DUKUN TAMPAN DARI INDONESIA PERGI KE CHINA

DUKUN TAMPAN DARI INDONESIA PERGI KE CHINA
Chp 6: Interogasi


__ADS_3

Di sebuah kantor kepolisian pusat Kota Beijing, terlihat seorang pria muda yang sedang berjalan terburu-buru ditemani oleh sekretarisnya.


Jika diperhatikan dengan baik melalui pakaian dan lencana yang pria itu kenakan, maka dia adalah seorang kepala kepolisian di tempat itu.


Nama Bian Cheung tertulis dengan jelas di salah satu lencana pria itu yang menandakan namanya.


"Jadi dimana orang itu?" tanya Bian Cheung dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Orang itu sudah kami amankan di ruang interogasi, Tuan Bian Cheung..." jawab sang sekretaris.


"Tch! Aku tidak pernah menyangka jika hal sebesar ini akan terjadi ketika aku sedang tidak berada di kota ... berapa jumlah korban yang tewas karena pria itu?"


"15 orang meninggal dunia sementara 26 orang mengalami luka-luka, mereka saat ini sedang dirawat di rumah sakit pusat."


"Kita urus itu nanti, sekarang aku ingin menemui monster seperti apa yang tega membantai para mahasiswa itu tanpa belas kasihan sama sekali..." kata Bian Cheung lalu mempercepat jalannya.


Sesampainya di luar pintu ruangan interogasi, Bian Cheung disambut oleh salah satu bawahannya.


"Selamat datang kembali Tuan Bian Cheung!" ujarnya penuh hormat.


"Tentu. Apakah orang itu ada di dalam?" tanya Bian Cheung tanpa basa-basi.


"Itu benar ... dia sama sekali tidak melawan saat ditangkap, tapi kami tetap mengikatnya demi mencegah hal yang tidak diinginkan."


"Kerja bagus. Kalau begitu aku masuk dulu." kata Bian Cheung lalu memasuki ruang interogasi.


Disana dia melihat seorang pemuda usia 20 tahunan yang sedang duduk dengan patuh walaupun kedua tangan dan kakinya telah diikat menggunakan rantai.


Bian Cheung menatap pemuda itu dengan dingin, ia kemudian mengambil sebuah formulir di meja yang telah disediakan di tempat itu. Itu adalah formulir yang berisi tentang identitas pemuda di depannya itu.


"Ezra Kamara ... itu adalah namamu?" tanya Bian Cheung membaca formulir itu.


Benar, pemuda itu adalah Ezra Kamara...


"Seperti yang kau lihat..." balas Ezra santai.


"Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan?"


"Tentu, aku menyingkirkan hama pengganggu, kan?" balas Ezra dengan tenang.

__ADS_1


Bian Cheung menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil berkata: "Tidak, tidak, tidak ... kau bukan menyingkirkan hama, tapi kau telah membunuh seseorang."


"Kau telah memisahkan seorang anak dengan kedua orang tuanya, kau telah mengambil nyawa seseorang yang mungkin saja berharga bagi orang lain. Mereka bukan hama sama sekali, melainkan manusia sama sepertimu...." lanjut Bian Cheung.


"Mereka semua adalah hama di mataku, mereka hanyalah parasit munafik yang hanya menyesakkan dunia dengan keberadaan mereka sendiri. Dan satu lagi, tolong jangan samakan aku dengan manusia busuk seperti mereka..." balas Ezra.


"... Kau sudah rusak."


"Aku tahu itu."


Ezra dan Bian Cheung saling bertatapan selama beberapa saat dalam diam sebelum Bian Cheung berkata: "Aku penasaran bagaimana caramu membunuh mereka semua hanya dalam sekejap."


"Bukankah kau sudah tahu?"


"Ya, menurut hasil investigasi kami kau membunuh mereka semua hanya dengan menggunakan batu kerikil. Aku tidak percaya hal itu, jadi aku akan bertanya langsung padamu disini. Bagaimana caramu membunuh mereka?" tanya Bian Cheung dengan tatapan menyelidik.


Dilihat darimanapun membunuh belasan orang menggunakan batu kerikil bukanlah hal yang logis, jadi Bian Cheung tidak mempercayai hal itu.


Ezra tersenyum, "Seorang pesulap tidak akan mengatakan triknya pada seorang penonton?"


"Tapi kau bukan seorang pesulap, melainkan seorang pembunuh" sangkal Bian Cheung cepat.


