DUKUN TAMPAN DARI INDONESIA PERGI KE CHINA

DUKUN TAMPAN DARI INDONESIA PERGI KE CHINA
Chp 3: Pria Yang Menawan


__ADS_3

Setelah mengemudi selama kurang lebih 2 jam, akhirnya mereka sampai di sebuah mansion besar dan sangat mewah yang merupakan kediaman keluarga besar Jun.


"Silakan Tuan Ezra," kata Gong Fai sambil membukakan pintu mobil untuk Ezra.


Ezra menganggukkan kepalanya, ia kemudian keluar dari mobil sambil melebarkan payungnya karena di tempat itu masih hujan.


Jun Hui juga melakukan hal yang sama dengan Ezra, mereka berdua kemudian memasuki mansion itu dengan Jun Hui sebagai pemandunya sementara Gong Fai pergi untuk memarkirkan mobilnya.


Di dalam sana Ezra melihat pemandangan mansion yang sangat besar dan mewah, dia sangat kagum hingga tidak sadar berjalan dan menabrak salah seorang pelayan yang sedang menyapu hingga jatuh.


* BRUK!! *


"Akh!" jerit pelayan itu.


Karena merasa bersalah, Ezra langsung menundukkan kepalanya seraya membantu pelayan itu berdiri.


"Sorry, aku tidak menyadarimu ada disana, kau baik-baik saja?" ujar Ezra mencampurkan bahasa Inggris dan Mandarin.


"S- saya baik-baik saja, seharusnya saya lebih memperhatikan ada tamu yang datang..." balas pelayan itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu syukurlah..."


"Oh, Zixin. Kebetulan kau ada disini, tolong antarkan Tuan Ezra ke ruangannya," kata Jun Hui kepada pelayan perempuan yang ternyata bernama Zixin.


"Dengan senang hati Tuan Jun," ucap Zixin sambil menundukkan kepalanya.


"Aku akan mempertemukanmu dengan keluargaku setelah kau ... em, sedikit lebih rapi, mungkin?" lanjut Jun Hui sedikit ragu mengatakan jika penampilan Ezra saat ini sangat buruk.


"Aku mengerti," kata Ezra sadar akan penampilannya yang buruk.


"Kalau begitu mari biar saya menuntun Anda, Tuan Ezra."


Zixin menuntun Ezra ke kamarnya yang ada di lantai atas, perempuan itu sebenarnya agak gugup karena baru saja membuat masalah pada tamu penting tuannya, tapi ia menguatkan dirinya untuk tetap terlihat profesional.


Namun itu tidak membuat situasi menjadi lebih baik karena tidak ada yang ingin memulai pembicaraan diantara mereka.


Hingga akhirnya Ezra berbicara untuk memecahkan keheningan, "Jadi namamu Zixin, ya?" katanya basa-basi.


"I- itu benar ... Zixin memiliki arti kuat dan percaya diri, tapi sifatku sama sekali tidak menggambarkan arti dari nama itu..." balas Zixin tampak murung.


"Ah ... kenapa aku jadi curhat seperti ini, maafkan sifatku sekali lagi Tuan Ezra!" lanjut Zixin gugup.


"Tidak apa-apa, dan tolong jangan bersikap terlalu formal padaku yang hanya orang dari desa ini, aku tidak terbiasa dengan itu..."

__ADS_1


"Kalau begitu ... a- aku hanya akan bersikap formal padamu di depan keluarga Jun."


"Hm, itu jauh lebih baik," kata Ezra sambil tersenyum hangat.


Mereka berdua kemudian mengobrol cukup lama dan dekat karena mansion itu memang luas, jadi butuh waktu untuk sampai ke ruangan yang akan menjadi kamar Ezra.


Hingga akhirnya Zixin menanyakan hal yang selama ini mengganjal di pikirannya.


"Ngomong-ngomong bahasa Mandarin-mu sangat lancar, apa kau pernah bersekolah di sekolah kursus bahasa Mandarin sebelumnya?" tanya Zixin.


"Ah itu ... aku tidak pernah bersekolah di sekolah kursus Mandarin, sebenarnya aku hanya bersekolah sampai tingkat SD karena saat itu ada masalah keluarga. Aku baru saja mempelajari bahasa Mandarin beberapa jam yang lalu," jawab Ezra membuat Zixin sangat terkejut.


Mempelajari bahasa Mandarin hanya dalam beberapa jam? Sungguh luar biasa! - pikir Zixin kagum.


"Begitu ya ... ngomong-ngomong kita sudah sampai di ruangan yang akan menjadi kamarmu," lanjut Zixin ketika sampai di sebuah pintu kamar.


"Terima kasih sudah mengantarku, Zixin..." kata Ezra dengan senyuman yang dapat melelehkan hati wanita manapun.


"E- em, ini memang tugasku, jadi tidak usah berterima kasih. Ngomong-ngomong semua pakaian sudah ada di lemari kamar, jadi berpakaianlah dengan rapi sebelum bertemu dengan keluarga Tuan Jun," kata Zixin dengan wajah memerah dan sangat gugup, ia kemudian pergi begitu saja meninggalkan Ezra di depan kamar barunya.


"Dia perempuan yang baik, mungkin tinggal di tempat ini tidak seburuk itu..." gumam Ezra melihat kepergian Zixin.


