
Di tengah bandara internasional kota Beijing, terlihat Ezra yang sedang kebingungan mencari keberadaan seseorang.
Di bandara itu sangatlah ramai dan padat, mungkin jika dibandingkan dengan bandara Indonesia sebelumnya, bandara ini jauh lebih padat.
Yah ... sebutan negara dengan populasi terbanyak di dunia memang di pegang oleh China...
"Mungkinkah itu orangnya?" gumam Ezra melihat seorang pria berjas hitam rapi yang sedang mengangkat sebuah kertas bertuliskan namanya.
Memang seperti itu cara untuk menemui seseorang di bandara mengingat Ezra tidak memiliki handphone sama sekali.
"Halo, apa Anda orang yang bernama Jun Hui?" Ezra menghampiri pria itu dan menyapanya dalam bahasa Inggris.
Pria itu diam sejenak memperhatikan penampilan Ezra sebelum berkata, "Apa Anda Tuan Ezra Kamara?" tanyanya dalam bahasa Inggris.
"Itu benar,"
"Ah ... maaf tidak memperhatikannya. Tuan Jun Hui sedang menunggu di mobil, saya adalah sekretarisnya Gong Fai. Mari saya antar ke mobil," kata pria itu yang ternyata bernama Gong Fai.
Ia kemudian berjalan menuntun Ezra mencari pria yang bernama Jun Hui di tempat parkir bandara itu.
Gong Fai sudah menyiapkan payung untuk Ezra, tapi dia dibuat sedikit terkejut karena ternyata Ezra sudah membawa payungnya sendiri.
"Anda baru membelinya?" tanya Gong Fai kebingungan.
"Tidak, aku membawanya sendiri dari Indonesia," balas Ezra dengan santainya.
Gong Fai hanya bisa menggelengkan kepalanya dalam hati.
*Jika dia bisa membawa payung untuk naik pesawat pergi ke negara lain, kenapa dia tidak membawa barang lebih*? - batin Gong Fai melihat ransel di punggung Ezra.
Tapi dia tidak memikirkannya karena bosnya sedang menunggunya di mobil.
"Ayo kita pergi!" ajak Gong Fai.
Beberapa saat berjalan di bawah hujan deras, mereka akhirnya tiba di tempat parkir bandara, tepatnya di depan sebuah mobil Limosin hitam.
Gong Fai membukakan pintu belakang mobil mewah itu dan mempersilahkan Ezra untuk masuk, sementara dirinya masuk dan duduk di tempat duduk supir.
Di dalam sana sudah ada seorang pria paruh baya yang masih terlihat sangat sehat dan berkarisma.
Pria paruh baya itu adalah Jun Hui.
"Semoga cuaca buruk di kota ini tidak menggangumu Tuan Ezra," kata Jun Hui sopan.
__ADS_1
"Tidak masalah karena aku sudah mempersiapkan semuanya, dan tolong jangan terlalu formal padaku," balas Ezra sambil menutup payungnya.
"Hahaha, seperti yang diharapkan dari murid Maha Guru Kamara!" kata Jun Hui sambil tertawa lebar.
Ezra langsung mengalihkan pandangannya kepada Jun Hui dengan tatapan tajam dan penuh intimidasi dari yang awalnya hanya cuek.
"Jadi? Apa yang kau inginkan dengan menyuruhku ke tempat ini?" kata Ezra dengan tatapan dingin, membuat Jun Hui langsung berkeringat dingin seolah-olah ada ribuan jarum yang siap menusuknya.
"Aku tidak punya niat buruk sama sekali, aku bersumpah..." ujar Jun Hui sambil mengangkat kedua tangannya.
Ezra menghela nafas panjang ketika melihat jika Jun Hui memang tidak memiliki niat buruk.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Guruku? Kau bisa membuat kakek tua itu langsung mengirimku ke tempat ini dengan sangat tiba-tiba," kata Ezra terlihat kesal.
Bagaimana tidak? Gurunya itu tiba-tiba saja menyuruhnya untuk pergi ke China tanpa memberikan penjelasan apapun selain nama Jun Hui.
Itu membuat Ezra sangat kesal karena tidak punya waktu untuk mempersiapkan dirinya, alhasil dia datang ke China hanya dengan menggunakan celana pendek, baju kaos, dan sendal jepit.
Selain itu dia juga datang dengan sangat terlambat sampai-sampai harus mempertaruhkan nyawanya demi naik pesawat.
Bagaimana Ezra tidak kesal dengan itu?
"Sebenarnya kakek buyutku adalah teman baik Maha Guru Kamara, hubungan mereka berdua sangat erat sampai ajal menjemput kakek buyutku."
"Bukan memanfaatkan, lebih tepatnya aku membutuhkan bantuanmu sebagai murid dari Maha Guru Kamara," ujar Jun Hui.
