FADED Alum Dalam Kisah Cintaku

FADED Alum Dalam Kisah Cintaku
Tangis


__ADS_3

"Anita putus sama Syafiul ya minggu lalu?" tanya Youdha padaku. Youdha tau kalau Syafiul telah memutuskan Anita. Wajar saja Youdha adalah kakak sepupunya Syafiul. Jadi dia hampir tau semua tentang Syafiul.


"Iya... Aku kasian sama Anita, dia di putus karena ada pihak ketiga katanya". Jawabku


"Ouh... Kasian juga"


"Jangan jangan kamu juga gitu nanti. Kamu kan kakaknya Syafiul. Ajaran dari kamu yah.... Hahah..." aku menggoda Youdha.


"Ya nggak mungkin lah... Meski dia adik aku, tapi kan beda rumah, beda ayah sama ibu juga. Dan satu hal yang harus kamu tau, aku sayang sama kamu Rist, aku nggak akan duain kamu sampai kapan pun"


"Ah... Kamu mah bisa aja buat aku nyaman... Makin sayang juga deh sama kamu... Hehe..."


"Hehe... Iya bawell..."


Dua minggu telah berlalu. Anita sempat balikan sama Syafiul, tapi kali ini Anita giliran yang memutuskan Syafiul. Dia lakukan itu karena sifat Syafiul masih tetap sama. Dia sebenarnya masih sayang banget sama Syafiul. Tapi dia nggak tahan sama kelakuannya. Aku tau, Anita masih belum rela Syafiul meninggalkannya. Walau dia suka tertawa ketika dekat teman temannya, tapi aku yakin, itu hanyalah tawa untuk menyembunyikan sakit hatinya. Tapi pada dasarnya seperti kata pepatah *sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga baunya*. Begitupun Anita, sepandai pandainya dia menyembunyikan rasa sakit yang dialaminya, masih terlihat jelas kalau dia sedang kecewa. Setiap saat dan setiap waktu ia teringat masa masa indah saat bersama dengan Syafiul, pasti dia selalu menangis sedih. Setiap pagi matanya selalu lebam dan hitam. Tampak jelas dia habis menangis di tengah malam.


"Kamu habis nangis yah, itu mata kamu lebam" aku mulai bertanya pada Anita.


"Apa kelihatan jelas kalau aku habis nangis?" dia memegang matanya.


"Jelas banget kamu habis nangis, kamu nangis kenapa sih? Soal Syafiul lagi?"


"Eng.. Eng... Enggak kok bukan soal itu" kata Anita terbata bata. Aku tau di nggak jujur padaku.


"Kamu bohong ! Aku tau kamu kok. Kamu sebenarnya lagi mikirin Syafiul kan?"


Anita terdiam dan melamun.


"Hey..." aku menepuk pundaknya.


"Di tanya kok malah ngelamun. Kamu benerr kan lagi mikirin Syafiul?" tanyaku lagi.


"Iya.. Aku masih mikirin dia" kata Anita yang memandang papan tulis dengan tatapan kosong.


"Kenapa lagi sih masih mikirin dia?"


"Aku nggak tau, dia nggak bisa lepas dari pikiran aku" masih tetap melamun.


"Kan kamu sendiri kemarin yang putusin dia, kamu nyesel?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku nggak nyesel kok, malah aku lega bisa putusin dia"


"Lega gimana...?" aku penasaran.


"Dulu dia yang putusin aku, sekarang giliran aku dong yang putusin dia, jadi kita berdua impas" jawab Anita sembari senyum pahit.


"Yakin kamu nggak nyesel? , bukannya kamu masih sayang sama dia" tukas ku.


"Sayang....?"


"Iyaa...."


"Apalah artinya sayang sama dia kalau dianya nggak sayang sama aku. Kemarin waktu dia ngajakin balikan aku dia janji mau berubah. Tapi kenyataannya apa? Janjinya itu cuma kata kata manis di lidahnya aja dan dia nggak tepati itu semua" seru Anita.


"Kalau kamu nggak sayang kenapa masih di pikirin?" desak ku terus.


"Bukannya masih sayang sama dia, tapi aku mikirin dia karena aku keingat aja waktu bersama dia"


"Terus kalau nggak sayang apa dong itu artinya" aku semakin memojokkan Anita.


"Ya... Aku belummm..." Anita kebingungan.


Anita terdiam lagi.


