
Pagi telah tiba. Ia melakukan rutinitas seperti biasanya dan bersiap untuk berangkat ke kelasnya. Berbeda dengan biasanya, hari ini Anie sedikit terlambat. Kepala sekolah sudah menunggu di kelas Anie dengan tumpukan kertas di depannya, kertas yang dipenuhi tulisan dan tertata rapi.
“selamat pagi kepala sekolah.” Sapa Anie kepada gurunya. Setelah melontarkan sapaan kepada kepala sekolah, Anie meminta maaf atas keterlambatannya datang di kelas.
“tak apa Anie, kelas hari ini kita santai saja. Mungkin kelas mu hanya sampai seminggu ini saja. Tak banyak yang dipelajari tentang elementalis karena mereka bisa langsung memerintah spirit tanpa merapal mantra. Jadi setelah minggu ini kamu akan mempelajari banyak hal yang diperlukan untuk menjadi seorang kepala sekolah di masa depan.” Kepala sekolah mengatakannya sambil melanjutkan membaca tumpukan kertas yang ada di depannya.
“bukankah itu terlalu cepat? Aku saja baru saja masuk sini.” Anie merasa tidak siap untuk menjadi kepala sekolah di Dravelux.
“tenang Anie ini hanya latihan saja. Kamu baru akan menjadi kepala sekolah ketika usiamu 20 tahun.” Kepala sekolah menjawab pertanyaan Anie dengan nada lembut yang seolah membujuk Anie agar mau mempelajarinya.
Anie hanya bisa menganggukkan kepalanya karena ia tahu penolakan Anie tak akan ada artinya. Kepala sekolah menghentikan kegiatan membaca kertas di tangannya dan mulai mengajar Anie. Tidak banyak yang dipelajari dari kelas elementalis karena intinya pelajaran dari kelas elementalis adalah memanggil spirit. Jika seorang elementalis sudah berhasil memanggil spirit dapat dikatakan kelasnya sudah selesai.
Anie melihat kepala sekolah dan ia berpikir apakah kepala sekolah sudah tidak mempermasalahkan buku putih yang menghilang dari perpustakaan kemarin. “apakah buku yang hilang kemarin sudah ditemukan?” mulut Anie tanpa disadari menanyakan hal yang lebih baik tidak ia bahas.
Setelah menghela nafas kepala sekolah mengatakan dengan raut kecewa “tidak. Buku itu masih belum ditemukan.”
Mendengar jawaban kepala sekolah Anie menjadi penasaran apakah kepala sekolah tahu sesuatu tentang buku itu. “Apakah itu buku yang penting?”
“itu hanya sebuah buku cerita tetapi buku itu adalah satu-satunya buku yang ditinggalkan oleh seorang penyihir perang yang ditugaskan bersama elementalis hebat untuk menjaga dunia sihir dari ancaman kejahatan yang kemudian mereka jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Karena itulah buku itu tidak boleh dipinjamkan kepada siapapun, bisa dibilang itu adalah barang yang bersejarah karena ditulis langsung oleh sang penyihir perang.” kepala sekolah mencoba menjelaskan kepada Anie yang terlihat penasaran.
__ADS_1
Anie sekarang tahu bahwa bahkan kepala sekolah pun tidak tahu tentang rahasia dalam buku itu. Ia merasa sedikit tenang tetapi dengan rasa bersalah karena telah mengambil buku putih itu dan ia merespon penjelasan kepala sekolah dengan mengatakan “ku harap buku itu segera ditemukan.”
Kelas Anie hari ini telah berakhir. Ia segera ke kamar untuk memanggil kedua temannya untuk memenuhi janjinya akan ke kantin bersama Adrina dan Sera. Anie yang sudah sampai di depan pintu kamar segera membukanya.
“Sera… Adrina… mari kita ke kantin” ajak Anie yang baru saja membuka pintu.
Sera dan Adrina yang sedang asyik bermain dengan Ray langsung menoleh ke arah pintu. Adrina dengan penuh antusias langsung menghampiri Anie dan berteriak “Ayoooo kita berangkat.” Adrina menggandeng tangan Anie dan Sera. Sera yang sudah bangun pagi sudah mandi dan berganti pakaian sedangkan Adrina baru saja bangun tidur. Adrina masih mengenakan pakaian tidur berwarna pink dengan boneka berbentuk kepala burung hantu besar yang menempel di bagian tengah baju. Anie dan Sera menahan tawa mereka dan saling memberi kode agar tidak mengingatkan Adrina yang dengan percaya diri akan pergi ke kantin dengan pakaian burung hantu kesayangannya.
