
Di hari yang sama Ezra berangkat menuju kampus bersama dengan Jun Mei.
Jun Mei adalah seorang mahasiswi tahun pertama Universitas Luoyang yang merupakan Universitas paling terkemuka di seluruh China.
Orang-orang yang mampu memasuki Universitas itu bukanlah orang biasa melainkan hanya orang dari keluarga kaya saja, itu dikarenakan biaya sekolahnya yang sangat besar.
Dan Ezra sekarang bertugas untuk menjaga Jun Mei di kampus itu dengan menjadi bodyguardnya.
...
...
...
Mobil sport berwarna merah muda melaju dengan sempurna menuju tempat parkir kampus.
Bersamaan dengan itu para mahasiswa yang melihat kedatangan mobil mewah itu tampak sangat antusias layaknya menantikan kedatangan seorang artis.
"I- itu mobil Nona Jun Mei, dia sudah datang!!" teriak salah satu mahasiswa yang membuat keributan besar diantara mahasiswa lainnya.
"Tidak sia-sia aku datang pagi seperti ini jika bisa melihat kecantikan bunga sekolah Nona Jun Mei."
"Ahh ... dia pasti baru mandi, aku tidak sabar mencium aromanya hehehehe."
Semua laki-laki di kampus itu telah tergila-gila pada Jun Mei bahkan sampai melewati batas wajar, parasnya yang sangat cantik dan status keluarganya membuat para pria itu ingin mendekatinya.
Jika ada yang bisa menjadi teman atau bahkan pacar Jun Mei, pasti orang itu akan memiliki masa depan yang cerah.
Rata-rata orang yang mendekati Jun Mei adalah orang-orang munafik yang memiliki tujuan tersembunyi, itu membuat Jun Mei sangat kesal sampai-sampai dia tidak sudi untuk berteman dengan siapapun di kampus.
Karena itu juga Jun Mei sangat waspada terhadap pria yang mendekatinya....
Kembali ke sisi Jun Mei.
Pintu mobil terbuka dan sepasang kaki putih dan ramping turun dari mobil, ia mengenakan sebuah rok mini hitam, kemeja putih dengan hiasan hitam, dan kacamata hitam yang menutupi mata indahnya.
Semua orang lantas bersorak-sorai.
"Nona Jun Mei!"
"Nona Jun Mei aku mencintaimu!"
"Nona Jun Mei menikahlah denganku!"
Begitulah kalimat yang terdengar dari mulut para lelaki busuk itu yang membuat mood Jun Mei untuk datang ke kampus menjadi hilang.
Tapi sayangnya sekarang dia tidak sendirian.
Pintu mobil kembali terbuka yang membuat Jun Mei tersenyum bahagia sementara para mahasiswa itu dibuat sangat terkejut sampai diam tak bersuara.
"Si- siapa laki-laki yang satu mobil dengan Nona Jun Mei?!"
"Sungguh laki-laki tidak tahu malu!"
"Dia pasti penjahat, telepon polisi sekarang!"
Sekumpulan mahasiswa itu langsung mencaci maki Ezra yang saat itu baru keluar dari mobil tanpa tahu mengapa.
Namun sangat berbeda dengan para lelaki yang mengalami lonjakan amarah karena keberadaan laki-laki di mobil idola mereka, para perempuan yang melihat Ezra justru menjerit histeris.
"Kyaaa! Tampannya, siapa dia? Apakah dia artis?"
__ADS_1
"Entahlah, yang pasti dia adalah pangeranku!"
"Jangan mimpi, dia adalah pangeranku!"
Para siswa perempuan bertengkar memperebutkan Ezra sebagai pangeran mereka, beberapa bahkan telah mimisan atau pingsan terlebih dahulu sesaat setelah melihat ketampanan Ezra.
Hal itu sukses membuat para siswa lelaki menjadi jauh lebih murka daripada sebelumnya.
"Bukan hanya merebut Nona Jun Mei, dia bahkan merebut semua perempuan di kampus ini!"
"Dasar sialan!"
"Mati saja kau orang ganteng!!"
Sekumpulan lelaki itu kemudian mulai melempari Ezra dengan barang-barang tumpul seperti buku, tas, ataupun batu.
Ezra bisa menghindari semua itu hanya dengan menggerakkan sedikit tubuhnya, tapi barang-barang itu justru mengenai mobil kesayangan Jun Mei.
"Hentikan ini sekarang juga!" teriak Jun Mei penuh kemarahan melihat kaca mobil kesayangannya yang pecah akibat lemparkan batu itu.
Tapi tidak ada yang menanggapi teriakan Jun Mei sehingga membuatnya sangat kesal.
"Aku bilang henti- "
* SWOOOSH!! *
Sebelum Jun Mei sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah batu melayang dengan kencang kearah kepalanya dan membuat gadis itu menjadi tertegun hingga refleks menutup matanya.
Beberapa saat berlalu tapi tidak ada benturan sama sekali yang Jun Mei rasakan.
Dengan penuh penasaran ia kemudian membuka matanya dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat Ezra yang sudah menangkap batu itu sebelum sempat mengenai dirinya.
"Siapa yang melempar batu kepada Nona Jun Mei? Apa kalian tahu jika target kita adalah pria itu?! Bukan Nona Jun Mei!"
"M- maaf, lemparanku meleset!"
