
Noid menampakkan dirinya hanya kepada Anie. “Ada apa Anie?” tanya Noid. Anie menjawab bahwa dirinya ingin meminta Noid memberikan kekuatan dan aura percaya diri dan pemberani kepadanya. Noid dengan segera memenuhi apa yang diperintahkan Anie. Tak selang lama, Lucas juga memberikan kekuatan ketenangan pada jiwa Anie agar Anie dapat menjawab semua yang ditanyakan oleh kepala sekolah dengan kepala dingin.
“Anie, apakah kemarin kau pergi ke perpustakaan?” tanpa basa-basi kepala sekolah langsung menanyakan hal yang menyangkut hilangnya buku di perpustakaan.
“iya, aku ke perpustakaan kemarin setelah selesai kelas. Ada apa kepala sekolah?” jawab Anie dengan nada yang tenang dan penuh dengan keberanian sehingga orang lain benar-benar mengira Anie tidak ada hubungannya dengan kejadian itu.
“sekarang minumlah air ini. Jika kau berbohong air ini akan memberikan rasa panas pada tenggorokanmu jadi berkatalah dengan jujur.” Kepala sekolah memberikan sedikit ancaman dan menyodorkan segelas air yang merupakan air kebenaran. Air kebenaran ini baru ditemukan oleh pengajar Alkimia dan temuan itu menggemparkan dunia sihir karena itu sangat membantu dalam introgasi penjahat. Anie tidak menyangka kepala sekolah akan menyuruhnya meminum air itu.
Lucas berbisik pada Anie, “minum saja itu. Aku akan mengubahnya menjadi air putih biasa ketika kau minum nanti. Jika menyangkut air itu adalah keahlianku.”
Anie dengan segera meminum air yang diberikan kepala sekolah kepadanya. Ia bahkan meminumnya tanpa sisa. Sungguh keberanian yang diberikan Noid bisa merubah watak Anie yang tentu saja sebenarnya Anie tidak akan pernah mau meminumnya jika tanpa keberanian yang diberikan Noid.
“sekarang jawab pertanyaanku Anie. Apa kau melihat buku dengan sampul putih yang ada di perpustakaan?” tanya kepala sekolah yang mengintrogasi Anie.
“tidak. Aku tidak tau tentang buku yang Anda maksud.” Apa yang dikatakan Anie adalah kebohongan. Benar saja apa kata Lucas bahwa dia akan baik-baik saja walaupun dia berbohong karena Lucas telah mengubahnya menjadi air putih biasa.
“ya sudah Anie. Terima kasih sudah datang. Sebenarnya itu hanya buku cerita cinta biasa tetapi karena buku itu ditemukan di samping penulis yang merupakan penyihir perang hebat maka kami meletakkan buku itu di rak khusus dan tak seorang pun tanpa ijin diperbolehkan untuk meminjamnya keluar dari perpustakaan. Untuk sekarang kelas ditiadakan dulu. Kau akan kembali belajar besok. Kembalilah ke kamarmu.”
__ADS_1
Anie keluar dari ruangan dan segera kembali ke kamar. Sesampainya di kamar ia terduduk lemas karena kekuatan yang diberikan Lucas dan Noid sudah hilang. Ia terduduk di belakang pintu karena ia sudah tidak ada tenaga lagi untuk berjalan ke tempat tidur. Setelah beberapa menit, ia baru sadar kedua temannya sudah tidak ada di kamarnya. Entah dimana mereka, Anie sudah terlalu lelah memikirkannya. Setelah tenaganya mulai terkumpul lagi, ia mulai berjalan menuju tempat tidur. “sungguh mendebarkan. Ruangan yang tadinya nyaman bisa berubah jadi seram ketika kepala sekolah sedang serius.” Gumamnya tanpa suara.
Anie berpikir jika saja kepala sekolah tau jika itu bukan buku sembarangan dan merupakan penyimpanan benda-benda kuno pasti seluruh negeri sihir akan heboh dengan kehilangan buku berharga itu. Untung saja kepala sekolah tidak mengetahuinya.
“Lucas” panggil Anie dengan telepati.
“ya, ada apa?” jawab Lucas dengan cuek.
“apa kau sudah tau bagaimana cara membukanya dan mengeluarkan buku itu?”
