
Malam datang kembali. Kemarin sunyi sekarang tidak lagi. Bintang bintang mulai bermunculan. Cahaya rembulan menembus gelapnya malam. Aku terbaring di atas ranjang dengan perasaan senang. Aku tak menyangka, pujaan hatiku akan segera pulang. Tak terhingga rasa bahagia hadir di hidupku. Senyum mulai menghiasi tidurku. Berharap esok akan menjadi hari yang tak kan pernah aku lupakan.
Kringgggggggg...... Kringggggg..... Cep.
Alarm kumatikan. Aku membuka lebar kedua mataku. Tetap pada perasaan yang sama. Pukul 05:00 pagi. Aku bergegas bangun dan merapikan tempat tidurku. Setelah selesai aku langsung lari ke kamar mandi lalu membersihkan diri. Usai mandi lalu aku sholat dan siap siap untuk sekolah.
Sekitar satu seperempat jam baru selesai. Setelah kurasa mentari semakin meninggi. Aku segera cabut dari rumah lalu pergi ke sekolah. Kali ini aku jalan santai. Menikmati pagi hari yang indah gemulai. Menebar senyum di sepanjang jalan. Berharap ada yang menyapa dari arah berlawanan.
"Ahhh.... Betapa bahagianya diriku" Batin ku dalam hati. Di sepanjang perjalanan aku selalu membayangkan bagaimana rasanya duduk di samping Youdha. Akankah aku nanti manja di dekatnya?. Akankah aku nanti banyak berbicara dengannya?. Akankah nanti aku akan bercanda ria tertawa bersamanya?. Banyak pertanyaan melintas di pikiranku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti saat berdua dengan Youdha.
"Widihh.... Kayaknya lagi bahagia banget nih... Ada apa Dan...." satu pertanyaan menyambut kedatanganku di dalam kelas.
"Eh... Tau tuh dari tadi senyum senyum sendiri... Udah kehabisan obat kali yah" cetus Anita disampingku. Memang sejak dari tadi aku senyum senyum sendiri. Sampai tiba di rumah Anita pun aku masih tertawa bahagia. Mungkin Ani huuuuuuta heran dengan sikap anehku ini. Dia juga belum dengar kabar pulangnya Youdha.
"Akhh... Putri mah tau aja ada orang lagi bahagia" aku mengedipkan salah satu mataku padanya.
"Idih... Udah habis beneran obatnya Wardani... Hahah...." sahut Siti yang sedari tadi mendengar percakapanku dengan Putri dan Anita. Mereka bertiga hanya tertawa geli melihat kekonyolanku. Aku pun juga begitu. Ikut tertawa dalam situasi yang ada.
Aku menuju ke bangku ku. Anita yang penasaran denganku kemudian bertanya padaku.
"Kamu kenapa sih emangnya, kok bahagia banget"
"Emm... Kasih tau nggak yah...." candaku pada Anita.
"Kasih tau dong.... Kan aku kepo"
"Kamu tau nggak....?" aku senyum terus tanpa henti.
"Tau apa... Ya nggak tau lah...." Anita semakin penasaran.
"Youdha hari ini pulang....!! " aku berdiri dari tempat duduk lalu berteriak kegirangan. Banyak mata yang memandang ku heran. Aku hanya bisa tertunduk malu dan menggaruk kepalaku yang aslinya tidak gatal.
"Gak usah teriak ngapa" celoteh Anita.
"Iya iya maap.. Habisnya aku seneng banget dia bisa pulang" aku semakin menunjukkan rasa bahagiaku pada Anita.
"Dan untuk hari ini, kita ada misi" lanjut perkataan ku.
"Misi apaan lagi sih...?" lagi lagi Anita bertanya.
"Kita akan pergi kedesanya Youdha dan mencari rumahnya. Kamu pasti mau kan?" ucapkan dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Emmm.... Boleh juga... Sekalian aja cari rumahnya Syafiul" jawab Anita dengan nada ciri khasnya.
"Oke siap.... Nanti siang kita langsung gas... Nggak ada tapi tapian lagi" seru ku.
"Iya.... Iyaa....." jawab Anita singkat.
Aku menunggu hingga waktu pulang sekolah tiba. Terlihat agak lama. Tapi nggak papa.