Tatapan mata Ezra sontak menajam ketika mengetahui siapa orang yang telah melempar batu kepada Jun Mei.
Orang itu hanyalah siswa biasa dengan kacamata bulat, dia beralasan jika lemparannya tak sengaja melesat.
Tapi Ezra tidak peduli dengan apapun alasan orang itu karena siapapun yang berniat melukai Jun Mei, maka orang itu harus siap untuk mati....
"Su- sungguh aku tidak sengaja, lemparanku tiba-tiba saja meleset tanpa aku sadari dan-"
* SWOOOSH!! *
* BUGH!! *
* BRAK!! *
Semua orang yang ada disana sontak terdiam ketika melihat kejadian mengerikan yang terjadi tepat di hadapan mereka.
Sebuah batu seukuran genggaman tangan orang dewasa datang entah darimana dan menghantam tepat pada dahi orang berkacamata itu hingga membuatnya tergeletak tak sadarkan diri di tanah.
Dahi laki-laki itu terluka cukup parah hingga mengalirkan cukup banyak darah, membuat semua orang yang ada disana meneguk ludah kasar.
"Hei ... apa kalian tidak dengar Jun Mei mengatakan untuk berhenti?"
Sebuah suara terdengar berat dan dingin dari arah depan mereka, itu adalah suara Ezra yang penuh dengan intimidasi dan semua orang tahu jika pria itulah yang melemparkan batu tadi.
Tidak ada yang berani melawan Ezra sekarang, entah kenapa kaki mereka semua tiba-tiba bergetar dengan hebat, mereka kemudian mundur sedikit demi sedikit ke belakang.
__ADS_1
Ezra yang melihat itu tersenyum lembut sambil menyipitkan matanya, "Bukankah kalian semua sangat terobsesi dengan Jun Mei? Kenapa kalian ingin lari sekarang?"
Semua orang sontak merinding setelah melihat senyuman manis pria tampan di depan mereka itu, senyuman manis yang bagaikan Dewa itu nyatanya menyimpan sosok Iblis kejam di dalamnya...
"La- Lariiiii!!"
Satu teriakan dari salah seorang siswa sontak membuat semua orang itu langsung melarikan diri terbit-birit.
Mereka ingin segera pergi dari hadapan Iblis berkedok Dewa yang ada di sana. Tapi seakan-akan telah menetapkan mangsanya, Ezra tidak akan membiarkan mereka semua lolos begitu saja.
Ezra menghentakkan kakinya ke tanah, membuat batu-batu kerikil seukuran kelereng di bawahnya itu terlempar sampai di tangan Ezra.
Sekiranya ada 7 batu kerikil di tangan Ezra, ia kemudian mengunci 7 target sekaligus yang sedang berdekatan lalu melempar ketujuh batu kerikil itu sekaligus.
* SWOOOSH!! *
* CETAK!! *
* CETAK!! *
* CETAK!! *
Ketujuh batu kerikil itu tepat mengenai belakang kepala ketujuh siswa hingga melubanginya dengan sempurna.
Itu adalah lemparan yang luar biasa hingga bisa disamakan dengan tembakan sebuah peluru yang langsung membunuh targetnya.
"AAAAAAAAA!!!"
Gadis gadis yang berkumpul untuk mengagumi ketampanan Ezra mulai berteriak dengan histeris dan berlarian dari tempat itu yang sudah menjadi tempat pembunuhan.
Mereka tidak lagi mengagumi Ezra melainkan menakutinya.
Ekspresi Ezra masih sama seperti sebelumnya, yaitu tenang, cuek, dan senyuman khasnya yang menghiasi bibir indahnya belum pudar sama sekali walaupun sudah membunuh total 8 orang.
Itu seolah-olah jika ini bukan pertama kalinya Ezra membunuh seseorang...
Tidak berhenti sampai disana Ezra kembali mengambil batu kerikil dan melemparkannya kearah kerumunan siswa yang sedang mencari tempat perlindungan itu.
Namun walaupun sudah menemukan tempat perlindungan yang menurut mereka aman, lemparan kerikil Ezra masih mampu mengenai mereka seolah-olah kerikil itu mengejar targetnya sampai kapanpun.
Semua itu masih berlanjut hingga membuat tempat itu dipenuhi dengan darah dan aura keputusasaan.
Sampai akhirnya seseorang memegang tangan Ezra yang sudah bersiap untuk kembali melempar batu kerikil, orang itu adalah Jun Mei.
"Ezra cukup, hentikan ini sekarang juga!" bentak Jun Mei.
Ezra menjatuhkan batu kerikilnya ke tanah, ia kemudian menatap wajah cantik Jun Mei yang saat ini dipenuhi dengan ketakutan dan kekecewaan.
Seketika senyuman Ezra yang sedari awal menghiasi wajah tampannya langsung menjadi pudar.
"Maaf ... aku berlebihan-"
* PLAK!! *
Sebuah tamparan dari Jun Mei mendarat tepat di pipi Ezra sebelum dia sempat meminta maaf walaupun wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sama sekali.
"Aku sudah salah menilaimu, dasar Iblis!" teriaknya sambil meneteskan air mata kecewa.
Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan Ezra yang masih diam membeku di tempat.
Setelah beberapa saat Ezra kemudian melirik punggung Jun Mei yang sudah pergi jauh, 'Setidaknya dia sudah tidak terpikat padaku lagi....' batin Ezra.
__ADS_1