
"Besok kesana yok" pesan masuk dari Anita.
"Kemana lagi sih?"
"Kembali lagi ke Sugihan"
"Ngapain lagi sih kesana?" Aku bingung dengan maksud Anita.
"Kita kan ada tugas IPA, terus kita kan nggak punya paketnya, lagian tugas kita kan menggambar organ reproduksi pria dan wanita, toh temen kita anak sana cowok semua, cocok kan disuruh buat gambar reproduksi yang cowok... Hehe..."
"Kenapa nggak browsing aja sih kan lebih gampang" kataku pada Anita.
"Gampang sih bagi kamu, tapi kalau aku kan enggak, emang kamu mau gambarin tugas aku?" pesan celoteh Anita.
"Ya nggak sudi lah, orang aku aja belum gambar,masa suruh gambarin punya kamu, bisa tekor aku" seru ku pada Anita.
"Ya makanya itu, cocok kan kita minta bantuan sama anak sana?" rayu Anita.
"Cocok sih cocok, tapi nggak malu apa, masa kita minta bantuan yang begituan?" aku sebenarnya setuju aja dengan saran Anita. namun rasa malu pasti nanti akan muncul kalau sudah ada di depan mereka.
"Ya nggak papa, kan cuma minta bantuannya doang, nggak minta barangnya... Hahaha....."
"Anjayy.... Gaje tau nggak.... Hahaha...." aku mengeraskan tertawaku. Aku tau maksud Anita.
"Nggak kok nggak, becanda doang... Besok kesana yah please..."
"Emangnya mau pinjem paket ke siapa? Syafiul?"
"Syafiul nggak punya katanya,tapi aku nggak percaya kalau dia nggak punya, palingan dianya cuma nggak mau aku pinjem. Jadi aku pinjem aja ke Yongen".
"Owh oke deh oke oke... Besok kita kesana" jawabku
"Siapp...."
Anita sepertinya tertarik dengan desa Sugihan. Entah dari sudut pandang mana, tapi bagiku memang tempatnya sangat damai. Sejauh mata memandang hijau yang ku temukan. Banyak persawahan dan bukit bukit indah. Apalagi jika berada di Govardan Hill atau bukit Govardan. Adem banget suasananya. Dan sepertinya Anita mengajakku ke desanya Youdha ingin pergi ke bukit Govardan.
Keesokan harinya, kita berdua pergi ke desanya Youdha. Seperti biasa, tanpa ganti sragam dan makan siang kita berdua langsung pergi ke tempat tujuan. Tapi kali ini aku membawa jaket agar sragamku tidak terlalu kelihatan. Begitu pula dengan Anita.
Aku dan Anita menunggu Yongen di tempat yang kemarin, di bawah pohon bambu. Aku juga ajak Youdha. Dia sudah menunggu di rumah Azeel. Aku meminta Youdha untuk menggambar tugasku. Dia sebenarnya mau membantuku , tapi sayang dia nggak bisa gambarnya.
__ADS_1
Sebenarnya niat Anita mengajakku ke Sugihan tidak hanya untuk meminta bantuan untuk menggambar, tetapi Anita juga ingin menemui Azeel. Iya Azeel. yang kemarin di bonceng Youdha. Azeel kemarin nembak Anita, jadi Anita ingin kalau Azeel mengungkapkan perasaannya secara langsung di depan Anita. Tapi katanya Azeel itu orangnya pemalu banget. Namun aku juga nggak tau pasti lah, orang aku baru liat dia sekali. Jadi aku belum tau sifatnya seperti apa.
Agak lama aku dan Anita menunggu kedatangan Yongen. Entah rumahnya jauh dari tempat kita atau gimana aku nggak tau.
"Mana Yongen kok belum kelihatan?" aku membuka pembicaraan antara aku dan Anita. Menoleh ke arah kanan dan kiri. Berharap Yongen segera datang kemari.
"Nggak tau aku, paling bentar lagi dateng" sahut Anita. Aku hanya terdiam.
"Tuh.. Orangnya udah dateng..." lanjut Anita. Memang benar Yongen sudah datang. Dia membawa satu buku paket IPA.
"Nih paketnya" Yongen menyadarkan buku paketnya. Anita menerimanya. Lalu dia melanjutkan perkataannya.
"Youdha di ajak nggak?" tanya Yongen pada ku dan Anita.
"Di ajak kok, dia ada di rumah Azeel. Kamu tau nggak rumahnya Azeel?" kali ini aku yang menjawab dan bertanya pada Yongen.
"Rumahnya Azeel deket kok dari sini, emangnya kalian berdua mau gambar di mana?" tanya Yongen lagi.
"Di TD...." jawab Anita singkat.
"Houhou... Jangan! itu markasku sekarang, setiap sore aku selalu kesana" jawab Yongen dengan pedenya.
"Lah bodoamad itu kan tempat umum" kata Anita yang tak mau kalah.
"Ya jadi lah... Ayok kamu duluan" sahutku. Kita bertiga langsung pergi dari tempat itu. Berjalan menuju rumahnya Azeel. Memang tak jauh dari tempat kita yang tadi. Sekitar dua menitan sudah sampai.
Aku mengikuti di belakang Yongen. Dia masuk ke halaman rumah Azeel. Namun aku tidak. Aku berada di pinggir jalan di atas rumahnya. Aku tak berani ke rumahnya Azeel. Tak nampak juga satu orang pun di rumah Azeel. Youdha pun juga tak kelihatan. Entah di dalam atau dimana, aku belum tau.
Namun selang beberapa saat, Yongen datang. Dibelakangnya ada Youdha bersama Azeel. Hanya mereka bertiga. Yang lainnya entah pergi kemana.