Ia kemudian membuka pintu kamarnya lalu memasukinya, itu adalah kamar yang sangat besar dan mewah bagi Ezra yang sebelumnya hanya tinggal di desa.


"Lebih baik aku segera mandi," gumam Ezra lagi lalu beranjak pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya itu, itu adalah kamar mandi yang cukup besar dan bersih.


Saat umurnya 10 tahun, Ezra hanya hidup sebatang kara di rumah sederhana karena ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, dan bukannya meninggalkan warisan kepada Ezra, justru orang tua Ezra justru meninggalkan hutang dalam jumlah yang sangat besar.


Setiap hari dirinya selalu dipukuli oleh rentenir yang datang untuk menagih hutang karena Ezra yang tidak bisa membayar hutang.


Apa yang bisa dilakukan anak usia 10 tahun untuk melunasi hutang yang jumlahnya mencapai puluhan juta itu?


Jadi mau tidak mau Ezra harus menjual rumah peninggalan orang tuanya untuk terbebas dari para rentenir kejam itu.


Dan sejak hari itu kehidupan Ezra turun mencapai titik terendah, yang awalnya sudah rendah sekarang kembali merendah hingga ke dasar neraka.


Dalam keputusasaan dan kepasrahan untuk bertahan hidup di dunia luar yang kejam itu, seseorang tiba-tiba datang kepada Ezra.


Orang itu memberi Ezra tempat berlindung dari panasnya matahari dan dingin hujan, mengangkatnya menjadi murid, dan memberinya nama belakang Kamara.


Benar, orang itu adalah Maha Guru Kamara yang merupakan Guru sekaligus kakek angkat Ezra Kamara.


Lalu ilmu apakah yang Ezra dapatkan darinya? Yang pastinya itu bukanlah ilmu baik-baik....

__ADS_1


...


...


...


Sementara itu di ruang makan kediaman keluarga Jun, terlihat Jun Hui yang sedang duduk bersama dengan istri dan kedua putrinya sementara para pelayan sibuk menyiapkan makanan di meja makan.


"Jadi Ayah ... dimana orang yang Ayah bilang akan menjadi bodyguard baru kami itu?" tanya putri tertua Jun Hui.


Ia memiliki paras yang sangat cantik dengan rambut hitam dan mata birunya, terlebih lagi ia memiliki postur tubuh yang sangat indah dan sempurna.


"Dia sedang menyiapkan diri di kamarnya. Jun Mei, tolong jaga sikapmu nanti jika bertemu dengannya," kata Jun Hui.


"Tapi ... apakah orang itu bisa dipercaya? Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi seperti sebelumnya..." kata sang Ibu tampak khawatir.


Tidak berbeda dengan putri pertamanya yang bernama Jun Mei. Sang Ibu yang bernama Jun Qionglin juga memiliki paras sangat cantik dan sek*i dengan dua asetnya yang sangat besar itu walaupun sudah menginjak usia hampir 40 tahunan.


Ia sedikit trauma dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh bodyguard sebelumnya, jadi dia sedikit waspada sekarang terhadap bodyguard barunya itu...


"Tenang saja sayang ... aku tidak bisa bilang kalau aku sangat mengenalnya, tapi aku percaya dengannya," kata Jun Hui menenangkan hati istrinya.


"Baiklah kalau kau bicara begitu...."


Sementara putri bungsu Jun Hui yang baru berusia 7 tahun tidak terlalu peduli dengan itu dan malah bertanya dengan riangnya, "Apa dia bisa menemani Yinyin bermain?"


Jun Hui tersenyum hangat sambil mengelus rambut putri bungsunya itu dengan lembut dan berkata, "Tentu, dia pasti bisa menemani Yinyin bermain, tapi tolong jangan terlalu lama ya karena kakak itu harus melakukan tugasnya untuk melindungi kalian bertiga."


Putri bungsu Jun Hui bernama Jun Yin, dia adalah gadis kecil nan mungil yang memiliki mata besar dan bibir mungil layaknya cherry.


Jun Yin menganggukkan kepalanya dengan patuh, "Hm! Yinyin tidak sabar untuk bermain dengan kakak itu!"


Semua orang di tempat itu tersenyum lembut melihat keceriaan gadis kecil itu, mereka senang jika ia tidak trauma karena masalah tentang pembunuhan yang selalu meneror keluarga itu.


Hingga tak lama kemudian seorang pria muda dan tampan datang memasuki ruang makan dan menyita perhatian semua orang.


Parasnya sangat menawan ketika mengenakan setelan jas hitam dengan dalaman merah dan dasi hitam, struktur tubuhnya yang tinggi ideal, kulitnya yang putih.


Wajahnya yang tampan dengan bulu mata indah yang menyaingi seorang wanita, serta rambut pirangnya yang sangat indah menggoda.


Pria menawan itu tidak mengenakan banyak perhiasan, ia hanya mengenakan kalung dengan silet sebagai hiasannya dan anting-anting polos di kedua telinganya.


Walaupun dengan minim perhiasan, tapi itu tidak membuat pria itu kehilangan kemenawanannya...

__ADS_1


Jun Hui tersenyum bangga, ia kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berbicara dengan penuh kebanggaan


"Perkenalkan, pemuda itu adalah Ezra Kamara, orang yang akan menjadi penjaga kalian bertiga!"


__ADS_2