Jam menunjukkan pukul 13:00. Waktu yang ku tunggu tunggu akhirnya datang juga. Aku sudah tak sabar ingin segera beranjak keluar sekolah dan beralih kedesanya Youdha. Sugihan. Tanpa berpikir panjang, aku dan Anita langsung pergi cari rumahnya Youdha. Tanpa makan siang maupun ganti seragam. Sebenarnya aku masih bingung dengan arahan yang sebelumnya pernah Youdha katakan. Karena dia memberi tahunya terlalu terbelit belit. Sedangkan aku belum pernah sekalipun pergi ke desanya.
Satu pentunjuk yang dapat ku pahami dari arahan Youdha. Lewat belakang Espero. Dari situ aku harus menelusuri jalan dan ketika melewati pertigaan selalu belok kiri. Itulah yang hanya dapat ku pahami.
Aku menuruti apa yang dikatakan Youdha. Saat itu aku lewat sekolahannya Syafiul. SMP 2. Belum ada satu pun siswa yang keluar dari sekolahannya. Berarti mereka belum dipulangkan.
"Dih.. Gilak jam segini belum pulang... Kalau diterapkan disekolah kita, udah up deh aku..." seru Anita dari belakang.
"Bentar lagi pasti di berlakukan deh... Tunggu aja tanggal mainnya..." sahut ku pada Anita.
"Hehhhhhhh......." Anita tampak kesal.
Kita tiba di tikungan tikungan yang dikatakan Youdha. Aku selalu belok kiri. Hingga pada akhirnya aku bingung pada salah satu perempatan jalan. Aku bingung mau kemana. Ke arah kanan, kiri, atau lurus. Dan Anita memintaku lurus saja. Kita berdua jalan lagi dan menemukan perempatan kembali. Dan lagi lagi Anita memintaku untuk jalan lurus saja. Kita jalan seakan nggak ada ujungnya. Inilah nasib jika mencari alamat yang sebelumnya sama sekali belum pernah di datangi. Kemudian di pinggir jalan aku menjumpai ibu ibu. Aku memberanikan diri bertanya padanya. Daripada tambah jauh nyasar nya.
"Buk numpang tanya, desa Sugihan ada dimana yah...?"
"Ohh... Iya buk ini mau cari rumahnya Amel. Ibu tau nggak rumahnya dimana?" alasanku pada ibu itu. Amel adalah tetangganya Youdha juga mantan kekasihnya. Sebenarnya bukan rumahnya Amel yang kita cari. Tapi rumahnya Youdha sama Syafiul. Daripada malu sendiri cari rumah cowok. Mending cari alasan yang spesifik.
"Amel....? Yang namanya Amel disini banyak dek"
"Ouh ya sudah buk, makasih yah atas waktunya." kataku pada ibu itu. Aku langsung putar balik lagi. Aku ngoceh sama Anita terus dijalan karena nyasar kejauhan. Lalu aku berhenti lagi di perempatan. Aku capek mau kemana lagi. Nyari rumah tanpa alamat yang pasti itu tidaklah mudah. Di sebrang jalan ada rumah yang disampingnya ada warung. Anita tak asing dengan rumah itu. Di lihat dari bentuk dan letaknya itu sepertinya rumah Syafiul. Kemudian Anita memfoto rumah tersebut dan bertanya pada kakak Syafiul. Ternyata benar. Itu rumah Syafiul. Kalau itu rumah Syafiul berarti rumah Youdha tak jauh dari situ. Tapi dimana?. Akupun tak tau.
Aku mengajak Anita pergi dari perempatan. Tak jauh dari rumah Syafiul ada pohon bambu rindang. Aku berhenti disana dan menyuruh Anita untuk menghubungi Youdha agar sharelok rumahnya saja. Aku sudah nyerah mau cari kemana lagi. Youdha sudah sharelok rumahnya. Tapi sinyal Anita nggak bisa di ajak kerjasama. Dan dari pada hilang di desa orang, aku menyuruh Youdha menghampiriku saja lewat ponsel Anita.
Anak anak SMP 2 sudah pada pulang. Banyak yang lewat di depan kita. Karena kita berdua masih memakai seragam dan motorku berada di pinggir jalan, Banyak yang mengira kalau motorku mogok. Begitu juga dengan Syafiul. Dia sempat bertanya namun belum sempat terjawab.
"Kenapa motornya...?" tanya Syafiul.
Kita berdua menoleh tanpa menjawab.
"Anjirrtt....." lanjut Syafiul yang mengetahui kalau yang ada disitu aku dan Anita. Dia langsung pergi. Lalu kembali lagi. Tetapi tidak menemui kami.
