
Berhari hari telah berlalu. Setelah berakhirnya hubungan Anita dan Syafiul, mereka berdua menemukan pasangannya masing masing. Entah akan bertahan berapa lama. Namun aku tak yakin dengan Anita. Dia kembali lagi seperti semula. Dia memiliki pacar tidak hanya satu. Padahal saat bersama Syafiul dia tak pernah selingkuh dengan siapa pun. Dan kali ini dia melakukan hal yang sebelumnya pernah dilakukan. Berpisahnya dengan Syafiul membuat Anita menjadi geram dengan semua pria.
Mau sampai kapan dia seperti itu aku pun tak tau. Aku hanya bisa membiarkannya. Jika itu membuatnya bahagia, aku tak bisa mencegahnya. Entah bahagia sungguhan atau cuma pelampiasan, hanya dia yang mengetahuinya.
Sejak Anita putus dengan Syafiul , mereka berdua belum bertemu lagi. Syafiul juga kayaknya lagi marah karena di putus sama Anita. Dia bilang ke Anita jangan pernah hubungi dia lagi. Dan sejak itu pula Anita tak pernah menghubungi Syafiul lagi.
Tengah hari yang sangat panas aku pergi ke rumah Anita. Aku ingin mengajaknya pergi keluar. Daripada gabut dirumah, mending pergi jalan jalan. Tujuannya mau kemana juga belum tau sih. Yang penting keluar aja dulu. Selagi masih bisa. Hehe....
Tok...Tok...Tok...
"Anita...." aku mengetuk pintu rumahnya dan berteriak memanggilnya. Tidak ada jawaban.
"Anitaaa....." panggilku untuk yang kedua kalinya. Tidak ada jawaban lagi.
"Anitaaaaaa....."
Kreeekkkkkkk....
Pintu terbuka. Anita keluar. Dia tersenyum padaku. Rambutnya acak acakan. Matanya sayu. Dia habis bangun tidur.
"Ya ampunn, habis bangun tidur yah..." kataku padanya.
Dia hanya melebarkan senyumannya. Sebagai isyarat mengiyakan. Aku geleng geleng kepala. Lalu dia menyuruhku untuk masuk kedalam. Aku menolak. Aku lebih memilih menunggunya diluar. Aku jarang mau masuk rumah Anita. Bukan karena nggak mau tapi aku malu sama keluarganya. Lagi pula aku juga sudah biasa menunggu Anita di luar.
Limabelas menit kemudian Anita keluar lagi. Dia dandan rapi dan terlihat sangat cantik. Ia mengenakan celana jeans, baju biru dan jilbab biru serta memakai sepatu hitam. Bibir mungilnya terlihat mempesona. Memakai lipstik warna merah muda. Tak terlalu tebal, namun masih terlihat jelas.
"Hari ini kita kemana?" tanya Anita yang sibuk memakai sepatu.
"Emm.... Kemana aja boleh... Kamu maunya kemana?" aku balik bertanya.
"Kemana aja boleh...." dia melirik padaku dan menirukan perkataanku. Kita berdua tertawa, lalu pergi dari rumah Anita.
Kita jalan jalan berkeliling kesana kemari tanpa henti. Karena nggak ada tempat yang pasti kita tuju. Kita berdua lebih sering melewati jalan jalan kecil yang tidak ramai kendaraan. Sekalian menikmati indahnya pemandangan ketika melewati persawahan maupun perkebunan. Kadang kita juga sesekali berhenti untuk istirahat. Berteduh di bawah pohon rindang untuk sekedar menghindar dari panasnya sang raja siang.
"Panas juga hari ini, mau kemana lagi kita?" ucapku pada Anita.
"Kemana ya enaknya...?" kata Anita yang sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Yeeee.... Ditanya malah balik nanya huuu...." timpal ku padanya.
lagi
Kita sibuk pada pikiran kita masing masing. Aku bingung mikir mau kemana. Sedangkan Anita masih pada posisi yang sama, bermain ponsel. Kemudian aku ada ide cemerlang. Nggak lengkap rasanya kalau jalan jalan tanpa makan. Akhirnya aku ajak Anita cari makan aja.
"Nittt......" panggilku.
"Apaaa....?" tanpa menoleh padaku.
"Laper nggak? Cari makan yuk!" ajak ku.
"Lumayan sih, tapi cari dimana?" tetap pada posisi yang sama lagi.
"Depan sana ada kok, kamu bawa uang kan?" tanyaku lagi.
"Ada nih..." menyadarkan beberapa uang puluhan ribu padaku.
"Kamu yang bayarin aku yah..." aku melebarkan senyum pada Anita.
"Nggak papa lah sekali sekali..."