Yongen berangkat paling depan, dia ingin menghampiri Herman katanya. Jadi dia berangkat duluan. Di belakangnya, Youdha mengikuti. Dan aku menyususl mereka bertiga paling belakang. Jarak rumah mereka dekat dekat. Tak membutuhkan waktu lama untuk pergi dari satu rumah ke rumah yang lainnya.
15 menitan kita sampai di Bukit Govardan. Kali ini aku duduk di atas. Di gubuknya. Tanpa basa basi lagi Anita langsung menyuruh mereka menggambar tugasnya. Anita mengambil buku tugasnya dan pensil untuk menggambar.
"Kenapa nggak cari di Google aja gambarnya, kan nggak perlu jauh jauh kesini" kata Youdha. Dia berpikiran sama denganku. Dalam hati ku berkata *kita memang di takdir kan untuk satu rasa, satu hati, dan satu pemikiran yang pasti*.
"Aku nggak punya kuota, kamu mau beliin aku? Sahut Anita dengan cepat pertanyaan dari Youdha.
"Ogah.... " seru Youdha singkat.
__ADS_1
"Makanya dong cariin gambarnya biar cepet selesai" Anita mulai greget pada Youdha.
"Iya iya... Ini di cariin..." sibuk mencari bagan organ reproduksi. Tiba tiba telfon masuk di ponsel Youdha. Dia mengangkat telfonnya dan sedikit menjauh dari kita.
"Aku di suruh pulang sama bapak. Sepedanya mau di pakai soalnya. Aku pulang dulu yah" bergegas menaiki motornya.
"Kamu nanti kembali kesini nggak?" tanyaku pada Youdha.
"Enggak kayaknya, maaf ya, aku balik dulu sekarang" Youdha pergi meninggalkan kami. Di terburu buru sepertinya. Karena Youdha nggak jadi bantuin aku, aku meminta Yongen untuk menggambarnya. Tapi apa?nggak jadi!. Aku bener bener gabut banget disitu. Itulah akibatnya jika mengerjakan tugas sama temen. Nggak selesai selesai.
Aku memerhatikan Anita diam diam memandang Azeel. Azeel juga demikian. Aku bingung dengan mereka berdua. Kemudian aku baru ingat tujuan lain dari Anita pergu ke desa Sugihan.
"Ehmm.... Azeel... katanya kamu mau nembak Anita langsung di depannya, ayok buktikan sekarang" aku berbicara keras di depan semuanya. Anita yang nampak tak setuju dengan perkataan ku, menepuk pundakku dengan keras.
"Bentar bentar.... Aku mau kencing dulu" Azeel lalu pergi menjauh dari kami. Lima menitan dia baru datang lagi. Belum sempat dia duduk. Aku langsung menagihnya lagi.
"Udah pipisnya?sekarang coba ngomong langsung ke Anita" Anita menepuk pundak ku yang kedua kalinya makin keras.
"Bentar aku balik lagi masih belum keluar semua" Azeel berlari lagi menjauhi kami. Mungkin dia malu dengan kata kataku.
Sampai sekian lama Azeel belum kembali juga. Yongen yang berinisiatif langsung pergi menemui Azeel.
"Dia di bawah lagi peluk batang penyangga dari bambu" kata Yongen yang sambil mempraktekkan gaya Azeel di bawah. Aku dan Anita yang penasaran langsung menyusul mereka berdua. Yongen kembali lagi ke gubuk menyusul Herman. Sedangkan aku menyuruh Anita untuk menyusul Azeel kebawah. Aku menyuruh Azeel mengungkapkan perasaannya pada Anita. Tetapi Azeel tak berani. Dia malu. Ekspresinya yang lugu lucu banget di lihatnya. Aku yang greget dengan tingkah laku Azeel, menyusul mereka berdua ke bawah. Azeel sedikit bergeser dari tempatnya. Aku menyuruh nya bicara dengan Anita yang di katakan lewat chat kemarin. Tapi dia pura pura tak tau.
"Ayok cepet bilang sekarang yang kemarin kamu katakan ke Anita" aku mendesak Azeel.
"Yang mana...?" Azeel pura pura tak mengetahui. Lalu aku membaca chat dari Azeel ke Anita.
"Ini lo yang bunyinya *Kamu mau nggak jadi pacar aku*" teriak ku pada mereka berdua.
"Ohh...." jawab Azeel.
"Iya cepet bilang..." kataku dengan greget. Aku gemes dengan situasi ini.
"Gimana tadi...?" lagi lagi Azeel pura pura nggak tau. Lalu aku mengajarinya bicara.
"Oke sini aku bantu, kamu tirukan aku.. Anita... Kamu mau nggak jadi pacar aku...?" ajarku pada Azeel. Dia menirukanku kata demi kata. Tetapi kalau aku suruh mengucapkan satu kalimat, dia pura pura lupa. Hingga beberapa kaki aku mengulangi kalimat itu, tetap saja Azeel masih tak mau mengungkapkan dengan sungguh sungguh. Sampai aku memutuskan untuk menyerah. Aku meninggalkan mereka berdua. Sengaja agar mereka mau bicara. Mungkin Azeel juga malu karena ada aku.
"Kamu mau nggak jadi pacar aku...?" kata Azeel dengan cepat tanpa menoleh ke Anita. Aku tau karena aku mengupingnya dari atas.
__ADS_1
"Emm.. Aku nggak bisa jawab sekarang. Mungkin ku jawab nanti atau saat kita bertemu lain hari" jawab Anita dengan plong.
"Oke..." itu adalah kata terakhir yang aku dengar dari pembicaraan mereka.