“Iya benar, kakekku yang memberikannya.”
Setelah itu keduanya terdiam sejenak. Hingga akhirnya Anie berkata, “jadi apakah aku termasuk keturunannya dan buku putih itu adalah milik nenekku?”
“Dasar bodoh betapa lambatnya otakmu. Itu hanya perkiraanku bisa saja salah. Hanya dengan mencobanya kita akan tau jawabannya. Aku akan membuat ruangan khusus dahulu.”
“okey cepat lah Lucas aku sudah tidak sabar.” Ucap Anie memburu-buru Lucas.
__ADS_1
“sudah, sekarang berkonsentrasilah. Bayangkan kau mengeluarkan buku itu dan panggillah buku itu sama seperti ketika kau memanggil spirit namun kau cukup mengucapkannya dalam hatimu saja.”
Anie melakukan sesuai instruksi yang Lucas berikan. Kemudian ia mulai merasakan ada benda seperti buku di telapak tangannya dan ia membuka matanya. Kedua buku itu kini benar-benar telah ada digenggamannya.
“lukai sedikit tanganmu kemudian teteskan darahmu di atas buku itu.” Lucas memberi instruksi pada Anie.
Dengan cepat Anie melakukan apa yang Lucas katakan dengan meminta tolong Lucas untuk melukai sedikit tangannya. Setelah darah Anie meneteskan darahnya, Anie dan buku itu menghilang. Buku itu membawa Anie kedalamnya. Di dalam buku itu terdapat ruangan yang gelap dan hanya terlihat kristal yang bercahaya di ujung sana. Anie memanggil Lucas untuk menemaninya menuju ke arah kristal itu. “ternyata kau bisa masuk ke dalam sini ya.” Tanya Anie kepada Lucas yang tampak bercayaha biru. “selama kau bisa masuk di situ, aku juga bisa masuk.” Jawab singkat Lucas.
Mereka berdua berjalan dengan cepat menuju kristal yang bercahaya. Ketika sampai tepat di depan kristal itu, cahaya dari kristal semakin terang dan beberapa saat kemudian meredup. Seorang laki-laki muda bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik berdiri di depan Anie. Anie yang mengetahui bahwa laki-laki itu adalah kakeknya ketika masih muda dengan segera memeluknya. Namun kakek yang ia kenali itu tidak dapat ia peluk bahkan ia sentuh. “ada apa ini? Kenapa aku tidak dapat menyentuhmu kakek? Aku merindukanmu. Tidak mudah hidup tanpamu.”
“maafkan aku cucuku. Ketika kamu menemukan tempat ini, kakekmu ini sudah tidak bisa lagi menemanimu seperti dulu. Namun kakekmu selalu mengawasimu bersama nenekmu di tempat yang tak akan pernah bisa kamu datangi sebelum waktunya.” Kakek menahan suara tangisnya agar cucu kesayangannya tidak sedih, tetapi tetap saja Anie tidak dapat menahan tangisannya.
“Ap..pakah ia adalah nenekku?” Anie menunjuk wanita yang berada di samping kakeknya dengan suara yang terbata-bata karena tangisannya.
“Iya cucuku, aku adalah nenekmu maafkan aku karena aku belum sempat melihatmu tumbuh sebesar ini.” Ucap wanita itu dengan senyumnya yang bisa membuat hati Anie sedikit tenang.
“Nenek? Tapi kenapa kalian tak dapat ku sentuh? Mengapa? Aku sangat ingin memeluk kalian. Apa kalian tidak sedih melihatku melewati semuanya sendiri? Aku hanya ingin bersama keluargaku tapi kenapa aku harus sendiri? Aku iri dengan teman-temanku yang mendapakan pelukan ketika akan berangkat sekolah, menikmati waktu bersama keluarga, aku juga ingin merasakan walau hanya pelukan untuk saat ini.” Tangisan Anie semakin menjadi-jadi dan sudah tak dapat ia tahan lagi. Nafasnya sesak, jantungnya berdetak dengan kencang dan air mata mengalir deras di kedua pipinya. Ia merasa itu adalah pertemuan terakhirnya dengan kakek, juga merupakan pertemuan pertama dan terakhirnya dengan nenek yang baru pertama kali ia lihat.
__ADS_1