"Lalu bantuan seperti apa yang bisa aku berikan padamu?"
"Sebenarnya akhir-akhir ini keluargaku sering terlibat dalam percobaan pembunuhan," kata Jun Hui lalu berhenti sesaat.
Mendengar itu Ezra langsung menegakkan badannya dan menatap Jun Hui dengan lebih serius. Jika masalahnya sudah melibatkan nyawa seseorang, maka Ezra tidak bisa main-main lagi.
"Lanjutkan," kata Ezra serius.
Jun Hui menganggukkan kepalanya dan melanjutkan penjelasannya.
"Seperti yang aku bilang tadi, keluargaku terlibat dalam percobaan pembunuhan. Aku tidak tahu pasti, tapi sepertinya orang yang ingin mencelakai keluargaku adalah saingan bisnisku...."
Jun Hui mulai menceritakan tentang dirinya, ternyata ia adalah salah satu pengusaha besar yang ada di kota Beijing.
Bisnisnya itu memang memiliki banyak pesaing, jadi ada banyak orang yang ingin menjatuhkan dirinya menggunakan cara adil ataupun cara kotor, dan kebanyakan dari mereka menggunakan cara kotor.
Mereka kemudian mulai membuat banyak rencana buruk kepada keluarga Jun Hui, mulai dari memfitnah mereka sampai mengirim pembunuh bayaran.
__ADS_1
Tapi semua itu berhasil digagalkan oleh Jun Hui karena menyewa banyak pengawal atau bodyguard kuat.
Tapi lama-kelamaan Jun Hui merasa jika menyewa bodyguard bukanlah solusi terbaik setelah ada insiden salah satu bodyguard yang berkhianat padanya dan malah melukai keluarganya sendiri.
"Jadi kau memintaku untuk menjaga keluargamu?" kata Ezra bisa menebak keinginan Jun Hui.
"Itu benar ... aku hanya ingin Anda menjaga Istri dan kedua anak perempuanku..."
*Aku tidak punya pengalaman untuk menjaga seseorang, jadi aku tidak yakin dengan tugas ini. Tapi ... aku juga tidak bisa pulang sebelum menyelesaikan tugas ini, kakek tua itu pasti akan membunuhku kalau aku pulang sekarang* - pikir Ezra.
Jadi mau tidak mau Ezra harus mengambil tugas ini...
"Baiklah, aku menerimanya. Tapi aku mau kau mengurus semua biaya pengeluaranku selama tinggal di negara ini," kata Ezra.
Ezra tidak membawa uang banyak ke tempat ini, walaupun dia membawa uang yang banyak, dia tidak akan bisa menggunakan uang rupiah di negara ini.
"Baiklah, itu memang kewajibanku ... Gong Fai, bawa kami ke mansion sekarang," kata Jun Hui kepada Gong Fai yang duduk di kursi supir.
Jelas dia mendengar semua pembicaraan yang terjadi antara tuannya dan pemuda aneh yang baru saja ia temui.
"Baik tuan!" balas Gong Fai patuh, namun di dalam hatinya jelas berkata lain.
*Menyewa seorang dukun untuk menjaga keluarganya, terlebih lagi dukun itu tidak terlihat seperti dukun pada umumnya, apa dia seorang penipu? Tuan Jun Hui sepertinya sudah sakit* - batin Gong Fai.
Seperti yang dipikirkan oleh Gong Fai, Ezra sebenarnya adalah seorang dukun tampan dari Indonesia yang disuruh untuk menjaga keluarga Jun.
Ia sama sekali tidak berpenampilan seperti dukun pada umumnya, seperti memakai pakaian adat, jari yang penuh dengan batu akik, berwajah tua dengan jenggot panjang, dan lain sebagainya.
Sebaliknya ia memiliki penampilan layaknya seorang pemuda kuliahan, dia masih sangat muda dan tampan, tatapan mata yang tajam dengan bulu mata panjang tidak kalah dari seorang wanita.
Hanya saja warna rambutnya yang pirang menandakan jika ia bukanlah asli orang Indonesia, mungkin dia adalah blasteran Asia Eropa, dan hal itulah yang membuat parasnya lebih menarik.
...
...
...
Gong Fai mengemudikan mobil hitam itu dengan cepat di jalanan kota Beijing yang saat itu sedang hujan deras, Gong Fai kemudian melirik cermin yang ada di dalam mobil.
Melalui cermin dia melihat Ezra yang sedang membaca sebuah buku yang berjudul FLUENT MANDARIN IN 3 DAYS yang artinya FASIH BERBAHASA MANDARIN DALAM 3 HARI.
Dia bahkan tidak mempelajari bahasa Mandarin sebelum datang kesini, apakah dia sehebat yang tuan Jun Hui katakan? - batin Gong Fai ragu.
__ADS_1
Tapi untuk sekarang ia hanya akan mengawasi pemuda itu.