Elementalis Terhebat

Elementalis Terhebat
Telur


__ADS_3

Ruangan kedua ini terang dan hangat berbeda dengan ruangan-ruangan sebelumnya. Di tengah ruangan itu ada sebuah telur yang sangat besar. Telur itu berada di atas baru besar dan memancarkan energi yang sangat besar.


“Lihatlah telur itu Lucas. Sungguh cantik bukan? Telur apa itu?” tanya Anie sambil menunjuk ke arah telur besar di tengah ruangan.


“itu adalah telur hewan kuno. Telur itu tidak akan menetas jika ia belum mendapat energi yang cukup. Setelah memperoleh energi pun dia harus menunggu 1 bulan untuk menetas. Agar tetap hidup dia harus disimpan di tempat yang hangat dan terdapat cahaya itu lah mengapa ruangan ini berbeda dari ruangan sebelumnya yang gelap dan dingin.”


“Apakah energiku cukup untuk membuatnya menetas Lucas? Apakah ini telur naga?” Anie membayangkan betapa lucunya bayi naga yang baru menetas.


“energi mu cukup besar sehingga jika kau memberinya energimu selama 1 minggu berturut-turut dia akan memiliki kesempatan untuk menetas. Ini adalah telur… kita akan mengetahuinya ketika dia menetas. Untuk saat ini aku tidak dapat memastikan telur apa ini.” Lucas sedikit tersenyum melihat wajah Anie yang penuh harap dan kemudian kehilangan harapan ketika Lucas mengatakan telur apa yang ada di depannya itu.


Anie mencoba menyalurkan energinya kepada telur itu. Dia mulai lemas karena ternyata telur itu menguras habis energi Anie. Tubuh Anie terkulai lemas namun ia sangat bahagia karena ia akan memiliki peliharaan baru.


Lucas mengajak Anie untuk kembali ke kamar karena mereka sudah terlalu lama di sini. Pasti orang-orang akan curiga jika Anie tidak segera kembali. Awalnya Anie menolak karena dia ingin menemani telurnya sedikit lebih lama lagi. Namun Lucas mengatakan bahwa mereka akan kesini lagi besok. Anie memang butuh banyak waktu untuk memulihkan energinya yang habis karena ia salurkan ke telur itu. Akhirnya Anie menyetujui untuk kembali ke kamar.


Namun ada satu permasalahan, Anie tidak tau cara keluar dari ruang rahasia itu. Lucas memberi tahu Anie bagaimana cara keluar dari ruangan itu.


“letakkan tangan mu di bagian tubuhmu dimana buku itu masuk pertama kali. Berikan sedikit energimu di tangan mu. Barulah kita bisa keluar.”


Anie yang lemas itu menjawab, “tapi aku sudah menghabiskan semua energiku untuk menetaskan telur tadi. Sekarang aku tidak memiliki energi sedikitpun.”

__ADS_1


“oh Anie, bodohnya dirimu. Aku akan membantumu dan memberikan energiku.”


Tangan Lucas menyentuk kening Anie, rasa hangan yang Anie rasakan saat itu. Ia merasa tubuhnya terisi energi lagi meskipun tidak seratus persen. Kemudian ia meletakkan tangannya di dadanya dan menyalurkan energinya ke tangannya. Beberapa detik kemudian, Anie dan Lucas telah keluar dari ruangan rahasia dalam buku.


Ia melihat Adrina dan Sera mencarinya di setiap sudut ruangan sambil menyebut nama Anie. Anie meminta Lucas untuk membawanya ke bagian belakang sekolah dan membuat tubuh Anie menjadi transparan seperti air agar Anie dapat keluar dari kamar tanpa diketahui siapapun.


Sesampainya di bagian belakang sekolah, kembali Anie merasakan ada seseorang yang mengamatinya dari arah hutan yang lebat itu. Anie melihat dengan teliti untuk mengetahui siapa yang ada di hutan itu.


“apa kau kenal siapa dia?”, tanya Lucas yang membuat Anie kaget karena ia terlalu fokus.


“aku tidak tahu. Apa kau juga melihatnya?”


Hari mulai gelap. Awan berwarna orange kemerahan menghiasi langit. Samar-samar bulan mulai menampakkan wajahnya. Anie yang mulai merasa tidak enak dengan hawa tempat itu mengajak Lucas untuk kembali ke kamar dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Ketika Anie tiba di kamarnya, Adrina dan Sera langsung berlari menuju arah Anie dan memeluknya seperti mereka sangat takut terjadi hal buruk pada Anie. Sera mengajak Anie duduk terlebih dahulu karena takut ada apa-apa dengan Anie dan Anie dapat menceritakan kemana dia seharian ini. Wajah pucat Anie sudah tidak terlihat meskipun Lucas hanya memberi Anie sedikit energinya. Perlahan Anie bercerita tentang apa yang terjadi padanya mulai dari hilangnya buku di perpustakaan, setelah itu ia dipanggil untuk menemui kepala sekolah di ruangannya. Namun setelah itu Anie berbohong dengan mengatakan ia berada di bagian belakang sekolah dan melatih kekuatannya di sana karena ruang latihan yang ada di samping sekolah sedang penuh hingga tak sadar matahari mulai terbenam dan ia segera kembali ke kamarnya.


