Enigma Sebuah Perasaan

Enigma Sebuah Perasaan
4 ESP


__ADS_3

๐ŸŒผ Kehilangan ๐ŸŒผ


Hanya pena dan kertaslah tempat dimana seharusnya saya membagi beban. Bukankah memang begitu sejak dulu? Harusnya saya sadar sesadar-sadarnya bahwa bukan keputusan yang tepat membagi apa yang menjadi beban saya dengan orang lain. Bukan karena mereka akan tidak peduli atau bahkan abai. Tapi, lebih pada mereka punya masalah dan kesibukan juga, bukan?


Saya sadar saya salah. Waktu bisa mengubah segalanya, hingga semua berbeda tidak seperti dulu lagi. Meski ketakutan saya masih pada satu hal yang sama. Kehilangan. Ah, kehilangan? Pantaskah bahwa saya mengatakan itu sebagai kehilangan? Sementara saya tahu betul bahwa diri saya bukanlah milik saya sendiri. Jadi, patutkah saya mengatakan itu sebagai kehilangan, sementara ia hanya kembali kepada pemiliknya yang sebenarnya?


Dua hari yang lalu, tepat dimana ketakutan itu menghantui, entah mengapa saya mulai menulis di ruang putih kosong ini lagi. Tanpa mengharap balasan, saya hanya sekedar menulis karena dari tulisan saya di ruang kosong ini, saya berharap beban saya dapat berkurang perlahan dan menghilang diam-diam. Sama seperti tulisan ini, yang berganti dengan tulisan-tulisan orang lain detik demi detik, menit ke menit hingga apa yang saya tulis akan terlupakan begitu saja, bahkan oleh diri saya sendiri.


Pas, 19/8/2018


๐ŸŒผKalah ๐ŸŒผ


Malam itu, kamu tahu betapa sulit rasanya bertarung dengan diri sendiri, dimana antara hati dan logika bertolak belakang dan tidak beriring.


Saya berkata pada diri bahwa saya baik-baik saja. saya kuat seperti sebelum-sebelumnya. Saya mampu melewati semuanya dengan sempurnah.

__ADS_1


Namun nyatanya, saya kalah melawan hati, hingga akhirnya saya melakukan hal yang tidak seharusnya saya lakukan, sesuatu yang mungkin sangat kamu benci. Ma'af, jika ego saya selalu saja tinggi, sementara kamu harus meletakkan bencimu dalam hati.


Berulang kali saya merutuki dalam hati, menyalahkan diri sendiri, yang dengan seenaknya melibatkanmu dalam sebuah beban yang bahkan tak ingin sama sekali kamu tahu. Memaksamu untuk menguatkan yang bahkan sama sekali tak ingin kamu lakukan.


Kamu sudah nyaman dengan hidupmu, sementara saya hanya bisa merusaknya menjadi abu. Ma'af. Ma'af. Hanya kata itu yang mampu saya ucap. Mungkin tak akan berarti bagimu karena saya tidak bisa mengembalikan waktumu yang terbuang percuma karena saya. Tapi, lewat kata itu saya titipkan sebuah ketulusan didalamnya. Semoga kamu tetap berada di dalam lindungan-Nya.


Di suatu pagi, di sudut lorong ruangan ini, saya sadar bahwa saya hanya punya diri dan sendiri.


Pas, 21/8/2018


Saya benci hitam karena ia gelap. Tapi, saya lebih tidak menyukai putih. Kamu tahu kenapa? Karena hitam kita masih bisa menaruh harap, bahwa akan ada sedikit cahaya yang akan menyusup masuk.


Sementara putih, kita bisa melihat secara nyata apa yang ada disekeliling kita. Seperti saat ini, diruangan yang dengan dominasi putih ini, dapat terlihat dengan jelas..Kosong, tidak berpenghuni.


Pas, 21/8/2018

__ADS_1


๐ŸŒผ Pilihan Yang Sama ๐ŸŒผ


Kamu tahu betapa berharganya waktu? Sangat. Dan bahkan saya harus memohon kepada kamu untuk meminta waktumu. Karena itulah, saya tidak ingin kehilangan waktu. Tidak, tidak barang sedetikpun jika saya mampu.


Karena itulah saya tetap pada keputusan yang sama. Saya melewatkan kesempatan bagus, tawaran hidup yang lebih baik, yang kata orang-orang tidak akan datang dua kali. Tapi, karena itulah, karena kesempatan tidak datang dua kalimakanya saya tidak ingin kehilangannya.


Bagi saya, karir dapat dicari lagi. Tapi, menjaga satu-satunya orang yang saya cintai dan sayangi di dunia ini tidak akan bisa dicari lagi ketika pergi tak kembali itu menghampiri. Jika begitu, katakan kepada saya kemana harus saya berikan bakti dan pengabdian itu lagi?


Saya tidak akan pergi. Saya memilih untuk diam dan tetap tinggal, meski kondisinya menyakitkan. Saya tidak peduli dengan kata orang-orang bahwa saya lebih baik pergi, atau kata-kata saudara-saudara saya sendiri bahwa saya harus memikirkan diri sendiri juga.


Mereka salah jika berpikir bahwa saya tidak memikirkan diri sendiri. Karena nyatanya, dengan memilih jalan ini, saya lebih dari memikirkan diri. Bagi saya, pahlawan tulang baja ini adalah hidup saya saat ini, semesta saya. Sama halnya dengan matahari yang menjadi pusat tata surya, pahlawan tulang baja ini adalah pusat saya.


Saya tidak akan pergi, hanya dua alasan yang membuat saya akan memilih jalan itu. Pertama, jika beliau meminta dan kedua saya sudah sampai batas saya untuk bisa menanggung semuanya lagi.


Pas, 21/8/2018

__ADS_1


__ADS_2