tadi? Bagaimana jika kau terjatuh dan meninggal!"


Orang yang dimarahi itu tidak kesal ataupun marah, melainkan dia menatap wajah pramugari itu dengan senyuman manis.


"Kau orang baik ya ... kau bahkan sempat mengkhawatirkan orang yang sama sekali tidak kau kenal..." ujar pemuda itu yang membuat si pramugari menjadi tersipu malu.


"S- sudahlah, sekarang coba perlihatkan tiketmu," kata si pramugari mencoba mengalihkan perhatian.


Pemuda itu tersenyum dan merogoh sakunya untuk mengambil tiketnya lalu memberikannya kepada si pramugari.


"Ezra Kamara..." gumam pramugari itu membaca nama yang tertera di tiket itu.


"Ya, itu namaku," balas pemuda itu yang ternyata bernama Ezra Kamara.


"Ekhem! Sebaiknya kau cari tempat dudukmu sekarang dan pasang sabuk pengaman dengan baik!"


...


...


...


[Para penumpang yang terhormat, pesawat akan segera lepas landas, dimohonkan untuk mengencangkan sabuk pengaman!]


* CEKLEK!! *

__ADS_1


"Huff....."


Ezra menghembuskan nafas panjang setelah mengencangkan sabuk pengamannya, ini adalah pertama kalinya ia menaiki pesawat jadi dia sedikit gugup.


"Pertama kali naik pesawat?" tanya seorang wanita yang duduk di kursi sebelah Ezra.


Jika dilihat dari penampilannya, dia adalah seorang wanita bisnis yang usianya sudah hampir mencapai 30 tahunan, sangat berbeda dengan Ezra yang baru berusia 20 tahun.


"Ah ... ini memang pertama kalinya aku naik pesawat, jadi aku sedikit gugup. Bagaimana denganmu, Tante?" balas Ezra.


"Ugh ... tolong jangan panggil aku dengan sebutan Tante, itu membuatku merasa tua. Panggil saja aku dengan sebutan Kakak atau Nona. Dan tidak usah bersikap terlalu formal denganku..."


Jika dilihat-lihat wanita di depan sebelah Ezra memang masih terlihat sangat cantik dan muda walaupun sudah berkepala tiga. Jadi tidak pantas menyebutnya Tante...


"Maaf Nona ..."


Ezra tidak tahu nama wanita di sebelahnya itu.


"Panggil saja aku Nona Diana," kata wanita itu yang ternyata bernama Diana.


"Ngomong-ngomong namaku Ezra Kamara, kau bisa memanggilku Ezra saja."


Ezra dan Diana mengobrol cukup lama demi menghabiskan waktu penerbangan, dan dari obrolan itu juga Ezra tahu jika Diana adalah pemilik bisnis kecantikan yang cukup terkenal di Indonesia dan sekitarnya.


Selama hidupnya Ezra belum pernah berurusan dengan dunia bisnis ataupun pertelevisian, jadi dia tidak terlalu mengenal Diana yang sebenarnya sangat terkenal.


Dan sekarang, wanita bisnis itu sedang dalam perjalanan bisnis untuk membuka cabang perusahaan di China.


Disisi lain Diana sangat penasaran dengan pemuda yang baru ia temui itu. Hanya dilihat dari penampilannya saja sudah cukup membuat rasa penasaran orang-orang akan muncul, belum lagi dia membawa dua payung di tangannya.


...


...


...


Waktu berlalu dengan cepat hingga akhirnya mereka telah mendarat dengan selamat di bandara Beijing, China.


[Ding~ Terima kasih telah memesan penerbangan Airport 62. Pesawat telah berhasil mendarat dengan selamat. Pintu keluar akan segera disediakan, mohon pastikan barang bawaan Anda aman selagi menunggu.]


Pesawat telah mendarat, Ezra langsung menggendong tas ranselnya di punggung dan bersiap untuk keluar.


Tapi sebelum itu ia melirik kearah Diana yang masih memperhatikan luar jendela pesawat dengan ekspresi khawatir.


"Bagaimana ini, tidak ada yang bilang kalau di sini sedang hujan sementara aku sedang membawa berkas-berkas penting..." gumamnya khawatir.


Seperti yang dikatakan oleh Diana, di tempat itu memang sedang hujan deras dan dia khawatir jika berkas-berkas yang dia bawa basah.


"Kau bisa memakai satu payungku kalau mau," kata Ezra tiba-tiba sambil menyerahkan satu payungnya.


"Benarkah?"


"Tentu, aku memang membelinya untuk situasi ini."

__ADS_1


"Eh? Apa maksudmu?"


Ezra tidak menjawab melainkan hanya tersenyum, ia kemudian pergi keluar pesawat melalui pintu yang telah selesai disediakan sambil melebarkan payung yang baru saja ia beli seolah-olah sudah memperkirakan jika hujan akan turun di tempat ini.


__ADS_2