
🌼 Iri 🌼
Salahkah jika saya merasa iri? Pada mereka yg berada disekeliling saya yg tertawa bahagia. Pada mereka sahabat-sahabat saya yg bisa menjadi wanita yg sempurnah. Juga pada ia, yg bertemu dg mu lebih dulu dan mendapatkan ketulusanmu? Ah, lagi-lagi saya merasa iri pada wanita beruntung itu.
Yang saya minta hanya sederhana. Kamu, ya kamu...Tapi, egois bukan jika saya meminta kamu. Padahal kamu meminta dia dan bukannya saya? Karenanya saya berusaha melepaskan, mengikhlaskan, tp tetap saja masih selalu kamu yang berpusat di hati saya.
Jangan dikira saya tidak berjuang selama beberapa tahun ini. Saya berjuang, menghindari kamu, menarik jarak panjang darimu, dan menahan keinginan terbesar saya untuk tahu seperti apa dirimu kini. Tapi, ketika ketakutan masa lalu itu datang bak film yg diputar ulang. Saya menemukan kamu lagi, sebagai satu-satunya tempat dimana saya bisa bersandar sejenak utk membagi cerita. Namun sayangnya, sebelum saya dapat bersandar saya terjatuh lebih dulu. Karena nyatanya Tuhan tak juga mengizinkanku untuk berpijak ke kamu. Atau mungkin, kamu memang bukan pijakan yg seharusnya untukku? Entahlah...
Di sore hari ini saat semburat jingga mengangkasa di kaki langit. Aku iri, pada ia yang bertemu denganmu lebih dulu dan mendapat ketulusanmu.
__ADS_1
🌼 Ketakutan 🌼
Suara sirine itu bertalu-talu seperti gema. Suara yg selalu membuat bulu kuduk saya berdiri. Dan suara yg selalu menimbulkan ketakutan saya kembali mski telah lama saya coba kubur dalam2.
Suara itu mendengung tidak mau pergi. Menimbulkan nyeri di hati dan gemetar riuh dalam diri. Namun harus saya lalui, harus saya alami itu lagi, sendiri.
Suara sirine 180 menit 360 detik yang lalu yg harus saya ingat selalu. Bahwa saat itulah saya bertarung dengan ketakutan masa lalu. Dengan do'a dan penuh harap dari para saudara, saya ridho, ikhlas lillah hirobbi jika harus menghadapi ketakutan itu sekali lagi. Demi pahlawan tulang bajaku, semoga bisa kembali sembuh...(amin)
🌼 Mengharapkanmu 🌼
__ADS_1
Mengharapkanmu, sama seperti saya berharap memetik bintang di langit malam untuk saya simpan. Mengharapkanmu, sama seperti menyeberangi samudera yang tak saya tahu ujungnya. Mengharapkanmu, sama seperti berjalan tanpa arah tujuan, seberapa lama dan jauhnya kaki melangkah tak saya dapati akhir dari perjalanan itu.
Saya tidak meminta banyak, hanya beri saya kekuatan untuk bisa bertahan, dari semua kesedihan dan ketakutan yang mencekam. Hanya katakan kepada saya bahwa saya kuat, saya wanita terkuat yang pernah ada, dan pastinya saya bisa melewati semuanya dengan ikhlas dan lapang dada. Rasanya sesak, ketika semua orang yang berkunjung mengatakan kepada saya untuk tetap sabar, sementara saya menahan air mata untuk tidak jatuh detik itu juga.
Saya bahkan tidak berani bertanya kepada Tuhan kenapa harus begini, karena ini adalah jalan takdirnya. Namun, saya masih menaruh harapan kecil di dalam ikhtiar saya ini, berharap bahwa ayah kembali seperti sedia kala, menggenggam tangan saya dan menyerahkan kepada dia yang dipersiapkan-Nya sebagai imam saya suatu hari nanti. Katakan kepada saya, apakah saya berlebihan?. Katakan kepada saya apakah saya terlalu egois jika menginginkan ayah saya tetap ada sampai waktu itu tiba?
Beribu kali saya bertanya dalam ruang kosong ini, kamu tetap tidak akan menjawab bukan? Dan kamu juga tidak akan ada di samping saya ketika semua berubah menjadi semenakutkan seperti saat-saat ini . Saya tahu dan saya sadar sesadar-sadarnya, karena pada akhirnya seperti apa yang saya katakan di awal. Bahwa mengharapkanmu adalah sebuah kemustahilan yang nyata.
Sidoarjo, 10 September 2018
__ADS_1