"Hm! Mau lihat aku lepas dari rantai ini seperti seorang pesulap?" kata Ezra sambil mengangkat tangannya yang sudah terlepas dari rantai yang mengikatnya itu.


Ia kemudian mengambil sebuah pistol yang ada di pinggangnya dan menodongkannya kearah Ezra dengan cepat.


Ezra tidak merasa takut, justru sebaliknya ia malah menempelkan dahinya sendiri pada moncong pistol milik Bian Cheung sambil tersenyum.


"Aku akan menembakmu!" teriak Bian Cheung.


"Silahkan saja." balas Ezra tanpa takut.


Mata mereka saling bertatapan satu sama lain dengan dalam. Bian Cheung tidak melihat adanya jejak ketakutan ataupun gugup di mata Ezra, yang ada hanyalah tatapan siap untuk mati.


Tapi entah kenapa Bian Cheung merasa tidak akan bisa membunuhnya meski dia menembakkan peluru tepat pada dahi Ezra.


Walaupun begitu Bian Cheung mulai menggerakkan jarinya sedikit demi sedikit untuk menarik pelatuk pistolnya sebelum pintu ruang interogasi tiba-tiba terbuka.


"Tuan Bian Cheung, ada tamu penting yang datang!" teriak sekretarisnya.

__ADS_1


Namun wanita itu langsung dibuat terkejut dengan pemandangan yang terjadi di depannya itu.


"T- Tuan Bian Cheung, a- apa yang anda lakukan dengan pistol itu?" tanya sang sekretaris dengan gugup.


Bagaimanapun ada peraturan dan batasan dalam sebuah interogasi, salah satu peraturannya adalah tidak boleh membunuh tersangka sebelum mendapatkan informasi yang jelas perihal kejahatannya.


Jadi wajar sekretaris itu sangat terkejut dengan tindakan Bian Cheung.


"Ah ... aku sudah kelewatan, maaf..." gumam Bian Cheung lalu kembali menyimpan pistolnya.


Tapi tatapan kebenciannya masih tertuju pada Ezra sebelum dia bertanya kepada sekretarisnya, "Apa tadi yang kau katakan?"


"I- Itu adalah keluarga Jun datang untuk menemui pria itu!" kata sang sekretaris sambil menunjuk Ezra yang sudah kembali duduk di tempatnya dengan santai.


'Apa pria aneh ini ada hubungannya dengan keluarga Jun?' batin Bian Cheung.


"Aku akan menemuinya. Tolong amankan orang gila ini, jangan biarkan dia sampai keluar." kata Bian Cheung pada sekretarisnya.


"Baik tuan!"


Bian Cheung kemudian keluar untuk menyambut tamu penting yang merupakan keluarga Jun, keluarga paling berpengaruh di Kota Beijing.


Di sebuah ruangan yang telah disediakan, Bian Cheung melihat jika Jun Hui sudah ada disana bersama dengan istrinya Jun Qionglin.


Melihat mereka yang sudah menunggunya, Bian Cheung tidak bisa tidak merasa gugup karena telah membuat orang besar seperti mereka menunggu.


"Maaf telah membuat anda menunggu, Tuan Jun, Nyonya Jun." kata Bian Cheung dengan hormat.


"Tidak usah basa-basi, katakan dimana orang yang telah kau tahan sebelumnya!" kata Jun Hui cepat.


"Dia adalah tersangka pembunuhan yang menewaskan 15 orang mahasiswa, dia adalah seorang kriminal. Jadi kami harus menahannya." balas Bian Cheung serius.


Memang beginilah wataknya, dia adalah seorang pria yang menjunjung tinggi keadilan dan membenci yang namanya kejahatan atau tindak kriminal.


Namun, dirinya tidak akan bisa berkutik di hadapan kekuasaan yang mutlak.


"Dia adalah bodyguard putriku. Para laki-laki busuk itu berniat melukai putriku, jadi wajar jika dia bertindak kejam untuk melindungi keselamatan putriku." kata Jun Hui sukses membuat Bian Cheung terdiam.


Bagaimanapun seorang bodyguard memiliki kebebasan untuk bertindak demi keselamatan majikannya, jadi dengan fakta jika Ezra adalah seorang bodyguard sudah membuat Bian Cheung tidak memiliki hak untuk menghukum Ezra...

__ADS_1


Selain itu Bian Cheung juga tidak akan bisa menentang perkataan Jun Hui karena bisa dibilang definisi kepolisian ini bisa berdiri berkat Jun Hui.


Jadi mau tidak mau Bian Cheung harus melepaskan Ezra....


__ADS_2