"Dihh.. Sekali?? Berkali kali taukkk" celoteh Anita. Kali ini dia menoleh padaku. Aku hanya menertawakannya.
"Heheh... Kamu kan baik..." godaku padanya.
"Ya deh iya...." kembali lagi ke posisi semula.
Istirahat kita cukup. Kita langsung pergi cari makan. Tak jauh dari tempat kita berteduh tadi ada warung Mie Ayam Berkah. Aku nggak mau ambil pusing cari makan jenis apa. Yang penting bisa mengisi kekosongan perutku. Untung saja Anita mau. Lagian Anita juga sukanya makan mie ayam.
"Pak... Pesen mie ayamnya dua" kataku pada penjualnya.
"Minumnya apa Nitt... " giliran aku bertanya pada Anita.
"Lemon Tea aja..." jawab Anita.
"Sama Lemon Tea nya dua ya pak..." lanjutkan pada penjualnya.
__ADS_1
"Woke.... Siap neng..." jawab penjual itu.
Kita duduk di dua kursi bagian atas. Sambil menunggu, aku dan Anita sibuk bermain ponsel. Seperti biasa , tiada hari tanpa hadirnya Youdha. Meski hanya chat tapi setidaknya masih bisa komunikasi jarak jauh dengannya.
Makanan datang. Aku memakannya bersama Anita. Dari warung makan, sekilas aku melihat ke sebrang jalan. Disana ada toko aksesoris. Aku ingin pergi kesana mencari sesuatu. Tapi apa? Aku masih bingung mau cari apa. Kemudian ide melintas di pikiranku, aku ingin membelikan sesuatu untuk Youdha. Selesai makan aku langsung mengajak Anita pergi kesana. Aku tidak membawa motorku. Tempatnya hanya di sebrang jalan jadi aku lebih memilih jalan kaki saja. Awalnya Anita tak mau menyebrang jalan karena dia takut. Aku memegang tangannya dan menyebrang bersama dia.
"Kamu mau beli apa sih emangnya?" tanya Anita padaku.
"Emm... Beli sesuatu untuk Youdha. Udah ayo masuk cari sesuatu di dalam" jawabku.
Aku kemudian masuk kedalam toko bersama Anita. Mencari barang yang couple an sama Youdha. Anita sibuk dengan urusannya sendiri. Dia cari make up untuk kebutuhannya. Sedangkan aku masih bingung mencari cari.
"Udah nemu belom barangnya?" ucap Anita yang mengejutkanku.
"Ehh... Belom... Kamu udah beli barang yang kamu butuhkan?"
"Udah nih... Aku tunggu diluar ya..." menunjukkan beberapa barang padaku lalu pergi dari hadapanku.
Aku masih bingung mau beli apa. Cari cari barang yang pas belum ketemu juga. Kalau beli jam nggak cukup uangnya. Lagi pula kan buat dua orang.
Aku berjalan menuju boneka. Banyak banget boneka yang lucu lucu. Aku jadi kepengen punya. Tapi nggak sanggup belinya. Daripada sakit hati sendiri aku membalikkan badan. Ternyata ada aksesoris lengkap. Kemudian melintas di pikiranku ingin membelikan barang yang sama saat aku memberi barang pada Aan.
"Gelang...! Iya gelang ! Aku belikan Youdha gelang aja. Toh ini yang sama jenisnya banyak" batinku dalam hati.
"Tapi.... Mau beli yang seperti apa ya... Kalau yang ronce kayaknya Youdha nggak suka, yang aluminium harganya nggak pas... Duh jadi bingung nih...." aku memegang gelang yang kanan kemudian yang kiri. Bingung mau beli yang mana. Saat aku memegang salah satu gelangnya ada yang jatuh. Aku mengambilnya. Kemudian aku melihat ada beberapa gelang dari karet tapi indah banget. Aku memegangnya.
"Lumayan kuat juga, nggak mudah putus nih" aku menarik narik gelang tersebut. Nggak kenceng kok. Lalu aku berminat membelinya. Gelangnya cocok buat cewek cowok. Lagi pula gelang itu adalah gelang yang bertuliskan nama club sepakbola yang di sukai Youdha. Jadi nggak mungkin dia menolaknya. Tanpa basa basi lagi aku mengambil dua gelang yang sama. Warnanya hijau tua dan tulisannya warna kuning. Aku membayarnya lalu pergi keluar. Anita sudah menunggu disana.
"Udah dapet...?" tanya Anita.
"Udah dong...." aku menunjukkanya pada Anita.
"Hahh... Gelang lagi..."
Aku tersenyum lalu memfoto gelang itu dan mengirimkannya pada Youdha.
"Cepat pulang aku menunggumu..." pesanku pada Youdha. Selesai dari situ bergegas kembali ke motorku lalu pulang.
__ADS_1