Belum lama Syafiul pergi. Youdha datang juga. Dia bersama Azeel Raihan Alfinando kalau nggak salah. Syafiul menguntit di belakangnya. Tak selang berapa lama jaga, dibelakang Youdha ada Yongen. Aku kaget. Dia lalu senyum dengan lebar dan menanyakan keberadaan Yeni. Aku membalikkan badanku. Rasanya sudah tak kuat lagi aku menahan tawa. Aku tertawa lepas membelakangi Yongen dan teman temannya. Termasuk juga Youdha.
__ADS_1
"Realita tak semanis ekspektasi ternyata" batin dalam hati dengan keadaan masih tertawa. Saat Yongen bertanya aku hanya menggelengkan kepala. Bukannya aku mau menghina akan fisiknya, tapi memang dia kaya nggak pernah mandi. Dekil banget.
"Kenapa ada disini, rumahku kan disana" Youdha nenglihkan suasana ku dan menunjuk kearah selatan. Dia mulai bicara padaku.
"Aku kan nggak tau" aku hanya tertunduk malu dan bicara sekenanya.
"Ke TD aja yuk" ajak Youdha padaku.
"Itu dimana?jauh nggak?" Aku balik bertanya.
"Nggak kok cuma deket, mau nggak?"
"Boleh deh... Kamu duluan aja..."
Kita semua langsung menuju tempat yang di maksud Youdha. Aku belum tau di mana tempatnya, jauh atau tidak, aku juga belum mengerti. Aku hanya mengikuti Youdha dari belakang. Katanya Youdha deket, tapi aku rasa ini cukup jauh. Youdha belum berhenti juga. Kita belum sampai sampai.
Setelah melalui jalan yang terus menanjak. Akhirnya Youdha berhenti juga di satu titik paling atas di bukit. Namanya Bukit Govardan. Sumpah, indah banget. Kita bisa liat seluruh desa dari atas sana.
Seperti biasa Youdha kalau main nggak ajak temen kayaknya nggak asik. Dia ketemu sama aku bawa temennya banyak banget. Entah siapa lah mereka. Aku tak mengenalnya. Hanya satu dua orang yang aku kenal.
Di Bukit Govardan ada satu gubuk dan satu tempat buat spot foto bagus banget. Tapi aku hanya duduk di tanah. Aku tak berani ke gubuknya maupun ke spot fotonya. Aku duduk dibawah bersama Anita. Youdha menyuruhku duduk diatas ikut bersamanya. Namun aku hanya menggelengkan kepala. Aku tak sadar tiba tiba dia sudah di belakangku. Aku duduk terdiam dan menunduk tak berani menoleh ke belakang.
"Kurang deket...." teriak salah satu teman Youdha dari belakang.
"Seperti ini..." dia semakin mendekat padaku. Aku yang gugup semakin menundukkan kepala.
"Masih kurang... Deketin lagi..." teriak temannya Youdha semakin kencang. Tanpa berpikir panjang Youdha langsung duduk tepat di samping ku.
"Segini cukup...?" tanya Youdha pada temannya yang semakin menyudutkan ku.
"Nahhhh..... Siip"
"Buseettt... Kurang kerjaan amat tuh bocah..." aku menggerutu sendiri.
Deggg.... Jantungku rasanya mau copot. Aku grogi banget Youdha di dekatku. Dia sesekali bertanya padaku. Dan aku sekalipun tak pernah menatapnya. Aku malunya luar biasa. Situasi saat itu tak seindah bayanganku. Lalu aku teringat akan satu hal. Tujuanku bertemu Youdha. Aku meminta gelang yang ku titipkan sebelumnya pada Anita.
"Emm..." aku menyiku Youdha yang ada di samping ku. Aku mengadahkan gelang yang ku pegang kepada Youdha. Dia menerimanya.
"Makasih yah.. Kamu kok repot repot segala sih...", kata Youdha dengan lembut.
"Nggak repot kok...." aku tersenyum senang, lalu pergi menjauh dari sampingnya.
__ADS_1
"Emm... Aku pulang dulu yah..." aku tersenyum padanya. Dia mengangguk lalu aku pergi pulang bersama Anita. Hari yang sangat indah bagiku. Meski aku belum banyak bicara dengan Youdha, tapi setidaknya aku sudah bisa bertemu dia.