"Kamu nggak bisa jawab kan !" seru ku.


"Anita... Anita.... Kamu mana bisa sih bohongin perasaan kamu sendiri. Oke... Kamu tadi bilang cuma keinget masa indah sama dia kan? Sini aku bantu inget inget lagi" lanjut ku.


Tak ada respon dari Anita. Dia tetap pada posisi yang sama. Aku terus melanjutkan perkataanku.


"Kamu inget waktu pertama kali ketemu sama Syafiul di Espero? Waktu aku temenin kamu ketemuan sama Herman?"


Anita mengangguk. Dia tersenyum tipis dan menggigit bibirnya. Matanya mulai berkaca kaca. Dia pasti ingat waktu itu.


"Kamu ingat dia deketin kamu pas kamu masih sama Herman?"


Anita mengangguk lagi.


"Kamu ingat pas kamu di tembak Syafiul, kamu terima dia, terus dia langsung buat story?" aku semakin mendesaknya.

__ADS_1


Lagi lagi Anita mengangguk. Kali ini dia meneteskan air mata.


"Terus kamu inget nggak, pas baru jadi pacar kamu, kamu ketemuan sama dia tapi dia nggak mau deketin kamu karena ada Aan" desak ku terus terusan.


"Iya aku inget..." Anita menjawabnya sambil terus meneteskan air mata.


"Terus hampir tiap hari kamu ketemuan sama dia di tempat yang sama"


"Udahlah... Udah... Iya aku inget semua..." dia tambah menangis, tapi dia masih sempat tertawa juga.


"Aku nggak akan diem, aku mau lihat seberapa kuat kamu tahan sama cerita aku, aku cuma bantu kamu inget inget masalalu kamu kok, kan kamu tadi bilangnya gitu" Aku terus dan terus mendesak dia.


"Iya aku tau, tapi udah dong udah" Anita menghapus air mata di pipinya dan tersenyum malu.


"Sekarang kamu jujur aja deh, kalau kamu sebenarnya masih sayang kan sama dia" kataku.


"Enggak kok siapa yang bilang sih!" Anita mulai kesal lagi.


"Oke... Kalau kamu belum ngaku juga, aku lanjutin ceritanya". Tanpa ada jawaban dari Anita aku langsung ngoceh lagi.


"Kamu inget dulu, pas kamu ajakin dia bukber ? Pas dia nggak tau cara makan makanannya gimana?" Aku semakin menggoda dia. Anita menunduk, menangis lagi dan tertawa.


"Terus kamu lupa nggak, kalian duduk berdua di tengah hutan digodain sama temen-temennya Syafiul? Waktu itu Martina juga ada. Dia liatin kamu sambil melotot... Hahah.... Andai waktu itu aku ada pasti udah aku bales deh..." lanjut ku terus.


"Hahahahhhh.... Iya... udah... aku inget semua kok, biarlah itu sudah masalalu " Anita mengatakan itu, suaranya serak, dia tertawa tetapi masih meneteskan air mata.


"Nyesel nggak sekarang?"


Anita hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Huuhhhh .... Ya udah deh, nggak papa kok kalau kamu nggak mau jujur, tapi aku minta sama kamu, kamu jangan sedih lagi yah, ini bukan untuk aku. Tapi untuk orangtua kamu. Kamu jangan tumbang karena cinta, ingat ! Orangtua mu susah payah mengajarimu untuk berdiri" tak terasa air mataku ikut menetes saat mengucapkan kalimat tersebut. Aku paling nggak kuat menahan air mata ketika mendengar derita orang tua. Mendengar kerasnya perjuangan orangtua. Aku sering sedih hati ketika orangtua merasa tersakiti.


Anita menganggukkan kepalanya.


"Kamu juga jangan nangis" Anita balik menertawakan ku.


"Enggak kok nggak, aku nangis kan bukan karena cinta tapi aku nangis karena bilang tentang orang tuamu tadi" kataku sambil tersenyum padanya. Dia juga membalas senyuman ku dengan manis.


Hari ini adalah kali pertamanya aku menangis bersama dengan Anita. Entah apa yang terjadi padaku, namun sepertinya aku terbawa suasana. Aku tak ingin seperti ini lagi. Aku tak mau menangis di depan temanku. Apalagi menangis karena cinta. Hahahhhh.... Itu bukan lah pribadiku... :)

__ADS_1


__ADS_2