“Untunglah. Ku kira kau kenapa-kenapa. Kalau begitu istirahatlah. Kau pasti sangat lelah hari ini. Eh.. apakah kau sudah makan Anie. Kami membawa beberapa makanan dari kantin karena kami berniat akan makan di sini bersamamu. Tapi mungkin sekarang makanannya sudah dingin” Ucap Sera


“tak apa Sera, aku belum makan hari ini. Semua kejadian hari ini membuatku lupa makan. Terimakasih kau sudah mengingatkanku.” Sera tersenyum dan mengucap syukur dalam hatinya karena memiliki 2 orang teman yang sangat perhatian dan menyayanginya.

__ADS_1


Mereka bertiga menikmati makanan yang telah dingin itu dengan suasana kamar yang penuh kehangatan persahabatan mereka. Sebenarnya Anie merasa tak enak hati karena membohongi kedua sahabatnya yang dari kecil bersamanya dan mereka juga yang selalu membuatnya merasa tidak begitu kesepian. Anie berjanji pada dirinya bahwa suatu hari nanti dia akan mengatakan semua ini meskipun ia harus menerima jika kedua temannya akan marah kepadanya karena kebohongan yang Anie katakan sebelumnya.


“Anie ayolah besok kita ke kantin bersama.” Adrina mengajak Anie untuk makan bersama di kantin Dravelux yang megah


“iya”, jawab Anie


“kau harus berjanji Anie. Kesehatan itu penting, kau tahu itu kan?” Adriana mengomel karena Anie sering lupa makan sejak ia berada di Dravelux.


Seusai makan Anie menuju ke tempat Ray untuk melihat apakah makanannya sudah habis. Begitu sampai di depan Ray, Ray terlihat murung karena hampir seharian Anie meninggalkan Ray di kamar tetapi tempat makan Ray masih lumayan penuh. Anie bertanya dalam hatinya apakah Ray tidak makan hari ini. Melihat ekspresi Anie yang kebingungan, Sera langsung mengetahui apa yang dipikirkan Anie.


“dia makan dengan lahap Anie. Kau tak perlu khawatir. Tadi aku menambahkan makanannya.”


Mendengar ucapan Sera, Anie mengucapkan terimakasih kepada Sera karena telah memberi Ray makan. Kekhawatiran di wajah Anie menghilang. Ray adalah hewan yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri tentu Anie begitu panik jika ada sesuatu yang terjadi pada Ray. Untuk meredakan kemarahan Ray, Anie mengelus kepala Ray dan meminta maaf padanya.


Mereka bertiga merasa sudah sangat kenyang dan kemudan kembali ke tempat tidurnya masing-masing. Mereka bertiga mencoba untuk tidur serta melupakan apa yang terjadi pada hari ini. Berbeda dengan kedua temannya yang sudah tertidur lelap, Anie merasa ada yang ganjil dengan ucapan kakeknya tadi. Ia berpikir mengapa kakeknya yang merupakan seorang elementalis itu tidak menjadi kepala sekolah di Dravelux. “Bukannya kepala sekolah pernah berkata bahwa seorang elementalis akan menjadi kepala sekolah di Dravelux, mengapa kakekku tidak? Eh tunggu sebentar, kepala sekolah pernah berkata bahwa ada satu elementalis yang memilih untuk tidak menjadi kepala sekolah. Kepala sekolah juga berkata dia adalah seorang elementalis yang hebat. Apakah yang dimaksud kepala sekolah adalah kakekku.” Pikir Anie yang tidak ia ungkapkan dalam ucapan.


Anie terus berpikir kenapa kakeknya tidak ingin menjadi kepala sekolah di Dravelux dan memilih untuk menjalani kehidupan di dunia manusia yang bahkan penggunaan sihir sangat dibatasi. Ia menebak jika kakeknya tidak hanya mencari kedamaian di dunia manusia. Memang banyak sekali penyihir yang memilih untuk tinggal di dunia manusia untuk mencari ketenangan tetapi untuk posisi sebagai kepala sekolah Dravelux, Anie merasa orang tidak akan mau menolak posisi itu. Banyak orang yang menginginkan posisi itu dan dengan menjadi kepala sekolah kehidupan keluarganya juga pasti terjamin baik keamanan maupun kesejahteraannya. Anie merasa mungkin ada yang ia sembunyikan dan tidak ingin seorang pun yang boleh tahu. Anie terus berpikir keras tentang itu tetapi ia tetap tidak menemukan jawabannya.


“ah, ngantuk sekali. Hari ini sungguh melelahkan. Aku pikirkan besok saja.” Anie menguap karena rasa kantuk yang sudah tidak dapat ia tahan lagi. Perlahan matanya menutup dan Anie tertidur.

__ADS_1


__ADS_2