Dengan teleportasi yang ada di depan pintu, dengan cepat mereka tiba di kantin. Saat itu kantin tidak terlalu ramai dan tidak sepi juga. Setibanya di kantin beberapa siswa yang ada di kantin mulai tertawa ketika melihat Adrina. Namun sesuai peraturan di kantin, mereka hanya bisa menahan tawa mereka atau tertawa kecil karena tidak ada yang boleh berisik di kantin itu. Adrina masih juga belum sadar dan masih dengan percaya diri yang tinggi ia berjalan menuju meja yang berada di dekat kaca yang mengarah langsung dengan pemandangan bagian depan Dravelux.
“Anie, Sera mengapa wajah kalian memerah. Apa kalian sakit?” Adrina mulai menyadari ada yang aneh dengan temannya itu.
Kemudian Adrina melihat wajahnya dari pantulan bayangan yang ada di air mancur mini yang ada di depannya tapi ia merasa tidak ada yang aneh dengan wajahnya.
“lihatlah pakaianmu Adrina.” Anie yang sudah tidak dapat menahan tawanya mulai tertawa di depan Adrina.
Adrina yang sudah sadar mengapa sedari tadi seperti banyak mata yang melihatnya menjadi sangat malu dan memegangi boneka kepala burung hantu yang melekat di bajunya. Pipi Adrina mulai memerah dan akhirnya mereka memutuskan untuk segera meninggalkan kantin seusai makan. Adrina masih mengomel kepada kedua temannya “kenapa kalian tidak mengingatkanku dari awal? Sungguh menyebalkan.”
“kau yang begitu semangat menarik tangan kami menuju ke kantin. Ya apa boleh buat?” ucap Anie yang membuat wajah Adrina semakin merah.
__ADS_1
Makan yang ada di piring mereka sudah habis. Adrina segera mengajak temannya kembali ke kamar. Adrina berjalan dengan cepat ingin meninggalkan kantin tanpa melihat apa yang ada di depannya. Ia menabrak siswa laki-laki dari kelas perang yang sedang bersama kedua temannya.
“Kau tak apa?” ucap laki-laki itu dengan lembut.
Adrina kemudian mengarahkan matanya ke laki-laki tampan yang ada di depannya dan ingin meminta maaf. Belum sempat kata maaf keluar dari mulutnya, teman lelaki itu memakinya “burung hantu, putar lehermu agar kau bisa melihat jalan dengan jelas.” Ucap teman laki-laki yang Adrina tabrak. Adrina terlihat sangat marah dengan ucapan laki-laki itu. Belum sempat Adrina bicara, Anie dan Sera mengajak Adrina pergi dari situ. Mereka berdua tahu betul sifat Adrina apalagi saat Adrina marah. Khawatir Adrina akan marah dan berteriak membuat keributan yang akan membuat kekacauan di kantin, Sera mengucapkan permohonan maaf dan segera meninggalkan kantin bersama kedua temannya.
Asrama terlihat semakin ramai. Banyak siswa baru berdatangan. Anie, Adrina dan Sera yang sudah sampai di kamar mereka. Anie dan Sera meminta maaf kepada Adrina karena mereka telah membuat Adrina malu. Adrina memaafkan kedua temannya itu dan mereka bertiga saling memberikan pelukan hangat.
“apa kau tau siapa laki-laki itu?” tanya Adrina
“tidak, tapi aku pernah melihatnya di kelas perang. sepertinya dia adalah kakak kelas kita.” Jawab Anie
“untung saja aku tidak mengatakan apapun tadi kalau tidak pasti aku akan terus diganggu kakak kelas itu. Eh laki-laki yang ku tabrak tampan sekali bukan? Seperti malaikat. Bahkan perkataannya juga sangat lembut. Apa aku sedang jatuh cinta.” Adrina mulai membayangkan wajah tampan dari laki-laki yang ia tabrak tadi.
“kalau sudah membahas laki-laki tampan pasti Adrina sudah lupa dengan rasa malunya tadi.” Ejek Sera.
“ehhh… mana ada. Tapi teman-temannya juga tampan loh. Sayang sekali mulutnya sangat pedas.” Wajah Adrina memerah mengingat kata-kata pedas yang dilontarkan untuknya.
“Sudah-sudah sekarang ganti pakaian mu. Kita jalan-jalan ke taman atau berenang saja.” Ajak Anie
__ADS_1
Adrina segera mengganti pakaiannya dan mereka bertiga bergegas menuju ke bagian samping Dravelux. Kali ini Adrina ingin sekali berenang. Sebagai permintaan maaf Sera dan Anie menuruti permintaan Adrina walaupun sebenarnya Sera sangat malas untuk berenang. Adrina yang sudah tidak sabar langsung melompat ke air. Anie yang sebenarnya sangat menyukai berenang segera menyusul Adrina masuk dalam air. Berbeda dengan Adrina dan Anie, Sera hanya duduk di pinggir kolam renang dan merendamkan kakinya di bawah air.